Kedatangan Rasulullah ﷺ di Madinah

Ilustrasi kedatangan Nabi Muhammad ke Madinah, unta berhenti di depan rumah Abu Ayyub, kaum Anshar dan anak-anak Bani An-Najjar menyambut gembira di antara rumah-rumah batu dan pohon kurma.

Harapan Penduduk Madinah

Sejak tersebar kabar bahwa Rasulullah ﷺ telah keluar dari Makkah dan sedang menuju Madinah, penduduk Yatsrib (Madinah) hidup dalam penantian yang penuh harap.

Setiap pagi, setelah shalat Subuh, mereka keluar menuju padang terbuka di luar perkampungan berbatu hitam (harrah). Mereka duduk memandang ke arah jalan datangnya rombongan hijrah.

Mereka tetap menunggu hingga matahari meninggi dan bayang-bayang menghilang karena panas yang terik. Saat itu mereka terpaksa kembali ke rumah masing-masing untuk berteduh. Penantian ini berlangsung berhari-hari di musim yang sangat panas.

Pada hari yang Allah takdirkan sebagai hari kedatangan Rasulullah ﷺ, mereka kembali duduk menunggu seperti biasa. Saat matahari sudah tinggi dan bayang pun lenyap, mereka masuk ke rumah-rumah mereka.

Tak lama setelah itu, seorang lelaki Yahudi yang sedang melihat dari tempat tinggi tiba-tiba melihat rombongan yang dinantikan. Ia pun berteriak dengan suara paling keras:

“Wahai Bani Qailah! Inilah pemimpin kalian (kakek kalian) telah datang!”

Penduduk Anshar segera berhamburan keluar. Mereka mendapati Rasulullah ﷺ sedang berteduh di bawah naungan sebatang pohon kurma, bersama sahabatnya Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Banyak dari mereka belum pernah melihat Rasulullah ﷺ sebelumnya. Mereka mengerumuni dua orang itu dan belum tahu mana Nabi, mana Abu Bakar.

Matahari bergeser, dan naungan pun beralih. Saat itu Abu Bakar bangkit dan menaungi Rasulullah ﷺ dengan selendangnya. Dari situlah orang-orang mengenali beliau: itulah Rasulullah ﷺ.

Anak-anak yang Berlarian dan Sorak “Muhammad Telah Datang!”

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang waktu itu masih kecil, bercerita bahwa anak-anak di Madinah sering berlarian sambil berteriak, “Muhammad telah datang! Muhammad telah datang!”

Anas berlari setiap kali mendengar seruan itu, tetapi berkali-kali ia tidak menemukan apa-apa; hanya kabar yang belum nyata. Hingga akhirnya Rasulullah ﷺ benar-benar datang bersama Abu Bakar.

Ketika itu, sebagian kaum Muslimin bersembunyi di antara batu-batuan harrah untuk menyambut secara hati-hati, lalu diutuslah seorang lelaki dari pedalaman untuk memberi tahu kaum Anshar.

Tidak lama kemudian, sekitar lima ratus orang Anshar datang menyambut. Mereka berkata:

“Berangkatlah bersama kami, kalian berdua, dalam keadaan aman dan ditaati.”

Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar pun berjalan di tengah-tengah mereka. Penduduk Madinah keluar semuanya. Para gadis remaja sampai naik ke atap-atap rumah untuk melihat beliau sambil bertanya:

“Yang mana beliau? Yang mana beliau?”

Anas berkata:

“Kami belum pernah melihat pemandangan yang serupa dengan hari itu.

Aku melihat beliau pada hari ketika beliau datang kepada kami, dan pada hari ketika beliau wafat.

Aku tidak pernah melihat dua hari yang serupa dengan keduanya.”

Nyanyian Sambutan: Talā‘a al-Badru ‘Alaynā

Di tengah suasana penuh kegembiraan itu, para wanita dan anak-anak Madinah menyambut Rasulullah ﷺ dengan lantunan nasyid yang sangat masyhur. Mereka melantunkan:

طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا

مِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعْ

وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا

مَا دَعَا لِلَّهِ دَاعْ

“Telah terbit bulan purnama atas kami

Dari celah-celah bukit al-Wada‘

Wajib atas kami untuk bersyukur

Selama masih ada yang berdoa kepada Allah.”

