Kisah Masuk Islamnya Abdullah bin Salam
Kedatangan Rasulullah ke Madinah
Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم hijrah dan tiba di Madinah, suasana kota itu menjadi sangat hidup. Berita kedatangan beliau cepat menyebar. Orang-orang berbondong-bondong keluar untuk melihat beliau dari dekat.
Di antara mereka ada seorang ulama besar Yahudi, seorang ahli kitab yang sangat dihormati kaumnya: Abdullah bin Salam. Ia termasuk orang pertama yang bergegas pergi ketika mendengar berita kedatangan Rasulullah.
Abdullah bercerita bahwa ia ikut berdesakan bersama orang banyak hingga akhirnya ia dapat melihat wajah Rasulullah dengan jelas. Saat itulah ia berkata dalam hati:
“Begitu aku melihat wajah beliau, aku tahu bahwa ini bukan wajah seorang pendusta.”
Kalimat pertama yang ia dengar dari lisan Rasulullah semakin menguatkan keyakinannya. Beliau berkata:
“Sebarkanlah salam, berilah makan (orang-orang), sambunglah hubungan kekerabatan, dan shalatlah di malam hari ketika manusia sedang tidur; niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.”
Ucapan yang lembut, jernih, dan penuh kebaikan ini langsung menancap dalam-dalam di hati Abdullah bin Salam, seorang yang telah lama mempelajari sifat-sifat Nabi terakhir dalam Taurat.
Abdullah di Atas Pohon Kurma
Dalam riwayat lain, Abdullah bin Salam menceritakan lebih rinci bagaimana ia mendengar berita hijrah Rasulullah.
Hari itu ia sedang bekerja di kebun kurma miliknya. Ia berada di puncak sebuah pohon kurma, sementara bibinya, Khalidah binti al-Harits, duduk di bawah, beristirahat.
Tiba-tiba datang seorang laki-laki dari Madinah membawa kabar:
“Rasul Allah telah datang! Muhammad sudah tiba di Quba, di perkampungan Bani ‘Amr bin ‘Auf!”
Mendengar itu, Abdullah spontan bertakbir dengan suara lantang. Bibinya heran dan berkata:
“Kalau seandainya engkau mendengar berita tentang Musa bin Imran, engkau tidak akan bertakbir lebih dari itu!”
Abdullah menjawab pelan tapi yakin:
“Wahai bibi, demi Allah, dia adalah saudara Musa bin Imran. Dia diutus di atas agama yang sama, dengan membawa apa yang dahulu dibawa oleh Musa.”
Bibinya terdiam, lalu bertanya:
“Wahai anak saudaraku, apakah dia ini orang yang dahulu kita diberi kabar bahwa ia akan diutus menjelang datangnya Kiamat?”
Abdullah menjawab: “Ya.”
Bibinya berkata singkat: “Kalau begitu, benar dialah itu.”
Hari itu juga Abdullah turun dari pohon, meninggalkan pekerjaannya, dan segera pergi menuju Rasulullah di Quba. Ia berjumpa dengan beliau, mendengar langsung ucapan dan melihat akhlak beliau. Lalu ia masuk Islam saat itu juga. Setelah itu ia pulang kepada keluarganya, mengajak mereka, dan mereka pun ikut masuk Islam. Bibinya, Khalidah binti al-Harits, juga memeluk Islam.
Namun Abdullah sepakat dalam hatinya untuk sementara menyembunyikan keislamannya dari orang-orang Yahudi. Ia sudah sangat mengenal tabiat mereka.
Tiga Pertanyaan yang Hanya Diketahui Seorang Nabi
Suatu ketika, setelah kedatangan Rasulullah di Madinah, Abdullah bin Salam datang menemui beliau. Ia ingin menguji kebenaran kenabian beliau dengan cara yang halus dan ilmiah. Sebagai seorang ahli kitab, ia tahu bahwa Nabi terakhir akan mampu menjawab hal-hal yang tidak diketahui kecuali para nabi.
