Kisah Kaum Munafik di Madinah yang Bersekutu dengan Yahudi
Kisah Para Munafik yang Condong kepada Yahudi di Madinah
Setelah Rasulullah صلى الله عليه وسلم hijrah ke Madinah, kota itu menjadi tempat bercampurnya berbagai golongan: kaum Muhajirin, kaum Anshar dari suku Aus dan Khazraj, serta berbagai kabilah Yahudi.
Sebagian besar kaum Anshar beriman dengan tulus dan membela Rasulullah صلى الله عليه وسلم dengan jiwa dan raga. Namun di sela-sela barisan kaum muslimin itu, ada sekelompok orang yang hatinya condong kepada musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi. Mereka menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kemunafikan.
Ibnu Ishaq – perawi sirah Nabi – menyebut satu per satu nama mereka, khususnya dari kalangan Aus dan Khazraj, dan menyingkap beberapa kisah penting yang berkaitan dengan turunnya ayat-ayat al-Qur’an.
________________________________________
Julas bin Suwaid: Sumpah Palsu dan Turunnya Ayat
Di antara orang munafik dari suku Aus adalah Julas bin Suwaid bin ash-Shamit al-Anshari. Pada saat Rasulullah صلى الله عليه وسلم mempersiapkan pasukan untuk Perang Tabuk, Julas memilih untuk tidak ikut.
Dalam keadaan tidak ikut berangkat, ia berkata dengan nada merendahkan Rasul dan risalah beliau:
“Kalau betul orang ini (Muhammad) benar, berarti kita lebih buruk daripada keledai.”
Ucapan berbahaya itu didengar oleh Umair bin Sa‘d, anak dari istrinya sendiri. Hatinya tidak rela ucapan seperti itu dibiarkan. Ia pergi menghadap Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan menyampaikan apa yang ia dengar.
Ketika dipanggil, Julas mengingkari dengan keras. Ia bersumpah bahwa ia tidak pernah mengucapkan kata-kata tersebut. Keadaan menjadi tegang: seorang pemuda jujur di satu sisi, dan seorang yang lebih tua lagi terpandang di sisi lain, bersikeras mengingkari.
Lalu Allah menurunkan firman-Nya membongkar kedustaan Julas:
يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا وَمَا نَقَمُوا إِلَّا أَنْ أَغْنَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
(At-Taubah: 74)
“Mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitkan Rasul). Padahal sesungguhnya mereka telah mengucapkan kata-kata kufur dan menjadi kafir sesudah Islam (yang mereka nyatakan), dan mereka berniat (melakukan) apa yang mereka tidak dapat melaksanakannya. Dan mereka tidak membenci (Allah dan Rasul-Nya) kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan sekali-kali mereka tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di bumi.”
Setelah ayat itu turun, kedustaan Julas terbongkar. Diriwayatkan bahwa kemudian ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, hingga akhirnya tampak dari dirinya iman dan kebaikan, dan kaum muslimin mengenalnya sebagai seorang yang berubah menjadi baik.
________________________________________
Al-Harits bin Suwaid: Darah Lama dan Ayat tentang Hidayah
Saudara Julas, al-Harits bin Suwaid, juga termasuk orang yang condong kepada kemunafikan.
Di masa Jahiliyah, terjadi peperangan antar suku. Dalam suatu pertempuran, seorang sahabat bernama al-Mujadzdzar bin Dziyad al-Balawi pernah membunuh ayah al-Harits, yaitu Suwaid bin ash-Shamit, menurut sebagian riwayat. Karena itu, dendam tersimpan dalam dada al-Harits.
Pada hari Perang Uhud, al-Harits keluar bersama kaum muslimin. Namun di dalam hatinya, ia seorang munafik. Di tengah pertempuran, ketika kaum muslimin dan musyrikin telah berhadapan, ia justru menyerang dari belakang dua orang muslim: al-Mujadzdzar dan Qais bin Zaid dari Bani Dubay‘ah. Keduanya ia bunuh, lalu ia lari meninggalkan barisan dan bergabung dengan Quraisy.
