Rihlah Ibnu Bathutah #23 : Dari Basrah ke Tustar dan Īydzaj
1. Di Masjid Jami’ Basrah
Suatu hari, Ibnu Battutah menghadiri salat Jumat di masjid
jami’ kota Basrah. Ia duduk di antara jamaah, mendengarkan khatib naik ke
mimbar dan memulai khutbah.
Tetapi, sepanjang khutbah itu, sang khatib berkali-kali
salah dalam tata bahasa Arab (nahwu). Kesalahannya bukan sedikit, dan cukup
kentara di telinga siapa pun yang faham bahasa Arab yang baik.
Ibnu Battutah terheran-heran. Setelah salat usai, ia
mendatangi Qadhi Hujjatuddin dan menceritakan hal itu.
Qadhi itu berkata, kira-kira:
“Di negeri ini sudah hampir tidak ada lagi orang yang
menguasai ilmu nahwu. Itu menjadi pelajaran bagi siapa saja yang mau berpikir.”
Ibnu Battutah lalu merenung. Betapa berubahnya keadaan.
Inilah Basrah—dulu pusat ilmu nahwu di dunia Islam. Di kota inilah lahir dan
berkembang ilmu tata bahasa Arab. Di sinilah tinggal para imam besar nahwu,
termasuk imam yang keilmuannya tidak disangkal siapa pun: Sibawaih.
Namun sekarang, di kota yang pernah memimpin dunia dalam
ilmu bahasa, khatib Jumat tidak lagi mampu menyampaikan khutbah dengan bahasa
Arab yang lurus.
Beberapa abad kemudian, seorang ulama Basrah, Syaikh ‘Utsman
bin Sand al-Maliki, menggambarkan kemunduran ilmu di kotanya dengan bait syair:
Dahulu Basrah yang luas sejak masa silam
Menjadi aliran samudera nahwu yang memuntahkan mutiara.
Kini ia berselempang kuning, merana tak berdaya,
Hampir tak ada ahli nahwu, dan mereka pun orang fakir tak berkuasa.
2. Menara yang Bergerak di Basrah
Masjid jami’ Basrah, yang dikunjungi Ibnu Battutah itu,
memiliki tujuh menara. Salah satunya terkenal dengan cerita aneh: menurut
penduduk setempat, menara itu bisa bergerak bila nama ‘Ali bin Abi Thalib
disebut.
Ibnu Battutah tertarik dan ingin membuktikannya. Ia naik ke
menara itu dari atap masjid, ditemani beberapa orang Basrah. Di salah satu
sudut menara, ia melihat sebuah pegangan kayu yang dipaku di dinding, mirip
gagang alat penghalus dinding.
Salah satu orang Basrah yang bersamanya memegang pegangan
kayu itu, lalu berseru:
“Demi kepala Amirul Mukminin ‘Ali radhiyallahu ‘anhu,
bergeraklah!”
Ia menggoyang pegangan itu, dan menara pun tampak
berguncang.
Ibnu Battutah kemudian ikut mencoba. Ia memegang pegangan
itu dan berkata:
“Demi kepala Abu Bakar, khalifah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, bergeraklah!”
Ia menggoyangkannya, dan menara itu pun kembali berguncang.
Orang-orang terkejut; jelaslah bahwa gerakan itu karena pegangan dan struktur
menara, bukan karena lafaz tertentu.
Ia lalu mencatat: penduduk Basrah saat itu bermazhab Ahlus
Sunnah wal Jama’ah. Apa yang ia lakukan—menyebut nama Abu Bakar di tempat yang
dianggap keramat—tidak menimbulkan bahaya apa pun. Namun, menurutnya, kalau hal
seperti itu dilakukan di beberapa kota yang dikuasai kelompok Syi’ah ekstrem
(yang ia sebut “Rafidhah”), seperti Mashhad al-Husain, al-Hillah, al-Bahrain,
Qumm, Qashan, Sāwah, Āwah, atau Thus, bisa jadi pelakunya akan dibunuh.
