Rihlah Ibnu Bathutah 18# : Kisah Gunung-Gunung Mekah, Penduduknya, dan Ulama-ulamanya
Gunung-Gunung yang Mengitari Kota Suci
Mekah adalah sebuah lembah yang dilingkari gunung-gunung. Setiap gunung seakan menjadi dinding penjaga kota suci, dan banyak di antaranya tersambung dengan kisah para nabi dan peristiwa besar dalam sejarah Islam.
Di arah selatan dan timur kota berdiri Jabal Abu Qubais. Inilah gunung yang paling dekat ke Masjidil Haram dan berhadapan langsung dengan rukun Hajar Aswad. Di puncaknya terdapat sebuah masjid dan bekas bangunan ribath. Dari sana, jika seseorang memandang ke bawah, ia akan melihat seluruh Masjidil Haram, Ka‘bah yang agung, dan rumah-rumah Mekah terbentang indah.
Diceritakan oleh para ulama terdahulu bahwa Abu Qubais adalah gunung pertama yang diciptakan Allah di bumi. Pada masa banjir besar, Hajar Aswad pernah “dititipkan” di dalam gunung ini. Karena itu, Quraisy menamainya al-Amîn (yang terpercaya), sebab gunung inilah yang mengembalikan batu itu kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis-salâm ketika beliau membangun kembali Ka‘bah.
Sebagian riwayat juga menyebut, di gunung ini pula Nabi Adam ‘alaihis-salâm dimakamkan. Di sebuah tempat di puncak Abu Qubais, diyakini di sanalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri ketika Allah menampakkan mukjizat terbelahnya bulan kepada beliau.
Di sisi lain kota, berdirilah Jabal Qaiqa‘an, yang bersama Abu Qubais disebut dua bukit besar (al-Akhsyabain) yang mengapit Mekah.
Ke arah utara terdapat Jabal al-Ahmar (Gunung Merah). Di dekat dua celah lembah yang dikenal dengan Ajyad al-Akbar dan Ajyad al-Asghar menjulang Jabal al-Khandamah, yang menjadi batas lembah dari sisi lain.
Ada juga Jabal ath-Thair, di sekitar jalan menuju Tan‘im. Sebagian ulama menyebut, gunung-gunung inilah yang dimaksud ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis-salâm untuk memotong-motong burung dan meletakkan bagiannya di atas gunung-gunung, lalu memanggil mereka kembali sebagai tanda kekuasaan Allah menghidupkan yang mati.
Allah berfirman:
﴿وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَى ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ﴾
(QS. Al-Baqarah [2]: 260)
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.’ Allah berfirman, ‘Belum percayakah engkau?’ Ia menjawab, ‘Aku telah percaya, tetapi agar hatiku menjadi tenang.’ Allah berfirman, ‘(Kalau begitu) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Sesudah itu) letakkan di atas tiap-tiap satu gunung satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka; niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.’ Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
Di antara gunung-gunung ini, ada tiga yang sangat masyhur dalam kisah perjalanan Nabi: Jabal Hira, Jabal Tsabir, dan Jabal Tsaur.
________________________________________
Jabal Hira dan Awal Turunnya Wahyu
Di sebelah utara Mekah, berjarak kira-kira satu farsakh dari kota, berdirilah Jabal Hira. Puncaknya tinggi dan menonjol, menjulang seakan menusuk langit. Dari sebagian sisinya, tampak daerah Mina.
Sebelum diangkat menjadi nabi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering menyendiri di gua kecil di puncak Jabal Hira. Di sanalah beliau beribadah, merenung, dan menjauh dari keramaian kaumnya. Hingga pada suatu hari, di sanalah wahyu pertama turun, dan dari gua sempit itulah cahaya risalah menyebar ke seluruh dunia.
Sebagian kisah populer menyebut, gunung Hira pernah berguncang di bawah telapak kaki Nabi, lalu beliau bersabda, “Tetaplah tenang, sesungguhnya di atasmu ada seorang nabi, seorang shiddiq, dan seorang syahid.” Namun, hadits yang sahih sebenarnya menyebutkan bahwa ucapan ini diucapkan di Gunung Uhud, bukan di Hira, ketika Nabi berada di atas Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. Dalam riwayat al-Bukhari, gunung berguncang, lalu beliau bersabda: “Tetaplah tenang, wahai Uhud, sesungguhnya di atasmu ada seorang nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid.”
