Rasulullah Menawarkan Diri kepada Kabilah-Kabilah Arab

Ilustrasi sinematik pasar Dzul Majaz: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam digambarkan dari belakang sedang berdakwah di tengah kerumunan orang Arab, sementara seorang tokoh Quraisy di belakangnya menabur debu ke arahnya di pasar gurun yang ramai.


Suasana Makkah: Dakwah Terhalang, Sahabat Sedikit

Setelah beberapa tahun berdakwah secara terbuka di Makkah, keadaan semakin berat bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kaum Quraisy semakin keras menentang beliau. Hanya sedikit orang yang beriman, itu pun kebanyakan lemah dan tertindas.

Pada saat musim haji tiba, berbagai kabilah Arab datang ke Makkah, Mina, dan pasar-pasar besar seperti ‘Ukazh dan Dzul Majaz. Di momen inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat satu peluang: bila kaum Quraisy menghalangi, mungkin ada kabilah lain yang bersedia melindunginya agar beliau bisa menyampaikan risalah Allah tanpa terhalang.

Maka, dari tahun ke tahun, pada setiap musim haji, beliau berjalan di antara kemah-kemah kabilah Arab, menawarkan diri dan risalahnya. Beliau tidak meminta harta, tidak meminta kekuasaan. Beliau hanya meminta dua hal: agar mereka beriman dan agar mereka melindunginya dari pembunuhan, sampai beliau selesai menyampaikan amanat Tuhannya.

Beliau biasa berkata dengan makna:

“Aku tidak memaksa seorang pun di antara kalian. Siapa yang ridha dengan apa yang aku serukan, itu baik baginya, dan siapa yang tidak suka, aku tidak memaksanya. Aku hanya menginginkan kalian melindungiku dari upaya pembunuhan, sampai aku menyampaikan risalah Rabbku, dan hingga Allah memutuskan untukku dan bagi orang-orang yang bersamaku apa yang Dia kehendaki.”

Namun, hampir semua kabilah menolak. Mereka berkata, “Kaumnya sendiri lebih tahu tentang dirinya. Kalau memang baik, tentu kaumnya sendiri yang paling cepat menerimanya.”

Padahal, Allah telah menyiapkan kemuliaan besar ini bagi kaum Anshar di Madinah, yang kelak akan menjadi penolong agama ini.

Di Mina: Seorang Anak Kecil Menyaksikan Abu Lahab Menghalangi

Seorang sahabat bernama Rabi‘ah bin ‘Ibad ad-Du’ali mengenang masa mudanya. Ia berkata, kira-kira dengan makna:

“Ketika itu aku masih bocah, pemuda kecil yang ikut bersama ayahku di Mina. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kemah-kemah kabilah Arab. Beliau berdiri di depan mereka dan berkata:

‘Wahai Bani Fulan, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian. Aku memerintahkan kalian agar menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, agar kalian meninggalkan semua sesembahan selain-Nya, dan agar kalian beriman kepadaku, membenarkanku, dan melindungiku, sampai aku menjelaskan dari Allah apa yang Dia utuskan kepadaku.’

Di belakang beliau ada seorang laki-laki bermata agak juling, berwajah tampan, berambut dua kuncir, memakai pakaian indah dari Aden. Setiap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai berbicara, laki-laki ini berkata kepada kabilah yang baru saja diajak:

‘Wahai Bani Fulan, orang ini hanya ingin kalian melepaskan al-Lata dan al-‘Uzza dari leher kalian, dan melepaskan sekutu-sekutu kalian dari kalangan jin. Ia membawa ajaran baru dan kesesatan. Jangan taati dia dan jangan dengarkan ucapannya.’

Aku bertanya kepada ayahku, ‘Wahai Ayah, siapa laki-laki yang mengikuti beliau dan selalu membantah ucapannya ini?’

Ayahku menjawab, ‘Itu pamannya sendiri, Abu Lahab.’”

Bayangkan suasana itu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendirian, berjalan dari kemah ke kemah, menawarkan cahaya. Sementara pamannya sendiri, yang seharusnya menjadi pelindung paling dekat, justru menjadi penghalang paling keras.

