Rihlah Ibnu Bathutah #29 : Baghdad, Kota Damai yang Menyimpan Luka Zaman

Panorama Baghdad abad ke-14 saat senja, Sungai Tigris dengan dua jembatan kayu, masjid berkubah dan madrasah megah di tepi sungai, pasar ramai dan hammam berkubah.

Pada masa lalu, Baghdad dikenal sebagai Madinat as-Salām – Kota Damai – dan pusat kejayaan Islam. Di sanalah para khalifah ‘Abbāsiyyah bersemayam, dan para ulama besar menetap serta mengajar.

Namun ketika seorang musafir besar bernama Ibn Battuta sampai ke sana, ia menemukan Baghdad yang sudah jauh berbeda dari masa keemasannya. Dalam catatannya, ia tidak hanya menggambarkan apa yang ia lihat dengan matanya sendiri, tetapi juga mengutip kisah para pelancong dan penyair sebelum dirinya yang pernah menyaksikan Baghdad dalam berbagai keadaan.

________________________________________

Baghdad dalam Kenangan Ibn Jubayr

Sebelum masa Ibn Battuta, seorang pelancong lain bernama Ibn Jubayr pernah menulis tentang Baghdad. Ia menyebutnya sebagai kota kuno, pusat kekhalifahan ‘Abbāsiyyah dan tempat berdirinya dakwah Bani Quraisy.

Namun ia juga menyatakan dengan getir, bahwa wujud Baghdad yang dahulu megah telah lenyap, tinggal namanya saja. Dibandingkan dengan masa kejayaannya sebelum berbagai musibah menimpanya, Baghdad tampak seperti reruntuhan yang nyaris hilang, atau seperti bayang-bayang yang berdiri tanpa jiwa.

Menurutnya, hampir tak ada lagi keindahan yang mampu menahan pandangan mata, kecuali Sungai Dajlah (Tigris). Sungai itu mengalir di antara tepi timur dan barat Baghdad, bagai cermin mengkilap di antara dua bidang, atau kalung yang tersusun rapi di antara dua belahan dada. Airnya menyejukkan dahaga, dan pantulan sinarnya seakan tak pernah pudar.

Udara dan air sungai itulah yang, kata Ibn Jubayr, masih melahirkan sisa-sisa keindahan Baghdad.

________________________________________

Syair Abu Tammam tentang Runtuhnya Baghdad

Seorang penulis bernama Ibn Juzayy, yang kelak menuliskan perjalanan Ibn Battuta, seakan melihat bahwa apa yang terjadi pada Baghdad telah lama disinggung oleh penyair besar Abu Tammam.

Abu Tammam menulis bait-bait yang menggambarkan seolah-olah sudah ada orang yang berdiri meratapi kematian Baghdad. Ia berkata bahwa zaman telah meruntuhkan kota itu, hingga layaklah para penangis menangisinya. Dahulu kota itu berdiri di tepi airnya sementara perang berkobar, dan seakan api pun padam oleh keelokan yang memenuhi sudut-sudutnya.

Pernah ada harapan bahwa Baghdad akan kembali baik dan tegak di masa depan, namun pada akhirnya harapan itu berubah menjadi keputusasaan. Ia menutup gambaran itu dengan perumpamaan: Baghdad bagaikan seorang perempuan tua yang masa mudanya telah berlalu, dan kecantikannya yang dulu menutupi kekurangannya kini tersingkap dan menghilang.

________________________________________

Pujian, Rindu, dan Keluhan para Penyair

Meski banyak luka yang diceritakan, Baghdad tetap memikat hati banyak orang. Penyair, ulama, dan para pecintanya memenuhi sejarah kota ini dengan pujian dan rindu, meski tak jarang bercampur keluhan.

Seorang qadhi (hakim) besar dari Baghdad, Abu Muhammad ‘Abd al-Wahhāb al-Mālikī, yang kemudian pindah dari kota itu, mengekspresikan kerinduannya dengan cara yang lembut. Ia memuji harum udara Baghdad yang terus memanggilnya untuk kembali, meski takdir menghalangi. Ia berkata bahwa sulit baginya meninggalkan kota itu, sebab Baghdad telah menghimpun dua “udara baik”: udara luas terbuka dan udara nyaman di dalam kota.