Sebagian riwayat lain juga menyebut, Jabal Tsabir pernah berguncang di bawah beliau.
________________________________________
Jabal Tsaur dan Gua Hijrah
Di arah lain dari Mekah, kira-kira sejauh satu farsakh di jalan menuju Yaman, berdiri Jabal Tsaur (atau Tsaur). Di perut gunung inilah terdapat sebuah gua sempit yang namanya masyhur di setiap khutbah hijrah: Gua Tsaur.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar berhijrah dari Mekah menuju Madinah, beliau bersama Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bersembunyi di gua ini selama beberapa hari. Peristiwa ini diabadikan Allah dalam Al-Qur’an:
﴿إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا﴾
(QS. At-Taubah [9]: 40)
“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sungguh Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah), sedang dia salah seorang dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’”
Para penulis sejarah menyebutkan bahwa ketika Nabi dan Abu Bakar telah masuk ke dalam gua dan merasa aman di dalamnya, Allah membuat beberapa tanda penjagaan di mulut gua. Laba-laba menenun sarangnya di pintu, dan seekor burung merpati membuat sarang dan bertelur, sehingga mulut gua tampak seakan tidak pernah dimasuki manusia.
Ketika para pengejar dari Quraisy datang bersama pelacak jejak, mereka sampai di depan gua. Mereka berkata, “Di sini jejaknya terputus.” Mereka melihat sarang laba-laba yang masih utuh dan burung yang mengerami telur di mulut gua. Maka mereka berkata, “Tak mungkin ada yang masuk ke sini,” lalu berbalik meninggalkan tempat itu.
Di dalam gua, Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke arah kedua kakinya, pasti ia akan melihat kita di bawahnya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan kalimat yang menenangkan hati:
“Wahai Abu Bakar, bagaimana menurutmu tentang dua orang yang Allah menjadi yang ketiga di antara mereka berdua?”
Sebagian ahli sirah menambahkan kisah lain. Mereka menyebut bahwa ketika Abu Bakar merasa takut dan menyebut kemungkinan musuh masuk dari mulut gua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya mereka datang dari sini, niscaya kita akan keluar dari sana.” Beliau menunjuk sisi lain gua. Abu Bakar pun menoleh, dan dikisahkan ia melihat sisi lain gua terbelah, terhubung dengan laut, dan sebuah kapal berlabuh di sana. Kisah ini diceritakan sebagian penulis sirah belakangan.
Namun, ulama seperti Ibn Katsir menjelaskan bahwa meskipun kisah itu tidak mustahil secara kekuasaan Allah, tidak ada sanad yang kuat—bahkan yang lemah sekalipun—yang bisa dijadikan pijakan agar kisah tersebut ditetapkan sebagai bagian pasti dari peristiwa hijrah. Demikian pula Ahmad Zaini Dahlan menyebut, meski tidak mustahil secara akidah, tetap saja ia tidak memiliki sanad yang jelas, dan kita berhati-hati dalam memastikan kebenarannya.
________________________________________
Gua Tsaur yang Sempit dan Ujian Niat
Hingga masa Ibn Battutah, orang-orang masih banyak yang mendatangi Gua Tsaur. Mereka ingin masuk melalui celah yang sama dengan celah yang dahulu dilalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan harapan mendapat keberkahan.
Namun gua itu sangat sempit. Sebagian orang berhasil masuk, sebagian yang lain justru tersangkut di celah batu, sampai harus ditarik keluar dengan paksa. Ada juga yang hanya sampai di depan pintu, lalu mundur tanpa berani memaksakan diri.
Penduduk setempat mempunyai keyakinan: “Barangsiapa yang bersih niatnya dan lurus hatinya, ia akan bisa masuk. Barangsiapa yang niatnya buruk, ia tak akan mampu masuk.” Karena itulah, banyak orang enggan mencoba, sebab khawatir akan menjadi bahan cibiran jika sampai tersangkut di dalam.
Seorang ulama bernama Ibn Juzayy menceritakan penjelasan yang lebih “fisik” tentang sulitnya masuk ke gua itu. Menurutnya, di bagian dalam, tepat setelah celah masuk, ada sebuah batu besar yang melintang. Orang yang masuk sambil merangkak tengkurap akan sampai ke batu itu dengan posisi wajah dan dada menempel ke tanah. Ia tak bisa maju, tak bisa pula mengangkat tubuh, sehingga terjebak dan sulit keluar kecuali dengan ditarik paksa.