Di Pasar Dzul Majaz: Seruan “La ilaha illallah”

Rabi‘ah juga mengisahkan bahwa ia pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di pasar Dzul Majaz, salah satu pasar besar orang Arab pada musim haji. Beliau menyeru:

“Wahai manusia, ucapkanlah La ilaha illallah, niscaya kalian beruntung.”

Orang-orang berkumpul mengelilingi beliau. Di belakang beliau, lagi-lagi berdiri seorang laki-laki berwajah tampan, bermata agak juling, berambut dua kuncir. Ia berseru:

“Ia adalah orang yang telah keluar dari agama nenek moyangnya (shabi’), pendusta!”

Ia mengikuti Nabi ke mana pun beliau pergi, tidak untuk melindungi, tetapi untuk merusak. Ketika Rabi‘ah bertanya, orang-orang menjelaskan nasab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Itu pamannya, Abu Lahab.”

Dalam riwayat lain disebutkan, di pasar yang sama, kadang Abu Jahl yang berdiri di belakang Nabi, menabur tanah di atas kepala beliau sambil berteriak:

“Wahai manusia, jangan sampai orang ini menipu kalian dari agama kalian. Ia hanya ingin kalian meninggalkan penyembahan al-Lata dan al-‘Uzza.”

Bisa jadi, di satu waktu Abu Lahab yang melakukan itu, di waktu lain Abu Jahl, dan kadang keduanya bergantian menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mendatangi Kinda, Kalb, dan Bani Hanifah

Suatu musim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kabilah Kindah di tempat tinggal mereka. Di tengah mereka ada seorang pemuka bernama Mulaih. Beliau mengajak mereka kepada Allah dan menawarkan diri untuk dilindungi. Mereka menolak.

Beliau juga mendatangi kabilah Kalb, khususnya satu cabang bernama Bani ‘Abdillah. Beliau berkata dengan makna yang lembut:

“Wahai Bani ‘Abdillah, sesungguhnya Allah telah memperindah nama ayah kalian.”

Nama mereka tampak selaras dengan tauhid: “hamba Allah.” Namun, mereka juga menolak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mendatangi Bani Hanifah di tempat tinggal mereka. Beliau mengajak mereka kepada Allah dan menawarkan diri. Penolakan mereka disebut sebagai penolakan paling buruk di antara kabilah-kabilah Arab pada waktu itu. Nama besar mereka baru akan terangkat kemudian hari oleh Musailamah al-Kadzab, nabi palsu dari Bani Hanifah, yang justru menjadi musuh besar umat Islam.

Bani ‘Amir bin Sha‘shah: Menawar Kekuasaan Setelah Kemenangan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mendatangi Bani ‘Amir bin Sha‘shah, menawarkan Islam dan memohon perlindungan. Di antara mereka ada seorang cerdik bernama Baiharah bin Firas. Ia berkata:

“Demi Allah, seandainya aku mengambil pemuda Quraisy ini, niscaya aku akan memakan (menguasai) seluruh orang Arab dengannya.”

Ia melihat peluang politik: kalau pemuda ini benar menjadi nabi dan menang, mereka ingin memegang kekuasaan setelahnya. Maka ia bertanya:

“Bagaimana pendapatmu, jika kami mengikuti engkau, lalu Allah memenangkanmu atas semua yang menentangmu, apakah setelah engkau wafat kekuasaan itu menjadi milik kami?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan tegas:

“Urusan (kekuasaan) itu milik Allah. Dia meletakkannya di mana saja yang Dia kehendaki.”

Jawaban ini membuat mereka mundur. Baiharah berkata, kira-kira:

“Apakah kami menyerahkan leher-leher kami untuk melindungimu dari orang Arab, lalu ketika Allah memenangkanmu, kekuasaan itu menjadi milik selain kami? Kami tidak butuh urusanmu.”

Mereka pun menolak.

