Rihlah Ibnu Bathutah #24 :Idaj dan Isfahan, Sultan Atabik & Negeri Lur

Prosesi pemakaman putra Sultan Atabik Afrasyab di Idaj abad ke-14; keranda berhias dahan utrujj dan limau dipanggul malam hari, dikelilingi pembawa obor dengan latar kota bergaya Persia dan siluet pegunungan.

Di Negeri Lur: Kota Idaj dan Rajanya

Ketika aku masuk ke kota Idaj, penguasanya saat itu adalah Sultan Atabik Afrasyab bin Sultan Atabik Ahmad. Di negeri mereka, gelar Atabik dipakai untuk semua penguasa wilayah itu. Daerah kekuasaannya dikenal sebagai Bilād al-Lur, Negeri Lur.

Afrasyab naik takhta setelah saudaranya, Atabik Yusuf, dan Yusuf sebelumnya menggantikan ayah mereka, Sultan Atabik Ahmad. Dari semua cerita yang kudengar dan apa yang kusaksikan, Atabik Ahmad inilah yang paling banyak meninggalkan jejak kebaikan.

Dari orang-orang terpercaya aku diberitahu bahwa Atabik Ahmad membangun 460 zawiyah (semacam rumah singgah dan pusat kegiatan sufi) di seluruh negerinya. Di kota Idaj sendiri ada 44 zawiyah. Ia juga mengatur pajak tanah (kharaj) dengan pembagian yang adil:

Sepertiga untuk biaya zawiyah dan madrasah

Sepertiga untuk gaji tentara

Sepertiga untuk kebutuhan hidupnya, keluarganya, para budak, dan pelayannya

Dari bagian miliknya itu pula ia setiap tahun mengirim hadiah kepada Raja Irak, dan kadang ia sendiri datang menghadap.

Yang lebih menakjubkan lagi adalah pembangunan jalan di negerinya. Banyak bangunan terdapat di pegunungan tinggi. Jalan-jalan dipahat di batu-batu karang, diratakan, dan dilebarkan sehingga binatang-binatang pengangkut dapat mendakinya dengan membawa muatan. Rangkaian gunung itu panjangnya sekitar tujuh belas hari perjalanan, dengan lebar sekitar sepuluh hari perjalanan. Gunung-gunungnya tinggi dan bersambung, dialiri sungai-sungai dan dipenuhi pepohonan, terutama pohon ek. Dari buah ek yang ditumbuk menjadi tepung, penduduk membuat roti.

Di setiap tempat singgah di jalur pegunungan itu ada sebuah zawiyah, yang mereka sebut madrasah. Siapa pun musafir yang sampai di sana akan diberi makanan yang cukup, dan pakan untuk kendaraannya, baik ia meminta maupun tidak. Sudah menjadi kebiasaan, pelayan zawiyah akan menghitung jumlah orang yang menginap, lalu memberikan kepada masing-masing:

dua potong roti,

daging,

dan manisan.

Semua itu berasal dari harta wakaf yang disediakan oleh sang sultan untuk zawiyah-zawiyah tersebut.

Atabik Ahmad sendiri terkenal sebagai orang yang zuhud dan saleh. Di balik pakaiannya, menempel ke tubuhnya, ia selalu mengenakan baju dari rambut/bulu kasar sebagai bentuk kesederhanaan dan ibadahnya.

Baju “Zirah” yang Ternyata Baju Bulu

Suatu ketika Atabik Ahmad datang menghadap Raja Irak, Abu Sa‘id. Salah seorang orang dekat raja berkata kepada Abu Sa‘id:

“Wahai tuanku, Atabik Ahmad akan masuk menghadapmu dengan memakai baju zirah.”

Orang itu menyangka baju bulu kasar yang dikenakan Ahmad di balik pakaiannya itu adalah baju zirah. Abu Sa‘id kemudian memerintahkan agar hal itu “diperiksa” dengan cara bercanda, sekadar untuk mengetahui kenyataannya.

Pada suatu hari, Atabik Ahmad pun masuk ke majelis. Menyambutnya berdiri:

Amir al-Juban, salah satu pembesar amir Irak,

Amir Suwaitah, penguasa Diyar Bakr,

dan Syekh Hasan, yang pada masa aku menulis ini adalah Sultan Irak.

Mereka memegang pakaiannya seakan-akan sedang bergurau, lalu mereka dapati di balik pakaiannya baju dari bulu kasar itu.

