Rihlah Ibnu Bathutah #17: Menelusuri Mekah
1. Memasuki Kota Suci dan Pintu-Pintu Masjidil Haram
Bayangkan kita tiba di Mekah berabad-abad yang lalu, menemani seorang musafir besar bernama Ibnu Battutah. Dari kejauhan, tampak Masjidil Haram yang mulia, pusat kota dan pusat hati kaum muslimin. Dindingnya dikelilingi banyak pintu, yang masing-masing menjadi gerbang menuju rumah Allah yang agung.
Ibnu Battutah menuturkan bahwa pada masanya, Masjidil Haram memiliki sembilan belas pintu utama. Sebagian besar pintu ini bukan hanya satu daun pintu, melainkan rangkaian beberapa daun pintu yang berdampingan, sehingga tampak lebar dan mampu menampung banyak jamaah yang keluar-masuk setiap saat.
Di antara semua pintu itu, Bab Shafa menempati posisi istimewa. Pintu ini mempunyai lima daun pintu dan pada masa dahulu dikenal dengan nama Bab Bani Makhzum. Inilah pintu terbesar Masjidil Haram, dan dari sinilah para jamaah keluar menuju tempat sa‘i, lintasan antara bukit Shafa dan Marwah. Ibnu Battutah menceritakan satu tradisi yang hidup di kalangan pendatang: dianjurkan bagi mereka untuk memasuki Masjidil Haram melalui Bab Bani Syaibah, lalu setelah selesai bertawaf keluar lewat Bab Shafa menuju tempat sa‘i. Dalam perjalanan dari Ka‘bah menuju Shafa, mereka melewati jalur di antara dua tiang yang dahulu didirikan oleh Khalifah al-Mahdi. Dua tiang ini sengaja dipasang sebagai tanda jalur yang pernah dilalui Rasulullah ﷺ ketika menuju bukit Shafa.
Selain Bab Shafa dan Bab Bani Syaibah, terdapat banyak pintu lain yang masing-masing punya nama, sejarah, dan kegunaannya. Di sisi lain masjid, ada Bab Ajyad al-Ashghar yang memiliki dua daun pintu. Tidak jauh darinya terdapat Bab al-Khayyathin, dinamakan demikian karena berada di kawasan para penjahit, dan pintu ini juga memiliki dua daun pintu. Bab al-‘Abbas, yang dinisbatkan kepada al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, memiliki tiga daun pintu dan berada di salah satu sisi masjid. Ada pula Bab an-Nabi, pintu yang dikenal dengan nisbah kepada Rasulullah ﷺ, yang terdiri dari dua daun pintu.
Bab Bani Syaibah sendiri memiliki kedudukan khusus. Pintu ini terletak pada sudut dinding timur Masjidil Haram di sisi utara, persis berhadapan dengan pintu Ka‘bah yang mulia, agak condong ke arah kiri jika dipandang dari depan. Ia memiliki tiga daun pintu dan juga dikenal dengan nama Bab Bani ‘Abd Syams. Dahulu para khalifah masuk ke Masjidil Haram melalui pintu inilah.
Di hadapan Bab Bani Syaibah terdapat sebuah pintu kecil lain, yang tidak begitu masyhur namanya. Sebagian orang menyebutnya Bab ar-Ribath karena pintu itu mengarah ke sebuah ribath bernama Ribath as-Sidrah. Sementara itu, di sisi lain masjid terdapat Bab an-Nadwah yang berkaitan erat dengan Dar an-Nadwah, gedung musyawarah suku Quraisy pada masa jahiliah. Setelah ditaklukkan, Dar an-Nadwah kemudian dijadikan masjid yang terbuka ke arah Masjidil Haram. Bab an-Nadwah ini terdiri dari tiga pintu: dua di antaranya sejajar, sedangkan yang ketiga terletak di sudut barat gedung tersebut dan menghadap ke arah mizab, saluran air di atap Ka‘bah.
