Baiat ‘Aqabah Kedua

 

Ilustrasi Sa’d bin Ubadah, sahabat Anshar, sedang diseret di pasir Mekkah dengan tangan terikat ke pelana hewan tunggangan, dikelilingi beberapa lelaki Quraisy berjubah Arab abad ke-7 yang memukul dan menarik rambutnya, dengan latar bangunan batu dan Ka’bah di kejauhan, suasana pagi yang tegang dan berdebu.

Awal Dakwah di Makkah

Selama sepuluh tahun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah di Makkah. Beliau mendatangi manusia di mana pun mereka berkumpul: di pasar-pasar ‘Ukaz dan Majannah, serta di musim-musim haji di Mina.

Beliau berjalan dari kemah ke kemah sambil berkata:
“Siapa yang mau melindungiku? Siapa yang mau menolongku, sehingga aku dapat menyampaikan risalah Rabbku? Baginya surga.”

Sementara itu para pembesar Quraisy berkeliling mengingatkan kabilah-kabilah Arab agar menjauhi beliau. Seorang laki-laki yang datang dari Yaman atau dari Mudhar diperingatkan kaumnya:

“Hati-hatilah terhadap pemuda Quraisy, jangan sampai dia menyesatkanmu.”

Orang-orang menunjuk beliau dengan jari, mengejek dan memperingatkan, namun Rasulullah tidak berhenti menyeru manusia kepada Allah.

Di tengah suasana yang keras ini, Allah menyiapkan penolong dari tempat yang jauh: dari Yatsrib, yang kelak dikenal sebagai Madinah.
________________________________________

Cahaya Islam di Yatsrib

Beberapa tahun sebelumnya, sebagian penduduk Yatsrib telah bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di musim haji dan masuk Islam. Rasulullah kemudian mengutus seorang pemuda mulia, Mush‘ab bin ‘Umair, untuk mengajarkan Al-Qur’an dan Islam di sana.

Melalui dakwah Mush‘ab, Islam mulai menyebar dari rumah ke rumah. Sampai akhirnya, hampir tidak ada satu rumah pun dari rumah-rumah kaum Anshar kecuali di dalamnya ada sekelompok Muslim yang menampakkan Islam.

Keadaan itu membuat orang-orang beriman di Yatsrib saling bermusyawarah:
“Sampai kapan kita membiarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diusir dan dikejar-kejar di pegunungan Makkah, hidup dalam ketakutan?”
Mereka pun sepakat: saatnya bukan hanya beriman, tetapi juga melindungi dan menolong.
________________________________________

Rombongan Haji dari Madinah dan Kisah Kiblat al-Bara’ bin Ma‘rur

Di tahun yang menentukan itu, Mush‘ab bin ‘Umair kembali ke Makkah bersama rombongan haji dari Yatsrib. Di antara mereka ada sekelompok Anshar yang telah masuk Islam, namun mereka berangkat bersama jamaah haji dari kaum mereka yang masih musyrik. Mereka menyembunyikan keislaman dan rencana mereka dari kerabat yang belum beriman.

Dalam rombongan itu ada seorang pemuka besar, al-Bara’ bin Ma‘rur, tokoh disegani di kalangan Anshar. Di perjalanan keluar dari Madinah, sebelum sampai di Makkah, terjadi satu peristiwa penting.

Al-Bara’ berkata kepada sahabat-sahabatnya yang Muslim:
“Wahai saudara-saudara, aku punya satu pendapat. Demi Allah, aku tidak tahu apakah kalian sependapat denganku atau tidak.”
Mereka bertanya, “Apa itu?”
Al-Bara’ berkata:
“Aku berpendapat untuk tidak membiarkan bangunan ini (Ka‘bah) berada di belakangku lagi. Aku ingin shalat menghadap kepadanya.”
Para sahabat menjawab:
“Demi Allah, yang kami ketahui Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya shalat menghadap ke arah Syam (Baitul Maqdis), dan kami tidak ingin menyelisihi beliau.”
Al-Bara’ berkata mantap:
“Aku tetap akan shalat menghadap Ka‘bah.”
Mereka berkata:
“Kalau begitu, kami tidak melakukannya. Kami tetap shalat ke arah Syam.”

Sejak itu, setiap kali berhenti dan tiba waktu shalat di perjalanan, para sahabat shalat menghadap Syam, sementara al-Bara’ sendirian shalat menghadap Ka‘bah. Hal itu berlangsung sampai mereka tiba di Makkah.

