Rihlah Ibnu Bathutah 19# : Para Wali dan Orang-Orang Saleh di Tanah Suci

 

Ilustrasi suasana malam di Masjidil Haram abad ke-14 dengan Ka'bah di tengah dikelilingi lentera minyak, seorang pria berpakaian sederhana berjalan sendirian mengelilingi Ka'bah dalam keadaan linglung di bawah cahaya bulan purnama, menggambarkan kisah Hasan al-Maghribi dari catatan perjalanan Ibnu Battuta.

Pembuka

Di kota Mekah yang mulia, berkumpullah para pencari kebenaran dari berbagai penjuru dunia. Mereka datang bukan sekadar untuk berhaji atau berumrah, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Mereka memilih hidup sederhana di dekat Ka'bah, menghabiskan siang dan malam dalam ibadah. Inilah kisah-kisah mereka yang penuh hikmah dan keajaiban.


Sang Pencinta Ka'bah

Di antara para mukim Mekah, hiduplah seorang ulama besar bernama Afifuddin Abdullah bin As'ad al-Yamani. Orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan al-Yafi'i. Beliau adalah seorang imam yang alim, sufi yang dalam ilmunya, dan ahli ibadah yang tekun.

Cintanya kepada Ka'bah begitu mendalam. Hampir setiap waktu, baik di keheningan malam maupun di teriknya siang, beliau melakukan tawaf mengelilingi Baitullah. Bila lelah mengalahkannya, beliau naik ke atap Madrasah al-Muzhaffariyyah. Di sana, beliau duduk memandangi Ka'bah dengan penuh kerinduan.

Ketika kantuk datang menghampiri, beliau tidak mencari kasur empuk. Cukup sebongkah batu diletakkan di bawah kepala. Tidurnya hanya sebentar. Begitu terbangun, beliau segera memperbarui wudu dan kembali bertawaf hingga waktu Subuh tiba.

Beliau menikah dengan putri seorang ulama bernama Syihabuddin bin al-Burhan. Sang istri masih sangat muda. Kehidupan dengan suami yang nyaris seluruh waktunya dihabiskan untuk ibadah tentu tidak mudah baginya. Ia sering mengadukan keadaannya kepada sang ayah. Namun ayahnya selalu berpesan agar bersabar. Bertahun-tahun ia bertahan, hingga akhirnya mereka berpisah juga.


Para Ahli Ibadah di Tanah Haram

Selain al-Yafi'i, banyak orang saleh lainnya yang memilih bermukim di Mekah.

Ada Najmuddin al-Asfuni. Dahulu beliau adalah seorang hakim di wilayah Sha'id, Mesir Hulu. Namun hatinya rindu akan kedekatan dengan Allah. Beliau meninggalkan jabatannya dan memilih bermukim di dekat Masjidil Haram.

Setiap hari, tanpa pernah absen, beliau melakukan umrah dari Tan'im. Bahkan di bulan Ramadan, beliau melakukannya dua kali sehari. Semua itu karena beliau berpegang teguh pada sabda Rasulullah ﷺ:

"Umrah di bulan Ramadan setara dengan haji bersamaku."

Ada pula Syamsuddin Muhammad al-Halabi. Beliau termasuk mukim senior yang wafat di Mekah. Sepanjang hidupnya dipenuhi dengan tawaf dan membaca Al-Qur'an.

Lain lagi dengan Abu Bakar asy-Syirazi. Orang-orang menjulukinya "ash-Shamit" yang berarti si pendiam. Julukan itu sangat tepat, karena beliau tinggal di Mekah bertahun-tahun lamanya tanpa pernah berbicara sepatah kata pun. Seluruh waktunya dihabiskan untuk bertawaf dalam keheningan.

Khidb al-'Ajami memilih jalan yang tak kalah menakjubkan. Hidupnya dipenuhi tiga hal: berpuasa, membaca Al-Qur'an, dan bertawaf.


Penceramah yang Menggugah Hati

Di antara mereka juga ada Syekh Burhanuddin al-'Ajami. Beliau adalah seorang penceramah yang luar biasa. Di hadapan Ka'bah yang mulia, didirikan sebuah kursi untuknya. Dari sana, beliau menyampaikan nasihat kepada jamaah.