Ada juga pintu kecil yang mengarah ke Dar al-‘Ajalah, sebuah bangunan baru pada masa itu. Di sisi lain, Bab as-Sidrah berdiri sebagai satu pintu saja, demikian pula Bab al-‘Umrah, yang oleh Ibnu Battutah disebut sebagai salah satu pintu terindah Masjidil Haram. Bab Ibrahim, yang hanya satu, menjadi bahan perbedaan pendapat di tengah masyarakat. Sebagian menisbatkannya kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, tetapi menurut Ibnu Battutah, yang benar ia dinisbatkan kepada seorang lelaki non-Arab bernama Ibrahim al-Khuzi. Di kawasan lain, terdapat Bab al-Hazwah yang memiliki dua daun pintu, dan sebuah pintu lain yang juga dinisbatkan kepadanya, dengan dua daun pintu lagi yang terhubung ke arah Bab Shafa. Sebagian penduduk menyebut bahwa dua dari empat pintu yang dinisbatkan ke daerah Ajyad sebenarnya berkaitan dengan para pedagang tepung.
Dari rangkaian pintu ini, kita dapat melihat bahwa Masjidil Haram di masa itu bukan sekadar bangunan ibadah. Ia adalah pusat kehidupan, dikelilingi pintu-pintu yang setiap namanya menyimpan kisah suku, tokoh, dan fungsi tertentu dalam kehidupan masyarakat Mekah.
________________________________________
2. Menara, Madrasah, dan Rumah-Rumah di Sekitar Masjidil Haram
Di atas bangunan Masjidil Haram, lima menara menjulang sebagai penanda kota suci. Satu menara berdiri di sudut bukit Abu Qubais dekat Bab Shafa. Menara kedua tegak di sudut Bab Bani Syaibah. Menara ketiga berada di atas Bab Dar an-Nadwah, yang telah berubah fungsi menjadi bagian dari kompleks Masjidil Haram. Menara keempat berdiri di sudut Bab as-Sidrah. Sedangkan menara kelima berada di sudut Ajyad, mengawasi kawasan yang menurun ke arah lembah.
Dekat Bab al-‘Umrah, tampak sebuah madrasah megah yang dibangun oleh Sultan al-Mu‘azzam Yusuf bin Rasul, penguasa Yaman yang terkenal dengan gelar al-Malik al-Muzaffar. Di negerinya, dirham yang beredar bahkan dinisbatkan kepada namanya, sehingga dikenal sebagai dirham Muzaffariyah. Ia juga terkenal karena dahulu secara rutin mengirim kiswah, kain penutup Ka‘bah, sampai akhirnya tugas ini diambil alih oleh penguasa Mesir, al-Malik al-Mansur Qalawun.
Jika kita melangkah keluar melalui Bab Ibrahim, kita akan menjumpai sebuah zawiyah besar, semacam kompleks yang menampung tempat ibadah dan tempat tinggal. Di dalamnya terdapat rumah seorang ulama mazhab Maliki yang kesalehannya masyhur, yaitu Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abdurrahman, yang dikenal dengan julukan Khalil. Di atas Bab Ibrahim menjulang sebuah kubah besar yang sangat tinggi, dan bagian dalamnya dihiasi ukiran plester yang begitu rumit dan halus. Ibnu Battutah menggambarkan keindahannya sampai sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Di seberang Bab Ibrahim, di sebelah kanan orang yang memasuki pintu itu, dahulu duduk seorang syekh ahli ibadah bernama Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Afsyahri. Di sekitar pintu ini pula terdapat sebuah sumur yang dinisbatkan dengan nama yang sama, Sumur Ibrahim. Tidak jauh darinya, berdiri rumah seorang syekh saleh bernama Daniyal al-‘Ajami. Pada masa kekuasaan Sultan Abu Sa‘id, sedekah-sedekah yang datang dari Irak disalurkan melalui tangan beliau untuk fakir miskin di Tanah Suci.