3. Menara Bergetar di Andalus
Sahabat dan penulis ringkasan perjalanannya, Ibnu Juzayy,
menambahkan cerita lain. Ia bercerita bahwa ia pernah menyaksikan fenomena
mirip ini di negeri Andalus, di sebuah kota bernama Barshanah di Wadi
al-Manshurah.
Di sana, di masjid jami’ agung, ada sebuah menara yang juga
bisa digoyang sampai bergetar. Namun, tidak ada kaitannya dengan menyebut nama
khalifah atau tokoh tertentu.
Menara itu bukan bangunan tua; justru termasuk menara
terbaik yang pernah ia lihat: indah, proporsional, tinggi, dan tegak lurus
tanpa miring.
Ibnu Juzayy bercerita: ia pernah naik ke puncaknya bersama
sekelompok orang. Sebagian dari mereka memegang sisi atas menara dan
menggoyangnya. Menara itu pun ikut bergetar. Ia lalu memberi isyarat agar
mereka berhenti, dan mereka pun menghentikan goyangan itu.
4. Makam-Makam Mulia di Basrah
Ibnu Battutah kemudian menceritakan makam-makam yang
dimuliakan di Basrah:
- Makam
Thalhah bin ‘Ubaidillah
Salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Makamnya berada di dalam kota Basrah. Di atasnya ada kubah, masjid jami’, dan sebuah zawiyah yang menyediakan makanan bagi para pendatang dan musafir. Penduduk Basrah sangat memuliakan makam ini, dan itu memang sepantasnya. - Makam
az-Zubair bin al-‘Awwam
Hawari (sahabat setia) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan putra bibi beliau. Makamnya berada di luar kota Basrah. Tidak ada kubah di atasnya, tetapi ada masjid dan zawiyah yang memberi makan orang-orang yang lewat dan para musafir. - Makam
Anas bin Malik
Mantan pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kuburnya terletak sekitar enam mil dari Basrah, dekat sebuah lembah bernama Wadi as-Sibā‘ (Lembah Singa). Karena daerah itu sepi dan banyak binatang buas, makam ini hanya bisa diziarahi dengan rombongan besar demi keselamatan. - Para
tabi’in dan wali besar Basrah
Di dalam tembok lama kota, Ibnu Battutah menyebut beberapa makam tokoh besar: - al-Hasan
al-Bashri, pemuka para tabi’in
- ‘Utbah
al-Ghulam
- Malik
bin Dinar
- Habib
al-‘Ajami
- Sahl
bin ‘Abdullah at-Tustari
Di atas setiap kubur terdapat kubah. Di kubah itu tertulis
nama yang dimakamkan dan tahun wafatnya. Jarak antara kompleks makam-makam itu
dengan pusat kota sekarang sekitar tiga mil.
Selain nama-nama terkenal itu, di sekitar Basrah juga
terdapat begitu banyak makam sahabat dan tabi’in lain, termasuk mereka yang
gugur sebagai syahid pada Perang Jamal (perang antara pasukan
‘Ali dan pasukan yang dipimpin oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha di dekat
Basrah).
5. Gubernur Basrah dan Kondisi Kota
Secara geografis, Basrah terletak di tepi pertemuan dua
sungai besar, Furat dan Dajlah (Eufrat dan Tigris). Di sana terjadi
pasang-surut air, mirip dengan fenomena di Wadi Sla di negeri Maghrib (Maroko)
dan di tempat lain.
Sekitar sepuluh mil dari kota, ada sebuah teluk air asin
yang bersambung dengan Laut Persia (Teluk Fars).
- Saat air
pasang, air asin dari teluk mengalir naik dan mengalahkan air tawar di
sungai.
- Saat air
surut, air tawar mengalir kuat dan mengalahkan air asin.
Karena itu, penduduk Basrah sering kali harus mengambil air
minum yang rasanya kurang enak, kadang asin-pahit. Air mereka sampai
dijuluki “mā’ zu‘āq”—air yang pahit dan tak sedap.
