Pernikahan Rasulullah Setelah Wafatnya Khadijah
Sepeninggal Khadijah radhiyallahu 'anha, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjalani hari-hari yang berat. Wanita mulia yang selalu mendampingi dan menyokong perjuangan dakwah beliau telah tiada. Rumah tangga yang selama dua puluh lima tahun penuh dengan kehangatan dan kasih sayang kini terasa sepi.
Di tengah kekosongan itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan petunjuk kepada Nabi-Nya melalui mimpi. Dalam mimpi tersebut, seorang malaikat datang membawa seorang gadis yang terbungkus kain sutra hijau.
Malaikat itu berkata, "Ini adalah istrimu."Rasulullah kemudian menyingkap kain itu dari wajah sang gadis. Ternyata gadis itu adalah Aisyah, putri sahabat terdekat beliau, Abu Bakr ash-Shiddiq. Mimpi serupa datang hingga dua kali, bahkan dalam satu riwayat disebutkan tiga kali.Melihat kejelasan tanda itu, Rasulullah berkata dalam hati, "Jika ini memang dari Allah, niscaya Dia akan mewujudkannya."
Beliau meyakini bahwa mimpi para Nabi adalah wahyu. Maka hati beliau pun mantap bahwa inilah kehendak Allah untuknya.________________________________________Khawlah Menjadi PerantaraTidak lama setelah wafatnya Khadijah, datanglah seorang wanita yang cerdas dan peka bernama Khawlah binti Hakim, istri Utsman bin Mazh'un. Ia melihat kesedihan yang menyelimuti rumah tangga Rasulullah, maka ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Wahai Rasulullah, tidakkah engkau ingin menikah lagi?"Rasulullah menjawab dengan singkat, "Dengan siapa?"Khawlah menawarkan dua pilihan. "Jika engkau menginginkan gadis perawan, ada Aisyah putri Abu Bakr, anak dari orang yang paling engkau cintai. Dan jika engkau menginginkan janda, ada Saudah binti Zam'ah, wanita yang telah beriman dan mengikuti ajaranmu."
Rasulullah mendengarkan dengan seksama, lalu berkata, "Pergilah dan sampaikan lamaranku kepada keduanya."________________________________________Lamaran kepada Abu BakrKhawlah segera melangkah menuju kediaman Abu Bakr. Ia disambut oleh Ummu Ruman, istri Abu Bakr dan ibu Aisyah.
"Wahai Ummu Ruman, betapa besar kebaikan dan keberkahan yang Allah datangkan kepadamu!" kata Khawlah dengan wajah berseri.Ummu Ruman yang penasaran bertanya, "Apakah gerangan?"
"Rasulullah mengutusku untuk meminang Aisyah untuknya."Ummu Ruman tertegun sesaat, lalu berkata, "Tunggulah hingga Abu Bakr pulang."Ketika Abu Bakr tiba, Khawlah menyampaikan kabar yang sama. Abu Bakr tampak terkejut, lalu berkata dengan penuh kehati-hatian, "Apakah Aisyah pantas untuknya? Bukankah aku ini saudaranya?"
Abu Bakr merasa ragu karena ikatan persaudaraan yang begitu erat antara dirinya dan Rasulullah. Ia khawatir jangan-jangan pernikahan seperti ini tidak diperkenankan.Khawlah segera kembali kepada Rasulullah dan menyampaikan keraguan Abu Bakr. Mendengar itu, Rasulullah tersenyum dan berkata, "Kembalilah kepadanya dan katakan bahwa aku adalah saudaranya dalam agama Allah dan Kitab-Nya, dan putrinya halal bagiku."
________________________________________Janji yang Harus DiselesaikanSebenarnya ada satu hal lagi yang membuat Abu Bakr sedikit gelisah. Sebelumnya, Muth'im bin Adi pernah membicarakan Aisyah untuk putranya. Meskipun belum ada ikatan resmi, Abu Bakr adalah lelaki yang sangat menjaga kata-katanya.
Maka Abu Bakr pun pergi menemui Muth'im bin Adi untuk memastikan. Ketika tiba di rumahnya, istri Muth'im langsung menyambutnya dengan nada yang tidak bersahabat.
"Wahai putra Abu Quhafah, barangkali engkau bermaksud memasukkan teman kami ke dalam agamamu jika ia menikah dengan putrimu?"Abu Bakr memandang Muth'im dan bertanya, "Apakah ini juga pendapatmu?"Muth'im menjawab singkat, "Ya, itu memang yang dikatakan istriku."Mendengar jawaban itu, Abu Bakr justru merasa lega. Allah telah melepaskan beban dari hatinya. Ia tidak lagi terikat dengan janji apapun kepada keluarga Muth'im. Dengan langkah ringan, Abu Bakr pulang dan berkata kepada Khawlah, "Undanglah Rasulullah untuk datang ke rumahku."