Beberapa langkah lagi, tampak sebuah ribath yang disebut Ribath al-Muwaffaq. Menurut Ibnu Battutah, ribath ini termasuk salah satu yang terindah di Mekah, dan ia sendiri pernah tinggal di sana selama bermukim di kota suci itu. Di ribath ini pernah hidup syekh saleh Sa‘adah al-Jarani yang dijuluki ath-Thayyar. Suatu hari, setelah selesai salat Asar, seseorang masuk ke kamarnya dan mendapati beliau telah wafat dalam keadaan sujud menghadap Ka‘bah, tanpa didahului sakit apa pun. Di tempat yang sama, hidup pula syekh Syamsuddin Muhammad asy-Syami yang menetap di ribath itu selama kurang lebih empat puluh tahun. Di sana juga tinggal syekh Syu‘aib al-Maghribi, salah seorang tokoh besar di kalangan orang-orang saleh. Ibnu Battutah pernah masuk ke rumah Syekh Syu‘aib dan tercengang karena tidak mendapati apa pun di dalamnya selain sehelai tikar di lantai. Ketika hal itu ditanyakan, sang syekh hanya berkata pelan, memohon, “Tolong tutupilah apa yang engkau lihat.”
Mengelilingi Masjidil Haram, banyak rumah berdiri rapat, sebagian di antaranya memiliki jendela dan atap yang langsung terhubung ke atap Masjidil Haram. Dari sana, para penghuninya bisa setiap saat memandang Ka‘bah yang mulia. Ada pula rumah-rumah yang pintunya langsung membuka ke dalam kawasan Masjidil Haram, misalnya Dar Zubaidah milik Zubaidah, istri Khalifah Harun ar-Rasyid, kemudian Dar al-‘Ajalah, Dar asy-Syarabi, dan beberapa rumah lainnya.
Tidak jauh dari masjid, terdapat rumah Khadijah radhiyallahu ‘anha, istri pertama Rasulullah ﷺ dan Ummul Mukminin. Di dalam rumah itu, terdapat sebuah kubah kecil yang diyakini sebagai tempat kelahiran putri beliau, Fathimah radhiyallahu ‘anha. Di rumah Khadijah ini pula terdapat Qubbah al-Wahyi, yang dikenal sebagai tempat turunnya wahyu. Di dekat rumah itu, berdiri rumah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Berhadapan dengan rumah Abu Bakar, tampak sebuah dinding yang diberkahi, di dalamnya terdapat sebuah batu yang ujungnya menonjol sedikit keluar dari tembok. Masyarakat biasa menyentuh batu ini untuk mencari berkah. Konon, batu itu pernah mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ. Bahkan diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ menanyakan keberadaan seorang lelaki, batu itu berbicara dan menjawab, “Wahai Rasulullah, ia tidak berada di sini.”
Di kawasan inilah jejak-jejak kehidupan Rasulullah ﷺ, keluarganya, para sahabat, dan para salihin terjalin begitu rapat dengan setiap sudut kota Mekah.
________________________________________
3. Mas‘a: Lintasan Hidup Antara Shafa dan Marwah
Dari Bab Shafa, salah satu pintu Masjidil Haram, jamaah melangkah menuju bukit Shafa. Jarak dari pintu itu ke kaki bukit Shafa sekitar tujuh puluh enam langkah. Bukit Shafa sendiri lebarnya kira-kira tujuh belas langkah, dan untuk mencapainya orang harus menaiki empat belas anak tangga. Puncak Shafa tampak seperti sebuah pelataran datar tempat orang berdiri, menatap Ka‘bah dan berdoa.
Dari Shafa, jamaah memulai sa‘i menuju Marwah. Menurut perhitungan Ibnu Battutah, jarak antara Shafa dan Marwah kurang lebih empat ratus sembilan puluh tiga langkah. Perjalanan itu terbagi menjadi beberapa bagian. Dari Shafa hingga mil hijau pertama, seseorang menempuh sekitar sembilan puluh tiga langkah. Dari mil hijau pertama sampai dua mil hijau, jaraknya sekitar tujuh puluh lima langkah. Dari dua mil hijau sampai Marwah, sisanya sekitar tiga ratus dua puluh lima langkah.
Bukit Marwah memiliki lima anak tangga. Di atasnya terdapat satu lengkungan besar yang menaungi bagian tertentu dari puncaknya, dan lebarnya pun kurang lebih sama dengan Shafa, sekitar tujuh belas langkah. Di sanalah jamaah menyelesaikan putaran sa‘i mereka.