Ibnu Juzayy menambahkan bahwa karena kondisi air dan udara
seperti itu, iklim Basrah menjadi kurang sehat. Warna kulit penduduknya
kekuningan dan tampak kusam, sampai-sampai mereka menjadi bahan perumpamaan.
Ia menukil bait seorang penyair, ketika di hadapan seorang
pejabat dihidangkan sebuah utruj (sejenis buah sitrus besar):
Demi Allah, buah utruj yang hadir di tengah kami ini
mewakili keadaan seseorang yang penuh pelajaran.
Ketika Allah mengenakan pakaian kurus merana
kepada para pecinta dan para penghuni Basrah…
6. Perjalanan dengan Perahu Kecil ke al-Ubulla
Sepanjang perjalanan, di kanan dan kiri sungai, tampak:
- kebun-kebun
yang bersambung tanpa putus
- pohon-pohon
kurma yang menaungi tepian
- para
penjual duduk di bawah pohon menjajakan roti, ikan, kurma, susu, dan aneka
buah.
Di tengah rute antara Basrah dan al-Ubulla, mereka melewati
sebuah tempat ibadah yang dinisbatkan kepada Sahl bin ‘Abdullah
at-Tustari, seorang wali besar. Ketika perahu-perahu para musafir sejajar
dengan tempat itu, para penumpang biasa:
- mengambil
air dari bagian sungai yang sejajar dengan tempat ibadah itu
- meminumnya
seraya berdoa, mengharap berkah melalui wali tersebut.
7. Al-Ubulla dan Sisa Kejayaannya
Al-Ubulla, pada masa lalu, adalah kota besar. Para pedagang
dari India dan Persia biasa datang ke sana dan menjadikannya pelabuhan penting.
Namun, pada masa Ibnu Battutah, kota itu telah hancur dan hanya tersisa sebagai
sebuah desa.
Di desa itu masih terlihat bekas-bekas istana dan bangunan
besar lain, menjadi saksi bisu bahwa tempat itu dulu pernah sangat makmur dan
berpengaruh.
8. Menuju ‘Abadān dan Negeri Gersang di Tepi Laut
Beberapa waktu kemudian, mereka tiba di ‘Abadān,
sebuah desa besar yang berdiri di atas tanah sabkha—tanah garam
yang gersang, tanpa lahan pertanian. Di sana:
- tidak
ada tanaman dan hasil bumi; semua kebutuhan didatangkan dari luar
- air
pun sangat sedikit
- meski
begitu, banyak terdapat masjid, tempat-tempat ibadah, dan ribath-ribath
untuk orang-orang saleh
- desa
ini terletak sekitar tiga mil dari pesisir laut.
Ibnu Juzayy menambahkan penjelasan tentang ‘Abadān.
Menurutnya, dulu ia adalah sebuah kota. Namun ia sangat gersang. Air dan
makanan harus diangkut dari luar. Seorang penyair menggambarkannya:
Sampaikanlah kepada Andalus bahwa aku
telah singgah di ‘Abadān, ujung paling jauh dari bumi.
Tempat paling sunyi yang pernah kupandang, namun
aku mendatanginya agar namanya tetap tercatat di antara manusia.
Roti di sana saling dihadiahkan satu sama lain,
dan seteguk air di sana diperjualbelikan.
Di tepi laut dekat ‘Abadān ada sebuah ribath yang
dinisbatkan kepada al-Khidr dan Ilyas ‘alaihimassalam. Berhadapan
dengan ribath itu ada sebuah zawiyah yang dihuni empat orang
fakir beserta anak-anak mereka. Mereka:
- melayani
para tamu ribath dan zawiyah
- mengurusi
kebutuhan ibadah di sana
- hidup
dari sedekah para musafir yang lewat.