Lisannya fasih, hatinya khusyuk. Kata-katanya mengalir begitu menyentuh, mampu menggugah hati siapa pun yang mendengarnya. Orang-orang terpaku mendengarkan nasihatnya.


Guru Para Yatim

Burhanuddin Ibrahim al-Mishri adalah sosok yang berbeda. Beliau seorang qari yang mahir, tinggal di Ribath as-Sidrah. Orang-orang dari Mesir dan Syam sering datang membawakan sedekah kepadanya.

Namun beliau tidak menyimpan sedekah itu untuk dirinya sendiri. Seluruhnya digunakan untuk para anak yatim. Beliau mengajarkan mereka Al-Qur'an, menanggung nafkah mereka, dan memberikan pakaian kepada mereka. Hidupnya diabdikan untuk masa depan generasi yang kehilangan orang tua.


Sang Dermawan dari Wasith

Izzuddin al-Wasithi adalah orang kaya. Setiap tahun, harta yang melimpah dikirimkan kepadanya dari negeri asalnya. Namun kekayaan itu tidak membuatnya hidup bermewah-mewahan.

Dengan harta tersebut, beliau membeli biji-bijian dan kurma. Semua itu dibagikan kepada orang-orang lemah dan fakir miskin. Yang lebih menakjubkan, beliau tidak sekadar memberi. Dengan tangannya sendiri, beliau mengantarkan bantuan itu ke rumah-rumah mereka.

Begitulah kebiasaannya, tak pernah berubah, hingga akhir hayatnya.


Sahabat Ayahku dari Tanjah

Abul Hasan Ali bin Rizqillah al-Anjari berasal dari wilayah Tanjah, di ujung barat Maghrib. Beliau termasuk orang-orang saleh terkemuka yang memilih bermukim di Mekah.

Antara beliau dan ayahku terjalin persahabatan yang erat. Setiap kali beliau berkunjung ke kota kami, Tanjah, beliau selalu menginap di rumah kami.

Di Mekah, beliau memiliki kamar di Madrasah al-Muzhaffariyyah. Di sanalah beliau mengajar di siang hari. Ketika malam tiba, beliau kembali ke tempat tinggalnya di Ribath Rabi'. Di kota suci itulah beliau menghabiskan sisa hidupnya hingga wafat.


Ribath Rabi' yang Penuh Berkah

Ribath Rabi' adalah salah satu ribath terbaik di Mekah. Di dalamnya terdapat sebuah sumur yang istimewa. Tidak ada sumur lain di Mekah yang bisa menandingi kejernihan dan kesegaran airnya. Para penghuninya adalah orang-orang saleh yang mengabdikan hidup untuk beribadah.

Penduduk Hijaz sangat mengagungkan ribath ini. Mereka sering bernazar untuknya. Penduduk Thaif secara rutin membawa buah-buahan sebagai persembahan.

Ada tradisi unik yang mereka jaga. Setiap pemilik kebun kurma, anggur, persik, atau tin, wajib mengeluarkan sepersepuluh hasil panennya untuk ribath ini. Mereka mengantarkannya sendiri dengan unta-unta mereka. Jarak dari Thaif ke Mekah membutuhkan dua hari perjalanan, namun mereka tidak pernah keberatan.

Tradisi ini dijaga dengan ketat. Siapa pun yang mengabaikannya, hasil panen mereka akan berkurang pada tahun berikutnya. Bencana akan menimpa kebun mereka. Begitulah yang mereka yakini dan alami.


Keajaiban Sumur Ribath

Suatu hari, terjadi peristiwa yang menggemparkan.

Para pelayan Amir Abu Numay, penguasa Mekah, datang ke ribath ini. Mereka masuk membawa kuda-kuda sang amir dan memberi minum kuda-kuda itu dari sumur yang suci.

Ketika mereka kembali ke kandang, hal aneh terjadi. Kuda-kuda itu tiba-tiba terserang penyakit yang menyiksa. Mereka meraung kesakitan, membenturkan kepala dan kaki mereka ke tanah.