Raja Abu Sa‘id melihatnya. Ia lalu bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Atabik Ahmad, memeluknya, dan mendudukkannya di sisinya. Kemudian ia berkata dalam bahasa Turki:

“San ata”

Artinya: “Engkau adalah ayahku.”

Ia pun membalas hadiah yang dibawa Ahmad dengan jumlah yang berlipat ganda, dan menuliskan untuknya sebuah yarligh (piagam resmi), yang isinya: ia dan anak-anaknya setelah itu tidak lagi diwajibkan membawa hadiah kepadanya.

Pada tahun itu juga Atabik Ahmad wafat. Setelah itu, putranya Atabik Yusuf berkuasa selama sepuluh tahun, kemudian digantikan oleh saudaranya, Afrasyab.

Masuk ke Idaj di Masa Sultan Afrasyab

Saat aku memasuki kota Idaj, yang berkuasa adalah Afrasyab. Aku ingin sekali melihatnya, tetapi tidak berhasil, karena ia tidak pernah keluar kecuali pada hari Jumat. Ia sangat kecanduan minuman keras, hingga jarang tampak di hadapan rakyat.

Ia memiliki seorang putra tunggal, yang dijadikan pewaris takhta, dan ia tidak memiliki anak lain selain dia. Pada hari-hari ketika aku berada di Idaj, putranya itu sedang sakit keras.

Suatu malam, salah seorang pelayan sultan datang kepadaku. Ia menanyakan siapa aku dan bagaimana keadaanku. Aku pun memperkenalkan diri kepadanya. Ia lalu pergi.

Setelah salat Magrib, ia datang lagi, kali ini membawa dua nampan besar: satu penuh makanan, satu lagi berisi buah-buahan, serta sebuah kantong berisi uang dirham. Bersamanya ikut pula sekelompok ahli sama‘ (majlis zikir-musik sufi) dengan alat-alat musik mereka.

Ia berkata kepadaku:

“Adakanlah majlis sama‘, supaya para fakir bergembira dan mendoakan putra sultan.”

Aku menjawab:

“Para sahabatku tidak terbiasa dengan sama‘ dan tidak pula menari.”

Kami pun berdoa untuk sultan dan putranya. Uang dirham yang dibawa pelayan itu kubagikan kepada para fakir.

Kematian Putra Sultan dan Suasana Berkabung

Ketika tengah malam, kami mendengar jeritan dan tangisan yang keras. Kabar pun tersebar: putra sultan telah meninggal.

Keesokan harinya, syekh zawiyah dan penduduk kota datang kepadaku. Mereka berkata:

“Para pembesar kota — para qadi, fuqaha, bangsawan, dan para amir — telah pergi ke istana untuk menyampaikan belasungkawa. Sebaiknya engkau juga pergi bersama mereka.”

Aku menolak, tetapi mereka mendesakku terus hingga akhirnya aku pun berangkat bersama mereka.

Ketika kami sampai di balairung besar istana, aku mendapati tempat itu sudah penuh sesak oleh laki-laki dan anak-anak:

para mamluk,

putra-putra raja,

para menteri,

dan pasukan.

Mereka mengenakan pakaian berkabung: pakaian-pakaian kasar dan penutup kuda, serta menaburkan tanah dan jerami di atas kepala mereka. Sebagian dari mereka mencukur ubun-ubun kepala. Mereka terbagi menjadi dua kelompok: satu di sisi atas balairung, satu lagi di sisi bawah.

Kedua kelompok itu merangkak mendekat satu sama lain sambil memukulkan tangan ke dada dan meneriakkan:

“Khwand kâr ma”

Artinya: “Tuanku, aku ini.”

Pemandangan itu sangat dahsyat dan menakutkan. Aku belum pernah menyaksikan bentuk ratapan dan duka cita seperti itu sebelumnya.

Para Ulama dalam Pakaian Duka

Di hari yang sama, ada satu hal aneh yang kualami. Ketika aku masuk, kulihat para qadi, khatib, dan para syarif (keturunan mulia) bersandar pada dinding-dinding balairung. Balairung itu penuh sesak dari segala sisi. Di antara mereka ada yang menangis sesungguhnya, ada yang sekadar berpura-pura, ada pula yang hanya menundukkan kepala dalam-dalam.