Ibnu Ishaq menyebut bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan Umar bin al-Khaththab, bila suatu saat ia berhasil menangkap al-Harits, agar membunuhnya.
Merasa terjepit dengan masa lalunya, al-Harits mengirim kabar kepada saudaranya, Julas, meminta agar ia dimintakan kesempatan untuk bertaubat dan kembali ke tengah kaumnya.
Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ketika itu turun firman Allah:
كَيْفَ يَهْدِي اللَّهُ قَوْمًا كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ وَشَهِدُوا أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَجَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
(Ali ‘Imran: 86)
“Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kufur sesudah mereka beriman, dan (sesudah) mereka menyaksikan bahwa Rasul itu benar, dan telah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
Ayat ini menggambarkan betapa beratnya keadaan orang yang telah mengenal kebenaran, mengaku beriman, menyaksikan bukti-bukti, namun kemudian justru berbalik kafir dan memerangi kaum beriman.
________________________________________
Nabtal bin al-Harits: “Si Setan” yang Menyakiti Nabi
Di antara tokoh munafik yang paling buruk dari suku Aus adalah Nabtal bin al-Harits. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda tentangnya:
“Barangsiapa ingin melihat (wujud) setan, maka lihatlah orang ini.”
Ia digambarkan sebagai lelaki bertubuh besar, berkulit gelap, rambut kepala lebat dan kusut, matanya merah, dan kedua pipinya legam.
Nabtal punya kebiasaan buruk: ia duduk di majelis Nabi صلى الله عليه وسلم, berpura-pura mendengarkan wahyu dan nasihat, kemudian keluar dan menyampaikan isi pembicaraan itu kepada para munafik dan musuh-musuh Islam.
Suatu ketika ia mencela Nabi dengan berkata: “Muhammad itu hanya telinga; siapa pun yang bercerita sesuatu kepadanya, ia percayai.”
Allah pun membongkar perilakunya dalam al-Qur’an:
وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
(At-Taubah: 61)
“Dan di antara mereka ada orang-orang yang menyakiti Nabi dan mengatakan, ‘Dia (Muhammad) adalah telinga (yang mudah percaya)’. Katakanlah, ‘Ia adalah telinga kebaikan bagi kamu, beriman kepada Allah dan mempercayai orang-orang mukmin, serta rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu.’ Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah akan mendapat azab yang pedih.”
________________________________________
Masjid Dhirar dan Para Munafik yang Mendirikan-Nya
Sekelompok munafik dari Aus bersama sebagian orang Khazraj kemudian membangun sebuah masjid di pinggiran Madinah, yang kelak dikenal sebagai Masjid Dhirar – masjid yang dipakai untuk memecah-belah kaum muslimin, menjadi markas kaum munafik, dan tempat mereka bersekongkol dengan musuh.
Di antara mereka adalah Abu Habibah bin al-Az‘ar, ‘Abbad bin Hunayf (saudara sahabat mulia Sahl bin Hunayf), Wadi‘ah bin Tsabit, Jariyah bin ‘Amir bin al-‘Aththaf, serta dua putranya, Yazid dan Mujammi‘ bin Jariyah.
Mujammi‘ ketika itu masih sangat muda, namun ia telah menghafal sebagian besar al-Qur’an, sehingga ia ditunjuk menjadi imam shalat di masjid itu. Padahal masjid tersebut dibangun di atas niat yang rusak.
Ketika akhirnya Allah memerintahkan agar Masjid Dhirar dihancurkan – yang penjelasannya ada dalam kisah-kisah setelah Perang Tabuk – bangunannya pun dirobohkan.
Beberapa waktu kemudian, pada masa kekhalifahan Umar bin al-Khaththab, penduduk Quba datang kepada Umar dan meminta agar Mujammi‘ diangkat menjadi imam di masjid Quba.
Umar pada awalnya menolak dan berkata:
“Tidak, demi Allah. Bukankah dia dulu imam bagi kaum munafik di Masjid Dhirar?”
Mujammi‘ membela diri dengan berkata: “Demi Allah, aku tidak mengetahui sedikit pun tentang urusan mereka (niat jelek mereka).”
