Pembangunan Masjid Nabawi: Salat Jumat Pertama di Madinah
Hijrah dan Salat Jumat Pertama di Madinah
Hari itu hari Jumat. Setelah beberapa hari tinggal di Quba’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat menuju pusat kota Madinah dengan menunggang unta beliau yang terkenal, al-Qashwā’. Udara padang pasir terasa panas ketika matahari kian tinggi, dan rombongan kecil itu perlahan memasuki wilayah-wilayah permukiman kaum Anshar.
Ketika waktu matahari tergelincir (masuk waktu zuhur), beliau sedang berada di daerah Bani Sālim bin ‘Auf, sebuah kabilah di sekitar Madinah. Di sebuah lembah bernama Wadi Rānunā’, beliau berhenti. Di tempat itulah, di tengah suasana hijrah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kaum muslimin menunaikan salat Jumat.
Itulah salat Jumat pertama yang beliau tegakkan bersama kaum muslimin di Madinah. Banyak ulama bahkan memandang itulah salat Jumat pertama beliau secara umum, karena di Makkah sebelumnya beliau dan para sahabat tidak leluasa berkumpul secara terbuka untuk menegakkan salat Jumat yang disertai khutbah dan nasihat di hadapan publik. Tekanan dan gangguan kaum musyrikin saat itu terlalu keras untuk memungkinkan hal itu.
Khutbah Jumat Pertama: Seruan Iman, Takwa, dan Persiapan Akhirat
Di lembah Rānunā’ itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah yang sarat nasihat. Beliau memulai dengan memuji Allah, memohon pertolongan, ampunan, dan petunjuk-Nya. Beliau menegaskan bahwa beliau beriman kepada Allah dan tidak mengingkari-Nya, serta memusuhi siapa saja yang mengingkari-Nya. Di hadapan para sahabat, beliau bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Beliau menjelaskan bahwa Allah mengutus beliau membawa petunjuk, cahaya, dan nasihat pada masa yang sangat kritis: masa ketika pengutusan para rasul sebelumnya sudah lama terhenti, ilmu yang benar sangat sedikit, manusia tenggelam dalam kesesatan, masa kenabian terdahulu seolah terputus, hari Kiamat sudah dekat, dan ajal manusia pun kian mendekat. Di tengah kegelapan itulah cahaya risalah dihidupkan kembali.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah mendapat petunjuk yang lurus. Sebaliknya, siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya berarti telah melampaui batas dan tersesat dalam kesesatan yang jauh.
Inti dari khutbah itu adalah wasiat takwa. Beliau menyatakan bahwa tidak ada wasiat yang lebih baik dari seorang muslim kepada muslim lainnya selain mendorongnya untuk mengingat akhirat dan memerintahkan agar ia bertakwa kepada Allah. Beliau mengingatkan agar berhati-hati terhadap ancaman Allah, karena tidak ada nasihat yang lebih baik dan peringatan yang lebih agung daripada peringatan Allah kepada hamba-hamba-Nya agar takut kepada-Nya.
Beliau mengingatkan bahwa setiap amal yang dilakukan kelak akan ditampakkan. Pada saat itu, setiap jiwa akan mendapati kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan yang ia lakukan. Beliau kemudian mengisyaratkan makna firman Allah Ta‘ala:
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِن سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًاۢ بَعِيدًا ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَٱللَّهُ رَءُوفٌۢ بِٱلْعِبَادِ
“(Ingatlah) pada hari ketika tiap-tiap jiwa mendapati segala kebajikan yang dikerjakannya dihadapkan (di hadapannya), dan (begitu pula) segala kejahatan yang dikerjakannya; ia ingin kalau sekiranya antara dia dan (kejahatan) itu ada jarak yang jauh. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap (siksa) diri-Nya. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”
(QS. Āli ‘Imrān [3]: 30)
Dalam khutbah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bahwa takwa kepada Allah adalah benteng yang melindungi dari murka-Nya, hukuman-Nya, dan siksa-Nya. Takwa menjadikan wajah berseri, mendatangkan keridaan Allah, dan mengangkat derajat seorang hamba. Ia adalah bekal terbaik bagi siapa yang menginginkan keselamatan di akhirat, selama dilakukan dengan rasa takut dan harap kepada-Nya.