Rasulullah pun datang, dan akad nikah dengan Aisyah dilangsungkan. Saat itu Aisyah baru berusia enam tahun.________________________________________Lamaran kepada SaudahSetelah urusan dengan keluarga Abu Bakr selesai, Khawlah melanjutkan tugasnya. Ia pergi menemui Saudah binti Zam'ah, seorang janda yang suaminya, Sakran bin Amr, telah wafat setelah kembali dari hijrah ke Habasyah.
"Wahai Saudah, betapa besar kebaikan dan keberkahan yang Allah datangkan kepadamu!" kata Khawlah.Saudah bertanya, "Apa gerangan?""Rasulullah mengutusku untuk meminangmu."Wajah Saudah berseri-seri. "Aku sangat menginginkan itu. Masuklah dan temui ayahku, sampaikan kepadanya."Ayah Saudah, Zam'ah, adalah seorang lelaki tua yang sudah uzur dan tidak mampu lagi menunaikan haji. Khawlah masuk dan memberi salam dengan cara jahiliyah sebagaimana kebiasaan orang-orang tua saat itu.
"Siapa ini?" tanya Zam'ah."Aku Khawlah binti Hakim.""Ada keperluan apa?""Muhammad bin Abdullah mengutusku untuk meminang Saudah."Mendengar nama itu, Zam'ah langsung berkata, "Dia adalah lelaki yang setara dan mulia. Apa kata putri aku?"
Saudah dipanggil, dan ia menyatakan persetujuannya dengan penuh suka cita. Maka Rasulullah pun datang dan akad nikah dilangsungkan.Tidak lama kemudian, Abd bin Zam'ah, saudara laki-laki Saudah, pulang dari perjalanan haji. Ketika mendengar kabar pernikahan adiknya dengan Muhammad, ia sangat terkejut hingga menaburkan debu ke kepalanya sebagai tanda penyesalan.
Namun setelah ia masuk Islam, ia berkata dengan penuh sesal, "Demi umurku, sungguh aku adalah orang yang bodoh pada hari ketika aku menaburkan debu ke kepalaku hanya karena Rasulullah menikahi Saudah."________________________________________Perjalanan ke MadinahWaktu terus berjalan. Rasulullah hijrah ke Madinah, dan keluarga Abu Bakr pun menyusul kemudian. Mereka tinggal di perkampungan Bani Harits bin Khazraj, di tempat yang disebut Sunuh.
Aisyah yang masih kecil menjalani hari-harinya seperti anak-anak pada umumnya. Ia bermain dengan teman-teman sebayanya, berayun di ayunan yang digantung di antara dua pohon kurma, dengan rambut yang dikepang sederhana.Suatu hari, ia jatuh sakit dengan demam yang cukup berat hingga rambutnya banyak yang rontok. Setelah sembuh, rambutnya tumbuh kembali dan menjadi lebat hingga sebatas pundak.
________________________________________Hari Pernikahan yang SederhanaPada suatu pagi yang cerah di bulan Syawal tahun kedua Hijriah, Aisyah sedang bermain ayunan bersama teman-temannya. Tiba-tiba ibunya, Ummu Ruman, datang dan memanggilnya dengan suara keras.
Aisyah segera turun dan menghampiri ibunya, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ummu Ruman menggandeng tangannya dan membawanya ke depan pintu rumah. Napas Aisyah masih terengah-engah karena baru saja bermain.
Ibunya mengambil sedikit air, lalu mengusap wajah dan kepala Aisyah. Setelah itu, ia membawanya masuk ke dalam rumah. Di sana sudah berkumpul beberapa wanita Anshar yang langsung menyambutnya dengan ucapan, "Semoga kebaikan dan keberkahan menyertaimu, semoga engkau mendapat nasib yang baik!"
Para wanita itu segera merapikan Aisyah, menata rambutnya, dan mempersiapkannya. Aisyah masih belum sepenuhnya paham apa yang sedang terjadi.Tidak lama kemudian, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam datang di waktu dhuha. Para wanita Anshar menyerahkan Aisyah kepada beliau. Saat itu Aisyah berusia sembilan tahun.
Pernikahan itu berlangsung sangat sederhana. Tidak ada unta yang disembelih, tidak ada kambing yang dipotong. Yang ada hanyalah sebuah mangkuk besar berisi makanan yang dikirimkan oleh Sa'ad bin Ubadah, pemimpin kaum Anshar yang memang biasa mengirimkan makanan kepada Rasulullah setiap kali beliau bermalam di rumah salah satu istrinya.________________________________________Keistimewaan AisyahDi antara semua istri Rasulullah, Aisyah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki yang lain. Dialah satu-satunya istri yang dinikahi Rasulullah dalam keadaan gadis perawan. Semua istri beliau yang lain adalah janda.