Namun, jika seseorang masuk dengan posisi telentang, ketika kepalanya sampai ke batu itu, ia dapat mengangkat kepala, duduk bersandar pada batu, lalu memiringkan badan hingga berhasil melewati celah dan berdiri di dalam gua. Dari sini, kepercayaan masyarakat tentang “ujian niat” bercampur dengan kenyataan bentuk fisik gua yang memang menyulitkan.
________________________________________
Hampir Mati di Pegunungan: Kisah Dua Sahabat
Ibn Battutah juga menceritakan sebuah peristiwa yang menimpa dua sahabatnya di Gunung Tsaur. Yang pertama adalah seorang faqih yang mulia, Abu Muhammad Abdullah bin Farhan al-Ifriqi at-Tuzari. Yang kedua adalah Abu al-‘Abbas Ahmad al-Andalusi al-Wadi Asyi.
Keduanya sedang bermukim di Mekah pada tahun 728 H. Suatu hari, mereka berdua bersepakat untuk mengunjungi Gua Tsaur. Mereka berangkat berdua saja, tanpa pemandu yang benar-benar menguasai jalan menuju gua.
Akibatnya, mereka tersesat. Mereka mengikuti jalur lain yang ternyata buntu, dan itu terjadi pada puncak musim panas, ketika terik matahari sangat menyengat. Bekal air pun habis, sementara gua belum juga ditemukan. Keduanya akhirnya memutuskan kembali ke Mekah, berharap menemukan jalan pulang.
Mereka menemukan sebuah jalan dan mengikutinya, tetapi jalan itu justru mengarah ke gunung yang lain. Panas semakin membakar, dahaga semakin mencekik, hingga mereka mulai membayangkan kematian. Abu Muhammad Abdullah bin Farhan pada akhirnya tak sanggup lagi melangkah. Ia menjatuhkan dirinya ke tanah, lemas tak berdaya. Sementara Abu al-‘Abbas al-Andalusi masih punya sedikit kekuatan. Ia meninggalkan sahabatnya demi menyelamatkan diri, berharap nanti dapat mengirim bantuan.
Ia terus berjalan melintasi bukit-bukit batu sampai akhirnya jalan itu membawanya ke daerah Ajyad. Dari sana, ia masuk ke Mekah dan menemui Ibn Battutah, menceritakan apa yang terjadi pada Abdullah at-Tuzari dan betapa ia tergeletak sendirian di gunung, hampir mati kehausan. Saat itu hari sudah menjelang sore.
Kebetulan saat itu sepupu Abdullah, bernama Hasan, sedang berada di Mekah. Ia adalah penduduk Wadi Nakhlah. Ibn Battutah segera memberitahunya. Lalu ia pun mendatangi seorang syekh saleh, imam mazhab Maliki di Masjidil Haram, yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Abdurrahman yang dikenal dengan nama Khalil. Sang imam segera mengutus beberapa warga Mekah yang mengenal baik gunung-gunung dan celah-celah lembah untuk mencari Abdullah.
Sementara itu, di gunung, setelah ditinggal sahabatnya, Abdullah berteduh di bawah sebuah batu besar. Di sana ia duduk lemah, perut perih, tenggorokan kering, dan burung-burung gagak berputar di udara, seakan menanti tubuhnya menjadi bangkai.
Menjelang malam, hawa menjadi dingin. Udara malam yang sejuk sedikit menyegarkan tubuhnya. Pada waktu fajar, ia merasakan ada sedikit tenaga tersisa. Ia bangkit, turun dari gunung menuju dasar sebuah lembah yang terlindung dari sinar matahari oleh tebing-tebing tinggi, lalu berjalan tertatih-tatih sejauh yang ia mampu.
Tiba-tiba ia melihat seekor hewan, dan ia mengikutinya. Hewan itu ternyata berada dekat sebuah tenda orang Arab badui. Begitu melihat tenda itu, Abdullah terjatuh ke tanah, tidak sanggup lagi berdiri.
Istri pemilik tenda melihatnya. Suaminya sedang pergi ke sumber air. Ia memberikan air yang ada di sisinya kepada Abdullah, namun lelaki itu tetap belum terasa puas. Ketika suaminya datang, ia memberikan satu kantong air penuh, dan Abdullah meminumnya dengan lahap, dahaganya sangat dalam karena hampir mati.