Beliau menjelaskan bahwa siapa saja yang memperbaiki hubungannya dengan Allah – baik secara rahasia maupun terang-terangan – dan meniatkan semuanya hanya demi mencari Wajah Allah, maka amalnya itu akan menjadi sebutan baik bagi dirinya di dunia dan menjadi simpanan yang sangat berharga setelah kematian. Pada saat itu, manusia sangat membutuhkan segala amal yang telah mereka dahulukan. Adapun amal yang tidak ikhlas dan tidak lurus, kelak akan disesali; pelakunya ingin seandainya antara dirinya dengan amal itu ada jarak yang amat jauh.
Beliau mengingatkan bahwa Allah Maha Benar janji dan ucapan-Nya, tidak ada pengingkaran terhadap firman-Nya. Beliau mengutip makna firman Allah:
مَا يُبَدَّلُ ٱلْقَوْلُ لَدَىَّ وَمَآ أَنَا۠ بِظَلَّٰمٍ لِّلْعَبِيدِ
“Keputusan-Ku tidak dapat diubah, dan Aku sekali-kali tidak menzalimi hamba-hamba.”
(QS. Qāf [50]: 29)
Di akhir khutbah, beliau menyeru kaum muslimin agar bertakwa kepada Allah dalam seluruh urusan mereka, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, di dunia ini dan untuk akhirat nanti. Beliau menganjurkan agar memperbanyak zikir kepada Allah dan beramal untuk bekal setelah mati. Siapa pun yang berhasil memperbaiki hubungannya dengan Allah, niscaya Allah akan mencukupinya dalam urusan antara dirinya dengan manusia, karena Allah yang memutuskan perkara atas manusia, dan bukan manusia yang memutuskan atas-Nya. Allah-lah pemilik hamba-hamba-Nya, sedangkan hamba-hamba tidak memiliki kuasa sedikit pun atas Allah.
Beliau menutup khutbah dengan kalimat yang penuh tawakal dan pengagungan:
“Allah Mahabesar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”
Khutbah Awal Lain di Madinah: Bekal Setelah Mati dan Cinta kepada Allah
Pada hari-hari awal kedatangan beliau di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyampaikan khutbah-khutbah lain yang sangat menyentuh. Dalam salah satunya, beliau mengingatkan manusia tentang kematian dan hari pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Beliau menggambarkan bahwa akan datang saatnya seseorang meninggal dunia. Saat itu, ia akan meninggalkan segala harta bendanya, bahkan kambing-kambing ternaknya, tanpa penggembala. Kemudian Rabb-nya akan menghadapkannya dan bertanya, tanpa perantara penerjemah atau penghalang apa pun:
“Bukankah telah datang kepadamu utusan-Ku dan menyampaikan risalah-Ku kepadamu? Bukankah Aku telah memberimu harta dan melimpahkan nikmat-Ku kepadamu? Apa yang telah engkau persiapkan untuk dirimu sendiri?”
Orang itu akan memandang ke kanan dan ke kiri, namun ia tidak melihat apa-apa yang dapat menyelamatkannya. Ia memandang ke depan, dan tidak melihat apa pun selain neraka Jahanam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati bahwa siapa saja yang masih bisa melindungi wajahnya dari api neraka walau hanya dengan bersedekah sepotong kurma maka hendaklah ia lakukan. Jika ia benar-benar tidak mempunyai apa pun, maka hendaklah ia melakukannya dengan kalimat yang baik, karena satu kebaikan dibalas oleh Allah dengan pahala berlipat, dari sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat.