Diriwayatkan bahwa akhirnya Umar menerima penjelasannya dan mengizinkannya mengimami penduduk Quba, karena kesalahannya bukan karena niat buruk, melainkan ketidaktahuan.
Wadi‘ah bin Tsabit, salah seorang yang ikut membangun masjid itu, pernah berkelit ketika ditegur:
“Kami hanya bercanda dan bermain-main saja.”
Ucapan seperti ini kemudian dikoreksi oleh ayat al-Qur’an yang menegur dengan keras orang-orang yang menjadikan agama sebagai bahan olok-olok.
Adapun Khidham bin Khalid, dari rumahnyalah sebagian lahan diambil untuk dijadikan tempat Masjid Dhirar itu dibangun.
Ibnu Hisyam kemudian menambahkan dua nama lagi dari Bani an-Nabit (sebagian Aus), yaitu Bishr dan Rafi‘ bin Zaid, yang juga masuk dalam barisan orang-orang munafik.
________________________________________
Perbedaan Penilaian tentang Sebagian Tokoh
Di tengah daftar yang panjang ini, Ibnu Ishaq memasukkan nama Sa‘labah bin Hatib, al-Harits bin Hatib, dan Mu‘attib bin Qusyair sebagai bagian dari kelompok munafik dan di antara mereka yang ikut membangun Masjid Dhirar.
Namun Ibnu Hisyam – seorang ahli sirah yang menyeleksi dan men-tahqiq riwayat-riwayat Ibnu Ishaq – menyampaikan bahwa menurut ulama yang ia percaya, Sa‘labah dan al-Harits bin Hatib adalah sahabat peserta Perang Badar dari Bani Umayyah bin Zaid, dan bukan termasuk golongan munafik.
Karena itu, ia mengkritisi penyebutan mereka sebagai munafik, dan mengingatkan bahwa Ibnu Ishaq sendiri mencatat nama keduanya sebagai peserta Badar.
Hal ini menunjukkan bahwa para ulama sirah pun berdiskusi dan melakukan koreksi satu sama lain dalam masalah penilaian individu.
________________________________________
Mu‘attib bin Qusyair: Ucapan Pahit di Uhud dan Ahzab
Nama Mu‘attib bin Qusyair sering disebut berkaitan dengan beberapa ayat. Ia termasuk orang yang pernah bernazar: “Jika Allah memberi kami karunia-Nya, kami pasti akan bersedekah,” namun ketika benar-benar diberi kelapangan, ia dan kawannya tidak menunaikan janji itu. Lalu turun ayat-ayat tentang orang yang ingkar nazar setelah diberi rezeki.
Pada hari Perang Uhud, ketika kaum muslimin mengalami ujian berat dan banyak yang gugur, Mu‘attib berkomentar sinis:
“Kalau kita punya andil sedikit pun dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan terbunuh di sini.”
Ucapan seperti ini direkam oleh al-Qur’an (Ali ‘Imran: 154), sebagai gambaran orang-orang yang menyalahkan takdir dan meragukan keputusan Allah.
Pada hari Perang Ahzab, ketika Madinah dikepung sekutu musyrikin, Yahudi, dan munafik, dan kaum muslimin harus menggali parit untuk bertahan, Mu‘attib kembali mencela:
“Seakan-akan Muhammad menjanjikan kepada kita bahwa kita akan memakan harta simpanan Kisra dan Kaisar (Raja Persia dan Romawi), padahal salah seorang di antara kita tidak merasa aman untuk sekadar pergi ke tempat buang hajat.”
Ucapan ini menggambarkan betapa ia meremehkan janji Allah dan Rasul-Nya. Maka Allah menurunkan firman-Nya:
وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا
(Al-Ahzab: 12)
“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami selain tipu daya’.”
________________________________________
Mirba‘ bin Qayzhi: Buta Mata dan Buta Hati
Salah seorang munafik dari Aus adalah Mirba‘ bin Qayzhi. Ia seorang yang buta secara fisik. Namun kebutaannya yang lebih besar adalah kebutaan hati.