Dalam syair lain, ia mengirim salam untuk Baghdad dari setiap tempat ia berpijak. Ia bersaksi bahwa ia tidak pernah meninggalkan Baghdad karena benci, melainkan karena sempitnya rezeki dan kerasnya takdir di sana. Baghdad, baginya, laksana sahabat dekat yang ia rindukan kehadirannya, tetapi perangai sang sahabat membuatnya menjauh.

Namun, di saat lain, saat ia marah karena kesulitannya di Baghdad, ia menulis syair yang pahit. Ia menggambarkan Baghdad sebagai negeri yang luas dan lapang bagi orang-orang kaya, tetapi sempit dan penuh kesusahan bagi kaum miskin. Ia menceritakan bagaimana ia berjalan di gang-gang Baghdad sebagai orang yang “menumpang” di rumah orang, hingga ia merasa seperti sebuah mushaf (Al-Qur’an) yang tersimpan di rumah seorang yang zindik – tidak dimuliakan sebagaimana mestinya.

Ada pula seorang penyair lain yang menggambarkan hembusan angin Baghdad yang harum, seakan-akan membuat orang ingin terbang jika bukan karena beratnya tubuh. Ia mengenang taman-taman yang hijau dan air yang jernih, serta cahaya yang dipetik dari perbukitan dan tempat-tempat tinggi di sekitar kota.

Bahkan seorang perempuan Baghdad menulis syair penuh nostalgia: ia merindukan Baghdad, Iraq, kijang-kijang yang menjadi perumpamaan wanita-wanita cantik, serta “sihir” di mata mereka. Ia mengingat pemandangan di tepi Sungai Efrat, wajah-wajah yang indah dengan kalung-kalung melingkar seperti bulan-bulan sabit kecil. Mereka berjalan anggun dalam kenikmatan, seakan cinta yang suci diciptakan dari akhlak mereka. Ia menutup dengan kalimat bahwa jiwanya rela menjadi tebusan bagi Baghdad, karena dari kota itu terpancar begitu banyak keindahan di sepanjang zaman.

________________________________________

Jembatan, Masjid, dan Pemandian: Nadi Kehidupan Kota

Ibn Battuta kemudian membawa kita pada pemandangan Baghdad di masanya. Di kota itu ada dua jembatan besar yang melintasi Sungai Dajlah, dibangun dengan cara yang mirip dengan jembatan di kota Hilla.

Siang dan malam, jembatan-jembatan itu dilalui orang. Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, berjalan melintasinya; bagi mereka, menyeberang sungai menjadi semacam tamasya yang tak pernah berhenti.

Baghdad juga dipenuhi masjid dan madrasah. Ada sebelas masjid besar tempat khutbah disampaikan dan salat Jumat ditegakkan: delapan di sisi barat sungai dan tiga di sisi timur. Di luar itu, masjid-masjid kecil tak terhitung jumlahnya, demikian pula madrasah, meski banyak yang sudah rusak.

Hal yang sangat mengagumkan bagi Ibn Battuta adalah pemandian umum (hammam) di Baghdad. Jumlahnya banyak, dan menurutnya merupakan pemandian paling indah yang pernah ia lihat. Dinding dan lantainya dilapisi semacam aspal hitam yang didatangkan dari mata air di antara Kufah dan Basrah. Aspal itu mengeras seperti tanah liat, lalu dikeruk dan dibawa ke Baghdad.

Karena lapisan hitam itu dipoles demikian rapi, orang yang melihatnya akan mengira bahwa itu adalah marmer hitam. Di atas lapisan hitam, bagian dinding yang lebih tinggi dicat dengan gips putih bersih. Hitam dan putih itu berhadap-hadapan, menimbulkan kesan kontras yang indah.

Di setiap hammam terdapat banyak bilik khusus. Setiap bilik memiliki bak marmer dengan dua pipa: satu mengalirkan air panas, satu lagi air dingin. Orang yang masuk bisa mandi sendirian tanpa diganggu, kecuali jika ia ingin ditemani. Di sudut setiap bilik disediakan bak lain untuk mandi bersih, juga dengan dua pipa air panas dan dingin.