Dalam khutbah lain, beliau berbicara tentang kemuliaan al-Qur’an dan cinta kepada Allah. Beliau menyebutkan bahwa sebaik-baik ucapan adalah Kitab Allah. Orang yang paling beruntung adalah orang yang Allah hiasi hatinya dengan al-Qur’an, memasukkannya ke dalam Islam setelah sebelumnya dalam kekufuran, dan menjadikan al-Qur’an lebih ia cintai dibanding semua ucapan manusia lainnya. Al-Qur’an adalah ucapan yang paling baik dan paling fasih.
Beliau mengajak umat agar mencintai Allah dengan sepenuh hati, mencintai orang-orang yang dicintai Allah, tidak bosan terhadap kalam Allah dan zikir kepada-Nya, dan tidak membiarkan hati mengeras dan berpaling dari al-Qur’an. Allah memilih amal-amal terbaik dan hamba-hamba terbaik, dan Allah juga memilih al-Qur’an sebagai ucapan yang paling saleh dan paling utama di antara segala sesuatu yang diberikan kepada manusia, baik dari perkara yang halal maupun yang haram.
Beliau memerintahkan agar hanya beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya sedikit pun, bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takwa, serta jujur kepada Allah dalam setiap ucapan yang keluar dari lisan. Beliau mengajak umat agar saling mencintai karena rahmat Allah yang menyatukan hati mereka, dan mengingatkan bahwa Allah murka jika janji kepada-Nya diingkari.
Beliau menutup khutbahnya dengan salam:
“Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Rasulullah Memilih Lokasi Masjid Nabawi
Setelah menetap beberapa hari di Quba’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan perjalanan menuju pusat Madinah. Beliau terlebih dahulu singgah di daerah Bani ‘Amr bin ‘Auf dan tinggal di sana selama empat belas malam. Di antara kabilah-kabilah Anshar, berita kedatangan beliau tersebar dengan cepat. Hati mereka dipenuhi rasa gembira dan rindu.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang memanggil para pemuka Bani an-Najjar, kerabat beliau dari jalur ibu. Mereka datang mengelilingi beliau dengan pedang tersandang di pinggang, sebagai bentuk penghormatan dan penjagaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di atas unta beliau, dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berada tepat di belakang beliau di atas tunggangan yang sama. Rombongan itu perlahan bergerak menembus gang-gang Madinah, sementara para penduduk mengintip dari rumah-rumah dan atap mereka.
Akhirnya, unta itu berhenti dan duduk di depan rumah seorang sahabat mulia, Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan untuk singgah di rumahnya. Di sanalah beliau tinggal selama masa pembangunan masjid dan rumah-rumah beliau di sekitar masjid.
Lokasi masjid dipilih di sebidang tanah kosong yang saat itu merupakan mirbad, yaitu halaman tempat mengeringkan dan menumpuk kurma. Tanah ini milik dua anak yatim yang berada dalam asuhan seorang sahabat Anshar; dalam sebagian riwayat mereka disebut Sahl dan Suhail dalam asuhan As‘ad bin Zurarah, dalam riwayat lain dalam asuhan Mu‘adz bin ‘Afra’. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawar tanah tersebut, mereka menyatakan siap memberikannya sebagai hadiah untuk beliau. Namun Rasulullah menolak untuk menerimanya secara cuma-cuma dan memerintahkan agar tanah itu dibeli dari mereka dengan harga yang adil.
Membersihkan Lahan: Dari Kuburan Musyrik Menjadi Rumah Allah
Di atas tanah yang kelak menjadi Masjid Nabawi itu terdapat beberapa hal yang harus dibersihkan terlebih dahulu. Di sana ada beberapa kuburan orang-orang musyrik, ada reruntuhan bangunan yang telah rusak, dan masih berdiri beberapa pohon kurma.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kuburan-kuburan musyrik itu digali dan dipindahkan, reruntuhan bangunan diratakan, dan pohon-pohon kurma itu ditebang. Batang-batang kurma yang telah ditebang kemudian disusun di sisi kiblat masjid sebagai bagian dari struktur bangunan. Sementara itu, dua sisi pintu masjid dibuat dari batu yang kokoh.
