Kisah Sahabat Anshar: Suwaid, Iyas, Rafi’ dan Mu’adz – Pertemuan dengan Nabi di Makkah dan Awal Islam di Madinah
Kedatangan Utusan Anshar dari Tahun ke Tahun
Sebelum hijrah ke Madinah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam setiap tahun memanfaatkan musim haji sebagai kesempatan untuk berdakwah. Ketika orang-orang Arab dari berbagai kabilah berkumpul di Makkah, beliau mendatangi mereka, satu kabilah demi satu kabilah, memperkenalkan diri sebagai utusan Allah, mengajak mereka menyembah Allah semata dan masuk Islam.
Beliau tidak pernah mendengar ada tokoh Arab yang datang ke Makkah — seorang yang terkenal dan terpandang — kecuali beliau mendatanginya secara khusus, mengajaknya kepada Allah, dan menawarkan apa yang beliau bawa: petunjuk dan rahmat.
Dari tahun ke tahun, beberapa di antara mereka adalah orang-orang Anshar (penduduk Yatsrib/Madinah). Mereka datang, mendengar dakwah Nabi, lalu perlahan-lahan masuk Islam dan membaiat beliau, hingga akhirnya terjadilah beberapa kali baiat, yang dikenal sebagai Baiat ‘Aqabah. Setelah itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun hijrah dan menetap di Madinah, tinggal di tengah-tengah mereka.
Berikut ini adalah beberapa kisah dari masa-masa awal itu, ketika hati-hati di Madinah mulai disentuh oleh cahaya Islam.
________________________________________
Kisah Suwaid bin Shamit: Tokoh “al-Kamil” yang Mencari Kebenaran
Suwaid bin Shamit adalah salah satu tokoh utama dari suku Aus di Madinah. Ia berasal dari keturunan mulia, pandai bersyair, berwibawa, dan terhormat di tengah kaumnya. Karena keunggulan-keunggulan itu, kaumnya menjulukinya al-Kamil (yang sempurna).
Ibunya bernama Laila binti ‘Amr an-Najjariyyah, saudara perempuan Salma binti ‘Amr, ibu dari ‘Abdul Muththalib bin Hasyim. Dengan demikian, Suwaid adalah anak bibi dari pihak ibu bagi ‘Abdul Muththalib, kakek Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Jadi, secara nasab, ia masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Nabi.
Suatu tahun, Suwaid datang ke Makkah untuk haji atau umrah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendengar kedatangannya. Beliau pun segera mendatanginya dan menyampaikan dakwah:
Beliau mengajaknya kepada Allah dan kepada Islam, menjelaskan bahwa beliau adalah Rasul Allah dan bahwa beliau membawa wahyu berupa petunjuk dan cahaya.
Suwaid, sebagai seorang yang terpelajar, menjawab, seakan ingin menguji:
“Barangkali apa yang engkau bawa sama dengan apa yang aku miliki.”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya:
“Apa yang engkau miliki?”
Suwaid menjawab:
“Aku punya Majalah Luqman,” maksudnya kumpulan hikmah-hikmah Luqman (ungkapan-ungkapan bijak yang terkenal di kalangan mereka).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Tunjukkanlah (bacakan) itu kepadaku.”
Suwaid pun membacakan hikmah-hikmah yang ia miliki. Setelah mendengarnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Ucapan ini memang baik. Tetapi apa yang ada padaku lebih utama daripada ini. (Yaitu) Al-Qur’an yang Allah turunkan kepadaku; ia adalah petunjuk dan cahaya.”
Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepada Suwaid dan kembali mengajaknya masuk Islam. Suwaid tidak menolak keras, bahkan berkata:
“Sesungguhnya ucapan ini sangat baik.”
Meski saat itu ia belum terang-terangan menyatakan keislaman di hadapan Nabi, pengaruh kata-kata itu tertanam di dalam hatinya. Ia pun pulang ke Madinah.