Di atas pakaian mereka, masing-masing mengenakan kain kasar dari katun tebal, jahitannya tidak rapi. Bagian dalam kain itu justru dibalik keluar, sedangkan sisi luarnya menghadap ke tubuh mereka. Di kepala masing-masing tergantung sehelai kain atau selendang hitam.

Beginilah keadaan mereka selama empat puluh hari, karena bagi mereka, itulah batas masa berkabung. Setelah empat puluh hari berlalu, sultan mengirimkan pakaian lengkap kepada siapa pun yang ikut berkabung dengan cara itu.

Ketika kulihat semua sisi balairung telah penuh, aku memandang ke kanan dan kiri mencari tempat duduk. Di sana ada sebuah serambi beratap yang agak tinggi dari tanah, kira-kira setinggi satu jengkal lebih. Di salah satu sudutnya duduk seorang lelaki menyendiri, terpisah dari orang lain. Ia memakai baju wol tebal seperti kain felt, yang di negeri itu biasa dikenakan rakyat jelata saat hujan atau salju di perjalanan.

Aku pun berjalan mendekatinya. Melihat aku menuju ke arahnya, para sahabatku justru menjauh dariku dan merasa heran. Mereka tahu sesuatu yang aku belum tahu: siapa lelaki itu sebenarnya.

Aku naik ke serambi itu lalu mengucapkan salam. Ia menjawab salam dan sedikit bangkit dari duduknya, seakan hendak berdiri. Gerakan seperti itu mereka sebut “setengah berdiri”. Aku lalu duduk di sudut serambi yang berhadapan langsung dengannya.

Aku memperhatikan orang-orang di bawah. Kutemui pandangan mereka tertuju kepadaku semua. Aku heran melihat cara mereka memandangku. Para fuqaha, syekh, dan bangsawan duduk bersandar pada dinding di bawah serambi itu. Seorang qadi memberi isyarat agar aku turun dan duduk di sampingnya, tetapi aku tidak menuruti isyarat itu.

Saat itu, aku mulai curiga bahwa lelaki di sampingku itu adalah sultan sendiri.

Terbongkarnya Jati Diri Sultan

Tidak lama kemudian — kira-kira satu jam — datanglah Syekh al-Masyayikh Nuruddin al-Kirmani, yang telah kusebut dalam bagian lain perjalananku. Ia naik ke serambi itu dan memberi salam kepada lelaki tersebut. Maka lelaki itu bangkit menyambutnya.

Nuruddin kemudian duduk di antara aku dan lelaki itu. Saat itulah aku yakin: lelaki yang duduk bersamaku di serambi itu adalah Sultan Afrasyab.

Beberapa saat setelah itu, jenazah putra sultan pun dibawa masuk. Keranda itu diletakkan di tengah dahan-dahan pohon utrujj (semacam jeruk sitrun) dan limau yang penuh buah. Dahan-dahan itu dipanggul di tangan para lelaki, sehingga tampak seolah-olah jenazah itu berjalan di dalam kebun berpindah di antara pohon-pohon yang berbuah lebat.

Di depan dan belakang jenazah, obor-obor menyala di ujung tombak-tombak panjang, dan lilin-lilin besar dibawa menyertai iringan itu. Sultan menyalatkan jenazah tersebut, lalu orang-orang mengantarnya ke makam para raja di sebuah tempat bernama Hala Fijan, berjarak sekitar empat mil dari kota.

Di Hala Fijan terdapat sebuah madrasah besar yang dialiri sungai di tengahnya. Di dalamnya ada masjid tempat dilaksanakan salat Jumat. Di luar madrasah ada pemandian, dan madrasah itu dikelilingi oleh sebuah kebun besar. Bagi siapa pun yang datang atau berangkat, di sana disediakan makanan.

Aku sendiri tidak mampu ikut mengantar jenazah sampai ke pemakaman, karena jauhnya tempat itu. Maka aku kembali ke zawiyah.

Pertemuan Rahasia dengan Sultan

Beberapa hari setelah itu, sultan mengutus seorang utusan kepadaku — orang yang sebelumnya datang membawa jamuan — untuk memanggilku menghadap.

Aku pergi bersamanya menuju sebuah pintu yang dikenal sebagai Bāb al-Sirr (Pintu Rahasia). Kami menaiki banyak anak tangga hingga sampai di sebuah ruangan yang tidak dialasi karpet, karena mereka sedang dalam suasana duka.