Proses ini bukanlah sekadar kerja fisik. Ia menandai perubahan besar: tempat yang sebelumnya berisi kuburan kaum musyrik dan sisa-sisa dunia lama kini disucikan untuk menjadi rumah Allah, pusat ibadah, ilmu, dan persatuan umat.
Gotong Royong Membangun Masjid Nabawi
Pembangunan Masjid Nabawi dilakukan dengan gotong royong penuh semangat. Kaum Muhajirin yang datang dari Makkah bekerja bahu-membahu bersama kaum Anshar penduduk Madinah. Tidak seorang pun merasa lebih mulia dari yang lain di hadapan tugas suci ini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya memerintah dari kejauhan. Beliau sendiri ikut turun tangan, memikul tanah dan batu bata bersama para sahabat. Keringat bercucuran di wajah-wajah mulia itu, namun hati mereka dipenuhi kegembiraan karena tengah membangun rumah Allah di kota hijrah.
Untuk menyemangati diri, sebagian sahabat melantunkan syair-syair rajaz. Di antara yang terkenal adalah ucapan seorang muslim yang merasa malu bila duduk beristirahat sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih bekerja. Ia berkata:
“Jika kami duduk sementara Nabi bekerja,
sungguh itu perbuatan kami yang sesat dan tercela.”
Yang lain melantunkan:
“Tiada kehidupan (hakiki) selain kehidupan akhirat.
Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar dan Muhajirin.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut mengulanginya dengan penuh semangat:
“Tiada kehidupan (hakiki) selain kehidupan akhirat.
Ya Allah, rahmatilah kaum Muhajirin dan Anshar.”
Dalam riwayat lain disebutkan, ketika beliau memikul tanah, beliau bersyair bahwa beban yang dipikul saat itu bukan seperti beban harta rampasan perang Khaibar, namun beban ini lebih saleh dan lebih suci di sisi Allah. Beliau juga memohon:
“Ya Allah, sesungguhnya pahala itu adalah pahala akhirat.
Maka limpahkanlah rahmat-Mu kepada kaum Anshar dan Muhajirin.”
Bangunan masjid saat itu sangat sederhana. Dindingnya dari batu bata tanah, tiang-tiangnya dari batang-batang kurma, dan atapnya dari pelepah kurma. Atap itu tidak terlalu tinggi; bila seseorang mengangkat kedua tangannya, hampir menyentuhnya. Ketika beberapa sahabat mengusulkan agar masjid diperindah dan mereka mengumpulkan harta untuk itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa beliau tidak ingin memiliki bangunan yang berbeda kemewahannya dari bangunan saudaranya, Nabi Musa ‘alaihis salam. Cukuplah masjid dibangun seperti “‘arīsy Musa”, yakni bangunan beratap rendah yang sederhana.
Perluasan Masjid di Masa Khulafaur Rasyidin dan Sesudahnya
Seiring berjalannya waktu, batang-batang kurma yang menjadi tiang masjid mulai lapuk. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, tiang-tiang itu diganti kembali dengan batang kurma yang baru dan atapnya tetap memakai pelepah kurma. Bentuk dan kesederhanaan masjid tidak banyak berubah, karena beliau tidak menambah bagian bangunan secara berarti.
Pada masa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, masjid diperluas untuk menampung jamaah yang kian banyak, namun beliau tetap mempertahankan gaya sederhana yang sama: dinding-dinding dari batu bata tanah, atap dari pelepah kurma, dan tiang-tiang dari kayu kurma.
Pada masa ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, perluasan masjid dilakukan lebih besar. Dinding-dinding masjid kini dibangun dari batu-batu yang dipahat rapi dan diplester dengan baik. Tiang-tiangnya diganti dengan pilar batu yang kokoh, dan atapnya menggunakan kayu yang lebih kuat dan berkualitas, seperti kayu sāj. Dengan perluasan ini, bentuk masjid menjadi lebih kokoh dan luas, sementara ruh kesederhanaan dan kekhusyukan tetap dijaga.