Suatu hari, ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم berjalan menuju medan Uhud bersama para sahabat, beliau melewati kebun milik Mirba‘.
Mirba‘ berteriak dari dalam kebunnya:
“Aku tidak menghalalkan untukmu – kalau engkau benar-benar Nabi – untuk melewati kebunku!”
Ia bahkan menggenggam segenggam tanah, lalu berkata dengan lancang:
“Demi Allah, kalau aku tahu bahwa aku tidak akan mengenai selain dirimu, pasti aku lemparkan tanah ini kepadamu!”
Para sahabat marah mendengar ucapan itu dan bergegas hendak membunuhnya. Namun Rasulullah صلى الله عليه وسلم menahan mereka dan bersabda:
“Biarkan dia. Orang buta ini buta mata dan buta hati.”
Meski demikian, Sa‘d bin Zaid al-Asyhali sempat memukulnya dengan busur hingga melukai kepalanya.
Saudara Mirba‘, Aws bin Qayzhi, juga seorang munafik. Pada saat Perang Ahzab, ia berkata dengan takut:
“Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak terlindungi).”
Ia menjadikan rumah dan keluarga sebagai alasan untuk mundur dari medan jihad. Allah menolak alasan palsu itu dan berfirman:
وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْ يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا
(Al-Ahzab: 13)
“Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata, ‘Hai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu (di sini), maka kembalilah kamu.’ Dan segolongan dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk tidak ikut berperang) dengan berkata, ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).’ Padahal rumah-rumah itu tidak terbuka; mereka hanya hendak lari (dari medan perang).”
________________________________________
Hatib bin Umayyah dan Putranya yang Syahid
Di antara orang tua dari Aus yang dikenal condong kepada kemunafikan adalah Hatib bin Umayyah bin Rafi‘. Ia seorang lelaki tua bertubuh besar, yang masa mudanya banyak dihabiskan dalam kehidupan Jahiliyah. Namun Allah memberinya seorang putra yang shalih, Yazid bin Hatib, termasuk di antara sebaik-baik kaum muslimin.
Pada hari Uhud, Yazid berperang hingga ia terluka parah. Luka-lukanya begitu banyak sehingga ia hampir tidak sadarkan diri. Ia dibawa ke rumah Bani Zhafar di Madinah.
‘Ashim bin Umar bin Qatadah menceritakan bahwa orang-orang lelaki dan perempuan dari kaum muslimin yang berada di rumah itu berkumpul di sekeliling Yazid. Mereka melihatnya sekarat dan berkata dengan lembut:
“Bergembiralah dengan surga, wahai putra Hatib.”
Di saat-saat seperti itu, justru tampaklah kemunafikan sang ayah. Hatib marah dan berkata:
“Ya, surga dari pohon harmal! Kalian, demi Allah, telah menipu orang miskin ini tentang dirinya sendiri.”
Ucapan itu menunjukkan betapa hatinya tidak yakin pada janji Allah untuk para syuhada, sekaligus mengolok-olok keyakinan kaum mukminin.
________________________________________
Basyir bin Ubayriq: Pencuri Baju Besi
Dari kalangan Aus juga ada Basyir bin Ubayriq, dikenal juga sebagai Abu Tu‘mah. Ia mencuri dua baju besi dari seorang muslim, lalu berusaha melemparkan tuduhan kepada seorang Yahudi yang tidak bersalah.
Sebagian orang hampir membelanya di hadapan Rasulullah صلى الله عليه وسلم, karena ia orang “Islam” dari kalangan Anshar, sementara tuduhan diarahkan ke seorang Yahudi.
Namun Allah menurunkan ayat yang melarang keras pembelaan buta terhadap pengkhianat, meski ia satu golongan:
وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا
(An-Nisa’: 107)
“Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.”
Dengan ayat ini, Allah membela yang benar, walaupun dia seorang Yahudi, dan mencela seorang muslim munafik yang berkhianat.