Setiap pengunjung hammam diberi tiga lembar kain: satu dipakai ketika masuk dan berada di ruangan hangat, satu lagi dijadikan kain sarung saat keluar, dan yang terakhir digunakan untuk mengeringkan badan. Ibn Battuta menegaskan bahwa ia belum pernah melihat kerapian dan kesempurnaan seperti ini di kota-kota lain, kecuali sedikit yang mendekatinya.

________________________________________

Baghdad Barat: Reruntuhan yang Masih Bernapas

Bagian barat Baghdad adalah kawasan yang pertama kali dibangun. Tetapi ketika Ibn Battuta datang, sebagian besar kawasan ini telah menjadi reruntuhan. Meski demikian, masih tersisa tiga belas kampung besar. Masing-masing kampung hampir menyerupai sebuah kota kecil, lengkap dengan dua atau tiga hammam, dan di delapan di antaranya masih berdiri masjid jami‘ tempat Jumat ditegakkan.

Salah satu kampung itu adalah Mahallah Bāb al-Bashrah (Gerbang Basrah). Di sana berdiri Jami‘ Khalifah Abu Ja‘far al-Manshur, pendiri resmi kota Baghdad. Di antara Mahallah Bāb al-Bashrah dan Mahallah al-Shāri‘, di tepi Sungai Dajlah, terdapat sebuah bimaristan (rumah sakit) yang dahulu adalah istana besar. Kini ia sudah runtuh, tinggal sisa-sisa bangunan yang menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu.

Di sisi barat ini pula terdapat banyak makam tokoh-tokoh penting. Di Mahallah Bāb al-Bashrah, ada makam Ma‘rūf al-Karkhī, seorang wali besar yang sangat dihormati. Di jalan menuju Bāb al-Bashrah, berdiri sebuah bangunan makam (mashhad) yang besar dan indah. Di dalamnya ada sebuah kubur dengan gundukan lebar; pada nisannya tertulis bahwa itu adalah makam ‘Awn, salah seorang keturunan ‘Alī ibn Abī Tālib.

Tak jauh dari situ, di sisi barat Baghdad, terdapat pula makam Mūsā al-Kāzhim ibn Ja‘far ash-Shādiq, salah satu keturunan Rasulullah, dan di sampingnya makam putranya, al-Jawād. Dua makam ini berada di dalam sebuah taman besar (raudhah), di atasnya dibangun semacam bangunan panggung berlapis kayu yang diselimuti lembaran-lembaran perak.

________________________________________

Baghdad Timur: Pasar Ramai dan Madrasah-Madrasah Agung

Berbeda dengan banyak bagian Baghdad barat yang hancur, sisi timur kota saat itu masih sangat hidup. Di sana terdapat pasar-pasar besar yang tertata rapi. Yang terbesar dikenal dengan nama Pasar Selasa. Di dalamnya, setiap jenis kerajinan dan profesi ditempatkan di bagian tersendiri, sehingga pengunjung mudah mencari apa yang diperlukan.

Di tengah pasar ini berdirilah Madrasah Nizāmiyyah, yang pada zamannya terkenal di seluruh dunia Islam. Begitu indah dan lengkapnya madrasah ini, sampai-sampai orang menjadikannya perumpamaan ketika ingin menggambarkan keindahan sebuah lembaga ilmu.

Di ujung pasar berdiri Madrasah Mustansiriyyah, yang dinisbatkan kepada Khalifah al-Mustanshir Billah Abu Ja‘far ibn azh-Zhāhir ibn an-Nāshir. Di madrasah inilah empat mazhab besar fikih diajarkan: Hanafī, Mālikī, Syāfi‘ī, dan Hanbalī.

Setiap mazhab memiliki satu iwan, yaitu aula berkubah yang di dalamnya terdapat masjid kecil dan tempat pengajaran. Guru duduk di sebuah kubah kecil dari kayu, di atas kursi berlapis permadani. Ia mengenakan pakaian hitam dan sorban, dengan wajah tenang dan penuh wibawa. Di sebelah kanan dan kirinya duduk dua orang mu‘īd, asisten yang bertugas mengulang setiap kalimat yang disampaikan guru, agar semua murid dapat mendengarnya dengan jelas.