Setelah musim haji usai dan mereka kembali ke kampung, mereka menemui seorang tetua yang sudah terlalu tua untuk ikut haji. Seperti biasa, mereka menceritakan peristiwa musim haji itu. Mereka berkata:

“Datang kepada kami seorang pemuda dari Quraisy, dari Bani ‘Abd al-Muththalib. Ia mengaku sebagai nabi. Ia mengajak kami untuk melindunginya, mendampinginya, dan membawanya ke negeri kami.”

Tetua mereka meletakkan tangannya di atas kepalanya, menyesal, lalu berkata:

“Wahai Bani ‘Amir, adakah jalan untuk menebus kesempatan ini? Adakah cara untuk mendapatkan kembali ujungnya? Demi Dzat yang jiwa Fulan berada di tangan-Nya, tidak pernah seorang keturunan Isma‘il mengucapkan klaim itu (kenabian) secara dusta. Sungguh, itu kebenaran. Di mana akal kalian ketika kesempatan itu datang?”

Mereka baru menyadari setelah kesempatan berlalu.

Rasulullah dan al-‘Abbas di Pasar: Menyapa Satu per Satu Kabilah

Dalam satu riwayat, al-‘Abbas – paman Nabi yang saat itu belum masuk Islam – menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepadanya:

“Aku tidak melihat ada perlindungan untukku di sisimu dan di sisi saudaramu. Maukah engkau mengantarkanku besok ke pasar agar engkau tunjukkan kepadaku tempat-tempat kabilah manusia?”

Maka al-‘Abbas pun membawanya ke tempat berkumpulnya kabilah-kabilah. Ia berkata:

“Ini Kindah dan sekutunya – mereka termasuk yang terbaik dari penduduk Yaman yang berhaji. Itu tempat Bakar bin Wail. Itu tempat Bani ‘Amir bin Sha‘shah. Pilihlah sendiri.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Kindah, mengajak mereka kepada Islam dan salat, lalu berkata:

“Kalian bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, menegakkan salat, dan beriman kepada apa yang datang dari sisi Allah.”

Namun, mereka bertanya:

“Jika engkau menang, apakah kekuasaan setelahmu menjadi milik kami?”

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya kekuasaan itu milik Allah; Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki,” mereka berkata, “Kami tidak butuh apa yang engkau bawa.”

Beliau juga mendatangi Bakar bin Wail. Mereka mengaku banyak, seperti pasir yang bertebaran, tetapi ketika ditanya tentang kemampuan melindungi, mereka berkata:

“Kami bertetangga dengan Persia. Kami tidak mampu menahan mereka dan tidak bisa memberi perlindungan dari mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kepada mereka janji Allah: jika suatu saat nanti mereka menaklukkan negeri-negeri Persia, menikahi wanita-wanita mereka, dan menguasai anak-anak mereka, maukah mereka mengikatkan diri untuk bertasbih, bertahmid, dan bertakbir rutin? Mereka bertanya, “Siapa engkau?” Beliau menjawab:

“Aku adalah utusan Allah.”

Namun, sebelum mereka sempat lebih jauh mempertimbangkan, Abu Lahab datang dari belakang, memperkenalkan Nabi sebagai “kerabat tinggi di antara kami, tetapi gila dan meracau. Jangan dengarkan ucapannya!” Mereka pun mundur.

Bani ‘Amir di ‘Ukazh: Perlindungan yang Dibatalkan oleh Seorang Cerdik

Dalam riwayat lain dari jalur lain, diceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan Bani ‘Amir di pasar ‘Ukazh. Beliau menawarkan:

“Aku adalah utusan Allah. Aku datang agar kalian melindungiku sampai aku menyampaikan risalah Rabbku. Aku tidak memaksa seorang pun di antara kalian.”

Mereka bangga dengan kekuatan mereka dan berkata kurang lebih: “Tidak ada yang berani menyentuh kami dan tidak ada yang tahan panas api kami.” Mereka sempat berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Kami tidak akan mengusirmu dan tidak akan beriman kepadamu. Tapi kami akan melindungimu hingga engkau menyampaikan risalah Tuhanmu.”

Seakan-akan ada harapan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun duduk bersama mereka sementara orang-orang berdagang di sekitar mereka.