Ia berkata kepada Rasulullah:
“Aku akan bertanya kepadamu tentang tiga perkara, yang tidak mengetahuinya kecuali seorang nabi:
1. Apa tanda pertama dari tanda-tanda Kiamat?
2. Apa makanan pertama yang akan dimakan oleh penduduk surga?
3. Apa yang menyebabkan seorang anak mirip kepada ayahnya atau kepada ibunya?”
Rasulullah menjawab:
“Baru saja Jibril memberitahuku tentang itu.”
Abdullah terkejut dan bertanya lagi, memastikan:
“Jibril?”
Beliau menjawab: “Ya.”
Abdullah pun menyinggung keyakinan kaumnya:
“Dia (Jibril) adalah musuh orang-orang Yahudi dari kalangan malaikat.”
Lalu Rasulullah membaca ayat Al-Qur'an yang turun tentang masalah ini:
مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Katakanlah (wahai Muhammad): Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 97)
Kemudian Rasulullah menjawab tiga pertanyaan tadi:
“Adapun tanda pertama dari tanda-tanda Kiamat adalah api yang keluar pada manusia dari arah timur menuju barat.
Adapun makanan pertama yang akan dimakan oleh penduduk surga adalah tambahan hati ikan.
Dan tentang anak: jika air mani laki-laki mendahului air mani perempuan, anak itu akan mirip kepada (sifat) ayahnya; jika air mani perempuan mendahului air mani laki-laki, anak itu akan mirip kepada (sifat) ibunya.”
Mendengar jawaban-jawaban ini, yang sesuai dengan apa yang ia ketahui dalam ilmu dan kitabnya, Abdullah bin Salam langsung berkata:
“Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan yang berhak disembah) selain Allah, dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul Allah.”
Namun ia segera mengingat tabiat kaumnya dan berkata kepada Rasulullah:
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Yahudi adalah kaum yang suka memutarbalikkan (kebenaran). Jika mereka mengetahui keislamanku sebelum engkau bertanya kepada mereka tentang diriku, niscaya mereka akan mendustakanku dan mencelaku.”
Rencana Abdullah bin Salam Menghadapi Kaumnya
Abdullah bin Salam memahami betul bagaimana kaumnya akan bereaksi. Ia punya kedudukan tinggi di tengah mereka: ulama, pemimpin, dan putra pemimpin. Ia ingin menjadikan hal ini sebagai bukti yang kuat untuk mereka, sebelum keislamannya diketahui.
Ia berkata kepada Rasulullah kurang lebih:
“Wahai Rasulullah, aku ingin engkau memasukkanku ke salah satu rumahmu dan menyembunyikan aku dari mereka. Lalu engkau panggil orang-orang Yahudi dan bertanya kepada mereka tentang aku, sebelum mereka tahu bahwa aku telah masuk Islam.”
Rasulullah pun menyetujui. Abdullah disembunyikan di salah satu rumah, sementara utusan diutus memanggil para tokoh Yahudi.
Mereka datang, duduk di hadapan Rasulullah. Beliau menasihati mereka:
“Wahai sekalian orang Yahudi, bertakwalah kepada Allah. Demi Allah yang tidak ada ilah selain Dia, sungguh kalian benar-benar tahu bahwa aku adalah Rasul Allah yang sesungguhnya, dan aku datang kepada kalian dengan membawa kebenaran. Maka masuk Islamlah.”
Mereka menjawab:
“Kami tidak tahu (bahwa engkau adalah Rasul).”
Mereka mengulang jawaban itu sampai tiga kali.
Lalu Rasulullah bertanya:
“Bagaimana kedudukan Abdullah bin Salam di tengah kalian?”
Mereka menjawab tanpa ragu:
“Ia adalah pemimpin kami dan putra pemimpin kami, orang yang paling baik di antara kami dan putra orang terbaik kami, orang paling alim di antara kami dan putra orang paling alim di antara kami.”
Rasulullah bertanya lagi:
“Bagaimana jika ia masuk Islam?”