9. Ahli Ibadah Misterius yang Datang Sebulan Sekali
Penduduk zawiyah itu menceritakan kepada Ibnu Battutah
tentang seorang ahli ibadah besar di ‘Abadān. Mereka berkata:
- ia
seorang hamba Allah yang tinggi kedudukannya
- ia
hidup menyendiri, tanpa teman
- sekali
dalam sebulan, ia mendatangi laut
- ia
memancing ikan secukupnya untuk bekal sebulan
- setelah
itu, ia tidak terlihat lagi sampai sebulan berikutnya
- ia
sudah bertahun-tahun hidup seperti itu.
Ketika rombongan Ibnu Battutah sampai di ‘Abadān, ia merasa
tidak punya urusan lain yang lebih penting selain mencari lelaki ahli ibadah
itu.
Teman-temannya sibuk salat di masjid-masjid dan tempat
ibadah. Ia sendiri berjalan menyusuri daerah itu, mencari-cari sang wali.
Akhirnya, ia masuk ke sebuah masjid yang hampir runtuh. Di
sana ia melihat seorang lelaki sedang salat. Ia yakin, inilah orang yang
diceritakan.
Ibnu Battutah duduk di sampingnya menunggu. Sang lelaki
meringkas salatnya. Setelah salam, ia menoleh kepada Ibnu Battutah, memegang
tangannya, dan berkata:
“Semoga Allah menyampaikan engkau pada tujuanmu di dunia
dan akhirat.
Adapun aku, alhamdulillah, sudah mencapai tujuan hidupku di dunia:
berkelana (bersiyāhah) di muka bumi.
Dalam hal itu, aku telah mencapai apa yang tidak dicapai orang lain—setahu aku.
Kini tersisa tujuan di akhirat.
Harapanku kuat kepada rahmat Allah, ampunan-Nya, dan tercapainya tujuan: masuk
surga.”
Kata-kata itu membekas kuat di hati Ibnu Battutah. Setelah
itu ia kembali menemui sahabat-sahabatnya, menceritakan pertemuannya dengan
ahli ibadah tersebut dan menunjukkan lokasi masjidnya.
Mereka semua pergi ke sana, tetapi… tak seorang pun
menemukannya. Seakan-akan ia lenyap begitu saja, tanpa jejak. Mereka pun
keheranan.
10. Jamuan Seekor Ikan Segar
Menjelang sore, rombongan kembali ke zawiyah dan bermalam di
sana.
Setelah salat Isya’, salah seorang dari empat fakir penjaga
zawiyah masuk menemui mereka. Fakir ini punya kebiasaan:
- setiap
malam ia pergi ke ‘Abadān
- menyalakan
lampu-lampu di masjid-masjid desa itu
- lalu
kembali ke zawiyah.
Malam itu, ketika ia sampai di ‘Abadān, ia berjumpa dengan
lelaki ahli ibadah tadi. Sang wali memberinya seekor ikan segar dan berkata:
“Sampaikan ikan ini kepada tamu yang datang hari ini.”
Ketika fakir itu masuk ke zawiyah, ia bertanya:
“Siapa di antara kalian yang hari ini melihat syaikh
itu?”
Ibnu Battutah menjawab, “Aku melihatnya.”
Fakir itu berkata, “Ini adalah jamuan untukmu,” lalu
menyerahkan ikan tersebut.
Ibnu Battutah bersyukur kepada Allah atas karunia itu. Fakir
tersebut memasak ikan itu untuk mereka, dan seluruh rombongan makan bersama.
Ibnu Battutah bersaksi: ia belum pernah makan ikan yang lebih lezat dari itu.
Dalam hati, sempat terlintas keinginan kuat untuk menetap
seumur hidup di sana, menghabiskan hari-hari dalam khidmat kepada syaikh ahli
ibadah tersebut. Tetapi jiwanya yang selalu terdorong untuk terus melanjutkan
perjalanan membuat keinginan itu surut. Ia pun memilih untuk tetap berkelana.
11. Menuju Majul dan Kebiasaan Tidak Mengulang Jalan
Saat fajar menjelang, mereka kembali naik perahu. Tujuan
berikutnya adalah sebuah kota bernama Majul.