Lalu datanglah Baiharah bin Firas al-Qusyairi. Ia bertanya, “Siapa lelaki yang ada di tengah kalian ini?” Mereka menjawab, “Muhammad bin ‘Abdillah al-Qurasyi.” Ia bertanya, “Apa urusan kalian dengan dia?” Mereka menjelaskan bahwa beliau mengaku utusan Allah dan meminta perlindungan sampai selesai menyampaikan risalah.

Baiharah bertanya, “Apa jawaban kalian?” Mereka berkata, “Kami sambut dengan lapang. Kami akan bawa dia ke negeri kami dan melindunginya sebagaimana kami melindungi diri kami.”

Baiharah pun marah dan berkata, dengan makna:

“Aku tidak melihat ada orang di pasar ini yang akan pulang membawa sesuatu yang lebih buruk dari apa yang akan kalian bawa. Kalian akan bermusuhan dengan semua orang, lalu seluruh Arab akan memanah kalian dari satu busur. Kaumnya sendiri lebih tahu tentang dirinya. Kalau mereka melihat kebaikan padanya, pastilah mereka yang paling berbahagia dengannya. Kalian hendak menanggung urusan berat seorang lelaki yang kaumnya sendiri telah mengusir dan mendustakannya, lalu kalian menampung dan menolongnya? Sungguh buruk pendapat kalian.”

Kemudian ia menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata dengan kasar:

“Berdirilah dan kembali kepada kaummu. Demi Allah, seandainya bukan karena engkau punya hubungan dengan kaumku, niscaya aku sudah memenggal lehermu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdiri, naik ke untanya. Baiharah yang keji itu menusuk bagian samping unta, sehingga unta itu melompat dan menjatuhkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Saat itu ada seorang wanita dari Bani ‘Amir bernama Duba‘ah binti ‘Amir bin Qurth, salah satu wanita yang telah masuk Islam di Makkah dan sedang mengunjungi kerabatnya. Melihat kejadian itu, ia berteriak:

“Wahai Bani ‘Amir – padahal aku tidak lagi mengaku sebagai bagian dari ‘Amir – apakah seperti ini perlakuan kalian terhadap Rasulullah di tengah kalian, dan tidak seorang pun dari kalian yang membelanya?!”

Tiga laki-laki dari kerabatnya pun bangkit, menyerang Baiharah dan dua orang yang bersamanya. Mereka menjatuhkan masing-masing ke tanah, duduk di atas dada mereka, dan menampar wajah mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan:

“Ya Allah, berkahilah orang-orang ini, dan laknatlah orang-orang itu.”

Tiga orang yang membela beliau kelak masuk Islam dan gugur sebagai syuhada. Sedangkan Baiharah dan kawan-kawannya kemudian binasa dalam keadaan tercela.

Riwayat panjang ini tergolong asing (jarang), namun para ulama menyebutnya sebagai salah satu bukti keberanian orang-orang yang kelak Allah beri hidayah, serta kerasnya permusuhan orang-orang yang Allah hinakan.

Perjalanan ke Kabilah Rabi‘ah: Kecerdasan Abu Bakar dan Pertemuan dengan Bani Syaiban

Dalam satu riwayat yang panjang, Ibnu ‘Abbas meriwayatkan cerita dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Ali berkata kira-kira:

“Ketika Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menawarkan diri kepada kabilah-kabilah Arab, beliau keluar bersama aku dan Abu Bakar ke Mina.”

Mereka duduk di salah satu majelis kabilah Rabi‘ah. Abu Bakar maju memberi salam. Ia memang dikenal paling dulu dalam setiap kebaikan, dan sangat ahli dalam ilmu nasab. Ia bertanya, “Dari kabilah mana kalian?” Mereka menjawab, “Rabi‘ah.” Maka Abu Bakar mulai menguji mereka dengan menyebutkan tokoh-tokoh besar Rabi‘ah yang terkenal di masa lalu, satu per satu. Setiap kali ia menyebut nama – seorang pahlawan, pembunuh raja, pelindung tetangga, besan raja – mereka menjawab, “Bukan dari kami.”