Sebagian sahabat merasa aneh dan mencela keputusan al-Bara’, namun ia tetap bersikeras.
________________________________________

Pertemuan Pertama dengan Rasulullah di Masjidil Haram

Setibanya di Makkah, al-Bara’ merasa gundah. Ia berkata kepada keponakannya, Ka‘b bin Malik:
“Wahai anak saudaraku, mari kita temui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku ingin bertanya kepada beliau tentang apa yang kulakukan di perjalanan, karena aku merasa tidak tenang melihat kalian semua menyelisihiku.”

Mereka berdua pergi mencari Nabi. Saat itu mereka belum pernah melihat dan belum mengenal beliau secara langsung.

Di jalan, mereka bertemu seorang laki-laki Quraisy. Mereka bertanya:
“Di mana kami bisa menemui Muhammad?”
Orang itu bertanya, “Apakah kalian berdua mengenalnya?”
“Tidak,” jawab mereka.
“Apakah kalian mengenal al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, paman beliau?”
“Ya,” jawab mereka, “Kami mengenalnya. Ia sering datang ke negeri kami sebagai pedagang.”
Orang itu berkata:
“Jika kalian masuk Masjidil Haram, dialah lelaki yang sedang duduk bersama al-‘Abbas.”

Mereka pun masuk, dan benar, al-‘Abbas sedang duduk dengan seorang laki-laki di sampingnya: itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka memberi salam lalu duduk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada al-‘Abbas:
“Wahai Abu al-Fadhl, apakah engkau mengenal dua orang laki-laki ini?”
Al-‘Abbas menjawab:
“Ya. Ini al-Bara’ bin Ma‘rur, pemimpin kaumnya. Ini Ka‘b bin Malik.”
Rasulullah bertanya tentang Ka‘b:
“Penyair itu?”
“Ya,” jawab al-‘Abbas.

Kemudian al-Bara’ menjelaskan kegundahannya:

“Wahai Nabi Allah, aku keluar dalam perjalanan ini setelah Allah memberiku hidayah kepada Islam. Aku berpendapat agar tidak membiarkan Ka‘bah berada di belakangku, maka aku shalat menghadapnya. Teman-temanku menyelisihiku dalam hal ini sampai hatiku merasa gelisah. Bagaimana pendapatmu, wahai Rasulullah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Engkau sebenarnya berada di atas kiblat (yang benar), seandainya engkau bersabar di atasnya.”

Maksud beliau, saat itu kiblat yang disyariatkan masih ke arah Baitul Maqdis (Syam). Dengan jawaban itu jelaslah bahwa al-Bara’ seharusnya tetap mengikuti kiblat Nabi.

Sejak itu, al-Bara’ kembali shalat menghadap arah Syam, mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
________________________________________

Mengajukan Seorang Tokoh: Masuk Islamnya Abu Jabir

Setelah melaksanakan manasik haji, kaum Muslimin Anshar yang hadir di Makkah sepakat untuk mengadakan pertemuan rahasia dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sebuah lembah kecil (syi‘b) dekat bukit ‘Aqabah, pada salah satu malam pertengahan hari-hari tasyriq.

Sebelum malam itu tiba, mereka mendekati seorang tokoh besar di antara mereka, ‘Abdullah bin ‘Amr bin Haram, yang bergelar Abu Jabir. Ia adalah pembesar dan orang terpandang di Yatsrib.
Kaum Muslimin berkata kepadanya dengan penuh hormat:
“Wahai Abu Jabir, engkau adalah salah satu pemimpin kami dan tokoh mulia di antara kami. Kami tidak rela bila engkau tetap berada di atas agama lamamu hingga engkau nanti menjadi kayu bakar neraka.”

Mereka pun mengajaknya masuk Islam, menjelaskan tentang Nabi dan tentang janji pertemuan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di ‘Aqabah.

Abu Jabir pun menerima dakwah, masuk Islam, dan kemudian turut serta dalam pertemuan bersejarah itu. Kelak, ia menjadi salah satu dari dua belas naqib (wakil pemimpin) yang ditunjuk Rasulullah dari kalangan Anshar.
________________________________________

Keputusan Besar Kaum Anshar

Sebelum berangkat ke Makkah, kaum Anshar yang beriman telah melihat buah dakwah di Yatsrib: rumah-rumah penuh dengan orang-orang yang membaca Al-Qur’an, suami-istri yang telah Muslim, anak-anak yang tumbuh dengan kalimat tauhid.

