Perjalanan Hijrah Rasulullah SAW ke Madinah
Awal Mula: Hijrah sebagai Titik Balik Sejarah
Para sahabat di zaman Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu sepakat menjadikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah sebagai awal penanggalan Islam. Bukan kelahiran, bukan pula wafat beliau, tetapi hijrah. Sebab di situlah Islam mulai tegak sebagai masyarakat dan negara.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, bahwa:
• Nabi ﷺ diutus ketika berusia 40 tahun
• Tinggal di Makkah setelah diutus selama 13 tahun
• Lalu hijrah ke Madinah dan tinggal di sana 10 tahun
• Wafat pada usia 63 tahun
Hijrah terjadi pada bulan Rabi‘ul Awwal, tahun ke-13 kenabian, pada hari Senin. Ibnu ‘Abbas berkata:
“Nabi kalian dilahirkan pada hari Senin, diangkat menjadi nabi pada hari Senin, keluar berhijrah pada hari Senin, masuk Madinah pada hari Senin, dan wafat pada hari Senin.”
Hari Senin itu menjadi hari yang penuh jejak dalam perjalanan Rasulullah ﷺ.
Isyarat Hijrah dan Harapan Abu Bakar
Bertahun-tahun sebelum hijrah, gangguan Quraisy di Makkah sudah sangat berat. Sebagian sahabat telah hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Namun Makkah tetap menjadi pusat dakwah Nabi ﷺ.
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu sangat ingin berhijrah menyelamatkan iman. Ia sempat meminta izin kepada Nabi ﷺ untuk hijrah, tetapi beliau bersabda lembut:
“Jangan tergesa-gesa. Mungkin Allah akan memberimu seorang teman perjalanan.”
Abu Bakar langsung memahami isyarat itu. “Semoga yang dimaksud adalah aku,” batinnya. Sejak hari itu ia menyiapkan dua ekor unta terbaik, dirawat dan diberi makan khusus. Dalam sebagian riwayat disebutkan, ia membelinya dengan harga delapan ratus dirham. Kedua unta itu sengaja disiapkan kalau-kalau suatu hari nanti Allah mengizinkan Nabi ﷺ hijrah.
Kabar Negeri Hijrah: Kota Kurma di Antara Dua Harrah
Dalam riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha yang diriwayatkan al-Bukhari, Nabi ﷺ suatu hari bersabda kepada para sahabat di Makkah:
“Telah diperlihatkan kepadaku negeri hijrah kalian: sebuah negeri yang memiliki pohon-pohon kurma, di antara dua tanah berbatu hitam (harrah).”
Itulah Yatsrib, yang kelak dikenal sebagai Madinah.
Maka satu demi satu kaum Muslimin berhijrah mendahului Nabi ﷺ. Sebagian yang dulu hijrah ke Habasyah, kini memindahkan hijrah mereka ke Madinah. Tinggallah Nabi ﷺ dan beberapa sahabat, di tengah tekanan Quraisy yang kian keras.
Abu Bakar pun bersiap hendak berangkat hijrah ke Madinah. Namun Nabi ﷺ bersabda:
“Tunggulah sebentar, aku berharap akan diizinkan (untuk hijrah).”
Abu Bakar bertanya penuh harap: “Apakah engkau menunggu izin itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ya.”
Sejak itu Abu Bakar menahan diri, tidak jadi berangkat. Ia memberi makan dua ekor untanya dengan daun pohon samur selama berbulan-bulan, menunggu saat yang Allah tetapkan.
Malam Konspirasi Quraisy
Ketika dakwah makin luas dan baiat kaum Anshar di Aqabah kedua telah terjadi, para pemimpin Quraisy merasa posisi mereka terancam. Mereka pun bermusyawarah di Darun Nadwah: apa yang harus dilakukan terhadap Muhammad ﷺ?
Al-Qur’an mengabadikan malam konspirasi itu:
وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya, dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembuat tipu daya.”