Akhirnya Abu Bakar berkata, dengan nada bercanda, “Kalau begitu, kalian bukan Dzuhl al-Akbar, tapi Dzuhl al-Ashghar (Dzuhl kecil).”

Seorang pemuda bernama Daghfal bin Hanzhalah berdiri, memegang tali kekang unta Abu Bakar, membalas dengan syair dan cerdas pula menguji nasab Abu Bakar: dari Quraisy bagian mana engkau? Apakah engkau dari keturunan Qushay, Hasyim, ‘Abd Manaf, atau ‘Abdul-Muththalib? Apakah engkau dari keluarga yang memegang kunci Ka‘bah, memberi minum jamaah haji, memimpin ifadhah? Abu Bakar menjawab “bukan” pada setiap nama besar itu, karena ia dari Bani Taim, bukan dari Bani Hasyim ataupun Bani ‘Abd Manaf.

Akhirnya pemuda itu menutup ucapannya dengan syair yang maknanya: “Engkau telah bertemu lawan yang sepadan; seandainya engkau bertahan, tentu aku kabarkan kedudukanmu yang sebenarnya.”

Ali yang menyaksikan itu berkata kepada Abu Bakar, “Engkau benar-benar kena batunya oleh orang Arab Badui itu.” Abu Bakar menjawab tenang, “Benar, wahai Abu al-Hasan. Tidak ada musibah besar kecuali di atasnya ada musibah yang lebih besar, dan bala itu selalu mengikuti ucapan.”

Mereka pun berlalu menuju majelis lain.

Bani Syaiban bin Tsa‘labah: Hampir Menerima, tapi Terhalang Perjanjian dengan Persia

Mereka kemudian tiba di majelis Bani Syaiban bin Tsa‘labah. Abu Bakar berbisik kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Demi ayah dan ibuku, tidak ada lagi setelah mereka ini kemuliaan dalam kaumnya. Mereka adalah pemuka manusia.”

Di majelis itu duduk para tokoh: Mafrūq bin ‘Amr, Hani’ bin Qabisah, al-Mutsanna bin Haritsah, dan an-Nu‘man bin Syarik. Abu Bakar bertanya tentang jumlah dan kekuatan mereka. Mafrūq menjawab, “Kami lebih dari seribu jiwa, dan seribu tidak akan dikalahkan karena sedikit. Kami mengutamakan kuda perang daripada anak-anak, dan senjata daripada unta betina. Kemenangan datangnya dari Allah; kadang Dia memberi kami giliran, kadang memberi giliran kepada musuh kami.”

Setelah pembicaraan nasab dan kekuatan, Abu Bakar berkata, “Kalau begitu, barangkali engkau telah mendengar tentang lelaki Quraisy yang mengaku sebagai utusan Allah. Inilah dia.”

Mafrūq menoleh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya:

“Wahai saudara dari Quraisy, kepada apa engkau mengajak?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk, sementara Abu Bakar berdiri menaungi beliau dengan pakaiannya. Beliau bersabda kurang lebih:

“Aku mengajak kalian untuk bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa aku adalah utusan Allah. Aku mengajak kalian untuk melindungiku, membantuku, dan menolongku, hingga aku menyampaikan apa yang Allah perintahkan kepadaku.

Sesungguhnya Quraisy telah bersatu untuk menentang urusan Allah, mendustakan Rasul-Nya, dan memilih kebatilan daripada kebenaran. Allah-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Mafrūq berkata, “Apalagi yang engkau serukan, wahai saudara dari Quraisy?”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat-ayat tentang pokok-pokok agama dan akhlak. Di antaranya ayat-ayat dari surah al-An‘am yang berisi wasiat Allah:

“Katakankanlah: ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kalian oleh Tuhan kalian, yaitu: janganlah kalian mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orangtua, dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin; Kamilah yang memberi rezeki kepada kalian dan kepada mereka; dan janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi; dan janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan (alasan) yang benar.’ Demikian itu Dia wasiatkan kepada kalian agar kalian mengerti.