Mereka pun berkata satu sama lain:

“Sampai kapan kita membiarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diusir dan dikejar-kejar di Makkah, sementara kita telah beriman kepadanya? Sampai kapan beliau takut, sedangkan kita di sini dalam keadaan aman?”

Kemudian berangkatlah sekitar tujuh puluh laki-laki beriman dari Yatsrib menuju Makkah untuk menunaikan haji dan memenuhi janji mereka: mengikat perjanjian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

________________________________________

Malam Sunyi di ‘Aqabah

Pada malam yang telah disepakati, setelah semua jamaah haji kembali ke kemah masing-masing dan sepertiga malam telah berlalu, para sahabat Anshar mulai bergerak.

Mereka keluar diam-diam dari kemah-kemah mereka, satu per satu, dua-dua, “menyelinap seperti larinya burung-burung kecil di padang pasir,” kata Ka‘b bin Malik, agar tidak diketahui kerabat mereka yang masih musyrik.

Malam itu berkumpullah di lembah dekat ‘Aqabah tujuh puluh tiga laki-laki dan dua orang wanita. Kedua wanita itu adalah:

Nashibah binti Ka‘b, dikenal sebagai Ummu ‘Ammarah, dari Bani Mazin bin an-Najjar;
Asma’ binti ‘Amr bin ‘Adiy, dikenal sebagai Ummu Mani‘, dari Bani Salimah.

Mereka semua duduk menunggu kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suasana hening, tegang, dan penuh harap.

Tak lama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ditemani pamannya, al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib. Saat itu al-‘Abbas masih di atas agama kaumnya, namun ia sangat peduli pada keselamatan keponakannya.
________________________________________

Pidato al-‘Abbas: Peringatan Sebelum Janji

Setelah semua duduk, orang yang pertama kali berbicara justru adalah al-‘Abbas. Ia ingin memastikan bahwa keponakannya diserahkan kepada orang-orang yang benar-benar siap menanggung risiko.

Ia berkata:
“Wahai kabilah Khazraj.”
(Dulu orang Arab menyebut seluruh Anshar dengan sebutan Khazraj, baik yang dari Khazraj maupun dari Aus.)

“Sesungguhnya Muhammad berasal dari kami, sebagaimana kalian ketahui. Kami telah melindunginya dari kaum kami sendiri yang tidak menyukainya, sehingga ia berada dalam kemuliaan di tengah kaumnya dan dalam perlindungan di negerinya.

Sekarang ia ingin bergabung dengan kalian dan pergi menemui kalian. Jika kalian melihat bahwa kalian akan menepati janji yang kalian tawarkan kepadanya dan benar-benar melindunginya dari orang-orang yang memusuhinya, maka silakan kalian menanggung semua konsekuensinya.

Namun bila kalian melihat bahwa setelah kalian membawanya pergi dari Makkah kalian akan menyerahkannya dan mengkhianatinya, maka sejak sekarang tinggalkan saja urusan ini. Sesungguhnya ia masih berada dalam kemuliaan dan perlindungan kaumnya dan negerinya.”

Kaum Anshar mendengarkan dengan saksama. Mereka menjawab singkat dan tegas:
“Kami sudah mendengar apa yang engkau katakan. Sekarang, wahai Rasulullah, berbicaralah engkau. Ambillah untuk dirimu dan untuk Rabbmu perjanjian apa saja yang engkau kehendaki.”
________________________________________

Ucapan Nabi dan Syarat Baiat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berbicara. Beliau membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, menyeru mereka untuk beribadah hanya kepada Allah, dan mendorong mereka agar mantap dalam Islam.

Kemudian beliau menjelaskan isi baiat yang akan diambil dari mereka. Dalam berbagai riwayat, isi baiat itu terkumpul dalam beberapa poin besar:

Mereka membaiat untuk mendengar dan taat dalam keadaan senang maupun berat, bersemangat maupun malas.
Mereka membaiat untuk berinfak di jalan Allah dalam keadaan lapang maupun sempit.
Mereka membaiat untuk memerintahkan yang ma‘ruf dan mencegah yang mungkar.
Mereka membaiat untuk berani mengatakan kebenaran tentang Allah tanpa takut celaan orang yang mencela.
Mereka membaiat untuk tidak merebut kekuasaan dari ahlinya dan menghormati pemimpin yang sah.
Mereka membaiat untuk melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika beliau hijrah ke negeri mereka, sebagaimana mereka melindungi diri, istri, dan anak-anak mereka.