(QS. Al-Anfal: 30)
Sebagian mengusulkan Nabi ﷺ dipenjara, sebagian lain mengusulkan diusir. Abu Jahl mengusulkan ide paling keji: mengumpulkan pemuda dari berbagai kabilah, lalu bersama-sama menikam Nabi ﷺ hingga tidak jelas siapa pelakunya. Darahnya akan ditanggung bersama oleh semua kabilah, sehingga keluarga Bani Hasyim tidak mampu menuntut balas kepada satu pihak tertentu.
Rencana ini disetujui. Malam itu para pemuda bersenjata mengepung rumah beliau ﷺ.
Namun Allah tidak membiarkan rencana jahat itu berhasil. Jibril ‘alaihis salam datang memerintahkan Nabi ﷺ untuk segera keluar berhijrah. Beliau memerintahkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tidur di tempat tidurnya, berselimut dengan selimut hijau beliau, untuk mengelabui para pengepung, sekaligus agar Ali dapat mengembalikan amanah-amanah orang Makkah yang dititipkan kepada Nabi ﷺ.
Dahulu, siapa pun di Makkah yang punya barang berharga dan takut hilang, sering menitipkannya kepada Nabi ﷺ, karena mengenal beliau sebagai al-Amin, orang yang paling jujur dan amanah; bahkan ketika mereka memusuhinya.
Datang di Waktu Zuhur: Izin Hijrah Turun
Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan: Rasulullah ﷺ hampir setiap hari datang ke rumah Abu Bakar pada dua waktu: pagi atau sore. Suatu hari yang sangat panas, menjelang Zuhur—waktu di mana beliau tidak pernah biasa datang—tiba-tiba Rasulullah ﷺ muncul dengan kepala tertutup.
Melihat itu, Abu Bakar berkata cemas:
“Demi Allah, tidaklah Rasulullah datang di waktu seperti ini, melainkan pasti ada urusan besar.”
Beliau ﷺ lalu meminta izin masuk. Setelah duduk, beliau berkata:
“Keluarkan semua orang yang ada di sisimu, wahai Abu Bakar.”
Abu Bakar menjawab:
“Mereka hanya kedua putriku, Aisyah dan Asma’, wahai Rasulullah.”
Barulah Rasulullah ﷺ bersabda dengan kalimat yang ditunggu-tunggu oleh Abu Bakar sejak lama:
“Sesungguhnya Allah telah mengizinkan aku untuk keluar (berhijrah).”
Abu Bakar spontan berkata:
“Apakah aku boleh menyertaimu, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Engkau akan menyertaiku.”
Aisyah berkata, “Demi Allah, aku belum pernah melihat seseorang menangis karena gembira sampai aku melihat Abu Bakar hari itu.”
Persiapan Rahasia: Unta, Bekal, dan Penunjuk Jalan
Abu Bakar berkata:
“Wahai Nabi Allah, kedua unta ini dulu aku siapkan untuk (perjalanan) ini.”
Rasulullah ﷺ menerima, tapi tetap ingin membayar. Abu Bakar menawarkan:
“Ambillah salah satunya, wahai Rasulullah, sebagai hadiah.”
Namun beliau ﷺ bersabda:
“Aku menerimanya dengan harganya.”
Di rumah, Asma’ binti Abu Bakar menyiapkan bekal makanan dengan tergesa. Saat kantong kulit bekal telah penuh, ternyata tidak ada tali untuk mengikat mulutnya. Asma’ pun melepaskan ikat pinggangnya, membelahnya menjadi dua dan mengikat bekal itu. Karena itulah ia dijuluki “Dzatun Nithaqain” (Wanita pemilik dua ikat pinggang).
Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar juga menyewa seorang penunjuk jalan yang sangat ahli, bernama Abdullah bin Uraiqith (atau diriwayatkan: bin Arqath). Ia masih musyrik, tapi dikenal jujur dan sangat menguasai rute padang pasir. Dua unta itu diserahkan kepadanya. Ia diberi janji agar datang membawa unta-unta tersebut ke Gua Tsur setelah tiga malam.