Para ulama kemudian menyimpulkan bahwa setiap bagian tambahan yang disatukan dengan bangunan masjid hukumnya sama dengan bagian masjid yang pertama. Artinya, seluruh bagian masjid yang telah diperluas tetap mendapatkan keutamaan yang sama, termasuk dalam pelipatan pahala salat di dalamnya serta keutamaan berziarah dan mengadakan perjalanan khusus ke sana.
Pada masa Khalifah al-Walid bin ‘Abd al-Malik, melalui tangan gubernurnya di Madinah yang terkenal saleh, ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz, Masjid Nabawi kembali diperluas. Dalam perluasan itu, kamar (hujrah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimasukkan ke area masjid. Setelah itu, para penguasa kaum muslimin di masa-masa berikutnya terus memperluas masjid sesuai kebutuhan zaman, termasuk dari arah kiblat, hingga taman Raudhah dan mimbar kini berada di belakang saf-saf terdepan sebagaimana dapat kita saksikan pada hari ini.
Kisah ‘Ammar bin Yasir di Tengah Pembangunan Masjid
Di tengah hiruk-pikuk pembangunan masjid, ada satu sosok yang sangat menonjol kegigihannya, yaitu sahabat mulia ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu. Ketika para sahabat lain memikul satu bata, ‘Ammar memikul dua bata sekaligus: satu untuk dirinya, dan satu lagi niatnya untuk membantu beban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Karena terlalu semangat, tubuhnya menjadi sangat letih. Ia datang mengadu dengan nada bercanda namun jujur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa para sahabat seakan hendak “membunuhnya” karena beban yang mereka letakkan di pundaknya lebih berat dari yang mereka pikul sendiri.
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengibaskan debu dari rambut ‘Ammar yang sedikit keriting, lalu bersabda lembut sekaligus membawa kabar gaib tentang masa depan:
“Wahai anak Sumayyah, untuk manusia (lain) ada satu pahala, dan untukmu ada dua pahala. Bekal terakhirmu di dunia ini kelak adalah seteguk susu. Dan engkau akan dibunuh oleh kelompok yang memberontak (al-fi’ah al-bāghiyah).”
Dalam riwayat lain yang sahih disebutkan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat ‘Ammar memikul dua bata dalam keadaan tubuhnya masih lemah, beliau mengibaskan debu dari tubuhnya dan bersabda:
“Kasihan engkau, wahai anak Sumayyah. Engkau akan dibunuh oleh kelompok yang memberontak. Engkau mengajak mereka kepada surga, dan mereka mengajakmu kepada neraka.”
‘Ammar kemudian berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.
Sekian tahun berlalu, dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu menjadi kenyataan dalam peristiwa Shiffin. ‘Ammar berada di pihak ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, sedangkan pasukan yang membunuhnya adalah mereka yang berada di pihak Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhu. Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa ‘Ali memang lebih berhak atas kekhalifahan saat itu, dan pihak lawannya secara hukum disebut sebagai bughat (pemberontak). Namun penamaan sebagai bughat tidak berarti mengkafirkan mereka. Mereka adalah para sahabat Nabi yang besar, yang berijtihad dalam masalah yang keliru; yang benar di antara mujtahid mendapat dua pahala, sedangkan yang keliru tetap mendapat satu pahala.
Tambahan-tambahan kalimat yang terkadang dinisbatkan kepada hadis ini – seperti doa agar mereka tidak memperoleh syafaat Nabi – tidak memiliki dasar yang sah dan tidak terdapat dalam riwayat yang dapat diterima.
Makna sabda beliau bahwa ‘Ammar mengajak mereka ke surga, sementara mereka mengajaknya ke neraka, adalah bahwa ‘Ammar dan para sahabat yang bersamanya mengajak kepada persatuan, ketaatan kepada imam yang sah, dan kesatuan kalimat umat. Sedangkan pihak yang memeranginya, meski mungkin tidak berniat buruk, tindakan mereka secara konsekuensi membuka pintu perpecahan dan pertumpahan darah yang mengarah kepada keburukan. Dari sinilah muncul peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu.