Akhirnya, beliau bersabda kepada mereka:

“Jika kalian menepati janji itu, bagi kalian surga.”
________________________________________

As‘ad bin Zurarah: Kejujuran Seorang Sahabat

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan syarat-syarat baiat, para sahabat Anshar bersiap untuk meletakkan tangan mereka di atas tangan beliau.

Saat itu, As‘ad bin Zurarah — salah seorang sahabat muda yang sangat bersemangat — memegang tangan Rasulullah dan berkata kepada kaumnya:

“Pelan-pelan, wahai penduduk Yatsrib.

Sesungguhnya kita menempuh perjalanan jauh ini menemui beliau dalam keadaan kita sudah yakin bahwa beliau adalah Rasulullah. Ketahuilah, jika kalian mengeluarkan beliau dari Makkah dan membawanya ke negeri kalian, itu berarti kalian memutus hubungan dengan seluruh bangsa Arab, kalian siap melihat orang-orang terbaik kalian terbunuh, dan pedang-pedang akan mengiris tubuh kalian.

Jika kalian termasuk orang-orang yang sanggup bersabar atas semua itu, maka ambillah beliau. Pahala kalian di sisi Allah.

Namun bila kalian takut terhadap diri kalian sendiri, ungkapkanlah sejak sekarang. Itu lebih ringan bagi kalian di sisi Allah.”

Kaum Anshar menjawab dengan penuh keyakinan:

“Singkirkan penghalang itu, wahai As‘ad. Demi Allah, kami tidak akan meninggalkan baiat ini selamanya, dan kami tidak akan membiarkan baiat ini dirampas dari kami selamanya.”
Maka mereka berdiri mengelilingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, siap mengulurkan tangan.
________________________________________

Ucapan Abu al-Haytsam: Kekhawatiran akan Ditinggalkan

Saat itu al-Bara’ bin Ma‘rur memegang tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

“Wahai Rasulullah, demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, sungguh kami akan melindungimu dari apa yang kami lindungi aurat dan kehormatan kami. Baiatlah kami! Demi Allah, kami adalah anak-anak peperangan dan ahli senjata. Kami mewarisi itu dari nenek moyang kami.”

Tiba-tiba seorang sahabat lain, Abu al-Haytsam bin at-Taiyhan, menyela:

“Wahai Rasulullah, antara kami dan orang-orang (Yahudi) ada perjanjian dan ikatan. Sekarang, bila kami membaiatmu, itu berarti kami akan memutus ikatan tersebut.

Jika kelak Allah memenangkanmu, akankah engkau kembali kepada kaummu (Quraisy) dan meninggalkan kami?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum, lalu bersabda:

“Tidak. Darah adalah darah, kehancuran adalah kehancuran (nasib kita satu). Aku adalah dari kalian, dan kalian adalah dariku. Aku memerangi siapa yang kalian perangi, dan berdamai dengan siapa yang kalian ajak berdamai.”

Dengan jawaban itu, kekhawatiran terakhir pun sirna. Baiat ini bukan hubungan sementara; ini adalah ikatan jiwa dan darah.
________________________________________

Penegasan Terakhir: Baiat Perang

Seorang sahabat lain, al-‘Abbas bin ‘Ubadah bin Nadhallah, juga berdiri mengingatkan:

“Wahai kabilah Khazraj, tahukah kalian atas dasar apa kalian akan membaiat lelaki ini?

Kalian membaiatnya untuk memerangi yang berkulit merah dan yang berkulit hitam dari kalangan manusia (yakni semua golongan, Arab dan non-Arab).

Jika kalian berpikir bahwa bila harta kalian habis dan orang-orang terhormat kalian terbunuh lalu kalian akan menyerahkannya, maka tinggalkanlah sekarang. Karena jika kalian melakukan itu, demi Allah, itu adalah kehinaan dunia dan akhirat.

Namun jika kalian mantap akan menepati janji itu meskipun harta kalian habis dan orang-orang mulia kalian terbunuh, maka ambillah beliau. Demi Allah, itu adalah kebaikan dunia dan akhirat.”