Keluar dari Rumah dan Menuju Gua Tsur
Pada malam hijrah, sementara para pemuda Quraisy mengepung rumah, Nabi ﷺ keluar melewati mereka dengan izin Allah, membaca ayat-ayat Allah, dan mereka tidak melihatnya. Ali tetap tidur di ranjang beliau, agar para pengepung mengira beliau masih di rumah.
Rasulullah ﷺ lalu menuju rumah Abu Bakar. Dari sebuah lubang kecil di bagian belakang rumah, keduanya keluar menuju arah selatan, bukan ke utara seperti arah Madinah, agar mengelabui para pengejar. Mereka menuju sebuah gunung di selatan Makkah yang disebut Tsur, dan naik ke gua di puncaknya: Gua Tsur.
Dalam beberapa riwayat, dikisahkan Abu Bakar lebih dahulu masuk ke dalam gua untuk memeriksa apakah ada binatang buas atau ular di dalamnya. Ia meraba setiap sudut gua, menutup lubang-lubang dengan kain dan tubuhnya, hingga tinggal satu lubang yang tidak memiliki penutup. Ia pun menempelkan telapak kakinya di lubang itu agar apa pun yang keluar dari sana mengenai dirinya, bukan Rasulullah ﷺ.
Nabi ﷺ pun masuk dan beristirahat di pangkuan sahabat terbaiknya. Dalam riwayat, kaki Abu Bakar digigit sesuatu dari lubang itu hingga terasa sangat sakit. Air matanya menetes, jatuh ke wajah Rasulullah ﷺ hingga beliau terbangun. Namun Abu Bakar tidak bergeming, khawatir mengganggu tidur Nabi ﷺ. Demikian besar kecintaan dan pengorbanannya.
Tiga Hari yang Menegangkan di Gua
Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar tinggal di Gua Tsur selama tiga malam. Seluruh keluarga Abu Bakar bekerja sama melindungi dan melayani beliau berdua:
• Abdullah bin Abu Bakar, seorang pemuda yang cerdas, tinggal di tengah orang-orang Quraisy di siang hari. Ia mendengar semua berita dan rencana mereka. Malam hari, ia naik ke gunung sunyi itu, mengabarkan segala perkembangan kepada Nabi ﷺ dan ayahnya, lalu kembali ke Makkah sebelum fajar, seolah-olah ia tidur di kota seperti biasa.
• ‘Amir bin Fuhairah, budak merdeka Abu Bakar, menggembalakan kambing-kambing di sekitar gua pada siang hari. Malamnya, ia menggiring kambing-kambing itu mendekati gua agar Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar dapat meminum susunya dan mengambil daging. Saat fajar, ia menggiring kambing-kambing itu melintasi jejak Abdullah, sehingga bekas tapak kakinya terhapus.
• Asma’ binti Abu Bakar datang malam hari membawa makanan, naik ke bukit yang terjal itu dalam kegelapan.
Sementara itu di Makkah, Quraisy murka ketika menjelang pagi mereka baru sadar bahwa yang tidur di ranjang Nabi ﷺ adalah Ali. Mereka berusaha menggali informasi, mencari ke segala penjuru, dan mengumumkan sayembara: siapa pun yang berhasil membawa kembali Muhammad ﷺ dan Abu Bakar—hidup atau mati—akan mendapat seratus ekor unta.
Abu Jahl marah besar dan datang ke rumah Abu Bakar. Ia mengetuk pintu dan bertanya dengan kasar kepada Asma’:
“Di mana ayahmu, wahai putri Abu Bakar?”
Asma’ menjawab dengan tenang:
“Demi Allah, aku tidak tahu di mana ayahku berada.”
Abu Jahl menampar pipi Asma’ begitu keras hingga antingnya terlempar. Ia pergi dengan amarah dan kehinaan.
Tak lama, kakek mereka yang sudah tua dan buta, Abu Quhafah, datang. Ia berkata dengan sedih:
“Sungguh, aku kira Abu Bakar telah menyusahkan kalian, membawa dirinya dan hartanya pergi.”