Nyanyian ini menjadi simbol cinta, harap, dan penghormatan penduduk Madinah kepada Rasulullah ﷺ.

Singgah di Quba dan Pendirian Masjid Pertama

Sebelum memasuki jantung kota Madinah, Rasulullah ﷺ terlebih dahulu singgah di Quba, sebuah perkampungan Bani ‘Amr bin ‘Auf di pinggiran Madinah.

Beliau tinggal di tengah-tengah mereka sekitar beberapa belas malam (ada riwayat yang menyebut 14, 18, bahkan 22 malam). Di masa singkat itulah beliau meletakkan dasar Masjid Quba, masjid pertama yang beliau dirikan, yang dipuji Allah dalam al-Qur’an sebagai masjid yang dibangun atas dasar takwa.

Selama di Quba, Rasulullah ﷺ bertamu dan menginap di rumah kaum Muslimin setempat. Sebagian riwayat menyebut beliau tinggal di rumah Kulthum bin al-Hidm, sebagian lagi menyebut di rumah Sa‘d bin Khaitsamah. Rumah Sa‘d dikenal sebagai “rumah para bujangan”, tempat berkumpulnya para Muhajirin yang belum berkeluarga.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sempat tertinggal di Makkah selama tiga hari untuk menunaikan amanah-amanah titipan orang-orang yang berada di tangan Rasulullah ﷺ. Setelah itu ia menyusul dan tiba di Quba, tinggal satu-dua malam, lalu bersama Rasulullah ﷺ masuk ke Madinah.

Hijrah, Perlindungan Allah, dan Masuk Resmi ke Madinah

Di perjalanan hijrah, berbagai peristiwa terjadi, di antaranya upaya sebagian orang mengejar dan menghalangi beliau. Salah satu kisahnya: seorang penunggang kuda menyusul dengan niat buruk.

Abu Bakar melihatnya dan berkata: “Wahai Nabi Allah, ada penunggang kuda menyusul kita.” Rasulullah ﷺ menoleh dan berdoa:

“Ya Allah, jatuhkanlah dia!”

Sekonyong-konyong kuda itu tersungkur dan menjatuhkan penunggangnya. Ia bangkit, lalu berkata dengan gentar:

“Wahai Nabi Allah, perintahkanlah aku apa saja yang engkau kehendaki.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tetaplah di tempatmu dan jangan biarkan seorang pun menyusul kami.”

Di awal hari, ia adalah musuh yang berusaha menghalangi. Di akhir hari, ia menjadi penjaga perjalanan Nabi ﷺ.

Setibanya di pinggiran Madinah, Rasulullah ﷺ singgah di dekat tanah harrah, kemudian mengirim utusan kepada kaum Anshar. Mereka datang menyambut dan berkata:

“Naiklah bersama kami dalam keadaan aman dan tenteram.”

Mereka mengiringi Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar sambil membawa senjata sebagai bentuk penjagaan. Di Madinah pun tersebar kabar: “Nabi Allah telah datang!”

Orang-orang keluar, ingin melihat wajah Rasulullah ﷺ. Beliau terus berjalan hingga berhenti di dekat rumah Abu Ayyub al-Anshari.

Pertemuan dengan ‘Abdullah bin Salam

Di hari-hari awal kedatangan Rasulullah ﷺ, seorang tokoh besar Yahudi, ‘Abdullah bin Salam – seorang ahli kitab yang jujur – sedang memetik kurma di kebun milik keluarganya.

Ia mendengar kabar bahwa Rasulullah ﷺ telah tiba. Ia segera menurunkan apa yang sedang ia petik dan bergegas mendatangi beliau.

Setelah mendengar langsung ucapan dan dakwah Rasulullah ﷺ, ia berkata:

“Aku bersaksi bahwa engkau benar-benar Rasul Allah dan bahwa engkau datang membawa kebenaran.

Kaum Yahudi itu tahu bahwa aku adalah pemimpin mereka dan putra pemimpin mereka, orang yang paling berilmu di antara mereka dan putra orang yang paling berilmu di antara mereka.

Panggillah mereka dan tanyakan tentang aku.”