Tanda Kepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan Utsman
Di tengah proses pembangunan masjid, terjadi pula sebuah peristiwa kecil yang sarat makna tentang urutan kepemimpinan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang sahabat bernama Safinah, maula Rasulullah, menceritakan bahwa ketika pondasi masjid sedang diletakkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan sebuah batu pertama sebagai penanda.
Setelah itu, beliau memanggil Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan memintanya meletakkan sebuah batu di samping batu Rasulullah. Kemudian beliau memanggil ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dan memintanya meletakkan batu di samping batu Abu Bakar. Lalu beliau memanggil ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu dan memintanya meletakkan batu di samping batu ‘Umar. Setelah batu-batu itu tersusun berurutan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa merekalah para pemimpin (khalifah) setelah beliau.
Dalam riwayat lain yang masyhur, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa kekhilafahan setelah beliau akan berlangsung selama tiga puluh tahun, kemudian setelah itu akan berubah menjadi bentuk kerajaan. Safinah kemudian menghitungnya dengan teliti: kekhalifahan Abu Bakar dua tahun, ‘Umar sepuluh tahun, ‘Utsman dua belas tahun, dan ‘Ali enam tahun. Semuanya berjumlah tiga puluh tahun, sebagaimana berita beliau.
Batang Kurma yang Menangis
Pada masa awalnya, Masjid Nabawi tidak memiliki mimbar bertingkat sebagaimana sekarang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdiri di dekat sebuah batang kurma yang tertancap di dinding bagian kiblat, dan beliau bersandar pada batang itu ketika menyampaikan khutbah.
Ketika kemudian para sahabat membuatkan mimbar agar beliau lebih mudah terlihat dan terdengar banyak orang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beralih dari batang kurma itu ke mimbar yang baru. Saat pertama kali beliau menjauh dan menaiki mimbar tersebut, para sahabat mendengar suara yang sangat menggetarkan hati; suara itu terdengar seperti rintihan unta betina yang sedang bunting tua.
Ternyata suara itu keluar dari batang kurma yang selama ini menjadi sandaran beliau saat berkhutbah. Seakan-akan kayu itu rindu dan sedih karena tidak lagi dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam segera turun dari mimbar, menghampiri batang kurma itu, kemudian memeluknya. Seketika rintihannya mereda dan kayu itu menjadi tenang, seperti bayi yang diam dalam pelukan ibunya. Peristiwa luar biasa ini diriwayatkan oleh banyak sahabat, di antaranya Sahl bin Sa‘d, Jabir, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Anas bin Malik, dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhum.
Setelah meriwayatkan kisah ini dari Anas, seorang tabi‘in besar bernama al-Hasan al-Bashri berkata kepada para pendengar ceramahnya:
“Wahai kaum muslimin, sebatang kayu saja merintih rindu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bukankah manusia yang berharap bertemu dengan beliau jauh lebih pantas untuk merindukannya?”
Masjid yang Didirikan di Atas Dasar Takwa
Al-Qur’an menyebut adanya sebuah masjid yang dibangun di atas dasar takwa sejak hari pertama. Allah Ta‘ala berfirman:
لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا۟ ۚ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُطَّهِّرِينَ
“Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih patut engkau salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.”
(QS. At-Taubah [9]: 108)
Para sahabat berbeda pendapat mengenai masjid mana yang dimaksud dalam ayat ini. Sebagian berkata bahwa masjid tersebut adalah Masjid Nabawi. Sebagian lain mengatakan bahwa ayat itu turun tentang Masjid Quba’.
Beberapa sahabat, seperti Abu Sa‘id al-Khudri, Sahl bin Sa‘d, dan Ubay bin Ka‘b radhiyallahu ‘anhum, kemudian datang langsung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menanyakan hal tersebut. Dalam beberapa riwayat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil segenggam kerikil, memukulkannya ke tanah, lalu bersabda bahwa masjid yang didirikan atas dasar takwa adalah “masjid kalian ini”, yakni Masjid Nabawi. Beliau juga bersabda dengan tegas dalam riwayat lain: “Masjid yang didirikan atas dasar takwa adalah masjidku ini.”