Mereka bertanya:
“Jika kami menepati itu semua, apa yang kami dapatkan, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab singkat:
“Surga.”
Mereka berkata:
“Ulurkan tanganmu.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulurkan tangan beliau, dan mereka pun membaiatnya satu per satu dalam keheningan malam.

________________________________________

Penunjukan Dua Belas Naqib

Setelah baiat selesai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Pilihlah dari kalangan kalian dua belas orang naqib (wakil pemimpin), yang akan memimpin urusan kaumnya masing-masing.”

Mereka pun memilih dua belas orang, sembilan dari Khazraj dan tiga dari Aus. Di antara mereka yang masyhur:
As‘ad bin Zurarah,
Sa‘d bin ‘Ubadah,
‘Abdullah bin Rawahah,
al-Bara’ bin Ma‘rur,
Rafi‘ bin Malik,
‘Abdullah bin ‘Amr bin Haram (Abu Jabir),
‘Ubadah bin ash-Shamit,
al-Mundzir bin ‘Amr,
dan dari kalangan Aus: Usaid bin Hudhair, Sa‘d bin Khaitsamah, dan Rifa‘ah bin ‘Abdil Mundzir.

Dalam sebagian riwayat, nama Abu al-Haytsam bin at-Taiyhan disebut menggantikan Rifa‘ah. Ada pula riwayat yang menyebut bahwa malaikat Jibril menunjukkan kepada Nabi siapa saja yang akan dijadikan naqib pada malam itu.

Kepada para naqib ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Kalian menjadi penanggung jawab atas kaum kalian masing-masing, sebagaimana para hawari (pengikut setia) ‘Isa bin Maryam menjadi penanggung jawab atas kaumnya. Dan aku menjadi penanggung jawab atas kaumku.”
Mereka menjawab, “Ya, kami terima.”
________________________________________

Isi Baiat Menurut ‘Ubadah bin ash-Shamit

Bertahun-tahun kemudian, salah seorang naqib, ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, menceritakan kembali isi baiat malam itu. Ia berkata:

“Kami membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baiat perang, untuk mendengar dan taat dalam keadaan sulit maupun mudah, dalam keadaan bersemangat maupun berat, untuk sabar meskipun ada orang lain yang diutamakan atas kami, untuk tidak merebut kekuasaan dari ahlinya, dan untuk mengatakan kebenaran di mana pun kami berada, tanpa takut celaan orang yang mencela dalam (urusan) Allah.”

Dalam riwayat lain, ketika beberapa bejana minuman keras (khamar) tiba di Madinah, ‘Ubadah mendatangi mereka lalu merobek wadah-wadah khamar itu seraya berkata:

“Kami telah membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar dan taat, berinfak dalam lapang dan sempit, memerintahkan yang ma‘ruf dan mencegah yang mungkar, dan untuk mengatakan kebenaran tentang Allah tanpa takut celaan orang yang mencela, serta untuk menolong Rasulullah sebagaimana kami menolong diri, istri, dan anak-anak kami. Dan bagi kami surga. Inilah baiat Rasulullah yang telah kami pegang.”

Demikianlah, baiat malam itu bukan sekadar janji lisan, tetapi komitmen seumur hidup yang nyata dalam amal.
________________________________________

Teriakan Setan dari Puncak ‘Aqabah

Setelah baiat selesai dan tangan-tangan telah dilepaskan, tiba-tiba terdengar suara jeritan keras dari puncak bukit ‘Aqabah, suara paling nyaring yang pernah didengar Ka‘b bin Malik:

“Wahai para penghuni perkampungan! Apakah kalian tidak ingin tahu? Muhammad dan orang-orang yang meninggalkan agama nenek moyang telah berkumpul untuk berperang melawan kalian!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Itu adalah setan ‘Aqabah.”
Kemudian beliau memerintahkan:
“Bercerailah kalian, kembali ke kemah-kemah kalian.”
Saat itu, al-‘Abbas bin ‘Ubadah berbisik kepada Rasulullah:

“Wahai Rasulullah, demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau menghendaki, besok pagi kami akan menyerbu penduduk Mina dengan pedang-pedang kami.”

Rasulullah menjawab:
“Aku tidak diperintahkan untuk itu. Kembalilah kalian ke tempat tinggal kalian.”
Mereka pun kembali ke kemah masing-masing seolah tidak terjadi apa-apa, dan tidur hingga pagi.
________________________________________

Pagi Hari: Kecurigaan Quraisy

Keesokan paginya, para pembesar Quraisy datang dengan tergesa ke kemah-kemah orang Anshar.