Pemilik tenda itu kemudian menaikkan Abdullah ke atas seekor keledai dan mengantarkannya ke Mekah. Abdullah tiba di kota pada waktu shalat Ashar hari kedua, dengan wajah pucat dan tubuh lemah, seakan-akan baru saja keluar dari kubur.
________________________________________
Wajah Kekuasaan di Mekah
Pada masa Ibn Battutah memasuki Mekah, kekuasaan atas kota suci itu berada di tangan dua saudara keturunan Hasan, yaitu Asaduddin Rumaithah dan Saifuddin ‘Utaifah, putra amir Abu Numayy bin Abi Sa‘d bin ‘Ali bin Qatadah.
Rumaithah adalah kakak, lebih tua usianya. Namun dalam doa resmi di Mekah, nama ‘Utaifah didahulukan karena keadilannya yang dikenal di tengah masyarakat.
Rumaithah memiliki putra-putra bernama Ahmad, ‘Ajlan (yang pada masa Ibn Battutah adalah amir Mekah), Taqiyyah, Sand, dan seorang putri bernama Umm Qasim. Sementara ‘Utaifah memiliki putra bernama Muhammad, Mubarak, dan Mas‘ud.
Rumah ‘Utaifah berada di sisi kanan bukit Shafa–Marwah, dekat daerah Marwah. Sedangkan rumah saudaranya, Rumaithah, berada di dekat sebuah ribath bernama asy-Syarabi, di sekitar Bab Bani Syaibah, pintu yang menghadap ke arah Masjidil Haram.
Di depan rumah masing-masing amir, setiap hari menjelang Maghrib, genderang ditabuh sebagai tanda kehadiran dan kehormatan mereka. Suara drum bercampur lantunan azan dan hiruk-pikuk para jamaah, memberi warna tersendiri pada suasana kota suci.
________________________________________
Kemuliaan Akhlak Penduduk Mekah
Ibn Battutah, yang telah menjelajah banyak negeri, memberikan pujian khusus bagi penduduk Mekah. Mereka, menurutnya, dikenal dengan perbuatan yang indah, kemuliaan yang sempurna, dan akhlak yang baik. Mereka mengutamakan fakir miskin dan orang-orang yang kehabisan bekal, serta sangat baik kepada para pendatang dan orang asing.
Jika salah satu dari mereka hendak mengadakan walimah, ia tidak memulainya dengan mengundang para pembesar, melainkan para fakir miskin dan orang-orang yang bermukim di sekitar haram untuk beribadah (mujawir). Mereka dipanggil dengan lemah lembut dan tutur kata yang baik, lalu diberi makan dengan penuh penghormatan.
Banyak orang miskin di Mekah berkumpul di dekat tungku-tungku pembakaran roti. Ketika seseorang selesai memanggang rotinya untuk dibawa pulang, mereka mengikuti dari belakang. Ia pun membagi roti itu kepada mereka, tidak ada yang kembali dengan tangan kosong. Jika ia hanya memiliki satu roti pun, ia rela memberikan sepertiga atau setengahnya, dengan hati lapang dan tanpa keluh kesah.
Ada pula kebiasaan lucu sekaligus mulia di pasar Mekah. Anak-anak yatim yang masih kecil duduk di pasar dengan dua keranjang di sisi mereka, satu besar dan satu kecil. Mereka menyebut keranjang itu miktal. Seorang lelaki dari penduduk Mekah datang ke pasar, membeli biji-bijian, daging, dan sayuran, lalu menyerahkannya kepada salah satu anak itu. Si anak akan memisahkan biji-bijian ke satu keranjang, dan daging serta sayur ke keranjang lain, lalu membawanya ke rumah si pembeli.
Sementara itu, sang lelaki pergi ke Masjidil Haram untuk tawaf atau mengurus keperluannya. Tidak pernah terdengar bahwa anak-anak itu mengkhianati amanah. Mereka selalu menyampaikan barang yang dibawa dengan sempurna. Untuk jasa itu, mereka mendapat upah berupa beberapa keping uang logam.
Penduduk Mekah juga terkenal rapi dan bersih dalam berpakaian. Kebanyakan mereka memakai pakaian putih. Dari jauh, baju-baju mereka tampak bersinar, bersih, dan berkilau. Mereka banyak menggunakan wewangian, bercelak, dan bersiwak dengan ranting pohon arak yang masih hijau.