Tak lama setelah kembali, Suwaid terlibat dalam konflik antara suku Aus dan Khazraj, lalu ia terbunuh di tangan orang-orang Khazraj, pada masa sebelum Perang Bu’ats (perang besar antara Aus dan Khazraj di Madinah).
Sebagian orang dari kaumnya kemudian berkata:
“Kami yakin ia terbunuh dalam keadaan muslim.”
Mereka menilai demikian karena sikapnya terhadap Islam setelah pertemuannya dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, meski tidak tercatat secara terang-terangan ia menyatakan syahadat di hadapan beliau.
________________________________________
Iyas bin Mu’adz: Pemuda yang Tersentuh di Satu Majelis
Beberapa waktu kemudian, datang lagi rombongan dari Madinah ke Makkah. Mereka berasal dari Bani ‘Abd al-Asyhal (bagian dari suku Aus). Pemimpin rombongan itu adalah Abu al-Haytsar Anas bin Rafi’, dan di antara para pemuda yang ikut bersamanya adalah seorang pemuda bernama Iyas bin Mu’adz.
Maksud kedatangan mereka bukan untuk mencari agama, tetapi untuk mencari sekutu. Mereka ingin menjalin persekutuan dengan Quraisy untuk memperkuat posisi mereka menghadapi suku Khazraj, yang sering bertikai dengan mereka di Madinah.
Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendengar bahwa ada rombongan dari Bani ‘Abd al-Asyhal datang, beliau mendatangi mereka dan duduk bersama mereka. Beliau bersabda:
“Bagaimana kalau aku tawarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian cari?”
Mereka bertanya:
“Apa itu?”
Beliau menjawab:
“Aku adalah Rasul Allah kepada para hamba. Aku mengajak mereka agar beribadah hanya kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Kepadaku telah diturunkan sebuah Kitab.”
Beliau kemudian menjelaskan pokok-pokok Islam dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka. Di antara mereka, hanya satu orang yang benar-benar tersentuh saat itu: Iyas bin Mu’adz, pemuda yang masih sangat belia.
Dengan spontan ia berkata:
“Wahai kaumku, demi Allah, ini lebih baik daripada apa yang kalian datangi (Makkah) karenanya (yakni, mencari sekutu).”
Namun pemimpin rombongan, Abu al-Haytsar, tidak menyukai ucapannya. Ia mengambil segenggam tanah, lalu memukulkannya ke wajah Iyas seraya berkata:
“Tinggalkan kami. Demi umurku, kita datang ke sini bukan untuk urusan ini.”
Iyas pun terdiam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bangkit dan meninggalkan mereka, dan rombongan itu kembali ke Madinah tanpa menyatakan keislaman.
Beberapa waktu setelah itu, meletuslah Perang Bu’ats antara suku Aus dan Khazraj. Tak lama setelah perang-perang dan ketegangan itu, Iyas bin Mu’adz jatuh sakit dan meninggal.
Seorang perawi dari kaumnya, Mahmud bin Labid, menceritakan bahwa orang-orang yang hadir di dekatnya ketika ia sakit berkata:
“Kami selalu mendengarnya terus-menerus mengucapkan tahlil (لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ), takbir, tahmid, dan tasbih, hingga ia meninggal.”
Karena itu, mereka sama sekali tidak ragu bahwa Iyas telah meninggal dalam keadaan muslim. Benih Islam yang menyentuh hatinya dalam satu majelis singkat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ternyata menetap kuat di dalam dadanya.
________________________________________
Perang Bu’ats: Jalan yang Allah Siapkan Bagi Datangnya Rasul
Perang Bu’ats adalah perang besar yang terjadi di sebuah tempat bernama Bu’ats, di sekitar Madinah. Di dalam perang itu, banyak pemuka dan tokoh besar dari suku Aus dan Khazraj yang terbunuh. Hanya sedikit orang tua dan sesepuh mereka yang tersisa.