Rasulullah ﷺ kemudian mengundang sejumlah tokoh Yahudi dan menasihati mereka:

“Wahai kaum Yahudi, bertakwalah kepada Allah.

Demi Allah yang tiada sesembahan selain Dia, kalian benar-benar tahu bahwa aku adalah Rasul Allah yang hak dan bahwa aku datang membawa kebenaran.

Masuk Islamlah!”

Namun mereka mengingkari pengetahuan mereka. Setelah itu, ketika ‘Abdullah bin Salam muncul dan menyatakan keislamannya di hadapan mereka, kebencian pun tampak dan mereka mulai merendahkannya.

Shalat Jumat Pertama di Madinah

Ketika Rasulullah ﷺ keluar dari Quba menuju jantung kota Madinah, hari Jumat pun tiba. Di tengah perjalanan, di perkampungan Bani Salim bin ‘Auf, di lembah Ranuna’, beliau berhenti dan melaksanakan shalat Jumat di sebuah tempat yang kemudian didirikan masjid di atasnya. Itulah shalat Jumat pertama yang beliau dirikan di Madinah.

Seusai shalat, beberapa kabilah Anshar bergantian memohon agar Rasulullah ﷺ tinggal di perkampungan mereka. Mereka berkata:

“Wahai Rasulullah, tinggalah bersama kami. Kami memiliki jumlah (orang), perlengkapan, dan kekuatan.”

Namun Rasulullah ﷺ selalu menjawab, sambil menunjuk kepada unta beliau:

“Biarkanlah ia, karena ia diperintah.”

Unta yang Diperintah dan Terpilihnya Bani an-Najjar

Unta Rasulullah ﷺ terus berjalan melewati perkampungan demi perkampungan.

Ia melewati rumah-rumah Bani Salim, Bani Bayadhah, Bani Sa‘idah, Bani al-Harits bin al-Khazraj. Para tokoh mereka keluar dan berkata:

“Wahai Rasulullah, datanglah kepada kami, kepada jumlah, perlengkapan, dan kekuatan (yang kami miliki).”

Namun jawabannya tetap sama:

“Biarkanlah ia, karena ia diperintah.”

Ketika unta itu memasuki wilayah Bani ‘Adiy bin an-Najjar – keluarga yang masih kerabat Rasulullah ﷺ dari jalur ibu Abdul Muththalib – mereka berkata:

“Wahai Rasulullah, datanglah kepada paman-pamanmu, kepada jumlah, perlengkapan, dan kekuatan kami.”

Beliau tetap bersabda:

“Biarkanlah ia, karena ia diperintah.”

Akhirnya, ketika unta itu sampai di kawasan Bani Malik bin an-Najjar, ia berhenti di sebuah tempat yang saat itu hanyalah lahan pengeringan kurma (murbad) milik dua anak yatim: Sahl dan Suhail, putra ‘Amr, yang berada dalam asuhan seorang lelaki Anshar.

Unta itu duduk di sana, lalu bangkit lagi berjalan tidak jauh, kemudian kembali dan duduk di tempat yang sama. Ia menggeser tubuhnya, mendengus, lalu meletakkan lehernya tenang di tanah.

Rasulullah ﷺ pun turun. Orang-orang pun paham: inilah tempat yang Allah pilih sebagai lokasi masjid dan rumah Rasulullah ﷺ.

Dari Lahan Kering menjadi Masjid Nabawi

Rasulullah ﷺ bertanya:

“Lahan untuk menjemur kurma ini milik siapa?”

Dijawab bahwa itu milik dua anak yatim tadi. Beliau meminta agar lahan itu dibeli dengan harga yang layak, bukan diambil paksa. Setelah ada persetujuan, beliau memerintahkan agar lahan itu dibersihkan, kuburan lama dan tumpukan sisa bangunan disingkirkan, lalu dibangun masjid di atasnya.

Di hari-hari awal, sebelum bangunan selesai, di dekat area itu sudah ada sebuah saung sederhana (semacam arish) yang biasa digunakan orang untuk berteduh dan mendinginkan badan. Rasulullah ﷺ sempat bernaung di sana sebelum menetap di rumah seorang sahabat yang sangat mulia: Abu Ayyub al-Anshari.