Berita ini segera sampai ke telinga Amir Abu Numay. Sang amir tidak mengirim utusan. Beliau sendiri yang datang ke pintu ribath. Dengan rendah hati, beliau meminta maaf kepada orang-orang miskin yang tinggal di sana.

Salah seorang penghuni ribath dibawa menemui kuda-kuda yang sakit. Dengan tangannya, ia mengusap perut hewan-hewan itu. Ajaib! Air yang telah mereka minum keluar dari tubuh mereka, dan seketika mereka sembuh.

Sejak peristiwa itu, tidak ada lagi yang berani mengganggu ribath. Semua orang hanya mendekatinya dengan niat baik.


Generasi Penerus

Setelah Abul Hasan bin Rizqillah wafat, muncul generasi penerus yang melanjutkan tradisi kesalehan di Ribath Rabi'.

Abul Abbas al-Ghumari adalah salah satu sahabat setia Abul Hasan. Beliau tinggal di Ribath Rabi' dan wafat di Mekah.

Abu Ya'qub Yusuf berasal dari pedalaman Sabta. Awalnya ia hanyalah seorang pelayan kedua syekh tersebut. Namun ketika keduanya wafat, ia diangkat menjadi syekh ribath yang baru.

Ada pula Abul Hasan Ali bin Far'us dari Tlemsen. Beliau dikenal sebagai orang saleh yang gemar berenang dan menempuh jalan spiritual.

Dan Syekh Sa'id al-Hindi, yang menjadi kepala Ribath Kalalah. Kisahnya sungguh luar biasa dan patut diceritakan tersendiri.


Perjalanan Syekh Sa'id ke Negeri India

Syekh Sa'id al-Hindi memiliki kisah hidup yang penuh liku. Suatu ketika, beliau pergi menemui Raja India, Muhammad Syah. Sang raja terkesan dengan beliau dan menghadiahkan harta yang sangat besar.

Dengan harta pemberian itu, Syekh Sa'id kembali ke Mekah. Namun kemalangan menantinya. Amir Athifah, penguasa setempat, menangkap dan memenjarakannya. Sang amir menuntut agar seluruh harta itu diserahkan.

Syekh Sa'id menolak. Sebagai hukuman, kedua kakinya dijepit dan disiksa. Akhirnya, beliau menyerahkan dua puluh lima ribu dirham perak.

Setelah bebas, beliau kembali ke India. Di sana beliau tinggal di rumah Amir Saifuddin Ghada bin Hibatillah, seorang amir Arab Syam yang menikah dengan saudara perempuan Raja India.


Misi ke Negeri Jauh

Raja India memberikan lagi sejumlah harta kepada Syekh Sa'id. Kali ini, beliau berangkat bersama seorang haji bernama Wasyl. Mereka membawa misi penting dari Amir Ghada.

Di antara barang bawaan mereka, terdapat jubah istimewa. Jubah itu adalah hadiah dari Raja India kepada Amir Ghada pada malam pernikahannya dengan saudari sang raja. Terbuat dari sutra biru, bersulam emas, dan bertahtakan permata yang begitu banyak hingga warna aslinya nyaris tak terlihat.

Mereka juga membawa lima puluh ribu dirham untuk membeli kuda-kuda pilihan.


Serangan Para Perompak

Perjalanan laut mereka penuh bahaya.

Ketika melewati Pulau Suqutra, kapal mereka diserang perompak India. Pertempuran sengit tak terhindarkan. Wasyl adalah pemanah ulung. Banyak perompak yang tewas oleh anak panahnya.

Namun jumlah musuh terlalu banyak. Akhirnya, para perompak menang. Wasyl tertikam parah. Seluruh harta mereka dirampas.

Namun para perompak itu memiliki kode etik yang aneh. Mereka tidak membunuh kecuali dalam pertempuran. Mereka tidak menenggelamkan korban. Kapal beserta bekal perjalanan dibiarkan utuh.

Dengan kapal yang tersisa, mereka berlayar ke Aden. Di sanalah Wasyl menghembuskan napas terakhir akibat luka-lukanya.