Ibnu Battutah punya kebiasaan dalam safarnya: sejauh
mungkin, ia menghindari mengulang rute yang sama. Ia lebih suka selalu melalui
jalan baru. Dalam hatinya ia sebenarnya ingin langsung menuju Baghdad di
Irak. Namun, beberapa penduduk Basrah menyarankannya:
“Pergilah dulu ke negeri Lur, lalu ke Irak
‘Ajam (Irak wilayah Persia), baru kemudian ke Irak ‘Arab (Irak
wilayah Arab).”
Ia menerima saran itu.
Setelah empat hari berlayar, mereka tiba di kota Majul—namanya
dibaca dengan pola fā‘ūl, dengan huruf jim berbaris dhammah.
Kota kecil ini berada di tepi teluk yang bercabang dari Laut Persia. Tanah di
sekelilingnya adalah sabkha, tanah garam: tandus, tanpa pepohonan dan tanaman.
Meski kecil dan gersang, Majul memiliki pasar yang
sangat besar, termasuk salah satu pasar terbesar yang pernah ia lihat. Ia
tinggal di sana hanya satu hari.
12. Ramaz dan Dataran Tinggal Orang-Orang Kurdi
Padang itu dihuni oleh orang-orang Kurdi yang
tinggal di tenda-tenda dari bulu (mirip kain wol tebal). Ada yang mengatakan
bahwa asal-usul orang Kurdi adalah dari bangsa Arab.
Akhirnya, mereka sampai di kota Ramaz. Ibnu
Battutah menjelaskan cara membaca namanya: huruf pertama ra’, huruf
terakhir zay, dan mim-nya berbaris kasrah (dibaca
“Rāmez”).
Ramaz adalah kota yang indah, banyak buah-buahan dan dialiri
sungai-sungai kecil. Di sana, Ibnu Battutah menginap di rumah Qadhi
Husamuddin Mahmud.
Di rumah sang qadhi, ia bertemu dengan seorang alim yang
saleh, wara’, dan berilmu. Ia berasal dari India, bernama Bahā’uddin
Isma‘il, keturunan Syaikh Bahā’uddin Abu Zakariyya al-Multani. Ia pernah
berguru kepada para ulama di Tabriz (disebut Tuwriz) dan kota-kota lain.
Ibnu Battutah tinggal di Ramaz hanya satu malam.
Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan tiga hari
lagi, melewati dataran yang di dalamnya terdapat desa-desa Kurdi. Di sinilah ia
menyaksikan betapa hidupnya tradisi zawiyah di jalur itu:
- Di
setiap etape perjalanan, ada satu zawiyah yang khusus menampung para
musafir.
- Di
zawiyah itu, disediakan secara cuma-cuma:
- roti
- daging
- makanan
manis yang dibuat dari sirup anggur pekat dicampur
tepung dan samin.
Di setiap zawiyah ada:
- seorang
syaikh,
- imam,
- para
muazin,
- seorang
pelayan yang mengurus para fakir dan juga para budak yang bertugas
memasak.
Semua bekerja rapi, melayani para pendatang di jalan.
13. Kota Tustar dan Sungai Biru yang Dingin
Setelah tiga hari perjalanan dari Ramaz, Ibnu Battutah
sampai di kota Tustar. Ia menjelaskan bahwa:
- Tustar
adalah ujung dataran wilayah kekuasaan penguasa bergelar
Atabeg
- sekaligus awal
daerah pegunungan.
Kota ini:
- besar,
elok, dan hijau
- penuh
kebun dan taman yang indah
- memiliki
pasar-pasar yang ramai dan tertata
- merupakan
kota tua yang dahulu ditaklukkan oleh Khalid bin al-Walid radhiyallahu
‘anhu.
Ke Tustar inilah dinisbatkan seorang wali besar, Sahl
bin ‘Abdullah at-Tustari.
Mengelilingi kota ini mengalir sebuah sungai yang mereka
sebut al-Azraq—“Sungai Biru”. Sungai ini:
- sangat
jernih
- sangat
dingin, terutama di hari-hari yang terik
- warna
birunya begitu kuat, hingga Ibnu Battutah berkata:
“Aku tidak pernah melihat biru yang seperti itu kecuali
pada sungai di Balkhshan.”