Asma’ ingin menenangkan kakeknya. Ia mengumpulkan beberapa batu, memasukkannya ke lubang tempat biasa ayahnya menyimpan harta, lalu menutupnya dengan kain. Ia menggandeng tangan kakeknya dan meletakkannya di atas batu-batu itu.
“Ayah, ini harta yang ditinggalkan untuk kami.”
Abu Quhafah meraba lalu berkata:
“Jika ia meninggalkan ini untuk kalian, maka ia telah berbuat baik. Ini sudah cukup bagi kalian.”
Padahal, demi Allah—kata Asma’—Abu Bakar tidak meninggalkan apa pun selain iman dan tawakal. Namun kebijaksanaan dan kelembutan Asma’ menyelamatkan hati orang tua itu.
Saat Quraisy Berdiri di Mulut Gua
Pencarian besar-besaran pun dimulai. Para pelacak jejak profesional menyisir setiap rute. Hingga suatu saat, mereka sampai ke gunung Tsur, mengikuti jejak hingga mendekati mulut gua tempat Nabi ﷺ bersembunyi.
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Allah menjaga Nabi-Nya dengan cara yang menakjubkan. Di depan mulut gua, Allah memerintahkan seekor laba-laba membuat jalinan sarang tebal, dan dalam beberapa riwayat disebutkan pula ada dua ekor burung merpati liar yang bersarang di situ. Dalam riwayat yang lain, disebutkan pula tumbuh pohon di depan mulut gua, menutupi pandangan.
Ketika para pengejar Quraisy datang, mereka melihat mulut gua tertutup sarang laba-laba yang tampak sudah lama, dan (dalam sebagian riwayat) melihat burung merpati bersarang di sana. Mereka berkata:
“Seandainya ada seseorang masuk ke gua ini, tentu tidak akan ada sarang laba-laba seperti ini di pintunya.”
Maka mereka pun berbalik. Mereka tidak menyangka bahwa orang yang mereka buru sedemikian dekat.
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengisahkan seperti yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik:
Saat itu ia berkata kepada Nabi ﷺ di dalam gua:
“Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah ke arah kedua kakinya, niscaya ia akan melihat kita.”
Rasulullah ﷺ menjawab dengan tenang, kalimat yang kemudian diabadikan oleh Al-Qur’an:
“Wahai Abu Bakar, bagaimana menurutmu tentang dua orang yang Allah adalah yang ketiganya?”
Dan Allah menurunkannya dalam firman-Nya:
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ، إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ، إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ، إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا، فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ، وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا، وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى، وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا، وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sungguh Allah telah menolongnya, yaitu ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah), sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua. Ketika dia berkata kepada sahabatnya: ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan bala tentara yang tidak kamu lihat, dan Allah menjadikan kalimat orang-orang kafir itu rendah, sedangkan kalimat Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
(QS. At-Taubah: 40)
Sejak itu, kalimat “لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا — Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” menjadi kalimat yang menguatkan hati setiap orang beriman.
Di zaman Khalifah Umar pernah ada orang-orang yang seakan mengunggulkan Umar di atas Abu Bakar. Umar pun berkata:
“Demi Allah, satu malam yang dijalani Abu Bakar (di gua) lebih baik daripada seluruh keluarga Umar, dan satu hari Abu Bakar lebih baik daripada seluruh keluarga Umar.”
Ia mengingat bagaimana Abu Bakar berjalan bergantian di depan, di belakang, di kanan, dan di kiri Rasulullah ﷺ sepanjang jalan, khawatir ada serangan dari segala arah.
Keluar dari Gua dan Awal Perjalanan Panjang
Setelah tiga hari, ketika pencarian mulai mereda, penunjuk jalan yang disewa, Abdullah bin Uraiqith, datang pada waktu yang disepakati, membawa dua unta dan seekor untanya sendiri.
Asma’ datang lagi membawa bekal di malam terakhir, kembali dengan ikat pinggang yang terbelah.