Perempuan-perempuan Mekah pun terkenal sangat cantik, lembut wajah dan penampilannya, disertai kesalihan dan kehormatan diri. Mereka gemar memakai wewangian. Bahkan, diceritakan, ada di antara mereka yang rela menahan lapar malam itu karena uangnya ia gunakan untuk membeli minyak wangi.
Setiap malam Jumat, mereka biasa mendatangi Masjidil Haram untuk tawaf, mengenakan pakaian terbaik dan harum semerbak. Aroma wangi mereka menguasai sekitar Ka‘bah, dan ketika mereka telah pergi, bau harumnya masih tertinggal melayang di udara.
________________________________________
Ulama Besar dan Orang-Orang Saleh di Mekah
Di tengah masyarakat seperti ini, berdirilah sejumlah ulama besar yang menghidupkan Masjidil Haram dengan ilmu, ibadah, dan sedekah.
Qadhi Mekah pada masa itu adalah seorang alim yang saleh, ahli ibadah, dan dermawan, bernama Najmuddin Muhammad, bergelar Muhyiddin ath-Thabari. Ia dikenal banyak bersedekah dan membantu para mujawir. Akhlaknya lembut, ia sering bertawaf dan memandang Ka‘bah. Ia kerap mengadakan jamuan makanan di musim-musim suci, terutama pada perayaan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada hari itu, ia memberi makan para syarif (keturunan Nabi), para pembesar Mekah, fakir miskin, para pelayan Masjidil Haram, dan semua mujawir.
Sultan Mesir saat itu, al-Malik an-Nashir, sangat menghormatinya. Sedekah-sedekah sultan dan para amir dari Mesir banyak disalurkan melalui tangan qadhi Najmuddin. Putranya yang bernama Syihabuddin juga seorang alim, dan pada masa kemudian ia menggantikan ayahnya sebagai qadhi Mekah.
Khathib Masjidil Haram di Maqam Ibrahim adalah seorang orator ulung, Baha’uddin ath-Thabari. Ia dikenal sangat fasih dan berbakat berkhutbah. Dikatakan, hampir tidak ada di muka bumi khathib yang menyamai kefasihan dan keindahan bahasanya. Ia sendiri bercerita kepada Ibn Battutah bahwa setiap Jumat ia menulis khutbah baru dan tidak pernah mengulang khutbah yang sama.
________________________________________
Imam Khalil dan Mimpi yang Menjadi Nyata
Imam mazhab Maliki di Masjidil Haram saat itu adalah seorang faqih besar, Abu Abdullah Muhammad bin Abdurrahman, yang lebih populer dengan nama Khalil. Ia berasal dari keturunan keluarga besar Bani Hayyûn di kawasan al-Jarid (di Afrika Utara), namun ia dan ayahnya lahir di Mekah. Penduduk Mekah menganggapnya sebagai poros kota, tokoh besar yang disepakati semua kalangan.
Ia sangat banyak beribadah. Waktunya habis untuk salat, tilawah, zikir, dan mengajar. Ia pemalu, mulia, lembut, dermawan, dan sangat sayang kepada fakir miskin. Tidak ada peminta-minta yang datang ke rumahnya lalu kembali dengan tangan kosong.
Ibn Battutah menceritakan sebuah mimpi yang ia alami ketika sedang bermukim di Mekah dan tinggal di Madrasah al-Muzaffariyyah, sebuah madrasah yang jendelanya menghadap langsung ke Ka‘bah. Dalam mimpinya, ia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di ruang pengajaran madrasah, di dekat jendela yang menghadap ke Ka‘bah. Orang-orang datang dan membaiat beliau.
Tiba-tiba, Imam Khalil datang dalam mimpi itu. Ia masuk, duduk bersila di hadapan Rasulullah, lalu menggenggam tangan beliau dan berkata, “Aku membaiatmu untuk ini dan itu,” menyebutkan beberapa perkara. Di antara kalimat baiat itu, ada satu yang sangat menggetarkan hati Ibn Battutah:
“Aku membaiatmu untuk tidak memulangkan seorang miskin dari rumahku dalam keadaan kecewa.”
Itulah kalimat terakhir yang ia dengar. Dalam mimpi itu, Imam Khalil terlihat mengenakan jubah putih pendek dari kain kapas, yang dikenal sebagai qaftan.