Sungai ini dalam, di sepanjang tepinya terdapat:
- kebun-kebun
- kincir-kincir
air.
Pada gerbang khusus para musafir itu, dibangun sebuah jembatan
dari perahu-perahu yang disusun berjajar, lalu ditaburi papan di
atasnya—mirip jembatan yang ada di Baghdad dan al-Hillah.
Ibnu Juzayy menulis sebuah bait tentang sistem aliran air di
Tustar, yang dikenal dengan sebutan Shādhrawān Tustar:
Lihatlah Shādhrawān Tustar, dan kagumlah
bagaimana ia mengumpulkan air untuk mengairi negerinya;
bagai seorang kikir yang hartanya dikumpulkan,
lalu ia membaginya kepada para tentaranya.
Buah-buahan di Tustar sangat banyak, dan rezeki di sana
mudah didapat. Menurut Ibnu Battutah, tidak ada pasar lain yang
ia lihat yang menandingi keindahan pasar-pasar Tustar.
14. Makam yang Dimuliakan di Luar Kota
Di luar kota Tustar, ada sebuah kompleks makam (turbah) yang
sangat dimuliakan oleh penduduk sekitarnya. Mereka biasa:
- mendatanginya
untuk berziarah
- bernazar
di sana dan menunaikan nazar mereka.
Di kompleks itu juga ada sebuah zawiyah tempat tinggal
sekelompok fakir. Penduduk meyakini bahwa makam itu adalah makam Zain
al-‘Abidin ‘Ali bin al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
‘anhum.
15. Tinggal di Madrasah Syaikh Sharafuddin Musa
Di Tustar inilah Ibnu Battutah bertemu seorang tokoh
besar: Syaikh, Imam, al-‘Alim, ash-Shalih, Syarafuddin Musa bin
ash-Shalih, Imam, al-‘Alim, Shadruddin Sulaiman.
Beliau adalah keturunan dari Sahl bin ‘Abdullah
at-Tustari, seorang wali besar yang namanya sudah disebut sebelumnya.
Syaikh Sharafuddin Musa:
- memiliki
ilmu yang luas
- dikenal
saleh dan zuhud
- dermawan
dan suka mendahulukan kebutuhan orang lain daripada dirinya (itsar)
- mendirikan
sebuah madrasah dan sebuah zawiyah
- memiliki
sistem pelayanan yang sangat rapi untuk para tamu dan penuntut ilmu.
Para pelayan zawiyahnya adalah para pemuda yang diberi
amanah khusus. Ada empat orang utama:
- Sanbal –
mengurus seluruh harta wakaf zawiyah
- Kafur –
mengatur pengeluaran harian dan kebutuhan belanja
- Jawhar –
melayani hidangan di hadapan para tamu dan mengatur pembagian makanan
- Surur –
mengatur para juru masak, pembawa air, dan petugas kebersihan dan tempat
tidur.
Ibnu Battutah tinggal di madrasah ini selama enam
belas hari. Ia berkata bahwa ia tidak pernah melihat:
- pengaturan
yang lebih menakjubkan dari milik Syaikh Sharafuddin
- makanan
yang lebih melimpah dan berkualitas.
Untuk satu orang tamu, biasa dihidangkan makanan
yang cukup untuk empat orang, berupa:
- nasi
putih yang dimasak dengan samin sehingga butirannya terpisah rapi
- ayam
goreng
- roti
- daging
- aneka
makanan manis.
Syaikh Sharafuddin sendiri:
- berwajah
tampan
- akhlaknya
lurus dan terpuji
- memberikan
nasihat dan khutbah kepada masyarakat setiap salat Jumat di
masjid jami’ kota.