Rasulullah ﷺ memilih salah satu unta (dalam riwayat: al-Qashwa’ atau al-Jad‘a’). Abu Bakar menawarkannya gratis, tetapi beliau tetap membayarnya sesuai harga beli. Abu Bakar sendiri menunggang unta lainnya dan membonceng ‘Amir bin Fuhairah. Penunjuk jalan mengarahkan rute bukan ke utara lewat jalan biasa, tetapi berputar memutari Makkah dari bawah, menyusuri jalur pantai, melewati lembah-lembah yang jarang dilalui orang.
Dalam salah satu episode perjalanan yang diceritakan al-Bara’ bin ‘Azib, ketika siang hari sangat panas, mereka berhenti di sebuah batu besar. Abu Bakar merapikan sedikit naungan, membentangkan mantel bulu domba, dan berkata:
“Berbaringlah wahai Rasulullah.”
Beliau pun tidur sejenak. Abu Bakar keluar mengawasi kemungkinan pengejar. Tiba-tiba ia melihat seorang penggembala dengan kambing-kambingnya. Ia meminta sedikit susu, dan dengan cara yang penuh kehati-hatian—membersihkan ambing kambing dan tangan si penggembala—ia memerah sedikit susu ke dalam kantong air, mendinginkannya dengan air, lalu membawakannya kepada Rasulullah ﷺ saat beliau bangun. Beliau minum hingga wajah Abu Bakar tenang melihatnya.
Kejaran Suraqah bin Malik
Di tengah padang pasir, Quraisy mengumumkan hadiah besar: seratus ekor unta bagi siapa pun yang dapat menangkap Muhammad ﷺ dan Abu Bakar, hidup atau mati.
Suraqah bin Malik bin Ju‘syum, pemimpin Bani Mudlij, melihat ini sebagai peluang. Ketika ia sedang duduk di majelis kaumnya, seorang lelaki datang berkata:
“Wahai Suraqah, aku melihat tiga bayangan di tepi pantai, aku kira itu adalah Muhammad dan sahabat-sahabatnya.”
Suraqah sebenarnya langsung mengira itu benar. Namun ia menyembunyikan niatnya. Ia berkata:
“Bukan, itu si Fulan dan si Fulan yang baru berangkat di depan kita.”
Orang-orang pun tenang. Suraqah pulang sebentar, menyuruh budaknya menyiapkan kuda di balik bukit, membawa tombaknya, dan keluar diam-diam lewat belakang rumah. Ia menunggang kudanya dan memacu secepat mungkin menuju jejak yang ia yakini sebagai jejak Nabi ﷺ.
Ketika ia hampir menyusul—dalam riwayat: jarak hanya beberapa tombak—kuda Suraqah tiba-tiba terjerembab, kaki-kakinya masuk ke dalam tanah yang keras sampai ke lutut. Suraqah terjatuh. Ia menghardik kudanya, menariknya dengan susah payah hingga berdiri, dan dari bekas tapak kuda itu terbit debu yang naik ke langit seperti asap.
Ia mengundi nasib dengan anak panah undian (kebiasaan jahiliah), dan keluar hasil yang ia benci: “Jangan celakai mereka.” Tetapi ambisi menguasai dirinya. Ia naik lagi, memacu lagi, dan lagi-lagi kudanya terperosok dengan cara yang sama. Kejadian itu berulang beberapa kali hingga ia sadar: ini bukan peristiwa biasa.
Akhirnya ia berteriak memohon keamanan. Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar berhenti. Suraqah mendekat, kini dengan hati yang luluh. Ia berkata:
“Aku tahu ini perbuatanmu, wahai Muhammad. Doakanlah kepada Allah agar menyelamatkanku dari apa yang aku alami ini. Demi Allah, aku akan menghentikan orang-orang yang mengejarmu di belakangku.”
Rasulullah ﷺ mendoakan kebaikan baginya. Kuda itu pun lepas dari jeratan tanah. Suraqah meminta dituliskan jaminan keamanan. Nabi ﷺ memerintahkan ‘Amir bin Fuhairah menulis sebuah surat singkat di selembar kulit atau tulang, sebagai tanda janji di antara mereka.
