Baiat ‘Aqabah Kedua
Awal Dakwah di Makkah
Selama sepuluh tahun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah di Makkah. Beliau mendatangi manusia di mana pun mereka berkumpul: di pasar-pasar ‘Ukaz dan Majannah, serta di musim-musim haji di Mina.
Sementara itu para pembesar Quraisy berkeliling mengingatkan kabilah-kabilah Arab agar menjauhi beliau. Seorang laki-laki yang datang dari Yaman atau dari Mudhar diperingatkan kaumnya:
Orang-orang menunjuk beliau dengan jari, mengejek dan memperingatkan, namun Rasulullah tidak berhenti menyeru manusia kepada Allah.
Cahaya Islam di Yatsrib
Beberapa tahun sebelumnya, sebagian penduduk Yatsrib telah bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di musim haji dan masuk Islam. Rasulullah kemudian mengutus seorang pemuda mulia, Mush‘ab bin ‘Umair, untuk mengajarkan Al-Qur’an dan Islam di sana.
Melalui dakwah Mush‘ab, Islam mulai menyebar dari rumah ke rumah. Sampai akhirnya, hampir tidak ada satu rumah pun dari rumah-rumah kaum Anshar kecuali di dalamnya ada sekelompok Muslim yang menampakkan Islam.
Rombongan Haji dari Madinah dan Kisah Kiblat al-Bara’ bin Ma‘rur
Di tahun yang menentukan itu, Mush‘ab bin ‘Umair kembali ke Makkah bersama rombongan haji dari Yatsrib. Di antara mereka ada sekelompok Anshar yang telah masuk Islam, namun mereka berangkat bersama jamaah haji dari kaum mereka yang masih musyrik. Mereka menyembunyikan keislaman dan rencana mereka dari kerabat yang belum beriman.
Dalam rombongan itu ada seorang pemuka besar, al-Bara’ bin Ma‘rur, tokoh disegani di kalangan Anshar. Di perjalanan keluar dari Madinah, sebelum sampai di Makkah, terjadi satu peristiwa penting.
Sejak itu, setiap kali berhenti dan tiba waktu shalat di perjalanan, para sahabat shalat menghadap Syam, sementara al-Bara’ sendirian shalat menghadap Ka‘bah. Hal itu berlangsung sampai mereka tiba di Makkah.
Pertemuan Pertama dengan Rasulullah di Masjidil Haram
Mereka berdua pergi mencari Nabi. Saat itu mereka belum pernah melihat dan belum mengenal beliau secara langsung.
Mereka pun masuk, dan benar, al-‘Abbas sedang duduk dengan seorang laki-laki di sampingnya: itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian al-Bara’ menjelaskan kegundahannya:
“Wahai Nabi Allah, aku keluar dalam perjalanan ini setelah Allah memberiku hidayah kepada Islam. Aku berpendapat agar tidak membiarkan Ka‘bah berada di belakangku, maka aku shalat menghadapnya. Teman-temanku menyelisihiku dalam hal ini sampai hatiku merasa gelisah. Bagaimana pendapatmu, wahai Rasulullah?”
Maksud beliau, saat itu kiblat yang disyariatkan masih ke arah Baitul Maqdis (Syam). Dengan jawaban itu jelaslah bahwa al-Bara’ seharusnya tetap mengikuti kiblat Nabi.
Mengajukan Seorang Tokoh: Masuk Islamnya Abu Jabir
Setelah melaksanakan manasik haji, kaum Muslimin Anshar yang hadir di Makkah sepakat untuk mengadakan pertemuan rahasia dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sebuah lembah kecil (syi‘b) dekat bukit ‘Aqabah, pada salah satu malam pertengahan hari-hari tasyriq.
Mereka pun mengajaknya masuk Islam, menjelaskan tentang Nabi dan tentang janji pertemuan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di ‘Aqabah.