Sultan duduk di atas sebuah bantal besar. Di hadapannya terdapat dua bejana tertutup: satu dari emas, yang lain dari perak. Di majelis itu hanya ada sehelai sajadah hijau, yang kemudian digelar di dekat sultan untukku. Aku duduk di atas sajadah itu.

Di dalam ruangan hanya ada tiga orang selain aku:

sang sultan,

hajib (kepala protokol) yang bernama Faqih Mahmud,

dan seorang sahabat dekat (nadim) sultan, yang namanya tak kuketahui.

Sultan mulai bertanya tentang keadaanku, negeriku, tentang al-Malik al-Nashir (Sultan di negeriku), dan tentang Tanah Hijaz. Aku menjawab semua pertanyaannya.

Tak lama kemudian, datang seorang faqih besar, pemimpin para faqih di wilayah itu. Sultan berkata kepadaku:

“Ini adalah Maulana Fadhl.”

Di negeri-negeri ‘Ajam, para faqih memang biasa dipanggil dengan sebutan “Maulana” oleh masyarakat, dan demikian pula sultan memanggil mereka. Sultan lalu memuji-muji faqih itu di hadapanku.

Dari cara berbicaranya, aku merasa bahwa pengaruh minuman keras masih kuat dalam dirinya. Memang aku telah mendengar dan mengetahui bahwa ia tidak bisa lepas dari minuman itu.

Saat itu, ia mulai berbicara kepadaku dengan bahasa Arab, dan ia fasih menggunakannya. Melihat kesempatan itu, aku memberanikan diri berkata kepadanya:

“Jika engkau berkenan mendengarkan, aku akan mengatakan ini:

Engkau termasuk keturunan Sultan Atabik Ahmad, yang terkenal dengan kezuhudan dan kesalehan. Tidak ada sesuatu pun yang mencacatkan kerajaanmu selain perkara ini.”

Aku lalu menunjuk ke arah dua bejana emas dan perak di hadapannya, yang kutahu berisi minuman keras.

Wajahnya pun berubah. Ia merasa malu dengan ucapanku dan terdiam.

Aku hendak mohon diri, tetapi ia berkata:

“Duduklah. Berjumpa dengan orang seperti engkau adalah rahmat.”

Namun tidak lama kemudian, kulihat ia mulai terhuyung dan mengantuk, pertanda mabuk mulai menguasainya. Aku pun bangkit dan keluar.

Sandal yang Hilang dan Doa Seorang Faqih

Sandal sepatuku yang kutinggalkan di depan pintu tidak ada saat aku hendak memakainya. Faqih Mahmud segera turun ke bawah untuk mencarinya. Sementara itu, Faqih Fadhl naik ke bagian dalam majelis, mencari di sana.

Akhirnya ia menemukan sandalku di sebuah relung di ruangan itu. Ia membawanya kembali kepadaku. Aku merasa sangat malu oleh perhatian dan kebaikannya. Aku pun meminta maaf kepadanya.

Namun ia justru mencium sandalku, meletakkannya di atas kepalanya, lalu berkata:

“Semoga Allah memberkahimu. Apa yang engkau katakan kepada sultan kami itu tak ada seorang pun yang berani mengatakannya kecuali engkau. Demi Allah, aku berharap ucapanmu itu akan berpengaruh pada dirinya.”

Aku pun memendam harapan yang sama dalam hati.

Meninggalkan Idaj dan Menyusuri Pegunungan

Beberapa hari kemudian, aku berangkat meninggalkan kota Idaj. Sebelum itu, aku sempat singgah dan bermalam beberapa hari di sebuah madrasah yang disebut Madrasah al-Salāthīn, tempat dimakamkannya para sultan mereka.

Dari sana, Sultan Afrasyab mengirimkan kepadaku sejumlah dinar, dan mengirim jumlah yang sama pula kepada para sahabatku. Kami pun memulai perjalanan meninggalkan wilayahnya.

Selama sepuluh hari, kami menempuh perjalanan di pegunungan tinggi. Setiap malam kami bermalam di sebuah madrasah yang menyediakan makanan. Sebagian madrasah terletak di tengah pemukiman, sebagian lagi tidak ada bangunan lain di sekitarnya, tetapi semua kebutuhan — makanan, pakan, dan lainnya — didatangkan ke sana secara khusus.