________________________________________
Quzman: Berperang Gagah, Masuk Neraka
Ada pula seorang sekutu Bani Zhafar bernama Quzman. Di medan Perang Uhud, ia bertempur dengan sangat gagah berani. Diriwayatkan bahwa ia berhasil membunuh tujuh orang musyrik.
Melihat keberaniannya, sebagian sahabat menyangka ia pasti termasuk ahli surga. Namun luka-luka yang ia derita sangat menyakitkan. Dalam keadaan putus asa, ia mengambil pedangnya sendiri, meletakkannya di antara dua paha, dan menekan tubuhnya hingga pedang itu menembus dirinya. Ia bunuh diri.
Sebelum mati, ia berkata:
“Demi Allah, aku tidak berperang kecuali karena fanatisme (hamiyyah) kepada kaumku.”
Ia tidak berperang karena iman, bukan karena Allah, bukan untuk membela kebenaran. Karena itu, meski tampak gagah di medan perang, ia mati dalam keadaan terlaknat.
________________________________________
Suku yang Hampir Bersih: Bani ‘Abd al-Asyhal
Menariknya, Ibnu Ishaq menyebut bahwa di antara berbagai kabilah Aus, Bani ‘Abd al-Asyhal nyaris bersih dari kemunafikan.
Ia berkata: “Tidak diketahui adanya seorang munafik laki-laki maupun perempuan di Bani ‘Abd al-Asyhal, kecuali bahwa adh-Dhahhak bin Tsabit dituduh sebagai munafik dan dituduh mencintai Yahudi.”
Selain pengecualian itu, suku ini dikenal kuat dalam iman dan loyalitas kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
Semua nama yang disebutkan sejauh ini – Julas, al-Harits, Nabtal, mereka yang membangun Masjid Dhirar, Mirba‘, Aws, Hatib, Basyir, Quzman, dan lainnya – masuk dalam kelompok Aus.
________________________________________
Munafik dari Khazraj: Al-Jadd bin Qais dan “Jangan Fitnah Aku”
Dari suku Khazraj, Ibnu Ishaq menyebut sejumlah nama: Rafi‘ bin Wadi‘ah, Zaid bin ‘Amr, ‘Amr bin Qais, Qais bin ‘Amr bin Sahl, dan yang paling terkenal di antara mereka, al-Jadd bin Qais.
Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengajak kaum muslimin untuk berangkat berperang, al-Jadd beralasan:
“Berilah aku izin (untuk tidak ikut) dan janganlah engkau menjadikan aku terjerumus dalam fitnah.”
Ia berpura-pura takut terfitnah oleh wanita-wanita Romawi bila ikut perang, seakan-akan enggan keluar justru demi menjaga diri. Padahal hakikatnya ia lari dari jihad dan lebih mencintai dunia.
Allah membongkar niatnya dalam ayat:
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ
(At-Taubah: 49)
“Dan di antara mereka ada orang yang berkata, ‘Berilah aku izin (tidak pergi berperang) dan janganlah engkau menjadikan aku terjerumus dalam fitnah.’ Ketahuilah, sesungguhnya mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam benar-benar meliputi orang-orang kafir.”
________________________________________
Abdullah bin Ubayy bin Salul: Kepala Kaum Munafik
Tokoh paling terkenal dari Khazraj – bahkan kepala seluruh kaum munafik di Madinah – adalah Abdullah bin Ubayy bin Salul.
Sebelum datangnya Islam, penduduk Yatsrib (Madinah) dari Aus dan Khazraj hampir sepakat untuk mengangkatnya sebagai raja. Panji-panji telah disiapkan, dan ia tinggal menunggu saat dimahkotai sebagai pemimpin.
Namun sebelum rencana itu terlaksana, Allah mengutus Rasul-Nya, Muhammad صلى الله عليه وسلم. Penduduk Yatsrib masuk Islam dan memberi baiat kepada beliau. Aura kepemimpinan beralih kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dan Abdullah bin Ubayy kehilangan kesempatan menjadi raja.
Sejak itu, ia menyimpan kedengkian mendalam. Dalam batinnya ia memusuhi Islam, meski lisannya mengucapkan syahadat.
