Mengenang Khadijah: Wanita Pertama yang Beriman
Tahun Kesedihan
Para sejarawan mencatat bahwa Khadijah wafat di Mekah sebelum peristiwa hijrah ke Madinah. Lebih tepatnya, beliau berpulang sebelum Allah mewajibkan shalat lima waktu pada malam Isra dan Mikraj. Muhammad bin Ishaq menyebutkan bahwa Khadijah dan Abu Thalib wafat pada tahun yang sama, sebuah tahun yang kemudian dikenal sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan.
Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Khadijah wafat tiga hari setelah Abu Thalib. Adapun Al-Waqidi berpendapat berbeda, menurutnya keduanya wafat tiga tahun sebelum hijrah, bertepatan dengan tahun berakhirnya pemboikotan di Syi'b Abi Thalib. Al-Waqidi menambahkan bahwa Khadijah justru wafat 35 malam sebelum Abu Thalib.
Apapun perbedaan pendapat tentang urutan waktunya, yang pasti kedua orang ini meninggalkan kekosongan besar dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Abu Thalib adalah pelindung beliau dari kejahatan Quraisy, sementara Khadijah adalah penghibur dan penyejuk hati di tengah beratnya perjuangan dakwah.
________________________________________Kabar Gembira dari Langit
Jauh sebelum wafatnya, Khadijah telah menerima sebuah kabar yang tidak pernah diterima wanita manapun. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa suatu hari Jibril datang menemui Nabi ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang membawa bejana berisi makanan. Apabila ia telah sampai kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Rabbnya dan dariku, serta berikan kabar gembira kepadanya tentang sebuah rumah di surga yang terbuat dari qashab, di dalamnya tidak ada kebisingan dan tidak pula kelelahan."
Qashab yang dimaksud adalah permata berongga yang indah, terbuat dari mutiara. Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu 'anhuma pernah ditanya apakah Nabi ﷺ benar-benar menyampaikan kabar gembira kepada Khadijah. Ia menjawab dengan tegas, "Ya, dengan rumah dari qashab, tidak ada kebisingan dan tidak pula kelelahan di dalamnya."
As-Suhaili menjelaskan hikmah di balik hadiah istimewa ini. Khadijah diberi rumah dari qashab karena ia telah memperoleh qashab as-sabq, yakni keutamaan menjadi yang terdepan dalam keimanan. Adapun rumahnya bebas dari kebisingan dan kelelahan karena sepanjang hidupnya bersama Rasulullah ﷺ, Khadijah tidak pernah meninggikan suaranya kepada beliau, tidak pernah menyusahkan beliau, tidak pernah berteriak, dan tidak pernah menyakiti hati beliau sedikit pun.
________________________________________Cemburu Kepada yang Telah Tiada
Aisyah radhiyallahu 'anha, yang menikah dengan Rasulullah ﷺ tiga tahun setelah wafatnya Khadijah, sering kali merasakan sesuatu yang aneh. Ia merasa cemburu kepada seorang wanita yang bahkan tidak pernah dilihatnya.
"Aku tidak pernah cemburu kepada seorang wanita pun sebagaimana aku cemburu kepada Khadijah, padahal ia telah wafat sebelum beliau menikahiku," ungkap Aisyah.
Kecemburuan itu muncul karena Rasulullah ﷺ begitu sering menyebut nama Khadijah dengan penuh kasih sayang. Bukan hanya menyebutnya, beliau juga sering menyembelih kambing lalu memotong-motongnya dan mengirimkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah yang masih hidup.
Suatu ketika, karena tidak tahan lagi, Aisyah berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Seolah-olah di dunia ini tidak ada wanita lain selain Khadijah!"
Dengan penuh kelembutan, beliau menjawab, "Sesungguhnya ia adalah wanita yang luar biasa, dan darinya aku dikaruniai anak-anak."________________________________________
Halah dan Kenangan yang Menyeruak
Pada kesempatan lain, ketika Halah binti Khuwailid, adik Khadijah, datang meminta izin untuk menemui Rasulullah ﷺ, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Cara Halah meminta izin begitu mirip dengan cara Khadijah dulu. Mendengar suara yang familiar itu, hati Rasulullah ﷺ langsung tergetar. Beliau berseru dengan penuh kerinduan, "Ya Allah, ini Halah!"
Melihat reaksi itu, Aisyah kembali cemburu. Ia berkata, "Mengapa engkau masih mengingat seorang wanita tua dari Quraisy yang pipinya sudah keriput karena usia, yang telah wafat sejak lama? Padahal Allah telah menggantikan bagimu yang lebih baik darinya."
Menurut riwayat Al-Bukhari, Rasulullah ﷺ tidak mengomentari perkataan Aisyah. Namun dalam riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang baik, disebutkan bahwa wajah Rasulullah ﷺ berubah drastis, sebuah perubahan yang hanya pernah Aisyah lihat ketika wahyu turun atau ketika beliau melihat awan mendung dan menunggu apakah itu pertanda rahmat atau azab.
________________________________________Pengakuan Cinta yang Abadi
Dalam riwayat lain yang juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Aisyah menceritakan bahwa ketika ia mengatakan hal serupa, Rasulullah ﷺ tidak tinggal diam. Beliau menjawab dengan tegas, "Allah tidak menggantikan aku dengan yang lebih baik darinya."
Lalu beliau menyebutkan satu per satu jasa Khadijah yang tak terlupakan.