Mereka berkata:

“Wahai kabilah Khazraj, telah sampai kepada kami kabar bahwa kalian datang menemui sahabat kami ini (Muhammad), hendak membawanya keluar dari tengah-tengah kami dan membaiatnya atas dasar memerangi kami.

Demi Allah, tidak ada satu kabilah pun dari bangsa Arab yang lebih kami benci bila perang berkobar antara kami dan mereka selain kalian.”

Orang-orang Anshar yang masih musyrik bangkit membela diri, mereka bersumpah:

“Demi Allah, tidak ada sedikit pun dari hal itu. Kami sama sekali tidak tahu.”

Mereka berkata jujur, karena kaum Muslimin memang merahasiakan pertemuan itu dari kerabat mereka yang belum beriman. Sebagian sahabat yang telah membaiat hanya saling berpandangan, menahan rahasia yang besar di dada mereka.

Di antara yang hadir saat Quraisy datang adalah al-Harits bin Hisyam, mengenakan sandal baru yang bagus. Ka‘b bin Malik, dengan sedikit siasat, berkata kepada Abu Jabir (‘Abdullah bin ‘Amr bin Haram):

“Wahai Abu Jabir, engkau pemuka di antara kami. Tidakkah engkau mampu memiliki seperti dua sandal pemuda Quraisy itu?”

Al-Harits mendengar ucapan itu. Ia spontan mencopot kedua sandalnya dan melemparkannya ke arah Ka‘b:

“Demi Allah, engkau akan memakainya!”
Abu Jabir berkata kepada Ka‘b:
“Cukup, engkau telah membuat pemuda itu tersinggung. Kembalikan sandalnya.”
Ka‘b menjawab:

“Demi Allah, aku tidak akan mengembalikannya. Ini pertanda baik. Jika firasatku benar, suatu hari aku akan benar-benar merampasnya sebagai rampasan perang.”

Dan memang kelak, perang-perang datang satu demi satu antara kaum Muslimin dan Quraisy.
________________________________________

Sikap ‘Abdullah bin Ubay bin Salul

Quraisy tidak puas hanya mendatangi kemah-kemah Khazraj. Mereka juga mendatangi seorang tokoh besar Yatsrib yang saat itu belum masuk Islam: ‘Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin besar Khazraj yang kelak dikenal sebagai kepala kaum munafik.

Mereka mengulang tuduhan yang sama: bahwa khazraj bekerja sama dengan Muhammad untuk memerangi mereka.

‘Abdullah bin Ubay menjawab:
“Masalah ini sangat besar. Kaumku tidak akan bersepakat dalam urusan sebesar ini tanpa sepengetahuanku. Aku tidak mengetahui hal itu terjadi.”
Mereka pun pergi meninggalkannya.
________________________________________

Pengejaran dan Penangkapan Sa‘d bin ‘Ubadah

Setelah musim haji usai, orang-orang mulai meninggalkan Mina. Berita tentang pertemuan malam ‘Aqabah terus dicari-cari. Akhirnya Quraisy mengetahui bahwa kabar itu benar.

Mereka pun keluar mengejar rombongan Anshar yang telah berangkat pulang. Di dekat daerah Adzakhir, mereka berhasil menyusul dua orang naqib: Sa‘d bin ‘Ubadah dan al-Mundzir bin ‘Amr.

Al-Mundzir berhasil meloloskan diri, namun Sa‘d tertangkap. Mereka mengikat kedua tangannya ke leher dengan tali pelana, lalu menggiringnya masuk ke Makkah sambil memukul dan menarik rambut panjangnya.

Sa‘d bercerita:

“Demi Allah, ketika aku berada di tangan mereka dan mereka menyeretku, tampaklah sebuah kelompok Quraisy mendekat. Di antara mereka ada seorang lelaki yang tampan, putih, rambutnya terurai, wajahnya menyenangkan.

Aku berkata dalam hati, ‘Jika masih ada kebaikan pada orang-orang ini, tentu ada pada lelaki itu.’

Namun ketika ia mendekat, ia mengangkat tangannya dan meninjuku dengan pukulan yang sangat keras. Lalu aku berkata dalam hati, ‘Tidak, demi Allah, tidak ada kebaikan pada mereka.’”