Susunan ini berlaku sama di keempat majelis pengajaran untuk empat mazhab tersebut. Di dalam kompleks madrasah juga disediakan pemandian dan tempat wudhu khusus bagi para penuntut ilmu, menunjukkan perhatian besar kepada kenyamanan dan kebersihan mereka.

Di sisi timur Baghdad ini terdapat tiga masjid jami‘ tempat diselenggarakannya salat Jumat. Yang paling mulia adalah Jami‘ al-Khalīfah, yang menyatu dengan istana-istana dan rumah kediaman para khalifah. Masjid ini luas, memiliki banyak saluran air dan tempat khusus untuk berwudhu dan mandi.

________________________________________

Pertemuan dengan Musnid Irak di Jami‘ al-Khalīfah

Di Jami‘ al-Khalīfah inilah Ibn Battuta bertemu dengan seorang ulama besar, yang ia sebut sebagai syekh, imam, alim, saleh, dan Musnid (pemilik banyak sanad) Irak: Sirāj ad-Dīn Abu Hafsh ‘Umar ibn ‘Alī ibn ‘Umar al-Qazwīnī.

Di hadapan beliau, pada bulan Rajab tahun 727 H, Ibn Battuta membaca dan mendengar seluruh isi Musnad karya Imam ad-Dārimī, sebuah kitab hadis yang terkenal. Kitab itu sampai kepada sang syekh melalui sebuah rantai periwayatan yang panjang:

dari seorang syekh perempuan yang shalihah, ahli sanad, putri raja, Fātimah binti al-‘Adl Tāj ad-Dīn Abu al-Hasan ‘Alī ibn ‘Alī ibn Abi al-Badr;

darinya, kepada Syekh Abu Bakr Muhammad ibn Mas‘ūd ibn Bahruz, tabib bimaristan;

darinya, kepada Abu al-Waqt ‘Abd al-Awwal ibn Syu‘aib asy-Syanjarī ash-Shūfī;

darinya, kepada Imam Abu al-Hasan ‘Abd ar-Rahmān ibn al-Muzhaffar ad-Dā’ūdī;

darinya, kepada Abu Muhammad ‘Abdullāh ibn Ahmad ibn Hamuwayh as-Sarkhasī;

darinya, kepada Abu ‘Imrān ‘Īsā ibn ‘Umar ibn al-‘Abbās as-Samarqandī;

dan akhirnya sampai kepada penulis kitab itu sendiri, Abu Muhammad ‘Abdullāh ibn ‘Abd ar-Rahmān ad-Dārimī.

Bagi Ibn Battuta, ini bukan sekadar kunjungan wisata; Baghdad baginya juga merupakan kota ilmu dan sanad.

Selain Jami‘ al-Khalīfah, masih ada dua masjid jami‘ lain: Jami‘ as-Sulthān, yang berada di luar kota dan dikelilingi istana-istana yang dinisbatkan kepada sultan, serta Jami‘ ar-Rushāfah, yang jaraknya sekitar satu mil dari Jami‘ as-Sulthān.

________________________________________

Makam Para Khalifah di Ar-Rushāfah dan Tragedi Tatar

Di kawasan ar-Rushāfah, masih di wilayah Baghdad, terdapat deretan makam para khalifah ‘Abbāsiyyah. Setiap kubur diberi tanda nama pemiliknya. Di sana dimakamkan al-Mahdī, al-Hādī, al-Amīn, al-Mu‘taṣim, al-Wāsiq, al-Mutawakkil, al-Muntaṣir, al-Musta‘īn, al-Mu‘taẓẓ, al-Muhtadī, al-Mu‘tamid, al-Mu‘taḍid, al-Muktafī, al-Muqtadir, al-Qāhir, ar-Rādhī, al-Mustakfī, al-Muthī‘ Lillāh, ath-Thā‘i‘, al-Qā’im, al-Qādir, al-Mustazhhir, al-Mustarsyid, al-Muqtafī, al-Mustanjid, al-Mustadhī’, an-Nāshir, azh-Zhāhir, al-Mustanshir, dan yang terakhir al-Musta‘ṣim.