Ibnu Battutah, yang sudah mendengar banyak penceramah di
Hijaz, Syam, dan Mesir, menilai: setelah menyaksikan majelis Syaikh
Sharafuddin, semua penceramah yang pernah ia lihat sebelumnya terasa “kecil” di
matanya. Ia belum menemukan orang seperti beliau.
16. Sebuah Majelis Ilmu di Kebun Tepi Sungai
Suatu hari, Ibnu Battutah hadir di sebuah majelis yang
diadakan Syaikh Sharafuddin di kebun miliknya di tepi sungai.
Ketika itu:
- para
fuqaha’ (ahli fikih) kota datang berkumpul
- tokoh-tokoh
dan pembesar Tustar hadir
- para
ulama dari daerah sekitar juga berdatangan.
Pertama-tama, Syaikh Sharafuddin menjamu semua yang hadir
dengan makanan. Setelah itu, ia mengimami salat Zuhur, kemudian
berdiri untuk berkhutbah dan memberi nasihat.
Sebelum beliau berkhutbah, beberapa qari’ membacakan
Al-Qur’an di hadapannya dengan:
- lagu-lagu
bacaan yang menyentuh
- nada-nada
yang membuat orang mudah tersentuh dan menangis.
Lalu Syaikh Sharafuddin mulai berbicara:
- Khutbahnya
disampaikan dengan tenang dan berwibawa
- Ia
menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an
- Menyebutkan
hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
- Menjelaskan
makna-makna dan pelajaran yang terkandung di dalamnya.
Di tengah-tengah khutbah, dari berbagai penjuru orang
melemparkan kertas-kertas kecil (riqā‘) ke arah beliau. Itu
adalah kebiasaan orang ‘ajam (non-Arab) ketika menghadiri majelis nasihat:
- mereka
menuliskan pertanyaan atau masalah di secarik kertas
- lalu
melemparkannya kepada sang pemberi nasihat untuk dijawab.
Syaikh Sharafuddin mengumpulkan kertas-kertas itu di
tangannya, lalu:
- membacanya
satu per satu
- memberikan
jawaban yang indah dan jelas untuk tiap pertanyaan.
Demikian berlangsung hingga masuk waktu salat Asar.
Setelah menjawab semua pertanyaan, ia mengimami salat Asar, kemudian majelis
pun bubar.
Ibnu Battutah menggambarkan majelis itu sebagai:
- majelis
ilmu
- majelis
nasihat
- dan
majelis penuh berkah.
Di akhir majelis, banyak orang yang datang menyatakan
taubat. Mereka maju ke hadapan Syaikh Sharafuddin, dan beliau:
- mengambil
janji (baiat) dari mereka untuk bertaubat sungguh-sungguh
- memotong
sebagian rambut di ubun-ubun mereka sebagai tanda taubat.
Hari itu, ada:
- lima
belas orang penuntut ilmu yang datang dari Basrah khusus untuk
bertaubat di tangannya
- sepuluh
orang dari kalangan awam penduduk Tustar.
17. Demam di Negeri yang Subur
Saat pertama kali tiba di Tustar, Ibnu Battutah
terserang demam. Ia menjelaskan bahwa negeri yang banyak air dan
buah-buahan sering kali membuat pendatang mudah terserang demam di musim panas,
sebagaimana terjadi di Damaskus dan beberapa kota lain.
Tak hanya ia, sahabat-sahabatnya pun ikut sakit. Seorang
syaikh bernama Yahya al-Khurasani bahkan meninggal dunia.
Syaikh Sharafuddin sendiri yang mengurus:
- semua
keperluan pemakaman
- pengkafanan
- hingga
menshalatkannya.
Seorang sahabat lain, Bahā’uddin al-Khushni,
juga tertinggal di Tustar dalam keadaan sakit, dan wafat setelah Ibnu Battutah
melanjutkan perjalanan.
Dalam kondisi sakit, Ibnu Battutah kehilangan selera makan
terhadap hidangan yang setiap hari disajikan di madrasah. Lalu seorang faqih,
murid Syaikh Sharafuddin bernama Syamsuddin as-Sindi, menyebutkan
nama sebuah makanan yang khas. Ibnu Battutah langsung tertarik ingin
memakannya.