Singgah di Rumah Abu Ayyub al-Anshari

Ketika Rasulullah ﷺ turun dari untanya, Abu Ayyub – yang rumahnya paling dekat dengan lokasi itu – segera mengangkat barang bawaan beliau dan membawanya ke rumahnya. Rasulullah ﷺ pun menerima dan tinggal di rumah Abu Ayyub selama masa pembangunan masjid dan rumah-rumah di sekitarnya; sekitar tujuh bulan lamanya.

Pada awalnya, Rasulullah ﷺ memilih tinggal di lantai bawah, sedangkan Abu Ayyub dan istrinya berada di lantai atas.

Abu Ayyub berkata kepada beliau:

“Wahai Rasulullah, aku merasa tidak enak dan mengagungkanmu bila aku berada di atasmu dan engkau di bawahku. Pindahlah engkau ke lantai atas, dan kami yang akan tinggal di bawah.”

Namun Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wahai Abu Ayyub, lantai bawah lebih memudahkan kami dan bagi orang-orang yang datang menemui kami.”

Malam pertama, Abu Ayyub gelisah. Ia merasa seolah berjalan di atas kepala Rasulullah ﷺ. Hingga suatu malam, bejana air di lantai atas pecah dan airnya tumpah.

Abu Ayyub dan istrinya sangat cemas bila setetes air pun menetes ke bawah dan menyentuh Rasulullah ﷺ. Mereka segera mengambil satu-satunya selimut mereka dan mengelap seluruh air yang tumpah dengan hati-hati agar tidak merembes ke lantai bawah.

Keesokan harinya, Abu Ayyub kembali memohon:

“Wahai Rasulullah, kami tidak rela berada di atas sementara engkau di bawah. Demi Allah, aku tidak akan berada di atas atap yang di bawahnya engkau berada.”

Akhirnya Rasulullah ﷺ menerima, dan beliau pindah ke lantai atas, sementara Abu Ayyub tinggal di lantai bawah.

Keberkahan Sisa Makanan Rasulullah ﷺ

Abu Ayyub dan istrinya biasa memasakkan makan malam untuk Rasulullah ﷺ. Mereka mengirimkan makanan itu kepada beliau, lalu menanti sisa yang dikembalikan.

Setiap kali makanan sisa kembali, Abu Ayyub dan istrinya mencari bagian bekas sentuhan tangan Rasulullah ﷺ. Mereka makan dari bagian itu khusus, mengharap keberkahan.

Suatu malam, mereka memasak makanan yang di dalamnya terdapat bawang atau bawang putih. Ketika makanan itu kembali, mereka tidak menemukan bekas tangan Rasulullah ﷺ di dalamnya.

Abu Ayyub sangat cemas. Ia naik menemui beliau dan bertanya:

“Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, engkau mengembalikan makan malam ini dan aku tidak melihat bekas tanganmu di dalamnya?”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya aku mendapati di dalamnya bau tanaman ini (bawang atau bawang putih).

Aku adalah seorang yang bermunajat (dengan malaikat).

Adapun kalian, makanlah.”

Dalam riwayat lain, ketika Abu Ayyub bertanya, “Apakah bawang putih itu haram?” Rasulullah ﷺ menjawab:

“Tidak. Tetapi aku tidak menyukainya.”

Abu Ayyub berkata:

“Kalau begitu, aku pun membenci apa yang engkau benci.”

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa malaikat datang kepada beliau, dan beliau menjaga diri dari bau yang tidak layak di hadapan malaikat.

Sambutan Anak-Anak Bani an-Najjar

Ketika unta Rasulullah ﷺ berhenti di depan rumah Abu Ayyub, para gadis kecil dari Bani an-Najjar keluar sambil menabuh rebana dan bersyair:

نَحْنُ جَوَارٍ مِنْ بَنِي النَّجَّارِ

يَا حَبَّذَا مُحَمَّدٌ مِنْ جَارِ

“Kami para gadis dari Bani an-Najjar

Alangkah baiknya Muhammad sebagai tetangga.”

Rasulullah ﷺ keluar menemui mereka dan bertanya:

“Apakah kalian mencintaiku?”

Mereka menjawab:

“Ya, demi Allah, wahai Rasulullah.”