Pada hari kesepuluh, kami singgah di sebuah madrasah bernama Karyu al-Rukh. Inilah titik terakhir batas kekuasaan Sultan Afrasyab.

Dari sana, kami melanjutkan perjalanan memasuki dataran luas yang banyak airnya. Wilayah itu termasuk kawasan administratif (‘imālah) kota Isfahan.

Kota Ashturkan dan Firuzan

Kami pertama kali sampai di sebuah kota bernama Ashturkan (dibaca dengan hamzah berharakat u, syin sukun, ta’ berharakat u, ra’ sukun, diakhiri dengan nun). Kota ini indah, penuh air dan kebun-kebun. Di sana ada sebuah masjid yang bagus, yang dialiri sungai yang membelah bangunannya.

Dari Ashturkan, kami berangkat menuju sebuah kota bernama Firuzan. Namanya terdengar seakan merupakan bentuk ganda dari “Firuz”. Kota ini kecil, namun memiliki sungai-sungai, pepohonan, dan kebun-kebun yang asri.

Kami tiba di Firuzan setelah salat Asar. Saat itu, kami melihat penduduknya keluar beramai-ramai untuk mengiringi sebuah jenazah. Di depan dan di belakang jenazah, mereka menyalakan obor-obor, dan jenazah itu diiringi oleh pemain seruling dan para penyanyi yang melantunkan berbagai lagu merdu.

Cara mereka mengantarkan jenazah seperti itu sangat mengherankan bagiku, karena di banyak negeri Islam lain, iringan jenazah biasanya tenang dan khusyuk tanpa nyanyian. Kami pun bermalam semalam di kota tersebut.

Desa Nublan dan Jalan Menuju Isfahan

Keesokan harinya, kami melewati sebuah desa besar bernama Nublan. Desa itu berada di tepi sungai besar. Di samping sungai itu berdiri sebuah masjid yang sangat indah. Untuk masuk ke dalamnya, harus menaiki beberapa anak tangga. Masjid itu dikelilingi oleh kebun-kebun hijau.

Hari itu, perjalanan kami menyusuri kebun-kebun, aliran air, desa-desa yang elok, dan menara-menara merpati yang menjulang di sana-sini. Pemandangannya menyejukkan mata.

Menjelang waktu Asar, kami akhirnya sampai di kota Isfahan, yang termasuk wilayah ‘Iraq al-‘Ajam. Nama Isfahan ada yang mengucapkannya dengan fa biasa, dan ada pula yang mengucapkannya dengan fa “tebal” (antara fa dan qaf).

Isfahan: Kota Besar yang Terkoyak Fitnah

Isfahan adalah salah satu kota besar dan terindah yang pernah kulihat. Namun ketika aku tiba, sebagian besar kotanya telah hancur akibat fitnah (pertikaian) yang berkepanjangan antara Ahlus Sunnah dan kaum Rafidhah. Konflik itu masih terus berlanjut hingga saat aku menulis kisah ini. Perang di antara mereka tidak pernah benar-benar padam.

Meski begitu, Isfahan tetap terkenal dengan buah-buahannya yang melimpah. Di antara yang paling masyhur adalah:

Aprikot yang tiada bandingannya. Mereka menyebut olahan keringnya Qamar al-Din. Buah itu dikeringkan dan disimpan sebagai bekal. Jika bijinya dipecah, di dalamnya ada kacang almond manis.

Buah qunjud (quince) yang sangat lezat rasanya dan besar ukuran buahnya.

Buah bidara (‘unāb/jujube) yang manis.

Semangka yang menakjubkan, tidak ada bandingannya kecuali semangka dari Bukhara dan Khwarizm. Kulit luarnya hijau, bagian dalamnya merah. Buah itu dapat diawetkan seperti orang di Maghrib (Maroko) mengawetkan daging dengan cara diiris tipis dan dikeringkan (al-syarīhah). Rasanya sangat manis.

Bagi orang yang belum terbiasa, pertama kali memakannya bisa membuat perut menjadi longgar. Begitu pula yang terjadi padaku ketika pertama kali makan semangka Isfahan.

Penduduk Isfahan sendiri berparas tampan dan cantik. Warna kulit mereka putih cemerlang bercampur merah. Sifat yang menonjol di antara mereka adalah keberanian dan kegagahan. Mereka juga terkenal dermawan.