Meski demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji Masjid Quba’ dan menyebut bahwa di dalamnya terdapat banyak kebaikan. Karena itu, sebagian ulama menggabungkan dua pendapat dengan menjelaskan bahwa ayat ini pada asalnya turun berkenaan dengan Masjid Quba’, namun Masjid Nabawi lebih berhak dengan sifat tersebut, karena keutamaannya yang jauh lebih besar.
Dalam khutbahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan bahwa Allah telah menurunkan Kitab-Nya dan menjelaskan jalan-Nya, untuk membedakan siapa yang jujur imannya dan siapa yang dusta. Ini sesuai dengan makna firman Allah Ta‘ala:
وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ
“Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka pasti Allah mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”
(QS. Al-‘Ankabūt [29]: 3)
Melalui ujian, ketaatan, dan pengorbanan, termasuk dalam membangun dan memakmurkan masjid, tampaklah siapa yang benar-benar tulus dan siapa yang hanya berpura-pura.
Keutamaan Masjid Nabawi
Keutamaan Masjid Nabawi sangat besar dan banyak disebut dalam hadis-hadis sahih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa tidak boleh mengadakan perjalanan khusus untuk tujuan ibadah kecuali ke tiga masjid: Masjid Nabawi, Masjidil Haram di Makkah, dan Masjid al-Aqsha di Baitul Maqdis. Ini menunjukkan kedudukan Masjid Nabawi sebagai salah satu tempat paling mulia di muka bumi.
Beliau juga menjelaskan bahwa salat di Masjid Nabawi lebih utama daripada seribu salat di masjid selainnya, kecuali Masjidil Haram yang berada di Makkah. Dalam sebuah riwayat tambahan yang hasan, beliau menegaskan bahwa salat di sana “lebih utama”, sebagai penekanan betapa besar keutamaan itu.
Dalam hadis sahih lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Antara rumahku dan mimbarku adalah satu taman dari taman-taman surga, dan mimbarku berada di atas telagaku.”
Karena itu, area antara rumah beliau (yang kini termasuk dalam bangunan masjid) dan mimbar beliau dikenal dengan nama Raudhah, yang amat dicintai dan dirindukan kaum muslimin di seluruh dunia.
Para ulama telah menulis banyak kitab khusus tentang fadhilah Masjid Nabawi, mengingat luasnya keutamaan dan kedudukan masjid ini dalam kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat Islam.
Mana yang Lebih Utama: Masjid Nabawi atau Masjidil Haram?
Dalam pembahasan fiqih, para ulama juga memperdebatkan mana yang lebih utama antara Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Makkah.
Imam Malik dan sebagian ulama Madinah berpendapat bahwa Masjid Nabawi lebih utama karena masjid itu dibangun langsung oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan Masjidil Haram dibangun oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Mereka berargumen bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih utama daripada Ibrahim ‘alaihis salam, sehingga masjid yang dibangun oleh beliau pun memiliki keutamaan yang lebih besar.
Namun mayoritas ulama (jumhur) berpendapat bahwa Masjidil Haram tetap merupakan masjid yang paling utama. Alasannya, Makkah adalah negeri yang Allah haramkan (sucikan) sejak penciptaan langit dan bumi. Negeri ini juga kembali diteguhkan kehormatannya oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam Masjidil Haram berkumpul banyak keistimewaan yang tidak dimiliki masjid lain, seperti kewajiban haji, thawaf mengelilingi Ka‘bah, dan keutamaan salat yang berlipat luar biasa.
Perincian panjang tentang masalah ini dibahas di kitab-kitab fiqih dan manasik. Yang jelas, baik Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram sama-sama memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan termasuk masjid-masjid paling mulia di muka bumi, bersama Masjid al-Aqsha di Baitul Maqdis.
Sumber :
• Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa an-Nihāyah
.jpg)
Komentar
Posting Komentar