Beliau pun bersabda:

“Demi Allah, aku pun mencintai kalian. Demi Allah, aku mencintai kalian. Demi Allah, aku mencintai kalian.”

Dalam riwayat lain, ketika beliau melewati para gadis Bani an-Najjar yang bernyanyi dengan bait yang sama, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah mengetahui bahwa hatiku mencintai kalian.”

Kegembiraan, cinta, dan kedekatan inilah yang menjadi ciri hubungan Rasulullah ﷺ dengan kaum Anshar dan keluarga Bani an-Najjar secara khusus.

Pembangunan Masjid Nabawi

Setelah lahan murbad milik dua anak yatim itu dibeli dengan sah, Rasulullah ﷺ memerintahkan agar di atasnya dibangun masjid.

Beliau sendiri turut bekerja bersama kaum Muslimin, mengangkat batu dan tanah, bersama para Muhajirin dan Anshar. Masjid itu dibangun sederhana: dinding dari batu dan tanah, atap dari pelepah kurma. Namun dari sinilah cahaya Islam memancar ke seluruh penjuru dunia.

Di sekitar masjid, Rasulullah ﷺ juga membangun rumah-rumah kecil untuk beliau dan keluarga. Selama pembangunan inilah beliau tinggal di rumah Abu Ayyub.

Keluarga Nabi Menyusul ke Madinah

Ketika beliau masih tinggal di rumah Abu Ayyub, Rasulullah ﷺ mengutus maulanya, Zaid bin Haritsah, bersama Abu Rafi‘, membawa dua ekor unta dan lima ratus dirham.

Misi mereka: menjemput keluarga Rasulullah ﷺ di Makkah, yaitu:

Putri-putri beliau: Fathimah dan Ummu Kultsum.

Istri beliau: Saudah binti Zam‘ah.

Usamah bin Zaid.

Adapun Ruqayyah telah lebih dahulu hijrah bersama suaminya ‘Utsman bin ‘Affan, sedangkan Zainab masih di Makkah bersama suaminya Abu al-‘Ash bin ar-Rabi‘.

Bersama rombongan ini juga datang Ummu Ayman, pengasuh Nabi ﷺ, serta ‘Abdullah bin Abi Bakar yang membawa keluarga Abu Bakar, termasuk ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Saat itu Rasulullah ﷺ belum berkumpul (belum melakukan pindah resmi) ke rumah tangga bersama ‘Aisyah.

Keutamaan Bani an-Najjar dan Rumah-Rumah Anshar

Dengan dipilihnya lahan Bani Malik bin an-Najjar sebagai lokasi Masjid Nabawi dan rumah Rasulullah ﷺ, Allah memuliakan Bani an-Najjar dengan kemuliaan yang besar.

Rasulullah ﷺ bersabda tentang perkampungan Anshar:

“Perkampungan terbaik dari kalangan Anshar adalah Bani an-Najjar, kemudian Bani ‘Abdil Asyhal, kemudian Bani al-Harits bin al-Khazraj, kemudian Bani Sa‘idah.

Dan pada setiap perkampungan Anshar terdapat kebaikan.”

Ketika Sa‘d bin ‘Ubadah merasa seolah sukunya ditempatkan terakhir, dikatakan kepadanya:

“Bukankah cukuplah bahwa kalian termasuk golongan yang terbaik?”

Semua kabilah Anshar memiliki keutamaan di sisi Allah, tetapi Bani an-Najjar memiliki kehormatan khusus karena menjadi tempat tinggal, masjid, dan tetangga Rasulullah ﷺ.

Keutamaan Kaum Anshar dalam al-Qur’an

Allah Ta‘ala memuji para Muhajirin dan Anshar dalam banyak ayat. Di antaranya:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ

وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ

خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

(QS. At-Taubah [9]: 100)

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik; Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.

Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”

Tentang kaum Anshar secara khusus, Allah berfirman:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ

يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ

وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

(QS. Al-Hasyr [59]: 9)

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka, dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada (Muhajirin).

Mereka mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.

Barang siapa dijaga dari sifat kikir dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ayat ini menggambarkan betapa mulianya akhlak kaum Anshar: mereka mencintai para pendatang yang berhijrah, rela berbagi apa yang mereka miliki, bahkan lebih mengutamakan tamu daripada diri dan keluarga sendiri.