Mereka terkejut dan berkata:
“Semoga Allah melindunginya dari hal itu. Tidak mungkin ia akan masuk Islam!”
Saat itulah Rasulullah memanggil:
“Wahai Ibnu Salam, keluarlah kepada mereka.”
Abdullah pun keluar dari tempat persembunyiannya, menghadap kaumnya, lalu berkata dengan penuh keyakinan:
“Wahai kaum Yahudi, bertakwalah kepada Allah. Demi Allah yang tidak ada ilah selain Dia, sungguh kalian tahu bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Dan sungguh ia telah datang membawa kebenaran.”
Sekejap suasana berubah. Orang-orang yang tadi memuji dan mengagungkan namanya kini berbalik mencela.
Mereka berkata:
“Engkau pendusta. Engkau adalah orang terburuk di antara kami dan putra orang terburuk kami.”
Mereka menghinanya dan merendahkannya.
Abdullah bin Salam menoleh kepada Rasulullah dan berkata:
“Wahai Rasulullah, inilah yang tadi aku khawatirkan.”
Meski demikian, hal itu tidak melemahkan imannya. Ia justru semakin yakin bahwa ia telah memilih jalan yang benar, sekalipun harus kehilangan pujian dan kedudukan di tengah kaumnya.
Iman yang Ditampakkan dan Keluarga yang Mengikuti
Setelah peristiwa itu, Abdullah bin Salam tidak lagi menyembunyikan keislamannya. Ia menampakkan imannya dan menyeru keluarganya untuk teguh di atas Islam. Keluarga dekatnya masuk Islam, termasuk bibinya, Khalidah binti al-Harits.
Ia berpindah dari kemuliaan di sisi kaumnya kepada kemuliaan yang jauh lebih tinggi: kemuliaan iman di sisi Allah dan Rasul-Nya.
Sikap Berbeda Tokoh-Tokoh Yahudi Lain: Kisah Safiyyah binti Huyayy
Kisah Abdullah bin Salam menunjukkan bagaimana seorang ulama Yahudi yang jujur mau tunduk kepada kebenaran. Namun tidak semua tokoh Yahudi di Madinah bersikap seperti itu.
Di sisi lain, ada tokoh-tokoh yang memilih permusuhan, meski mereka sebenarnya mengenal tanda-tanda Nabi terakhir.
Safiyyah binti Huyayy, yang kelak menjadi istri Rasulullah, menceritakan keadaan ayah dan pamannya ketika pertama kali bertemu Rasulullah.
Safiyyah berkata bahwa ia adalah anak yang paling mereka cintai di antara anak-anak mereka. Jika ia datang menyapa mereka bersama anak-anak lain, keduanya selalu lebih memeluk dan memerhatikannya.
Ketika Rasulullah datang dan singgah di Quba, ayahnya, Huyayy bin Akhtab (pemuka Bani an-Nadhir, seorang tokoh besar Yahudi), dan pamannya, Abu Yasir bin Akhtab, pergi pagi-pagi sekali untuk menemui beliau.
Mereka pulang sangat larut, hampir matahari terbenam. Safiyyah melihat keduanya kembali dalam keadaan letih, langkah mereka berat, wajah mereka tidak seperti biasanya.
Sebagaimana biasa, Safiyyah menyambut mereka dengan gembira. Namun kali ini, tidak satu pun dari keduanya yang memandangnya. Ia merasa ada sesuatu yang besar telah terjadi.
Safiyyah mendengar pamannya berkata kepada ayahnya:
“Apakah dia itu orangnya (yang kita tunggu-tunggu)?”
Ayahnya menjawab:
“Ya, demi Allah, dialah itu.”
Pamannya bertanya lagi:
“Apakah engkau benar-benar mengenalnya dari ciri matanya dan sifat-sifatnya?”
Ayahnya menjawab:
“Ya, demi Allah, aku benar-benar mengenalnya.”
Lalu pamannya bertanya:
“Lalu apa yang engkau rasakan dalam dirimu terhadapnya?”