Keputusan Besar Kaum Anshar
Mereka pun berkata satu sama lain:
Kemudian berangkatlah sekitar tujuh puluh laki-laki beriman dari Yatsrib menuju Makkah untuk menunaikan haji dan memenuhi janji mereka: mengikat perjanjian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Malam Sunyi di ‘Aqabah
Pada malam yang telah disepakati, setelah semua jamaah haji kembali ke kemah masing-masing dan sepertiga malam telah berlalu, para sahabat Anshar mulai bergerak.
Mereka keluar diam-diam dari kemah-kemah mereka, satu per satu, dua-dua, “menyelinap seperti larinya burung-burung kecil di padang pasir,” kata Ka‘b bin Malik, agar tidak diketahui kerabat mereka yang masih musyrik.
Malam itu berkumpullah di lembah dekat ‘Aqabah tujuh puluh tiga laki-laki dan dua orang wanita. Kedua wanita itu adalah:
Mereka semua duduk menunggu kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suasana hening, tegang, dan penuh harap.
Pidato al-‘Abbas: Peringatan Sebelum Janji
Setelah semua duduk, orang yang pertama kali berbicara justru adalah al-‘Abbas. Ia ingin memastikan bahwa keponakannya diserahkan kepada orang-orang yang benar-benar siap menanggung risiko.
“Sesungguhnya Muhammad berasal dari kami, sebagaimana kalian ketahui. Kami telah melindunginya dari kaum kami sendiri yang tidak menyukainya, sehingga ia berada dalam kemuliaan di tengah kaumnya dan dalam perlindungan di negerinya.
Sekarang ia ingin bergabung dengan kalian dan pergi menemui kalian. Jika kalian melihat bahwa kalian akan menepati janji yang kalian tawarkan kepadanya dan benar-benar melindunginya dari orang-orang yang memusuhinya, maka silakan kalian menanggung semua konsekuensinya.
Namun bila kalian melihat bahwa setelah kalian membawanya pergi dari Makkah kalian akan menyerahkannya dan mengkhianatinya, maka sejak sekarang tinggalkan saja urusan ini. Sesungguhnya ia masih berada dalam kemuliaan dan perlindungan kaumnya dan negerinya.”
Ucapan Nabi dan Syarat Baiat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berbicara. Beliau membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, menyeru mereka untuk beribadah hanya kepada Allah, dan mendorong mereka agar mantap dalam Islam.
Kemudian beliau menjelaskan isi baiat yang akan diambil dari mereka. Dalam berbagai riwayat, isi baiat itu terkumpul dalam beberapa poin besar:
Akhirnya, beliau bersabda kepada mereka:
As‘ad bin Zurarah: Kejujuran Seorang Sahabat
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan syarat-syarat baiat, para sahabat Anshar bersiap untuk meletakkan tangan mereka di atas tangan beliau.
Saat itu, As‘ad bin Zurarah — salah seorang sahabat muda yang sangat bersemangat — memegang tangan Rasulullah dan berkata kepada kaumnya:
Sesungguhnya kita menempuh perjalanan jauh ini menemui beliau dalam keadaan kita sudah yakin bahwa beliau adalah Rasulullah. Ketahuilah, jika kalian mengeluarkan beliau dari Makkah dan membawanya ke negeri kalian, itu berarti kalian memutus hubungan dengan seluruh bangsa Arab, kalian siap melihat orang-orang terbaik kalian terbunuh, dan pedang-pedang akan mengiris tubuh kalian.
Jika kalian termasuk orang-orang yang sanggup bersabar atas semua itu, maka ambillah beliau. Pahala kalian di sisi Allah.
Kaum Anshar menjawab dengan penuh keyakinan:
Ucapan Abu al-Haytsam: Kekhawatiran akan Ditinggalkan
Saat itu al-Bara’ bin Ma‘rur memegang tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:
Tiba-tiba seorang sahabat lain, Abu al-Haytsam bin at-Taiyhan, menyela:
Jika kelak Allah memenangkanmu, akankah engkau kembali kepada kaummu (Quraisy) dan meninggalkan kami?”