Suatu ketika, Aisyah bertanya kepada Rasulullah dengan gaya bahasa yang khas, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika engkau singgah di sebuah lembah. Di sana ada pohon yang sudah pernah dimakan daunnya oleh orang lain, dan ada pula pohon yang belum pernah disentuh sama sekali. Di pohon manakah engkau akan menggembalakan untamu?"
Rasulullah tersenyum dan menjawab, "Tentu saja di pohon yang belum pernah disentuh."Itulah cara Aisyah mengungkapkan kebanggaannya bahwa ia adalah satu-satunya istri Rasulullah yang masih perawan ketika dinikahi.Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma pernah berkata langsung kepada Aisyah, "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah menikahi gadis perawan selain dirimu."
Dan lebih dari itu, Jibril 'alaihissalam pernah membawa gambar Aisyah dalam kain sutra hijau kepada Rasulullah seraya berkata, "Ini adalah istrimu di dunia dan di akhirat."________________________________________Saudah yang MuliaAdapun Saudah binti Zam'ah, ia adalah wanita yang lembut dan penuh pengertian. Ketika usianya semakin lanjut dan ia merasa tidak mampu lagi memenuhi hak-hak sebagai istri, ia menghibahkan jatah harinya kepada Aisyah.
"Wahai Rasulullah, aku berikan hariku untuk Aisyah," katanya.Maka Rasulullah pun menerima keputusan itu, dan beliau mengunjungi Aisyah dua hari berturut-turut: satu hari adalah jatah Aisyah sendiri, dan satu hari lagi adalah pemberian dari Saudah.Aisyah sendiri mengakui, "Saudah adalah wanita pertama yang dinikahi Rasulullah setelah aku."________________________________________Catatan SejarahPara ulama berbeda pendapat tentang siapa yang lebih dahulu diakad: apakah Aisyah atau Saudah. Sebagian besar riwayat menunjukkan bahwa akad dengan Aisyah terjadi lebih dahulu, namun pernikahan secara nyata (berkumpul sebagai suami istri) dengan Saudah terjadi lebih dahulu karena berlangsung di Makkah. Adapun Aisyah baru berkumpul dengan Rasulullah di Madinah, dua tahun setelah hijrah.
Yang tidak diperselisihkan oleh siapapun adalah bahwa Rasulullah menikahi Aisyah ketika ia berusia enam tahun dan berkumpul dengannya ketika ia berusia sembilan tahun. Hal ini tercatat dalam kitab-kitab hadits yang shahih dan tidak ada yang membantahnya.________________________________________Sumber: Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah karya al-Hafizh Ibnu Katsir
Sepeninggal Khadijah radhiyallahu 'anha, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjalani hari-hari yang berat. Wanita mulia yang selalu mendampingi dan menyokong perjuangan dakwah beliau telah tiada. Rumah tangga yang selama dua puluh lima tahun penuh dengan kehangatan dan kasih sayang kini terasa sepi.
Di tengah kekosongan itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan petunjuk kepada Nabi-Nya melalui mimpi. Dalam mimpi tersebut, seorang malaikat datang membawa seorang gadis yang terbungkus kain sutra hijau.
Melihat kejelasan tanda itu, Rasulullah berkata dalam hati, "Jika ini memang dari Allah, niscaya Dia akan mewujudkannya."
Tidak lama setelah wafatnya Khadijah, datanglah seorang wanita yang cerdas dan peka bernama Khawlah binti Hakim, istri Utsman bin Mazh'un. Ia melihat kesedihan yang menyelimuti rumah tangga Rasulullah, maka ia memberanikan diri untuk bertanya.
Khawlah menawarkan dua pilihan. "Jika engkau menginginkan gadis perawan, ada Aisyah putri Abu Bakr, anak dari orang yang paling engkau cintai. Dan jika engkau menginginkan janda, ada Saudah binti Zam'ah, wanita yang telah beriman dan mengikuti ajaranmu."
Khawlah segera melangkah menuju kediaman Abu Bakr. Ia disambut oleh Ummu Ruman, istri Abu Bakr dan ibu Aisyah.
Ummu Ruman yang penasaran bertanya, "Apakah gerangan?"
Ketika Abu Bakr tiba, Khawlah menyampaikan kabar yang sama. Abu Bakr tampak terkejut, lalu berkata dengan penuh kehati-hatian, "Apakah Aisyah pantas untuknya? Bukankah aku ini saudaranya?"
Khawlah segera kembali kepada Rasulullah dan menyampaikan keraguan Abu Bakr. Mendengar itu, Rasulullah tersenyum dan berkata, "Kembalilah kepadanya dan katakan bahwa aku adalah saudaranya dalam agama Allah dan Kitab-Nya, dan putrinya halal bagiku."