Surat untuk Sang Khalifah

Syekh Sa'id tidak menyerah.

Beliau ingat bahwa Raja India ingin menegakkan dakwah Abbasiyah di negerinya, sebagaimana para sultan pendahulunya. Dulu, jubah kehormatan dari Baghdad selalu dikirimkan kepada para raja India sebagai tanda pengakuan.

Dengan tekad bulat, Syekh Sa'id pergi ke Mesir menemui Khalifah Abul Abbas. Beliau menceritakan keinginan Raja India. Sang khalifah tersentuh dan menulis surat dengan tangannya sendiri, menunjuk Raja India sebagai wakilnya di wilayah tersebut.

Syekh Sa'id membawa surat berharga itu ke Yaman. Di sana beliau membeli tiga jubah kehormatan berwarna hitam, warna khas Dinasti Abbasiyah. Kemudian beliau berlayar ke India.


Penyambutan yang Megah

Ketika kapal Syekh Sa'id mendarat di Kambayat, Gujarat, pejabat intelijen segera melaporkan kedatangannya kepada raja. Perintah pun turun: sambut beliau dengan penuh kehormatan.

Ketika rombongan mendekat ke Delhi, para amir, hakim, dan ulama dikirim untuk menyambut. Kemudian Raja India sendiri keluar menyongsongnya. Sang raja memeluk Syekh Sa'id dengan hangat.

Ketika surat khalifah diserahkan, raja menciumnya dan meletakkannya di atas kepala sebagai tanda hormat. Peti berisi jubah-jubah kehormatan dipanggul sendiri oleh sang raja beberapa langkah.

Raja mengenakan salah satu jubah. Dua jubah lainnya diberikan kepada para amir terdekatnya.


Kemegahan Ibu Kota

Syekh Sa'id dinaikkan ke atas gajah. Arak-arakan megah pun dimulai.

Sultan berkuda di depan. Di kanan-kirinya berdiri dua amir dengan jubah Abbasiyah. Kota Delhi telah dihias dengan luar biasa indah.

Sebelas kubah kayu didirikan di sepanjang jalan. Setiap kubah memiliki empat tingkat. Di setiap tingkat, para penyanyi dan penari mempertunjukkan keahlian mereka.

Kubah-kubah itu dilapisi kain sutra berlapis emas, di dalam dan di luar. Di tengahnya, tiga kolam besar berisi air yang dicampur air mawar. Siapa pun boleh meminumnya tanpa bayaran.

Setiap orang yang minum diberi lima belas lembar daun sirih, pinang, dan kapur. Ini adalah kebiasaan negeri India untuk menyegarkan napas dan mencerna makanan.

Di hadapan gajah yang ditunggangi Syekh Sa'id, dihamparkan kain sutra. Gajah itu berjalan menginjak kain-kain mewah tersebut, dari gerbang kota hingga ke istana.

Semua kain yang digunakan dalam perayaan itu tidak dikembalikan ke kas kerajaan. Semuanya diberikan kepada para penghibur, pengrajin, dan pelayan.


Kehormatan Tertinggi

Syekh Sa'id ditempatkan di rumah dekat istana. Harta melimpah dihadiahkan kepadanya.

Raja memerintahkan agar surat khalifah dibacakan di atas mimbar setiap Jumat, di antara dua khutbah. Ini adalah kehormatan tertinggi.

Sebulan kemudian, Syekh Sa'id dikirim kembali dengan membawa hadiah-hadiah untuk khalifah.


Fitnah yang Gagal

Namun kisah belum berakhir di sini.

Raja India juga mengirim utusan resmi kepada khalifah, yaitu Syekh Rajab al-Burqu'i. Ia berasal dari Krimea, di padang Qipchak. Ia membawa hadiah istimewa: sebongkah batu delima seharga lima puluh ribu dinar.

Sayang seribu sayang. Ketika sampai di Mesir, Syekh Rajab justru menjual batu itu dan membeli empat batu yang lebih kecil. Satu diberikan kepada raja, sisanya dibagi-bagikan kepada para amir untuk mencari muka.