Ia pun memberikan beberapa dirham kepada Syamsuddin. Sang
faqih pergi ke pasar, memasakkan makanan itu di sana, kemudian membawanya ke
madrasah. Ibnu Battutah makan dengan lahap.
Berita ini terdengar oleh Syaikh Sharafuddin. Beliau merasa
tersinggung—bukan karena pelit, tetapi karena merasa belum maksimal melayani
tamunya. Ia datang menemui Ibnu Battutah dan berkata, dengan nada menegur namun
lembut:
“Mengapa engkau melakukan ini, memasak makanan di pasar?
Mengapa engkau tidak memerintahkan para pelayan agar mereka membuatkan untukmu
apa yang engkau inginkan?”
Setelah itu, ia memanggil semua pelayan dan berkata di
hadapan mereka:
“Apa pun makanan yang ia minta, dari berbagai jenis
hidangan dan gula, bawakan untuknya.
Masakkan untuknya apa saja yang ia kehendaki.”
Ia menegaskan perintah itu berulang kali, agar tidak
disepelekan.
Ibnu Battutah sangat terharu dan berdoa, “Semoga Allah
membalasnya dengan sebaik-baik balasan.”
18. Meninggalkan Tustar Menuju Īydzaj
Setelah sembuh dan tinggal beberapa lama, Ibnu Battutah
kembali melanjutkan perjalanan. Dari Tustar, ia dan rombongannya berjalan
selama tiga hari menembus pegunungan yang tinggi dan
terjal.
Seperti sebelumnya, di setiap tempat singgah ada
sebuah zawiyah yang menyediakan:
- makan
- tempat
istirahat
- dan
layanan bagi para musafir.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah kota bernama Īydzaj.
Ibnu Battutah menjelaskan cara membacanya:
- hamzah
berbaris kasrah (I)
- diikuti
ya’ panjang
- dzal
(ذ)
ber-titik berbaris fathah
- kemudian
jim.
Kota ini juga dikenal dengan nama Māl al-Amīr (“Harta
Sang Amir”). Di sinilah terletak ibu kota Sultan Atabeg.
19. Syaikh Nuruddin al-Kirmani dan Zawiyah Dinawari
Setiba di Īydzaj, Ibnu Battutah dipertemukan dengan seorang
tokoh besar di kota itu: Syaikh para syaikh, seorang alim yang
wara’ bernama Nuruddin al-Kirmani.
Beliaulah:
- yang
mengawasi seluruh zawiyah di kota itu—dan di sana, zawiyah-zawiyah ini
biasa disebut madrasah
- tokoh
yang sangat dihormati sultan
- setiap
pagi dan petang, sultan serta para pembesar istana rutin datang
menjenguknya.
Syaikh Nuruddin menyambut Ibnu Battutah:
- memuliakan
dan menjamunya
- menempatkannya
di sebuah zawiyah yang dikenal dengan nama Zawiyah Dinawari.
Ibnu Battutah tinggal di Īydzaj selama beberapa hari. Saat
itu, musim panas sedang mencapai puncaknya. Mereka biasa:
- salat
malam (qiyamullail)
- lalu
tidur di atas atap zawiyah, karena udara lebih sejuk di sana
- menjelang
pertengahan pagi, mereka turun kembali ke dalam zawiyah.
Kala itu, dalam rombongan Ibnu Battutah terdapat dua
belas orang fakir, di antaranya:
- seorang
imam
- dua
qari’ yang sangat baik bacaannya
- dan
seorang pelayan khusus.
Mereka hidup dalam tatanan yang rapi, teratur, dan saling
menolong, melanjutkan perjalanan panjang menelusuri berbagai negeri, mencari
ilmu, pengalaman, dan tanda-tanda kebesaran Allah di muka bumi.
Peta Perjalanan Ibnu Bathutah #23
Sumber Kisah
- Ibnu Battutah, ar-Rihlah






Komentar
Posting Komentar