Sebenarnya ada satu hal lagi yang membuat Abu Bakr sedikit gelisah. Sebelumnya, Muth'im bin Adi pernah membicarakan Aisyah untuk putranya. Meskipun belum ada ikatan resmi, Abu Bakr adalah lelaki yang sangat menjaga kata-katanya.
Maka Abu Bakr pun pergi menemui Muth'im bin Adi untuk memastikan. Ketika tiba di rumahnya, istri Muth'im langsung menyambutnya dengan nada yang tidak bersahabat.
Mendengar jawaban itu, Abu Bakr justru merasa lega. Allah telah melepaskan beban dari hatinya. Ia tidak lagi terikat dengan janji apapun kepada keluarga Muth'im. Dengan langkah ringan, Abu Bakr pulang dan berkata kepada Khawlah, "Undanglah Rasulullah untuk datang ke rumahku."
Setelah urusan dengan keluarga Abu Bakr selesai, Khawlah melanjutkan tugasnya. Ia pergi menemui Saudah binti Zam'ah, seorang janda yang suaminya, Sakran bin Amr, telah wafat setelah kembali dari hijrah ke Habasyah.
Ayah Saudah, Zam'ah, adalah seorang lelaki tua yang sudah uzur dan tidak mampu lagi menunaikan haji. Khawlah masuk dan memberi salam dengan cara jahiliyah sebagaimana kebiasaan orang-orang tua saat itu.
Mendengar nama itu, Zam'ah langsung berkata, "Dia adalah lelaki yang setara dan mulia. Apa kata putri aku?"
Tidak lama kemudian, Abd bin Zam'ah, saudara laki-laki Saudah, pulang dari perjalanan haji. Ketika mendengar kabar pernikahan adiknya dengan Muhammad, ia sangat terkejut hingga menaburkan debu ke kepalanya sebagai tanda penyesalan.
Waktu terus berjalan. Rasulullah hijrah ke Madinah, dan keluarga Abu Bakr pun menyusul kemudian. Mereka tinggal di perkampungan Bani Harits bin Khazraj, di tempat yang disebut Sunuh.
Suatu hari, ia jatuh sakit dengan demam yang cukup berat hingga rambutnya banyak yang rontok. Setelah sembuh, rambutnya tumbuh kembali dan menjadi lebat hingga sebatas pundak.
Pada suatu pagi yang cerah di bulan Syawal tahun kedua Hijriah, Aisyah sedang bermain ayunan bersama teman-temannya. Tiba-tiba ibunya, Ummu Ruman, datang dan memanggilnya dengan suara keras.
Aisyah segera turun dan menghampiri ibunya, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ummu Ruman menggandeng tangannya dan membawanya ke depan pintu rumah. Napas Aisyah masih terengah-engah karena baru saja bermain.
Ibunya mengambil sedikit air, lalu mengusap wajah dan kepala Aisyah. Setelah itu, ia membawanya masuk ke dalam rumah. Di sana sudah berkumpul beberapa wanita Anshar yang langsung menyambutnya dengan ucapan, "Semoga kebaikan dan keberkahan menyertaimu, semoga engkau mendapat nasib yang baik!"
Tidak lama kemudian, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam datang di waktu dhuha. Para wanita Anshar menyerahkan Aisyah kepada beliau. Saat itu Aisyah berusia sembilan tahun.
Di antara semua istri Rasulullah, Aisyah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki yang lain. Dialah satu-satunya istri yang dinikahi Rasulullah dalam keadaan gadis perawan. Semua istri beliau yang lain adalah janda.
Suatu ketika, Aisyah bertanya kepada Rasulullah dengan gaya bahasa yang khas, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika engkau singgah di sebuah lembah. Di sana ada pohon yang sudah pernah dimakan daunnya oleh orang lain, dan ada pula pohon yang belum pernah disentuh sama sekali. Di pohon manakah engkau akan menggembalakan untamu?"
Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma pernah berkata langsung kepada Aisyah, "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah menikahi gadis perawan selain dirimu."
Adapun Saudah binti Zam'ah, ia adalah wanita yang lembut dan penuh pengertian. Ketika usianya semakin lanjut dan ia merasa tidak mampu lagi memenuhi hak-hak sebagai istri, ia menghibahkan jatah harinya kepada Aisyah.
Para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang lebih dahulu diakad: apakah Aisyah atau Saudah. Sebagian besar riwayat menunjukkan bahwa akad dengan Aisyah terjadi lebih dahulu, namun pernikahan secara nyata (berkumpul sebagai suami istri) dengan Saudah terjadi lebih dahulu karena berlangsung di Makkah. Adapun Aisyah baru berkumpul dengan Rasulullah di Madinah, dua tahun setelah hijrah.

Komentar
Posting Komentar