Istilah “mil hijau” yang disebut Ibnu Battutah merujuk pada sebuah tiang hijau yang didirikan di dekat sudut menara yang berada di sudut timur Masjidil Haram, di sebelah kiri orang yang sedang melakukan sa‘i menuju Marwah. Adapun dua mil hijau adalah sepasang tiang hijau yang mengapit jalan di dekat Bab ‘Ali, salah satu pintu Masjidil Haram. Satu tiang menempel pada dinding al-Haram, di sisi kiri orang yang keluar dari pintu itu, sementara tiang yang lain berdiri berhadapan dengannya di sisi seberang jalan.
Di antara mil hijau pertama dan dua mil hijau inilah para jamaah melakukan raml, yaitu lari-lari kecil yang disyariatkan. Mereka melakukannya ketika berangkat dari Shafa menuju Marwah, dan juga ketika kembali dari Marwah menuju Shafa.
Di tengah-tengah lintasan sa‘i itu terdapat sebuah lembah kecil, semacam saluran tanah rendah. Pada masa Ibnu Battutah, tempat ini dipenuhi sebuah pasar besar. Di sana orang-orang menjajakan aneka barang: biji-bijian, daging, kurma, samin, serta berbagai macam buah. Banyaknya manusia yang berjual beli di sana sering kali membuat para jamaah yang melakukan sa‘i sulit bergerak leluasa, karena harus berdesakan melewati kios-kios para pedagang. Ibnu Battutah bahkan menyebut bahwa di seluruh Mekah, pasar yang benar-benar tertata rapi hanyalah pasar di antara Shafa dan Marwah ini, dan satu lagi yaitu kawasan para penjual kain serta para penjual minyak wangi di sekitar Bab Syaibah.
Di salah satu sisi lintasan antara Shafa dan Marwah terdapat rumah al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhu. Pada masa Ibnu Battutah, rumah ini telah diubah menjadi sebuah ribath, tempat tinggal para mujawir yang mengabdikan diri di sekitar Masjidil Haram. Ribath ini dibangun oleh al-Malik an-Nashir, seorang penguasa yang juga membangun sebuah tempat wudu besar di antara Shafa dan Marwah pada tahun kedua puluh delapan dari pemerintahannya. Tempat wudu ini memiliki dua pintu. Satu pintu menghadap ke pasar di lintasan sa‘i, sedangkan pintu lainnya menghadap ke arah kawasan para penjual minyak wangi. Di atasnya didirikan sebuah rub‘, yaitu kompleks hunian bertingkat yang ditempati oleh para pelayan tempat wudu tersebut. Seluruh proyek pembangunan ini dipimpin oleh seorang amir bernama ‘Alauddin bin Hilal.
Di sebelah kanan bukit Marwah berdiri rumah Amir Mekah saat itu, yaitu Saifuddin ‘Utaifah bin Abi Numay, yang akan disebut lebih jauh lagi oleh Ibnu Battutah dalam bagian lain perjalanannya.
________________________________________
4. Al-Hajun: Pemakaman yang Diberkahi
Meninggalkan hiruk-pikuk di sekitar Masjidil Haram, Ibnu Battutah mengajak kita menelusuri sebuah tempat yang sunyi tetapi sarat makna: pemakaman besar di Mekah. Pemakaman ini terletak di luar Bab al-Ma‘la dan dikenal dengan nama al-Hajun. Tempat inilah yang pernah disebut oleh al-Harits bin Mudhad al-Jurhumi dalam bait syairnya yang mengharukan, ketika ia mengenang masa lalu Mekah:
كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بَيْنَ الْحَجُونِ إِلَى الصَّفَا
أَنِيسٌ وَلَمْ يَسْمُرْ بِمَكَّةَ سَامِرُ
بَلَى نَحْنُ فِيهَا أَهْلُهَا فَأَبَادَنَا
صُرُوفُ اللَّيَالِي وَالْجُدُودُ الْعَوَاثِرُ
“Seakan-akan tak pernah ada lagi, antara Hajun hingga Shafa,
seorang pun yang akrab, tak ada yang bercengkerama di Mekah pada malam hari.