Ketika Ibn Battutah terbangun dan selesai shalat Subuh, ia segera menemui Imam Khalil dan menceritakan mimpinya. Sang imam sangat gembira, lalu menangis haru. Ia berkata, “Jubah itu dihadiahkan oleh seorang yang saleh kepada kakekku. Aku memakainya untuk mencari berkah.”
Sejak hari itu, Ibn Battutah memperhatikan bahwa Imam Khalil benar-benar tidak pernah menolak seorang peminta yang datang. Ia bahkan sering memerintahkan para pelayannya untuk memanggang roti dan memasak makanan, lalu mengirimkannya kepada Ibn Battutah setiap hari setelah shalat Ashar.
Penduduk Mekah sendiri memiliki kebiasaan makan yang unik. Mereka biasanya hanya makan sekali sehari, yaitu setelah shalat Ashar. Mereka mencukupkan satu kali makan itu sampai hari berikutnya. Jika pada siang hari ada yang ingin makan, ia hanya makan kurma. Menurut Ibn Battutah, karena pola hidup sederhana ini, tubuh mereka kuat dan penyakit jarang ditemukan di tengah mereka.
________________________________________
Kisah Rumah Tangga Imam Khalil
Imam Khalil menikah dengan putri qadhi Najmuddin ath-Thabari. Namun suatu ketika, ia ragu apakah ucapan atau perbuatannya telah menyebabkan talak jatuh atau belum. Karena ragu itulah, ia memutuskan berpisah dari istrinya untuk keluar dari wilayah yang ia anggap syubhat. Setelah berpisah, sang istri dinikahi oleh seorang faqih besar lainnya, Syihabuddin an-Nuwairi, salah seorang mujawir terkenal di Masjidil Haram yang berasal dari daerah Hulu Mesir (ash-Sh‘id).
Mereka hidup bersama selama beberapa tahun. An-Nuwairi bahkan mengajak istrinya itu dan saudara laki-lakinya, Syihabuddin, untuk tinggal di Madinah al-Munawwarah. Di sana, an-Nuwairi suatu ketika melanggar suatu sumpah yang ia ikat dengan talak. Akibatnya, talak pun jatuh dan ia harus berpisah dari istrinya, padahal ia sangat mencintainya dan berat hati melepasnya.
Beberapa tahun setelah itu, Imam Khalil kembali menikahi mantan istrinya tersebut. Kisah ini menunjukkan betapa hati para ulama sangat sensitif terhadap urusan halal-haram dalam rumah tangga, bahkan sampai rela berpisah karena keraguan, lalu dipertemukan kembali oleh takdir setelah waktu yang panjang.
________________________________________
Para Imam Mazhab dan Tokoh-Tokoh Lain di Mekah
Selain para tokoh di atas, Ibn Battutah juga menyebutkan imam-imam besar dari mazhab lain yang bermukim di Mekah.
Imam mazhab Syafi‘i di Masjidil Haram adalah Syihabuddin bin al-Burhan. Ia seorang alim yang disegani jamaahnya.
Imam mazhab Hanafi adalah Syihabuddin Ahmad bin ‘Ali. Ia termasuk salah satu imam besar Mekah dan sangat dermawan. Ia dikenal memberi makan para mujawir dan musafir yang kehabisan bekal. Setiap tahun, ia biasa berutang dalam jumlah yang tidak kecil—empat puluh hingga lima puluh ribu dirham—untuk membantu orang. Namun setiap kali, Allah selalu memberikan jalan untuk melunasi utang-utang itu. Para amir Turki yang datang sebagai jamaah haji sangat memuliakannya, karena ia adalah imam salat mereka dan mereka berbaik sangka kepada kebaikan dan kezuhudannya.
Imam mazhab Hanbali sekaligus seorang ahli hadis ternama adalah Muhammad bin ‘Utsman, seorang yang asal keluarganya dari Baghdad namun lahir di Mekah. Ia menjadi wakil qadhi Najmuddin sekaligus memegang jabatan muhtasib (pengawas pasar dan kemungkaran) setelah terbunuhnya muhtasib sebelumnya, Taqiuddin al-Mishri. Orang-orang cukup segan kepadanya karena ketegasan dan keteguhannya dalam menegakkan aturan.
________________________________________
Muhtasib yang Terbunuh oleh Pemuda yang Tangan Kanannya Terpotong
Taqiuddin al-Mishri, muhtasib sebelum Muhammad bin ‘Utsman, dikenal sebagai orang yang sering mencampuri banyak urusan, baik yang menjadi wewenangnya maupun yang bukan.