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi, menjelaskan hikmah besarnya. Ia berkata, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari:
“Hari Bu’ats adalah hari yang Allah jadikan mendahului (kedatangan) Rasul-Nya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang ke Madinah, sedangkan para pemuka mereka telah tercerai-berai dan tokoh-tokoh mereka telah terbunuh.”
Artinya, Allah telah menyiapkan keadaan sosial di Madinah. Ketika Nabi hijrah dan tiba di sana, kota itu sudah lelah oleh perang dan konflik, para pemimpin yang paling keras kepala banyak yang telah gugur, dan masyarakat siap mencari pemimpin baru dan jalan hidup yang baru. Di sinilah dakwah Islam menemukan lahan yang sangat subur.
________________________________________
Rafi’ bin Malik dan Mu’adz bin ‘Afra: Dua Sepupu yang Menemukan Nabi di Bawah Pohon
Sebelum peristiwa enam orang Anshar yang pertama kali membaiat Nabi di ‘Aqabah, sudah ada beberapa orang Anshar yang lebih dulu mengenal Islam, meski kisah mereka tidak sepopuler Baiat ‘Aqabah. Di antaranya adalah Rafi’ bin Malik dan sepupunya, Mu’adz bin ‘Afra’.
Rafi’ menceritakan bahwa ia keluar dari Madinah bersama anak bibi dari pihak ibunya, Mu’adz bin ‘Afra’, menuju Makkah. Ketika mereka menuruni sebuah tanjakan menuju Makkah, mereka melihat seorang laki-laki duduk di bawah sebuah pohon.
Saat itu mereka sudah pernah mendengar kabar samar-samar tentang seseorang di Makkah yang mengaku sebagai nabi, tetapi mereka belum pernah bertemu langsung.
Mereka berkata satu sama lain:
“Mari kita datangi laki-laki itu. Kita titipkan dua tunggangan kita padanya, lalu pergi thawaf di Baitullah.”
Mereka mendatanginya dan memberi salam dengan salam orang-orang Jahiliyah. Laki-laki itu menjawab, tetapi dengan salam orang Islam. Rafi’ merasa heran, karena jawabannya berbeda dari kebiasaan mereka.
Mereka bertanya:
“Siapa engkau?”
Laki-laki itu berkata:
“Turunlah kalian.”
Mereka pun turun dari tunggangan mereka.
Mereka bertanya lagi:
“Di mana laki-laki yang mengaku-aku apa yang ia klaim itu, dan mengatakan apa yang ia katakan itu?”
Laki-laki itu menjawab:
“Akulah orangnya.”
Itulah Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Mereka berkata:
“Jelaskanlah Islam kepada kami.”
Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mulai berdialog dengan cara yang sangat sederhana dan logis.
Beliau bertanya:
“Siapa yang menciptakan langit, bumi, dan gunung-gunung?”
Mereka menjawab:
“Allah.”
Beliau bertanya lagi:
“Siapa yang menciptakan kalian?”
Mereka menjawab:
“Allah.”
Beliau pun bertanya:
“Lalu siapa yang membuat berhala-berhala yang kalian sembah itu?”
Mereka menjawab jujur:
“Kami sendiri.”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata:
“Siapa yang lebih berhak untuk disembah: Sang Pencipta, atau makhluk yang diciptakan?”
Mereka menjawab:
“Tentu Sang Pencipta.”
Beliau meneruskan:
“Kalau begitu, kalianlah yang lebih pantas disembah oleh berhala-berhala itu, karena kalian yang membuatnya. Sedangkan Allah jauh lebih berhak untuk kalian sembah daripada sesuatu yang kalian buat sendiri.
Aku mengajak kalian untuk beribadah kepada Allah, bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah Rasul Allah, menyambung tali silaturahmi, dan meninggalkan permusuhan, sekalipun manusia marah.”
Keduanya terkesan. Mereka berkata:
“Demi Allah, sekalipun apa yang engkau ajak ini (andaikan) batil, ia sudah termasuk di antara kemuliaan perkara dan keindahan akhlak.”