Padahal dulu kami adalah penghuninya, lalu kami dibinasakan
oleh pergantian malam-malam dan nasib-nasib sial yang menimpa.”
Di pemakaman inilah dimakamkan jumlah yang sangat besar dari para sahabat Nabi, para tabi‘in, para ulama, orang-orang saleh, dan para wali. Namun seiring berjalannya waktu, bangunan-bangunan kecil di atas kuburan banyak yang runtuh, tanda-tanda makam menghilang, dan pengetahuan penduduk Mekah tentang letak persisnya makam-makam itu pun menipis. Akhirnya hanya sedikit saja yang masih dikenal dengan jelas.
Di antara makam yang masih dikenali adalah makam Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha, Ummul Mukminin, istri pertama Rasulullah ﷺ, ibu dari seluruh putra-putri beliau kecuali Ibrahim, dan nenek dari kedua cucu beliau yang mulia, al-Hasan dan al-Husain radhiyallahu ‘anhuma. Tidak jauh dari situ terdapat makam Khalifah Abu Ja‘far al-Mansur, yang bernama lengkap ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdullah bin al-‘Abbas, salah seorang penguasa besar dari dinasti ‘Abbasiyah.
Di pemakaman ini pula terdapat tempat di mana dahulu ‘Abdullah bin az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma pernah disalib. Pernah didirikan sebuah bangunan kecil di lokasi itu, tetapi kemudian dihancurkan oleh penduduk Tha’if. Mereka melakukannya karena muncul rasa cemburu dan marah; jamaah haji yang datang dari kota mereka sering dicela dan dilaknat karena dikaitkan dengan al-Mubir, yakni al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, tokoh kejam dari Tha’if yang pernah memerintahkan pelemparan Ka‘bah dengan manjaniq dan menyalib ‘Abdullah bin az-Zubair. Julukan al-Mubir sendiri berarti “yang membinasakan”.
Jika kita berdiri menghadap pekuburan itu, di sebelah kanan kita akan tampak sisa-sisa sebuah masjid yang telah runtuh. Konon, masjid inilah yang dahulu menjadi tempat para jin berbaiat kepada Rasulullah ﷺ, menyatakan keimanan mereka kepada beliau. Di sekitar al-Hajun inilah juga melintas jalan utama yang menuju Arafat, juga jalan yang mengarah ke Tha’if dan ke wilayah Irak. Dengan kata lain, al-Hajun menjadi simpul perjalanan sekaligus tempat peristirahatan terakhir banyak manusia mulia.
________________________________________
5. Jejak-Jejak Mulia di Luar Kota Mekah
Selain al-Hajun, Ibnu Battutah juga menyebutkan beberapa tempat lain di sekitar Mekah yang masing-masing terikat dengan peristiwa penting dalam sejarah Islam.
Sebagian penduduk menyebut nama al-Hajun bukan hanya untuk pemakaman, tetapi juga untuk menyebut gunung yang menjulang menghadap ke arah kuburan tersebut. Di dekat pemakaman, terbentang suatu kawasan bernama al-Mahshab, yang juga dikenal sebagai al-Abtah. Di tempat ini terdapat Khayf Bani Kinanah, suatu lembah kecil dan dataran tempat Rasulullah ﷺ pernah singgah.
Agak menjauh sedikit, terdapat lembah Dzu Thuwa. Lembah ini menurun ke arah makam-makam kaum Muhajirin yang terletak di daerah al-Hashahash, sebelum Tsaniyah Kada’. Dari Dzu Thuwa, orang-orang bisa melanjutkan perjalanan menuju batu-batu tanda yang dipasang sebagai batas antara tanah halal dan Tanah Haram. Ibnu Battutah menuturkan bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bila datang ke Mekah biasa bermalam di Dzu Thuwa, lalu mandi di sana pada pagi hari dan baru kemudian masuk ke kota. Disebutkan pula bahwa Rasulullah ﷺ pernah melakukan hal yang sama.