Dan janganlah kalian dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat), sampai ia dewasa; dan penuhilah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Dan apabila kalian berkata, maka berlakulah adil, sekalipun terhadap kerabat (sendiri); dan penuhilah janji Allah. Demikian itu Dia wasiatkan kepada kalian agar kalian ingat.

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Demikian itu Dia wasiatkan kepada kalian agar kalian bertakwa.” (QS. al-An‘am [6]: 151–153)

Mafrūq mendengar dengan seksama, lalu berkata:

“Demi Allah, ini bukanlah ucapan penduduk bumi. Seandainya dari mereka, pasti kami mengenalnya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membacakan ayat masyhur dari surah an-Nahl:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berbuat adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian mengambil pelajaran.” (QS. an-Nahl [16]: 90)

Mafrūq berkata, dengan penuh kagum:

“Demi Allah, wahai Quraisy, engkau telah mengajak kepada akhlak yang mulia dan perbuatan yang indah. Sungguh tertipulah kaum yang mendustakanmu dan memerangimu.”

Seakan ingin melibatkan tokoh lain, Mafrūq menunjuk Hani‘ bin Qabisah:

“Ini Hani‘, pemuka kami dan pemegang agama kami.”

Hani‘ berkata bijak:

“Aku mendengar ucapanmu, wahai saudara dari Quraisy, dan aku membenarkan kata-katamu. Namun menurutku, meninggalkan agama kami dan mengikuti agamamu hanya karena satu majelis yang engkau duduki bersama kami, tanpa kami pikirkan matang-matang dan kami pertimbangkan akibatnya, adalah langkah yang tergesa-gesa dan pandangan yang lemah. Di belakang kami ada kaum kami, kami tidak suka mengikat sesuatu atas nama mereka tanpa musyawarah. Engkau kembali, kami pun kembali. Engkau pikirkan, kami pun pikirkan.”

Kemudian ia menunjuk al-Mutsanna bin Haritsah:

“Ini al-Mutsanna, pemuka kami dan panglima perang kami.”

Al-Mutsanna berkata:

“Aku juga mendengar ucapannya dan menyukai apa yang ia sampaikan. Namun, urusan kami sama seperti yang dikatakan Hani‘. Kami tinggal di antara dua perbatasan: salah satunya al-Yamamah (wilayah Arab), dan yang lain wilayah Persia dan sungai-sungai Kisra. Kami tinggal dengan perjanjian dari Kisra: jangan membuat kejadian baru dan jangan melindungi pelaku kejadian baru.

Barangkali perkara yang engkau ajak kami kepadanya adalah sesuatu yang tidak disukai para raja. Kalau menyangkut wilayah Arab, dosa pelakunya masih diampuni dan uzurnya diterima. Tapi kalau menyangkut wilayah Persia, dosa pelakunya tidak diampuni dan uzurnya tidak diterima. Jika engkau ingin kami menolong dan melindungimu dalam batas yang menyangkut Arab, kami siap.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Jawaban kalian tidak buruk, karena kalian telah berbicara jujur. Sesungguhnya tidak akan menegakkan agama Allah kecuali orang yang melindunginya dari semua sisi.”

Beliau lalu melanjutkan, memberikan isyarat nubuwat:

“Bagaimana pendapat kalian, jika kalian tidak lama lagi – hanya sebentar – sampai Allah memberikan kepada kalian negeri mereka dan harta mereka, dan menjadikan putri-putri mereka berada di bawah pemeliharaan kalian, apakah kalian akan bertasbih dan mensucikan Allah?”

An-Nu‘man bin Syarik berkata, takjub:

“Ya Allah, apakah itu (benar-benar) akan terjadi, wahai saudara dari Quraisy?”

Sebagai penutup, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat:

“Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, dan penyeru kepada Allah dengan izin-Nya, serta sebagai pelita yang menerangi.” (QS. al-Ahzab [33]: 45–46)

Pertemuan itu berakhir tanpa baiat. Bani Syaiban menunda dengan alasan perjanjian politik dengan Persia. Namun, kata-kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertanam di hati sebagian mereka.