"Ia beriman kepadaku ketika semua orang mengingkari. Ia membenarkanku ketika semua orang mendustakan. Ia membantuku dengan hartanya ketika semua orang menghalangiku. Dan Allah menganugerahkan kepadaku anak-anak darinya ketika aku tidak dikaruniai anak dari wanita lain."
Kalimat terakhir ini kemungkinan besar diucapkan sebelum lahirnya Ibrahim dari Mariyah Al-Qibthiyah, karena memang seluruh anak Rasulullah ﷺ berasal dari Khadijah kecuali Ibrahim.________________________________________
Empat Wanita Sempurna
Keutamaan Khadijah tidak berdiri sendiri. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, "Sebaik-baik wanita pada zamannya adalah Maryam binti Imran, dan sebaik-baik wanita pada zamannya adalah Khadijah binti Khuwailid."
Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Qurrah bin Iyas, Rasulullah ﷺ bersabda, "Telah sempurna banyak laki-laki, tetapi dari kalangan wanita hanya sempurna tiga: Maryam binti Imran, Asiyah istri Firaun, dan Khadijah binti Khuwailid. Adapun keutamaan Aisyah atas wanita lain seperti keutamaan tsarid atas makanan lainnya."
Tsarid adalah hidangan istimewa bangsa Arab, perpaduan antara roti dan daging yang menjadi simbol kelezatan dan kemewahan. Seorang penyair Arab pernah bersenandung tentangnya, "Apabila roti dicampur dengan daging, itulah amanah Allah: tsarid."
Para ulama menjelaskan bahwa kesamaan antara Asiyah, Maryam, dan Khadijah terletak pada satu hal: ketiganya memelihara seorang nabi dan membenarkannya. Asiyah memelihara Musa sejak bayi dan beriman kepadanya ketika dewasa. Maryam memelihara putranya Isa dengan sebaik-baik pemeliharaan dan membenarkan risalahnya. Khadijah mendampingi Muhammad ﷺ dengan segenap jiwa dan hartanya serta menjadi orang pertama yang membenarkan wahyu yang turun kepadanya.
________________________________________Perdebatan yang Tak Berkesudahan
Hadits-hadits tentang keutamaan Khadijah dan Aisyah telah memicu diskusi panjang di kalangan ulama sepanjang sejarah. Sebagian ulama menggunakan hadits "Allah tidak menggantikan aku dengan yang lebih baik darinya" sebagai dalil bahwa Khadijah lebih utama dari Aisyah.
Di sisi lain, ada ulama yang mempertanyakan sanad hadits tersebut. Ada pula yang menakwilkannya bahwa Khadijah lebih baik sebagai pendamping hidup, bukan secara mutlak dalam segala hal.
Kelompok yang cenderung kepada Khadijah berargumen dengan beberapa hal. Pertama, salam dari Allah disampaikan langsung kepadanya melalui Jibril. Kedua, seluruh anak Rasulullah ﷺ kecuali Ibrahim berasal darinya. Ketiga, Rasulullah ﷺ tidak menikah dengan wanita lain selama Khadijah masih hidup sebagai bentuk penghormatan. Keempat, ia adalah wanita pertama yang masuk Islam. Kelima, ia mengorbankan jiwa dan seluruh hartanya untuk perjuangan dakwah.
Adapun kelompok yang cenderung kepada Aisyah juga memiliki argumen kuat. Aisyah adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat terdekat Rasulullah ﷺ. Tidak ada wanita di seluruh umat yang menandingi Aisyah dalam hafalan, ilmu, kefasihan, dan kecerdasan. Rasulullah ﷺ sangat mencintainya. Turunnya ayat-ayat yang membersihkan namanya dari tuduhan palsu adalah bukti kemuliaan langsung dari Allah. Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, Aisyah menjadi rujukan utama umat dalam meriwayatkan hadits dan fatwa.
Allah berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui orang yang bertakwa." (An-Najm: 32)Dan firman-Nya:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم ۚ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ
"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci? Sebenarnya Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki." (An-Nisa: 49)________________________________________
Sikap Terbaik
Ibnu Katsir menyimpulkan bahwa kebenaran yang paling tepat adalah mengakui bahwa masing-masing dari mereka memiliki keutamaan yang jika dipandang akan membuat orang takjub dan bingung. Sikap terbaik adalah tidak memutuskan secara pasti dan menyerahkan pengetahuan tentangnya kepada Allah.
Barang siapa memiliki dalil yang kuat dalam pandangannya, maka ia boleh berpendapat sesuai ilmu yang dimilikinya. Namun barang siapa merasa ragu dalam masalah ini, maka jalan yang paling lurus dan paling selamat adalah mengatakan: Allahu a'lam — Allah-lah yang lebih mengetahui.
Yang pasti, baik Khadijah maupun Aisyah, keduanya adalah wanita-wanita mulia yang Allah pilih untuk mendampingi Rasul-Nya. Keduanya memiliki jasa yang tidak terhingga bagi Islam dan umat Muslim. Khadijah dengan kepeloporannya di masa-masa awal yang penuh tantangan, dan Aisyah dengan ilmunya yang menerangi generasi-generasi setelahnya.
Semoga Allah meridhai keduanya dan mengumpulkan kita bersama mereka di surga Firdaus yang tinggi.________________________________________
Sumber: Al-Bidayah wan-Nihayah karya Al-Hafizh Ibnu Katsir

Komentar
Posting Komentar