Kemudian terjadilah hal yang memalukan.

Ketika Syekh Rajab dan rombongan resmi dari Mesir tiba di Kambayat, mereka bertemu dengan Syekh Sa'id yang masih berada di sana. Entah karena iri atau dengki, Syekh Rajab menuduh Syekh Sa'id melakukan penipuan.

"Jubah-jubah yang ia bawa itu palsu!" tuduhnya di depan banyak orang. "Ia membelinya sendiri di Aden, bukan dari khalifah!"

Ia menyarankan agar Syekh Sa'id ditangkap dan dikirim kepada sultan untuk diadili.

Amir setempat bijaksana. Ia menulis laporan lengkap kepada sultan dan membiarkan keputusan ada di tangan penguasa tertinggi.


Keadilan Raja India

Ketika laporan itu sampai, hati sultan bergejolak.

Bukan karena ragu kepada Syekh Sa'id. Justru sebaliknya. Sultan murka kepada Syekh Rajab. Bagaimana mungkin ia berani menuduh seseorang yang telah disambut sultan dengan begitu meriah? Di depan umum pula!

Syekh Rajab dilarang menemui sultan. Sementara penghormatan kepada Syekh Sa'id justru ditingkatkan.

Hanya kepada Syaikhul Masya'ikh Ruknuddin al-'Ajami, pemimpin rombongan resmi dari Mesir, sultan tetap menunjukkan penghormatan. Setiap kali beliau masuk, sultan berdiri menyambutnya.

Syekh Sa'id tetap tinggal di India dengan penuh kemuliaan. Di sanalah aku meninggalkannya pada tahun 748 H.


Kisah Hasan yang Linglung

Kini izinkan aku bercerita tentang kisah lain yang lebih menakjubkan.

Pada masa aku bermukim di Mekah, ada seorang lelaki bernama Hasan al-Maghribi. Orang-orang menyebutnya "si gila." Namun kisahnya sangat aneh dan menyimpan rahasia yang dalam.

Sebelum menjadi seperti itu, Hasan adalah orang yang sehat akalnya. Ia menjadi pelayan seorang wali Allah bernama Najmuddin al-Ashbahani.


Pertemuan Misterius

Hasan gemar bertawaf di malam hari. Dalam tawafnya, ia sering melihat seorang fakir yang juga banyak bertawaf. Anehnya, fakir itu tidak pernah terlihat di siang hari.

Suatu malam, fakir itu menghampiri Hasan.

"Wahai Hasan," katanya, "ibumu menangisimu. Ia sangat rindu melihatmu."

Ibu Hasan memang termasuk hamba Allah yang saleh.

"Apakah engkau ingin melihatnya?" tanya fakir itu.

"Ya, tentu saja," jawab Hasan. "Tapi aku tidak punya kemampuan untuk pergi ke sana."

"Kalau begitu, kita bertemu lagi di sini besok malam, insya Allah."


Perjalanan Ajaib

Malam berikutnya adalah malam Jumat.

Hasan menemui fakir itu di tempat yang dijanjikan. Mereka bertawaf bersama sesuai kehendak Allah. Kemudian fakir itu berjalan keluar menuju Bab al-Ma'la. Hasan mengikuti.

"Tutup matamu dan pegang bajuku," perintah fakir itu.

Hasan menurutinya.

Beberapa saat kemudian, fakir itu bertanya, "Apakah engkau mengenali negerimu?"

"Ya."

"Bukalah matamu. Ini dia rumahmu."

Hasan membuka mata. Ia terkesiap. Di hadapannya berdiri rumah ibunya di kota Asafi, di tepi Samudra Atlantik, ribuan mil dari Mekah!

Ia masuk menemui ibunya tanpa menceritakan apa pun yang terjadi. Selama setengah bulan, ia tinggal bersamanya.


Kembali ke Mekah

Suatu hari, Hasan pergi ke pemakaman. Di sana ia menemui fakir sahabatnya itu.

"Bagaimana kabarmu, Hasan?"