“Tidak. Darah adalah darah, kehancuran adalah kehancuran (nasib kita satu). Aku adalah dari kalian, dan kalian adalah dariku. Aku memerangi siapa yang kalian perangi, dan berdamai dengan siapa yang kalian ajak berdamai.”
Penegasan Terakhir: Baiat Perang
“Wahai kabilah Khazraj, tahukah kalian atas dasar apa kalian akan membaiat lelaki ini?
Jika kalian berpikir bahwa bila harta kalian habis dan orang-orang terhormat kalian terbunuh lalu kalian akan menyerahkannya, maka tinggalkanlah sekarang. Karena jika kalian melakukan itu, demi Allah, itu adalah kehinaan dunia dan akhirat.
Namun jika kalian mantap akan menepati janji itu meskipun harta kalian habis dan orang-orang mulia kalian terbunuh, maka ambillah beliau. Demi Allah, itu adalah kebaikan dunia dan akhirat.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulurkan tangan beliau, dan mereka pun membaiatnya satu per satu dalam keheningan malam.
Penunjukan Dua Belas Naqib
“Pilihlah dari kalangan kalian dua belas orang naqib (wakil pemimpin), yang akan memimpin urusan kaumnya masing-masing.”
Dalam sebagian riwayat, nama Abu al-Haytsam bin at-Taiyhan disebut menggantikan Rifa‘ah. Ada pula riwayat yang menyebut bahwa malaikat Jibril menunjukkan kepada Nabi siapa saja yang akan dijadikan naqib pada malam itu.
Isi Baiat Menurut ‘Ubadah bin ash-Shamit
Bertahun-tahun kemudian, salah seorang naqib, ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, menceritakan kembali isi baiat malam itu. Ia berkata:
“Kami membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baiat perang, untuk mendengar dan taat dalam keadaan sulit maupun mudah, dalam keadaan bersemangat maupun berat, untuk sabar meskipun ada orang lain yang diutamakan atas kami, untuk tidak merebut kekuasaan dari ahlinya, dan untuk mengatakan kebenaran di mana pun kami berada, tanpa takut celaan orang yang mencela dalam (urusan) Allah.”
Dalam riwayat lain, ketika beberapa bejana minuman keras (khamar) tiba di Madinah, ‘Ubadah mendatangi mereka lalu merobek wadah-wadah khamar itu seraya berkata:
“Kami telah membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar dan taat, berinfak dalam lapang dan sempit, memerintahkan yang ma‘ruf dan mencegah yang mungkar, dan untuk mengatakan kebenaran tentang Allah tanpa takut celaan orang yang mencela, serta untuk menolong Rasulullah sebagaimana kami menolong diri, istri, dan anak-anak kami. Dan bagi kami surga. Inilah baiat Rasulullah yang telah kami pegang.”
Teriakan Setan dari Puncak ‘Aqabah
Setelah baiat selesai dan tangan-tangan telah dilepaskan, tiba-tiba terdengar suara jeritan keras dari puncak bukit ‘Aqabah, suara paling nyaring yang pernah didengar Ka‘b bin Malik:
“Wahai para penghuni perkampungan! Apakah kalian tidak ingin tahu? Muhammad dan orang-orang yang meninggalkan agama nenek moyang telah berkumpul untuk berperang melawan kalian!”
“Wahai Rasulullah, demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau menghendaki, besok pagi kami akan menyerbu penduduk Mina dengan pedang-pedang kami.”
Pagi Hari: Kecurigaan Quraisy
Mereka berkata:
“Wahai kabilah Khazraj, telah sampai kepada kami kabar bahwa kalian datang menemui sahabat kami ini (Muhammad), hendak membawanya keluar dari tengah-tengah kami dan membaiatnya atas dasar memerangi kami.
Orang-orang Anshar yang masih musyrik bangkit membela diri, mereka bersumpah:
Mereka berkata jujur, karena kaum Muslimin memang merahasiakan pertemuan itu dari kerabat mereka yang belum beriman. Sebagian sahabat yang telah membaiat hanya saling berpandangan, menahan rahasia yang besar di dada mereka.