Mereka lalu berkata:
“Tolong titipkan dua tunggangan kami, hingga kami selesai thawaf di Baitullah.”
Mu’adz bin ‘Afra’ tetap duduk bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sementara Rafi’ pergi ke Ka’bah untuk thawaf.
________________________________________
Pencarian Rafi’: Meminta Tanda dari Allah
Setelah thawaf, Rafi’ ingin mencari keyakinan penuh tentang kebenaran dakwah Nabi. Ia mengambil tujuh batang anak panah undian (qidah) yang biasa dipakai orang Jahiliyah untuk mengundi nasib. Ia menetapkan satu di antaranya “dipersembahkan” untuk Nabi, lalu berdiri menghadap Ka’bah seraya berdoa:
“Ya Allah, jika apa yang diserukan Muhammad itu benar, maka keluarkanlah anak panahnya.”
Ia mengundi tujuh kali, dan setiap kali undian itu jatuh, ia menjadi semakin yakin bahwa Allah menunjukkan kebenaran dakwah Nabi. Setelah pengulangan itu, hatinya mantap. Ia pun berseru lantang:
“Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah!”
Orang-orang di sekitar Ka’bah terkejut dan berkerumun. Mereka berkata:
“Orang ini gila! Ia telah meninggalkan agamanya (ṣaba’a).”
Rafi’ menjawab dengan tegas:
“Bukan. Aku seorang laki-laki yang beriman.”
Ia pun segera kembali kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di bagian atas kota Makkah. Saat Mu’adz bin ‘Afra’ melihatnya, ia berkata:
“Engkau datang dengan wajah yang berbeda dari ketika engkau pergi, wahai Rafi’!”
Rafi’ pun menceritakan apa yang terjadi dan menyatakan keimanannya di hadapan Nabi. Demikian pula Mu’adz bin ‘Afra’ beriman.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian mengajarkan kepada mereka beberapa bagian dari Al-Qur’an, di antaranya Surah Yusuf dan permulaan Surah al-‘Alaq:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. al-‘Alaq [96]: 1)
Kedua orang Anshar ini pun pulang ke Madinah membawa iman dan ayat-ayat Allah di dada mereka.
________________________________________
Pulang ke Madinah: Tak Sabar Membawa Kabar Gembira
Dalam perjalanan pulang ke Madinah, ketika mereka sampai di wilayah al-‘Aqiq, Mu’adz bin ‘Afra’ berkata kepada Rafi’:
“Aku tidak pernah datang (kepada keluarga) di malam hari. Menginaplah dulu (di sini) bersama kami hingga pagi.”
Namun hati Rafi’ sudah dipenuhi semangat untuk segera menyampaikan Islam. Ia menjawab:
“Apakah aku akan bermalam, sementara bersamaku ada kebaikan sebesar ini? Aku tidak akan melakukannya.”
Ia ingin segera tiba di Madinah, segera bertemu keluarganya, dan segera menyampaikan dakwah yang baru saja ia peluk.
Diriwayatkan bahwa setiap kali Rafi’ bepergian lalu kembali ke Madinah, ia selalu menawarkan Islam kepada kaumnya. Ia tidak menyimpan iman itu sendiri, tetapi menyebarkannya, hingga beberapa waktu kemudian semakin banyak orang Anshar yang masuk Islam, dan muncullah rombongan enam orang Anshar yang terkenal datang membaiat Nabi di ‘Aqabah, lalu disusul dengan baiat-baiat berikutnya, sampai akhirnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah dan menetap di Madinah.
Ibnu Katsir menilai bahwa sanad dan susunan kisah ini adalah hasan (baik), menunjukkan bahwa Allah telah menyiapkan penduduk Madinah pelan-pelan, melalui orang-orang seperti Suwaid, Iyas, Rafi’, dan Mu’adz, agar kelak kota itu siap menyambut Rasul terakhir.
________________________________________
Sumber Kisah
• Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa an-Nihāyah

Komentar
Posting Komentar