Suatu tahun, amir al-hajj (pemimpin rombongan haji resmi dari luar Mekah) datang membawa seorang pemuda Mekah yang terkenal nakal. Pemuda itu tertangkap mencuri harta sebagian jamaah haji. Amir memutuskan untuk menerapkan hukuman potong tangan atasnya.
Taqiuddin berkata kepada amir, “Jika engkau tidak memotong tangannya di hadapanmu sekarang, penduduk Mekah akan menyerbu para pelayanmu, merebut pemuda ini, dan membebaskannya.”
Mendengar itu, amir memerintahkan agar hukuman dilaksanakan di hadapannya. Tangan pemuda itu pun dipotong, dan dendam pun tumbuh dalam hatinya kepada Taqiuddin.
Selama beberapa waktu, ia mencari kesempatan untuk membalas, tetapi tak mampu. Sebab, Taqiuddin memperoleh semacam “perlindungan kehormatan” dari dua amir Mekah, Rumaithah dan ‘Utaifah.
Di Mekah saat itu, ada tradisi yang mereka sebut hasab. Jika seorang amir memberikan hadiah berupa sorban atau kopiah kepada seseorang di hadapan orang banyak, maka hadiah itu menjadi tanda perlindungan. Selama orang itu tetap tinggal di kota, ia berada di bawah perlindungan sang amir. Kehormatan itu baru berakhir ketika ia berniat meninggalkan Mekah.
Taqiuddin tinggal di Mekah selama beberapa tahun. Suatu hari, ia memutuskan untuk pergi. Ia berpamitan kepada kedua amir, melakukan tawaf wada‘, lalu keluar dari Bab ash-Shafa. Di depan pintu inilah, takdir mempertemukannya dengan pemuda yang dahulu dipotong tangannya.
Pemuda itu mengadukan keadaan hidupnya yang sulit. Ia meminta sedikit bantuan dari Taqiuddin. Namun, Taqiuddin malah membentaknya dan mengusirnya. Dalam sekejap, pemuda itu menghunus sebilah pisau pendek yang di Hijaz dikenal dengan nama janbiyyah, lalu menikam Taqiuddin satu kali. Tusukan itu cukup untuk menghabisi nyawanya.
Setelah kematian Taqiuddin, jabatan muhtasib dipegang oleh Muhammad bin ‘Utsman al-Hanbali.
________________________________________
Ulama Lain dan Seorang Ahli Ibadah yang Diuji Waswas
Di antara ulama Mekah lainnya yang disebut Ibn Battutah adalah Zainuddin ath-Thabari, saudara qadhi Najmuddin. Ia dikenal sebagai seorang faqih yang saleh dan banyak berbuat baik kepada para mujawir.
Ada juga seorang alim dari keturunan Quraisy, Muhammad bin Fahd, salah satu tokoh terkemuka di Mekah. Setelah wafatnya Muhammad bin ‘Utsman al-Hanbali, ia menjadi wakil qadhi Najmuddin.
Terakhir, Ibn Battutah menyebut seorang yang dikenal sebagai al-‘Adl (hakim adil) yang sangat saleh, bernama Muhammad bin al-Burhan. Ia seorang zahid, sangat wara‘, tetapi diuji dengan penyakit waswas (keraguan berlebihan dalam ibadah).
Suatu hari, Ibn Battutah melihatnya berwudu di kolam Madrasah al-Muzaffariyyah. Ia membasuh anggota wudu berulang-ulang. Ketika mengusap kepala, ia mengulanginya beberapa kali. Namun ia belum juga merasa tenang. Hingga akhirnya, ia mencelupkan seluruh kepalanya ke dalam kolam, baru berhenti.
Ketika hendak shalat, kadang-kadang imam mazhab Syafi‘i sudah mulai bertakbir. Sementara itu, Muhammad bin al-Burhan masih terus mengucapkan, “Aku berniat… aku berniat…,” mengulang-ulang niat di dalam hatinya, sampai-sampai ia akhirnya shalat bersama imam lain yang datang belakangan.
Meski demikian, ia dikenal sangat banyak melakukan tawaf, umrah, dan zikir. Dalam sosoknya kita melihat dua sisi yang sering terjadi pada ahli ibadah: semangat yang besar, namun kadang disertai ujian dalam bentuk waswas yang menyulitkan.
________________________________________
Sumber kisah:
Rihlah Ibn Battutah

Komentar
Posting Komentar