Suatu ketika, dalam sebuah perjalanan, ia berkata dengan sombong kepada pengikut-pengikutnya:
“Jika kita kembali ke Madinah, pasti orang yang kuat akan mengusir orang yang lemah dari sana.”
Yang ia maksud dengan “yang kuat” adalah dirinya beserta kelompoknya, dan “yang lemah” adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan kaum Muhajirin.
Allah menurunkan firman-Nya membantah ucapannya:
يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
(Al-Munafiqun: 8)
“Mereka berkata, ‘Sesungguhnya jika kami kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang yang lemah dari sana.’ Padahal kekuatan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.”
Tentang Abdullah bin Ubayy, turun banyak sekali ayat yang membongkar kemunafikannya, termasuk sikapnya dalam Perang Uhud, peristiwa Ifk (fitnah terhadap ‘Aisyah), dan kemesraannya dengan musuh-musuh Islam.
Bersama dia, ada beberapa orang dari kabilahnya dan sekitarnya – seperti Wadi‘ah (seorang laki-laki dari Bani ‘Auf), Malik bin Abi Qawqal, Suwaid, dan Da‘is – yang juga condong kepada kemunafikan dan berada satu kelompok dengannya.
Mereka pernah diam-diam memihak Bani an-Nadhir, salah satu kabilah Yahudi yang berkhianat kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Mereka berjanji akan mendukung Bani an-Nadhir bila diusir atau diperangi.
Namun Allah membongkar kepalsuan janji mereka:
لَئِنْ أُخْرِجُوا لَا يَخْرُجُونَ مَعَهُمْ وَلَئِنْ قُوتِلُوا لَا يَنْصُرُونَهُمْ وَلَئِنْ نَصَرُوهُمْ لَيُوَلُّنَّ الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يُنْصَرُونَ
(Al-Hasyr: 12)
“Sungguh, jika mereka (Bani Nadhir) diusir, niscaya mereka (orang-orang munafik) tidak akan keluar bersama mereka; dan jika mereka diperangi, niscaya mereka tidak akan menolong mereka; dan jika mereka (sekali-kali) menolong, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang; kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan.”
Demikianlah, janji-janji para munafik kepada sekutu Yahudi mereka hanyalah janji kosong. Ketika Bani an-Nadhir benar-benar diusir, tak satu pun dari mereka berani menepati janji dan keluar bersama mereka.
________________________________________
Penutup: Iman Sejati vs. Kemunafikan Tersembunyi
Kisah-kisah ini menggambarkan bagaimana di tengah masyarakat Madinah yang telah disinari iman, masih ada orang-orang yang condong kepada Yahudi dan musuh-musuh Islam. Mereka memecah belah barisan dari dalam, menyebarkan keraguan, menertawakan janji Allah, dan lebih percaya kepada perhitungan duniawi daripada wahyu.
Namun pada saat yang sama, al-Qur’an turun satu demi satu, membongkar isi hati mereka, menegakkan keadilan, dan membedakan dengan jelas antara orang yang beriman dengan tulus dan orang yang sekadar berpura-pura.
Dari cerita Julas yang akhirnya bertaubat, al-Harits yang berkhianat, Nabtal yang menjadi corong para munafik, para pendiri Masjid Dhirar, Mirba‘ yang buta hati, Hatib yang mengejek surga putranya sendiri, Basyir yang mencuri lalu menuduh orang lain, Quzman yang berperang tanpa iman hingga bunuh diri, sampai kepada Abdullah bin Ubayy sang kepala munafik – semuanya menjadi cermin tentang bahaya penyakit nifak di dalam dada.
Kisah-kisah ini bukan sekadar sejarah. Ia adalah pelajaran agar kita menjaga keikhlasan, tidak bermain-main dengan agama, tidak condong kepada musuh-musuh Allah, dan selalu mengukur diri dengan cahaya al-Qur’an, bukan dengan kehendak hawa nafsu.
________________________________________
Sumber kisah:
Ibnu Katsir , al-Bidāyah wa an-Nihāyah

Komentar
Posting Komentar