Ayahnya menjawab dengan kalimat yang sangat berat:
“Permusuhannya, demi Allah, selama aku masih hidup.”
Mereka mengenali kebenaran, tetapi memilih permusuhan.
Abu Yasir dan Huyayy: Dua Jalan yang Berbeda
Dalam riwayat lain diceritakan bahwa ketika Rasulullah datang ke Madinah, Abu Yasir bin Akhtab pernah pergi menemui beliau, mendengar langsung dari beliau, dan berbicara. Lalu ia pulang kepada kaumnya dan berkata:
“Wahai kaumku, taatilah aku. Sesungguhnya Allah telah mendatangkan kepada kalian apa yang selama ini kalian tunggu. Maka ikutilah dia dan jangan menentangnya.”
Namun saudaranya, Huyayy bin Akhtab, yang saat itu menjadi pemimpin besar Yahudi, juga pergi menemui Rasulullah. Ia duduk mendengar, memperhatikan, lalu kembali kepada kaumnya.
Akan tetapi, reaksinya sangat berbeda. Ia berkata:
“Aku baru saja datang dari sisi seorang lelaki yang, demi Allah, aku akan menjadi musuhnya selama-lamanya.”
Abu Yasir mencoba menasihati saudaranya:
“Wahai anak ibuku, taatilah aku dalam urusan ini, dan setelah itu engkau boleh menyelisihiku dalam hal lain sesukamu. Jangan binasa (karena menolak kebenaran ini).”
Namun Huyayy menjawab:
“Demi Allah, aku tidak akan menaatimu selamanya.”
Setan menguasai dirinya, dan kaumnya pun mengikuti pendapatnya. Permusuhan itu terus ia pelihara sampai akhir hayatnya.
Akhir Permusuhan Huyayy bin Akhtab
Ibnu Katsir (penulis Al-Bidāyah wa an-Nihāyah) menyebutkan bahwa ia tidak mengetahui secara pasti bagaimana akhir kehidupan Abu Yasir bin Akhtab.
Adapun Huyayy bin Akhtab, ayah Safiyyah, ia benar-benar meneguk dan menanamkan permusuhan terhadap Nabi dan para sahabat. Ia terus berada di barisan musuh, memprovokasi dan bersekongkol, hingga akhirnya ia tertawan dalam peristiwa Bani Quraizhah.
Pada hari Rasulullah menegakkan hukuman terhadap para pejuang (prajurit) Bani Quraizhah, Huyayy bin Akhtab termasuk di antara mereka yang dibunuh di hadapan Rasulullah, sebagai akhir dari perjalanan panjang permusuhan yang ia pilih sendiri.
Berbeda dengan Abdullah bin Salam yang memilih kebenaran meski harus kehilangan kedudukan dunia, Huyayy bin Akhtab memilih kebencian meski ia tahu tanda-tanda kebenaran itu ada pada diri Rasulullah.
Di sinilah kita melihat dua sikap yang sangat kontras:
• Seorang ulama Yahudi yang jujur kepada ilmunya, lalu Allah memuliakannya dengan iman.
• Seorang pemuka Yahudi lain yang mengenal kebenaran, namun menolaknya karena kesombongan, lalu binasa dalam keadaan memusuhinya.
Penutup
Kisah Abdullah bin Salam mengajarkan bahwa siapa pun yang mencari kebenaran dengan tulus akan ditunjukkan jalan oleh Allah, meski harus berhadapan dengan kaumnya sendiri.
Kisah Huyayy dan para tokoh Yahudi yang lain menunjukkan bahwa mengetahui kebenaran saja tidak cukup; perlu keberanian untuk tunduk dan menerimanya.
Keduanya bertemu di satu masa, melihat Nabi yang sama, namun memilih dua jalan yang berbeda. Dan Allah Maha Adil dalam memberi balasan.
________________________________________
Sumber kisah:
• Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa an-Nihāyah
.jpg)
Komentar
Posting Komentar