"Wahai tuanku, aku rindu melihat Syekh Najmuddin. Aku pergi tanpa pamit dan sudah beberapa hari tidak ada. Bisakah engkau mengantarku kembali kepadanya?"

"Tentu," jawab fakir itu.

Malam harinya, mereka bertemu di pemakaman. Fakir itu memerintahkan hal yang sama: tutup mata, pegang baju.

Dalam sekejap, Hasan sudah berada di Mekah.

Sebelum berpisah, fakir itu berpesan, "Jangan ceritakan apa pun kepada Syekh Najmuddin. Jangan pula ceritakan kepada siapa pun."


Rahasia yang Terbongkar

Hasan masuk menemui Syekh Najmuddin.

"Di mana kau selama ini, Hasan?" tanya sang syekh.

Hasan diam. Ia teringat pesan fakir itu.

Namun Syekh Najmuddin bersumpah kepadanya. Hasan tak kuasa menolak. Ia pun menceritakan seluruh kisahnya.

"Tunjukkan orang itu kepadaku," pinta sang syekh.

Malam harinya, Hasan membawa Syekh Najmuddin ke tempat biasa. Tak lama kemudian, fakir itu muncul seperti biasa.

"Wahai tuanku," bisik Hasan, "ini dia orangnya."

Fakir itu mendengar.

Ia berbalik dan menampar mulut Hasan.

"Diam! Semoga Allah membungkammu!"


Keadaan yang Berubah

Sejak saat itu, lidah Hasan menjadi bisu. Akalnya pun hilang.

Ia tetap berada di Masjidil Haram dalam keadaan linglung. Siang dan malam ia bertawaf, tanpa wudu, tanpa salat. Orang-orang tidak menjauhinya. Justru sebaliknya, mereka mencari berkah darinya. Mereka memberinya pakaian.

Ketika lapar, Hasan pergi ke pasar yang berada di antara Shafa dan Marwa. Ia mendatangi toko mana saja dan makan sesukanya. Tidak ada yang melarang atau menghalangi.

Bahkan para pedagang merasa senang bila Hasan makan dagangan mereka. Mereka telah membuktikan sendiri: siapa pun yang makanannya dimakan Hasan, keberkahan dan keuntungan akan melimpah dalam usahanya.

Setiap kali Hasan datang ke pasar, para pedagang menjulurkan leher, masing-masing berharap Hasan singgah di tokonya.

Begitu pula para penjual air. Mereka berlomba menawarkan minum kepadanya.


Akhir Kisah

Begitulah keadaan Hasan, tahun demi tahun berlalu.

Hingga pada tahun 728 H, datanglah Amir Saifuddin Yalmalk untuk menunaikan ibadah haji. Sang amir tertarik dengan Hasan dan membawanya ke Mesir.

Sejak saat itu, berita tentang Hasan terputus. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi padanya di negeri Mesir.

Semoga Allah Ta'ala memberikan manfaat kepada kita melalui kisah-kisah mereka.


Penutup

Demikianlah kisah para mukim Mekah yang mengabdikan hidup mereka di dekat Ka'bah. Mereka datang dari berbagai penjuru: Yaman, Mesir, Persia, India, Maghrib, dan negeri-negeri lainnya. Mereka berbeda latar belakang, namun sama dalam satu tujuan: mendekatkan diri kepada Allah.

Kisah-kisah mereka mengajarkan kepada kita tentang kesederhanaan, keteguhan, dan cinta yang mendalam kepada ibadah. Di tengah kemewahan dunia, mereka memilih bantal batu. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, mereka memilih keheningan dan dzikir.

Dan yang paling menakjubkan, di antara mereka ada yang tampak "gila" di mata manusia, namun justru menyimpan karamah yang luar biasa.

Wallahu a'lam bish-shawab.


Sumber: Rihlah Ibnu Baththuthah (Tuhfat an-Nuzhar fi Ghara'ib al-Amshar wa 'Aja'ib al-Asfar)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Bathutah #17: Menelusuri Mekah

Rihlah Ibnu Bathutah #15: Ziarah ke Madinah al Munawwarah dan Makkah al Mukarramah

Mukjizat Terbelahnya Bulan