Ali berkata, setelah mereka pergi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh kepadanya dan berkata:

“Wahai Ali, betapa mulianya akhlak orang Arab di masa jahiliah. Dengan akhlak itulah mereka menjaga kehormatan di antara mereka dalam kehidupan dunia.”

Lalu, setelah dari majelis Bani Syaiban, mereka mendatangi majelis Aus dan Khazraj dari Yatsrib (Madinah). Di sanalah, untuk pertama kalinya, sekelompok orang langsung menyambut dakwah dan membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka inilah yang kelak dikenal sebagai kaum Anshar.

Nubuwat tentang Kemenangan atas Persia di Dzi Qar

Riwayat ini menyebutkan bahwa setelah beberapa waktu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar kepada para sahabatnya dan bersabda:

“Berdoalah kalian untuk saudara-saudara kalian dari Rabi‘ah; hari ini mereka telah dikepung oleh anak-anak (pasukan) Persia.”

Tidak lama kemudian, beliau keluar lagi dan bersabda:

“Bersyukurlah banyak-banyak kepada Allah; hari ini keturunan Rabi‘ah telah menang atas orang-orang Persia. Mereka membunuh para raja mereka dan menjarah pasukan mereka. Dengan sebabku mereka ditolong.”

Pertempuran itu terjadi di dekat Dzi Qar, di daerah Quraqir, dekat Sungai Eufrat. Para penyair Arab memuji keberanian mereka, dan disebutkan bahwa mereka menjadikan nama “Muhammad” sebagai syiar perang mereka, hingga Allah memberikan kemenangan. Setelah itu, banyak dari mereka akhirnya masuk Islam.

Maysarah al-‘Absi: Hampir Menolong, Lalu Menunda

Dalam riwayat lain yang dibawakan al-Waqidi, seorang lelaki dari kabilah ‘Abs menceritakan:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke tempat tinggal kami di Mina. Kami sedang berkemah dekat jamrah pertama yang dekat Masjid al-Khaif. Beliau menaiki tunggangan bersama Zaid bin Haritsah di belakangnya. Beliau memanggil kami, mengajak kepada Allah, tetapi kami tidak menyambutnya – dan itu bukan kebaikan bagi kami.

Saat itu bersama kami ada Maysarah bin Masruq al-‘Absi. Ia berkata, ‘Demi Allah, seandainya kita membenarkan laki-laki ini dan membawanya ke tengah negeri kita, itu adalah keputusan terbaik. Demi Allah, urusannya pasti akan tampak dan menjangkau seluruh penjuru.’

Kaum kami berkata, ‘Tinggalkan kami. Jangan seret kami ke dalam masalah yang tidak sanggup kami hadapi.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menaruh harapan pada Maysarah dan berbicara kepadanya. Maysarah berkata, ‘Alangkah indah dan terang ucapanmu. Tapi kaumku menentangku. Seseorang itu kuat dengan kaumnya. Jika kaumnya tidak mendukungnya, maka musuh lebih pantas menguasainya.’”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berlalu, sedangkan mereka kembali ke kampung. Maysarah tidak tenang. Ia mengajak kaumnya untuk pergi ke Fadak, mendatangi orang-orang Yahudi, meminta pendapat mereka tentang lelaki yang mereka temui.

Orang-orang Yahudi mengeluarkan sebuah kitab dan membaca ciri-ciri Nabi yang akan datang:

Seorang Nabi ummi, dari bangsa Arab, menunggang keledai, rela dengan sepotong roti, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, tidak terlalu keriting dan tidak terlalu lurus rambutnya, di kedua matanya ada sedikit kemerahan, berkulit cerah.

Mereka berkata:

“Jika dia yang mendakwah kalian, maka jawablah seruannya dan masuklah ke agamanya. Kami sendiri iri kepadanya dan tidak akan mengikutinya. Kami sudah pernah mengalami banyak kesusahan karena (kabarnya), dan tidak akan ada seorang pun dari bangsa Arab kecuali akan mengikutinya atau memeranginya.”

Maysarah berkata kepada kaumnya:

“Wahai kaumku, ini perkara yang jelas.”