Di antara yang hadir saat Quraisy datang adalah al-Harits bin Hisyam, mengenakan sandal baru yang bagus. Ka‘b bin Malik, dengan sedikit siasat, berkata kepada Abu Jabir (‘Abdullah bin ‘Amr bin Haram):
Al-Harits mendengar ucapan itu. Ia spontan mencopot kedua sandalnya dan melemparkannya ke arah Ka‘b:
“Demi Allah, aku tidak akan mengembalikannya. Ini pertanda baik. Jika firasatku benar, suatu hari aku akan benar-benar merampasnya sebagai rampasan perang.”
Sikap ‘Abdullah bin Ubay bin Salul
Quraisy tidak puas hanya mendatangi kemah-kemah Khazraj. Mereka juga mendatangi seorang tokoh besar Yatsrib yang saat itu belum masuk Islam: ‘Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin besar Khazraj yang kelak dikenal sebagai kepala kaum munafik.
Mereka mengulang tuduhan yang sama: bahwa khazraj bekerja sama dengan Muhammad untuk memerangi mereka.
Pengejaran dan Penangkapan Sa‘d bin ‘Ubadah
Mereka pun keluar mengejar rombongan Anshar yang telah berangkat pulang. Di dekat daerah Adzakhir, mereka berhasil menyusul dua orang naqib: Sa‘d bin ‘Ubadah dan al-Mundzir bin ‘Amr.
Al-Mundzir berhasil meloloskan diri, namun Sa‘d tertangkap. Mereka mengikat kedua tangannya ke leher dengan tali pelana, lalu menggiringnya masuk ke Makkah sambil memukul dan menarik rambut panjangnya.
“Demi Allah, ketika aku berada di tangan mereka dan mereka menyeretku, tampaklah sebuah kelompok Quraisy mendekat. Di antara mereka ada seorang lelaki yang tampan, putih, rambutnya terurai, wajahnya menyenangkan.
Namun ketika ia mendekat, ia mengangkat tangannya dan meninjuku dengan pukulan yang sangat keras. Lalu aku berkata dalam hati, ‘Tidak, demi Allah, tidak ada kebaikan pada mereka.’”
“Celaka engkau, tidakkah engkau memiliki perjanjian perlindungan (jiran) dengan salah seorang dari Quraisy?”
“Ada. Dahulu aku memberi perlindungan untuk kafilah dagang milik Jubair bin Muth‘im dan juga Harits bin Harb bin Umayyah. Aku melindungi para pedagang mereka dari kezhaliman di negeriku.”
Mereka bertanya, “Siapa?”
“Dia benar. Dahulu dia memang memberi perlindungan kepada kafilah dagang kami dan mencegah kezhaliman atas kami di negerinya.”
Dalam sebagian riwayat disebutkan, orang yang mula-mula melindungi Sa‘d dan menyarankan agar ia menyebut nama dua tokoh Quraisy itu adalah Abu al-Bukhtari bin Hisyam.
Isyarat Ghaib tentang Dua Sa‘d
Beberapa riwayat menceritakan, pada malam-malam sekitar peristiwa ‘Aqabah, Quraisy mendengar suara misterius di puncak bukit Abu Qubais.
Pagi harinya Abu Sufyan bertanya-tanya:
Jawablah seruan penyeru petunjuk,
Nilai Malam ‘Aqabah dalam Hati Para Sahabat
Bertahun-tahun setelah peristiwa ini, saat perang-perang besar seperti Badar dan Uhud sudah terjadi, Ka‘b bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:
“Aku telah menghadiri bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam malam ‘Aqabah, ketika kami saling berjanji setia di atas Islam. Aku tidak ingin menggantikan malam itu dengan ikut serta dalam Perang Badar, sekalipun Badar itu lebih terkenal di tengah manusia.”

Komentar
Posting Komentar