Budaya Jamuan dan Kebanggaan Sosial di Isfahan

Salah satu hal yang paling unik di Isfahan adalah persaingan mereka dalam soal makanan dan jamuan. Sampai-sampai banyak kisah aneh beredar tentang hal itu.

Kadang seseorang mengundang temannya dengan berkata:

“Ayo ikut aku, kita makan nān dan mās.”

Dalam bahasa mereka, nān berarti roti, dan mās berarti susu. Namun ketika temannya itu datang, ternyata ia disuguhi aneka makanan yang luar biasa banyak dan lezat, jauh melampaui sekadar roti dan susu. Dengan cara itu, sang tuan rumah membanggakan diri di hadapan tamunya.

Di kota itu, setiap kelompok ahli profesi (para tukang, pedagang, dan lain-lain) memilih seorang pemimpin di antara mereka yang disebut al-kallū. Begitu pula para bangsawan dan pembesar kota yang bukan dari kalangan ahli profesi tertentu. Mereka membentuk kelompok-kelompok pemuda dan bujangan yang saling berbangga satu sama lain.

Masing-masing kelompok berusaha menampakkan apa yang sanggup mereka lakukan, terutama dalam soal jamuan makanan, dengan penuh kesungguhan dan kemegahan.

Diceritakan kepadaku bahwa pernah satu kelompok mengundang kelompok lain dan memberi jamuan. Mereka memasak makanan itu dengan api yang dinyalakan dari lilin. Lalu kelompok lain membalas undangan tersebut. Mereka memasak makanan dengan api yang dinyalakan dari sutra. Demikianlah bentuk berlebihan dan pamer yang mereka lakukan dalam hal jamuan.

Tinggal di Zawiyah Syaikh Ali bin Sahl

Di Isfahan, aku tinggal di sebuah zawiyah yang dinisbatkan kepada Syekh ‘Ali bin Sahl, murid al-Junaid, salah seorang tokoh besar tasawuf. Zawiyah ini sangat dihormati. Orang-orang dari berbagai penjuru datang ke sana untuk bertabarruk (mencari berkah) dengan mengunjunginya.

Di zawiyah itu disediakan makanan bagi siapa saja yang datang dan akan berangkat. Di sana juga terdapat sebuah pemandian umum yang menakjubkan: lantainya dari marmer, dan dinding-dindingnya dihiasi ubin qashani yang indah. Pemandian itu diwakafkan sebagai fasilitas umum (sabil), sehingga siapa pun yang masuk tidak dipungut bayaran.

Syekh yang memimpin zawiyah itu adalah seorang yang saleh, ahli ibadah, dan wara‘, bernama Qutbuddin Husain, putra dari seorang wali yang saleh, Syekh Syamsuddin Muhammad bin Mahmud bin ‘Ali, yang dikenal dengan sebutan al-Rajā’. Saudaranya adalah seorang alim dan mufti, bernama Syihabuddin Ahmad.

Aku tinggal bersama Syekh Qutbuddin di zawiyah ini selama empat belas hari. Selama itu, aku menyaksikan:

kesungguhannya dalam ibadah,

kecintaannya kepada orang-orang fakir dan miskin,

dan kerendahan hatinya di hadapan mereka.

Semua itu membuatku sangat kagum.

Ia sangat memuliakanku dan menjamuku dengan cara yang terbaik. Ia memberiku sepasang pakaian yang bagus. Saat pertama kali aku tiba di zawiyah, ia langsung mengirimkan makanan kepadaku, beserta tiga buah semangka dari jenis semangka yang telah kuceritakan tadi. Sebelumnya, aku belum pernah melihat dan memakannya sama sekali.

Demikianlah perjalananku dari kota Idaj, melalui negeri-negeri di pegunungan Lur, hingga sampai di kota besar Isfahan, dan bagaimana aku menemukan di sana kehancuran akibat fitnah, namun juga menyaksikan keindahan alam, kemurahan jamuan, dan kehidupan ruhani di zawiyah para wali.

Peta Perjalanan Ibnu Bathutah #24

Sumber kisah:

Ibnu Battutah, Rihlah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Sahabat Anshar: Suwaid, Iyas, Rafi’ dan Mu’adz – Pertemuan dengan Nabi di Makkah dan Awal Islam di Madinah

Rihlah Ibnu Bathutah #23 : Dari Basrah ke Tustar dan Īydzaj