Mereka menjawab, “Kita akan kembali ke musim haji dan menemuinya lagi.” Namun, ketika kembali ke negeri sendiri, para tokoh mereka menolak rencana itu. Tidak seorang pun yang akhirnya menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tahun-tahun berlalu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Islam kuat. Kaum Anshar telah menolong. Pada Haji Wada‘, Maysarah akhirnya bertemu lagi dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tanah suci. Ia berkata:

“Wahai Rasulullah, demi Allah, aku selalu ingin mengikutimu sejak hari engkau singgah di hadapan kami – sampai terjadi apa yang terjadi. Allah telah menghendaki keterlambatan keislamanku ini. Kebanyakan orang yang dulu bersamaku telah meninggal. Bagaimana nasib mereka, wahai Rasulullah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Setiap orang yang meninggal di atas agama selain Islam, ia berada di neraka.”

Maysarah berkata, penuh rasa syukur:

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku.”

Ia pun masuk Islam, dan Islamnya menjadi baik. Ia memiliki kedudukan khusus di sisi Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.

Seorang Laki-Laki dari Hamdan: Janji yang Tak Sempat Dipenuhi

Sahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa pada hari-hari musim haji, di tempat wuquf, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berjalan di antara orang-orang dan berseru:

“Adakah orang yang mau membawaku kepada kaumnya? Sesungguhnya Quraisy telah menghalangiku untuk menyampaikan kalam Tuhanku.”

Seorang laki-laki dari kabilah Hamdan mendatangi beliau. Nabi bertanya, “Apakah di tengah kaummu ada kekuatan untuk melindungi?” Ia menjawab, “Ada.”

Namun, kemudian ia khawatir kaumnya akan meremehkannya bila ia tiba-tiba membawa seorang nabi tanpa musyawarah. Ia berkata:

“Aku akan mendatangi mereka dulu dan mengabarkan tentang engkau, lalu aku kembali kepadamu pada tahun berikutnya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan. Laki-laki itu pulang, namun sebelum ia kembali, datanglah rombongan Anshar dari Madinah pada bulan Rajab. Mereka itulah yang akhirnya membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di ‘Aqabah dan menjadi penolong agama Allah.

Mengapa Semua Ini Terjadi?

Jika kita rangkai semua fragmen ini, tampak jelas satu pola:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan sendirian, mengetuk pintu demi pintu, kemah demi kemah, kabilah demi kabilah. Beliau menawarkan sesuatu yang tidak biasa: bukan kedudukan, bukan harta, tapi tanggung jawab berat: melindungi seorang nabi yang sedang dimusuhi kaumnya sendiri.

Sebagian kabilah menolak karena takut musuh, sebagian karena takut kehilangan posisi di mata Persia, sebagian karena mengincar kekuasaan, sebagian karena tertipu bisikan tokoh cerdik yang melihat persoalan hanya dari sisi politik. Sebagian lain hampir menerima, namun menunda hingga kesempatan berlalu.

Di balik semua itu, Allah menyimpan kemuliaan khusus untuk sekelompok orang di Yatsrib: Aus dan Khazraj. Merekalah yang akhirnya berkata, “Ambillah janji dari kami, wahai Rasulullah. Kami akan melindungimu sebagaimana kami melindungi istri dan anak-anak kami.”

Dari situlah terbukalah pintu hijrah, terbangunlah masyarakat Madinah, dan mengalirlah cahaya Islam ke seluruh penjuru bumi.

Semua penolakan itu bukanlah kegagalan, tapi bagian dari ketetapan Allah, agar kemuliaan Anshar menjadi semakin agung.

Sumber Kisah

Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa an-Nihāyah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nabi Hūd, Kaum ‘Ād, dan Jejaknya dalam Sejarah Arab Pra Islam

Kisah Keberanian Sahabat di Perang Uhud: Thalhah, Nusaibah, dan Para Pejuang Wanita

Rihlah Ibnu Bathutah #61 : Sultan Alauddin Tharmasyirin, Keadilan, Kerendahan Hati, dan Sebuah Pelajaran Hidup