Sejak itu, setiap kali ia bertemu rombongan pencari, Suraqah berkata:
“Tidak usah mencari ke arah sini, kalian sudah cukup.”
Ia menahan mereka agar tidak mengejar lebih jauh. Kelak, setelah Fathu Makkah dan perang Thalif, ia datang menemui Rasulullah ﷺ membawa surat itu dan masuk Islam. Ia mengakui dengan jujur, bahwa sejak kakinya dan kuda itu terbenam di gurun, ia yakin urusan Muhammad ﷺ pasti akan menang.
Mukjizat Susu di Kemah Ummu Ma‘bad
Perjalanan menuju Madinah cukup panjang. Mereka singgah di berbagai tempat, di antaranya di kemah seorang wanita kuat dari Khuza‘ah, yang dikenal sebagai Ummu Ma‘bad al-Khuza‘iyyah. Ia biasa duduk di depan kemah, menjamu para musafir.
Hari itu paceklik. Hewan-hewan kurus, hampir tidak keluar susu. Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya lewat dan bertanya:
“Apakah engkau punya daging atau susu yang bisa kami beli?”
Ummu Ma‘bad menjawab jujur:
“Demi Allah, seandainya aku memiliki sesuatu, kalian pasti tidak akan kekurangan jamuan. Tapi ini tahun paceklik yang berat.”
Rasulullah ﷺ melihat sekeliling dan memandang seekor kambing kurus berdiri di sudut kemah. Beliau bertanya:
“Kambing apa ini, wahai Ummu Ma‘bad?”
Ia menjawab:
“Seekor kambing yang tertinggal rombongan karena lemah. Ia tidak beranak, tidak pula bisa diperah.”
Beliau bersabda:
“Apakah engkau mengizinkanku memerahnya?”
Ummu Ma‘bad merasa heran, namun berkata:
“Silakan, jika engkau mampu.”
Rasulullah ﷺ mendekat, mengusap punggung dan ambing kambing itu seraya menyebut nama Allah dan berdoa. Beliau meminta sebuah wadah besar. Tiba-tiba kambing itu merapikan kakinya, mengembuskan nafas, mengunyah, dan susunya memancar deras hingga memenuhi wadah, bahkan berbusa di atasnya.
Beliau memberikan minum kepada Ummu Ma‘bad terlebih dahulu—ini adab beliau: tamu rumah diberi minum lebih dulu. Setelah itu para sahabatnya minum hingga kenyang. Terakhir, beliau sendiri minum dan bersabda:
“Pemberi minum suatu kaum adalah yang terakhir minum.”
Kemudian beliau memerah lagi, memenuhi wadah untuk ditinggalkan bagi Ummu Ma‘bad. Setelah itu mereka berangkat melanjutkan perjalanan.
Sesaat kemudian, suami Ummu Ma‘bad pulang dengan kambing-kambing kurus yang tak bertenaga. Melihat susu melimpah di rumah, ia bertanya heran:
“Dari mana susu ini, wahai Ummu Ma‘bad? Tidak ada kambing perah di rumah, dan semua kambing sedang merumput jauh!”
Ia menjawab:
“Tadi lewat seorang laki-laki penuh berkah. Kejadiannya begini dan begini….”
Suaminya berkata:
“Ceritakan ciri-cirinya kepadaku.”
Maka Ummu Ma‘bad menggambarkan Rasulullah ﷺ dengan salah satu deskripsi paling indah yang dikenal dalam kitab-kitab sirah: wajah yang bersinar, mata yang jernih, rambut bergelombang, tutur kata yang teratur seperti untaian mutiara, wibawa saat diam, kemuliaan saat berbicara, dan kecintaan para sahabat yang mengelilinginya. Setelah mendengar itu, suaminya berkata:
“Demi Allah, itulah dia, sahabat Quraisy yang mereka cari. Seandainya aku mampu menyertainya, niscaya aku akan lakukan.”
Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa kemudian hari Ummu Ma‘bad dan suaminya masuk Islam dan berhijrah menyusul Rasulullah ﷺ.