Lelaki yang meninju Sa‘d itu adalah Suhail bin ‘Amr, yang kelak dikenal sebagai tokoh Quraisy di Perjanjian Hudaibiyah, dan kemudian masuk Islam juga.
Saat Sa‘d terus diseret, tiba-tiba seorang lelaki Quraisy yang lain merasa iba dan bertanya kepadanya:

“Celaka engkau, tidakkah engkau memiliki perjanjian perlindungan (jiran) dengan salah seorang dari Quraisy?”

Sa‘d menjawab:

“Ada. Dahulu aku memberi perlindungan untuk kafilah dagang milik Jubair bin Muth‘im dan juga Harits bin Harb bin Umayyah. Aku melindungi para pedagang mereka dari kezhaliman di negeriku.”

Lelaki itu berkata:
“Sebuthlah nama mereka, dan ingatkan mereka tentang jasa-jasa itu.”
Lelaki itu lalu pergi menemui Jubair dan Harits yang sedang duduk di dekat Ka‘bah. Ia berkata:
“Ada seorang lelaki dari Khazraj sedang dipukul di al-Abthah sambil memanggil nama kalian berdua.”

Mereka bertanya, “Siapa?”

“Sa‘d bin ‘Ubadah,” jawab lelaki itu.
Keduanya berkata:

“Dia benar. Dahulu dia memang memberi perlindungan kepada kafilah dagang kami dan mencegah kezhaliman atas kami di negerinya.”

Mereka berdua kemudian bangkit dan menyelamatkan Sa‘d dari tangan para penganiayanya. Dengan itu, Sa‘d pun selamat dan kembali ke negerinya.

Dalam sebagian riwayat disebutkan, orang yang mula-mula melindungi Sa‘d dan menyarankan agar ia menyebut nama dua tokoh Quraisy itu adalah Abu al-Bukhtari bin Hisyam.

________________________________________

Isyarat Ghaib tentang Dua Sa‘d

Beberapa riwayat menceritakan, pada malam-malam sekitar peristiwa ‘Aqabah, Quraisy mendengar suara misterius di puncak bukit Abu Qubais.

Pada malam pertama, mereka mendengar seruan:
“Jika dua Sa‘d masuk Islam,
Maka esok hari Muhammad
Di Makkah tak lagi takut pada penentang.”

Pagi harinya Abu Sufyan bertanya-tanya:

“Siapakah dua Sa‘d itu? Apakah As‘ad bin Bakr atau Sa‘d bin Hudzaim?”
Pada malam berikutnya, suara itu kembali terdengar:
“Wahai Sa‘d, Sa‘d al-Aus, jadilah engkau penolong,
Wahai Sa‘d, Sa‘d dua Khazraj yang mulia.

Jawablah seruan penyeru petunjuk,

Mintalah kepada Allah surga Firdaus yang tinggi.”
Esok harinya Abu Sufyan berkata:
“Demi Allah, yang dimaksud adalah Sa‘d bin Mu‘adz dan Sa‘d bin ‘Ubadah.”
Keduanya kelak menjadi dua di antara tokoh terbesar Anshar dalam menolong Islam.
________________________________________

Nilai Malam ‘Aqabah dalam Hati Para Sahabat

Bertahun-tahun setelah peristiwa ini, saat perang-perang besar seperti Badar dan Uhud sudah terjadi, Ka‘b bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

“Aku telah menghadiri bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam malam ‘Aqabah, ketika kami saling berjanji setia di atas Islam. Aku tidak ingin menggantikan malam itu dengan ikut serta dalam Perang Badar, sekalipun Badar itu lebih terkenal di tengah manusia.”

Bagi Ka‘b, malam ‘Aqabah adalah titik balik sejarah: malam ketika Islam menemukan negeri yang siap menjadi penopangnya, dan ketika sekelompok manusia biasa bersedia mempertaruhkan harta, nyawa, dan kehormatan demi Allah dan Rasul-Nya.
________________________________________

Sumber Kisah:

Ibn Katsir, al-Bidāyah wa an-Nihāyah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Sahabat Anshar: Suwaid, Iyas, Rafi’ dan Mu’adz – Pertemuan dengan Nabi di Makkah dan Awal Islam di Madinah

Rihlah Ibnu Bathutah #23 : Dari Basrah ke Tustar dan Īydzaj

Ujian Terberat Setelah Wafat Abu Thalib dan Doa Menyentuh di Tahun Kesedihan