Di masa Khalifah al-Musta‘ṣim inilah bangsa Tatar menyerbu Baghdad. Mereka memasuki kota dengan pedang terhunus, membunuh khalifah beberapa hari setelah penaklukan. Sejak peristiwa itu, yang terjadi pada tahun 654 H, nama kekhalifahan ‘Abbāsiyyah pun terputus dari Baghdad.

________________________________________

Makam Para Imam dan Orang-Orang Saleh

Tak jauh dari makam para khalifah, di kawasan yang sama, terdapat makam Imam Abu Hanīfah an-Nu‘mān, pendiri mazhab Hanafī. Di atas makamnya dibangun sebuah kubah besar dan sebuah zawiyah (pondok) tempat orang-orang yang datang dan pergi diberi makan. Pada masa Ibn Battuta, itulah satu-satunya zawiyah di Baghdad yang masih membagikan makanan secara rutin.

Melihat kenyataan itu, Ibn Battuta menutup dengan kalimat penuh makna: semua ini menunjukkan betapa Allah Mahakuasa untuk melenyapkan dan mengubah segala sesuatu.

Tak jauh dari situ, terdapat pula makam Imam Ahmad ibn Hanbal, pendiri mazhab Hanbalī. Tidak ada kubah di atas makamnya. Penduduk setempat menceritakan bahwa kubah pernah dibangun berulang kali di atasnya, namun setiap kali dibangun, selalu runtuh, hingga akhirnya dibiarkan tanpa kubah. Meski begitu, penduduk Baghdad sangat menghormatinya, dan kebanyakan mereka berpegang pada mazhabnya.

Di sekitar kawasan yang sama, terdapat makam Abu Bakr asy-Syiblī, salah seorang imam besar kaum sufi, juga makam Sarī as-Saqathī, Bishr al-Hāfī, Dāwud ath-Thā’ī, dan Abu al-Qāsim al-Junaid – semuanya tokoh sufi besar yang namanya masyhur dalam sejarah tasawuf.

Penduduk Baghdad memiliki kebiasaan khusus: setiap pekan, mereka menetapkan satu hari untuk menziarahi salah seorang di antara para syekh itu. Hari berikutnya untuk syekh yang lain, dan begitu seterusnya sampai akhir pekan. Dengan cara itu, makam-makam para ulama dan orang saleh selalu ramai diziarahi.

________________________________________

Buah-Buahan dari Seberang Sungai

Sisi timur Baghdad, yang dipenuhi pasar dan madrasah, ternyata miskin akan kebun buah. Buah-buahan dibawa ke sana dari sisi barat sungai, karena di sanalah terdapat kebun-kebun, taman-taman, dan persawahan yang subur.

Maka kehidupan Baghdad di sisi timur dan barat saling melengkapi: timur menjadi pusat perdagangan, ilmu, dan masjid besar; barat menjadi lumbung kebun dan tempat bersemayamnya para wali serta sisa-sisa kejayaan lama.

________________________________________

Kedatanganku dan Raja Irak

Ibn Battuta menutup bagian kisahnya tentang Baghdad ini dengan sebuah catatan singkat namun penting: kedatangannya ke Baghdad bertepatan dengan keberadaan Raja Irak di kota tersebut.

Ia pun memberi isyarat bahwa setelah menggambarkan kota, masjid, madrasah, makam, dan penduduknya, kini saatnya ia menceritakan siapa Raja Irak pada masa itu dan bagaimana keadaannya. Kisah tentang sang raja akan ia lanjutkan dalam bagian berikutnya dari perjalanannya.

________________________________________

Sumber Kisah

Perjalanan Ibn Battuta (Rihlah Ibn Baṭṭūṭah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Bathutah #24 :Idaj dan Isfahan, Sultan Atabik & Negeri Lur

Kisah Berhala yang Tak Berdaya

Keturunan Nabi Ibrahim عليه السلام