Menuju Madinah: Penunjuk Jalan, Dua Perampok yang Dimuliakan, dan Az-Zubair
Rute yang dilalui Rasulullah ﷺ bukanlah rute biasa kafilah. Penunjuk jalan mereka membawa melewati lembah-lembah yang jarang dilalui. Di satu titik, mereka melewati wilayah yang dikenal dihuni dua perampok dari kabilah Aslam, dijuluki “al-Muhanan” (dua yang dihinakan).
Penunjuk jalan memberi tahu:
“Di depan ada dua perampok dari Aslam, jika engkau mau, kita akan melewati mereka.”
Ketika mereka berjumpa, Rasulullah ﷺ memanggil dua perampok itu dan menawarkan Islam. Keduanya menerima hidayah, memeluk Islam di tempat. Mereka berkata bahwa nama mereka “al-Muhanan”. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bahkan kalian berdua adalah al-Mukraman (dua yang dimuliakan).”
Beliau memerintahkan mereka mendahului ke Madinah. Sejak itu nama mereka berubah dari “yang dihinakan” menjadi “yang dimuliakan”, karena Islam memuliakan orang-orang yang bertaubat.
Dalam perjalanan juga, mereka bertemu rombongan pedagang Muslim yang pulang dari Syam. Di antara mereka ada az-Zubair bin al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu. Ia menghadiahkan pakaian putih kepada Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar, agar keduanya memasuki Madinah dengan pakaian yang bersih dan rapi.
Menjelang Madinah: Harapan Anshar yang Menyala
Kabar keluarnya Rasulullah ﷺ dari Makkah sudah terdengar di Madinah. Setiap pagi, penduduk Muslim Madinah—Muhajirin yang lebih dahulu hijrah dan Anshar—keluar menuju padang berbatu hitam (harrah), menatap jauh ke arah selatan, menunggu datangnya sosok yang paling mereka rindukan. Jika panas sudah terlalu terik, mereka pulang dengan hati yang belum juga terpuaskan.
Suatu hari, setelah mereka pulang karena panas, seorang Yahudi naik ke salah satu benteng Madinah untuk suatu urusan. Tiba-tiba ia melihat sosok-sosok berpakaian putih dari kejauhan, berjalan di padang pasir menuju kota. Fatamorgana seakan menghilang dari sekitarnya karena cahaya mereka.
Ia berteriak sekuat-kuat suara:
“Wahai segenap orang Arab, ini keberuntungan kalian yang kalian tunggu-tunggu!”
Kaum Muslimin segera mengambil senjata dan bergegas menyambut. Mereka bertemu Rasulullah ﷺ di punggung Harrah. Beliau membelok bersama mereka ke arah kanan, menuju perkampungan Bani ‘Amr bin ‘Auf di daerah Quba.
Singgah di Quba dan Masjid yang Dibangun di Atas Takwa
Rasulullah ﷺ tiba di Quba pada hari Senin, 12 Rabi‘ul Awwal, ketika matahari telah tinggi. Beliau menetap di sana beberapa hari (sekitar dua minggu dalam sebagian riwayat). Di sana beliau membangun masjid pertama dalam Islam, yang dipuji Allah sebagai masjid yang “dibangun atas dasar takwa”.
Di Quba, kaum Muslimin menyambut dengan penuh cinta. Dalam riwayat al-Bara’ bin ‘Azib, digambarkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar mendekati Madinah, anak-anak dan budak-budak berlari di jalanan sambil bertakbir:
“Allahu Akbar! Telah datang Rasulullah! Telah datang Muhammad!”
Sebagian orang yang belum mengenal wajah beliau salah menyangka Abu Bakar sebagai Rasulullah ﷺ, karena ia berdiri menyambut orang-orang sementara Rasulullah ﷺ duduk. Namun ketika matahari mengenai Nabi ﷺ, Abu Bakar segera memayungi beliau dengan kainnya. Saat itulah orang-orang tahu, siapa di antara keduanya yang sebenarnya Rasulullah ﷺ.