Keutamaan Kaum Anshar dalam Sunnah

Rasulullah ﷺ sangat mencintai kaum Anshar. Beliau bersabda:

“Seandainya bukan karena hijrah, niscaya aku menjadi salah seorang dari kalangan Anshar.

Seandainya manusia menempuh sebuah lembah dan celah gunung, dan Anshar menempuh lembah dan celah gunung yang lain, niscaya aku akan menempuh lembah dan celah gunung kaum Anshar.

Anshar adalah selimut batinku, dan manusia yang lain adalah selimut luarku.”

Beliau juga bersabda:

“Anshar adalah lambung perutku dan wadah simpananku.

Aku berada dalam keadaan damai terhadap siapa yang berdamai dengan mereka, dan dalam keadaan perang terhadap siapa yang memerangi mereka.”

Dan dalam hadis lain:

“Tidak mencintai Anshar kecuali orang beriman,

dan tidak membenci mereka kecuali orang munafik.

Siapa yang mencintai mereka, Allah mencintainya.

Siapa yang membenci mereka, Allah membencinya.”

Beliau juga bersabda:

“Tanda (ayat) keimanan adalah mencintai Anshar,

dan tanda kemunafikan adalah membenci Anshar.”

Cinta kepada kaum Anshar berarti cinta kepada orang-orang yang menolong agama Allah dan Rasul-Nya.

Syair Abu Qays tentang Hijrah dan Kaum Anshar

Seorang penyair Anshar bernama Abu Qays Shirmat bin Abi Anas mengekspresikan kebanggaan dan rasa syukurnya atas nikmat Islam dan kedatangan Rasulullah ﷺ ke Madinah dengan untaian syair yang indah.

Di antara makna syairnya:

Ia menggambarkan bagaimana Rasulullah ﷺ tinggal di tengah Quraisy belasan tahun, berdakwah dari musim haji ke musim haji, menawarkan diri kepada kabilah-kabilah yang datang, namun belum juga menemukan penolong yang melindungi dan membelanya.

Ketika beliau datang ke Madinah, Allah menampakkan agama-Nya. Rasulullah ﷺ pun merasa bahagia dan ridha tinggal di Thaibah (Madinah). Beliau menemukan sahabat-sahabat yang setia, dan kerinduan panjang pun terobati.

Kaum Anshar memberikan harta dan jiwa mereka, memusuhi siapa saja yang memusuhi Rasulullah ﷺ, sekalipun musuh itu adalah kerabat terdekat.

Mereka yakin bahwa tiada sesembahan selain Allah dan bahwa Kitab-Nya adalah petunjuk yang hak.

Sang penyair berdoa dalam shalat, agar Allah tidak menjadikan musuh berkuasa atas mereka, dan ketika melewati daerah yang menakutkan, ia berdoa: “Maha Diberkahi Engkau, wahai Allah, Engkaulah pelindung kami.”

Ia menutup dengan pengakuan bahwa manusia tak akan selamat kecuali bila Allah melindunginya.

Syair ini sampai-sampai sering didatangi dan disimak ulang oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma; beliau duduk mendengarkan langsung dari Abu Qays, mengulang-ulang bait-baitnya, sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah dan jasa kaum Anshar.

Penutup

Demikianlah kisah kedatangan Rasulullah ﷺ ke Madinah:

penantian penuh harap, sambutan penuh cinta, unta yang diperintah Allah memilih tempat masjid dan rumah beliau, persinggahan yang penuh berkah di rumah Abu Ayyub, dan pengorbanan kaum Anshar yang mengabadikan nama mereka dalam al-Qur’an dan Sunnah.

Madinah – yang dahulu bernama Yatsrib – berubah menjadi al-Madīnah al-Munawwarah, kota yang diterangi cahaya wahyu, dengan pusatnya Masjid Nabawi yang dibangun di atas lahan dua anak yatim Bani an-Najjar.

Sumber kisah:

Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa an-Nihāyah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Bathutah #23 : Dari Basrah ke Tustar dan Īydzaj

Rihlah Ibnu Bathutah #24 :Idaj dan Isfahan, Sultan Atabik & Negeri Lur

Kisah Berhala yang Tak Berdaya