Masuk ke Jantung Madinah: Unta yang Dipandu Wahyu
Setelah beberapa hari di Quba dan mendirikan Masjid Quba, Rasulullah ﷺ menunggang unta beliau dan berangkat ke pusat kota Yatsrib. Orang-orang Anshar berbaris di jalan, setiap kabilah memohon:
“Wahai Rasulullah, tinggallah di tempat kami! Di sini ada kekuatan, harta, dan perlindungan!”
Namun beliau bersabda:
“Biarkan unta ini, karena ia diperintah (oleh Allah).”
Unta itu berjalan pelan di antara rumah-rumah Madinah. Sesekali ia duduk, lalu bangkit lagi, hingga akhirnya ia menderum di sebuah tanah lapang yang digunakan sebagai tempat menjemur kurma (mirbad), milik dua anak yatim dari Bani Najjar bernama Suhail dan Sahl, yang berada dalam pengasuhan As‘ad bin Zurarah radhiyallahu ‘anhu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Inilah tempat kita, insya Allah.”
Beliau memanggil kedua anak yatim itu dan menawar tanah tersebut untuk dijadikan masjid. Keduanya berkata:
“Kami hibahkan untukmu, wahai Rasulullah.”
Namun beliau tidak mau mengambilnya secara cuma-cuma. Beliau tetap membelinya dari mereka dengan harga yang pantas. Di tempat itulah kemudian berdiri Masjid Nabawi.
Rasulullah ﷺ ikut memanggul batu bata bersama para sahabat. Saat beliau mengangkat batu, beliau bersenandung:
“Beban ini bukanlah beban (seperti membawa kurma) dari Khaibar,
Tapi ini lebih taat kepada Rabb kami dan lebih suci.”
Beliau juga berdoa:
“Ya Allah, sungguh pahala (yang hakiki) adalah pahala akhirat.
Maka rahmatilah kaum Anshar dan Muhajirin.”
Para sahabat pun bekerja dengan semangat luar biasa. Di tengah debu dan keringat, lahirlah sebuah rumah ibadah yang kelak menjadi pusat peradaban Islam.
Malam Pertama di Madinah
Dalam riwayat al-Bara’ bin ‘Azib disebutkan, bahwa ketika penduduk Madinah berebut ingin menjamu Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
“Malam ini aku akan menginap di rumah Bani an-Najjar, saudara-saudara ibu dari ‘Abdul Muththalib (kakek beliau), agar aku dapat memuliakan mereka.”
Keesokan harinya, beliau berpindah ke rumah Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, yang akan menemaninya di tahun-tahun awal Madinah, sementara Masjid Nabawi dan kamar-kamar kecil (hujurat) untuk keluarga beliau dibangun di sisi masjid.
Makna Hijrah: Antara Langkah Kaki dan Hati
Demikianlah secara ringkas namun menyeluruh, perjalanan hijrah Rasulullah ﷺ:
• Dimulai dari rumah sederhana di Makkah, yang dikepung kebencian namun dipenuhi amanah barang titipan;
• Berlanjut ke Gua Tsur yang sempit, tetapi di dalamnya turun ketenangan Allah dan ayat-ayat-Nya;
• Dikejar oleh pasukan yang menjanjikan seratus unta, tetapi dihalangi oleh tanah yang menelan kaki kuda Suraqah;
• Singgah di kemah Ummu Ma‘bad yang miskin, tetapi keluar membawa berkah susu yang tak habis-habis;
• Lalu berakhir di Madinah, kota yang memeluk Nabi ﷺ dan para sahabat, dan dari sanalah cahaya Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Hijrah bukan hanya perpindahan tempat, tetapi juga perpindahan posisi hati:
• Dari takut kepada makhluk menuju tawakal penuh kepada Allah,
• Dari keterikatan kepada tanah kelahiran menuju keterikatan kepada risalah,
• Dari kesempitan dunia menuju lapangnya janji Allah.
Kalimat di dalam gua—“لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا” (Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita)—akan selalu hidup di hati orang-orang yang berhijrah, lahir dan batin, di setiap zaman.
________________________________________
Sumber kisah:
• Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa an-Nihāyah

Komentar
Posting Komentar