Di sekitar Mekah terdapat dua tsaniyah, yaitu celah sempit di antara bukit yang menurun menjadi jalan. Yang pertama disebut Tsaniyah Kuda, dengan huruf kaf dibaca dhammah. Tsaniyah ini berada di bagian atas Mekah. Melalui tsaniyah inilah Rasulullah ﷺ memasuki kota pada Haji Wada‘, haji perpisahan beliau. Yang kedua adalah Tsaniyah Kada’, dengan huruf kaf dibaca fathah. Tsaniyah ini juga dikenal dengan sebutan tsaniyah al-baydha’, tsaniyah yang putih, dan terletak di bagian bawah kota. Dari tsaniyah inilah Rasulullah ﷺ keluar meninggalkan Mekah pada Tahun Wada‘. Kedua tsaniyah ini terletak di antara dua gunung. Di celah sempit Tsaniyah Kada’ terdapat tumpukan batu yang diletakkan di tengah jalan. Setiap orang yang melintas biasa mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke tumpukan tersebut. Penduduk mengatakan bahwa di tempat itu terdapat kubur Abu Lahab dan istrinya, sang “pembawa kayu bakar” yang disebut dalam Al-Qur’an.
Di antara Tsaniyah Kada’ dan kota Mekah terbentang tanah datar yang luas. Ketika kafilah dan rombongan jamaah turun dari arah Mina, mereka sering berhenti dan bermalam di dataran ini sebelum melanjutkan perjalanan ke kota. Tidak jauh dari tempat itu, kira-kira satu mil dari Mekah, terdapat sebuah masjid. Di depannya, di tengah jalan, ada sebuah batu panjang yang diletakkan bagaikan bangku. Di atasnya tersusun batu lain. Dahulu di batu ini terdapat ukiran, tetapi bekasnya kini telah hilang. Masyarakat setempat mengatakan bahwa Nabi ﷺ pernah duduk beristirahat di batu itu ketika beliau datang dari salah satu umrah. Karena itulah orang-orang sering mencium batu tersebut dan bersandar kepadanya, mencari berkah dari jejak Rasulullah ﷺ.
Pada jarak sekitar satu farsakh dari Mekah, terdapat tempat bernama Tan‘im. Tanah ini menjadi batas wilayah halal yang paling dekat dengan Tanah Haram dan dikenal sebagai tempat miqat penduduk Mekah yang hendak berihram untuk umrah. Dari sinilah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berihram untuk umrah pada Haji Wada‘, ketika Rasulullah ﷺ mengutusnya bersama saudaranya, ‘Abdurrahman radhiyallahu ‘anhu, dan memerintahkannya agar mengumrahkannya dari Tan‘im. Di kawasan ini dibangun tiga buah masjid di pinggir jalan, yang semuanya dinisbatkan kepada nama ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Jalan menuju Tan‘im merupakan jalan yang luas dan lapang. Penduduk Mekah bersemangat untuk menyapunya setiap hari, berharap pahala dari Allah, karena banyak di antara orang yang hendak berumrah berjalan di atas jalan itu tanpa alas kaki. Di sepanjang jalan ini terdapat pula sumur-sumur air tawar yang disebut asy-Syubaikah. Airnya menjadi penyejuk dahaga dan sarana bersuci bagi para peziarah yang berjalan di bawah terik matahari.
Sedikit lebih jauh, sekitar dua mil dari Mekah di jalan menuju Tan‘im, terdapat kawasan bernama az-Zahir. Di kedua sisi jalan di daerah ini, terdapat sisa-sisa rumah, kebun, dan pasar yang menunjukkan bahwa dahulu tempat ini pernah ramai dihuni. Di tepi jalan, dibangun sebuah bangku panjang tempat deretan cangkir minum dan bejana wudu ditata. Seorang penjaga yang tinggal di tempat itu, seorang fakir dari kalangan mujawir, setiap hari mengisi bejana-bejana itu dengan air yang diambil dari sumur-sumur az-Zahir yang dalam sekali. Para dermawan ikut membantunya, sebab apa yang ia lakukan sangat bermanfaat bagi para peziarah dan orang-orang yang berumrah. Di tempat itulah mereka dapat mandi, minum, dan berwudu dengan mudah sebelum melanjutkan perjalanan. Menurut Ibnu Battutah, lembah Dzu Thuwa pada akhirnya terhubung dan bersambung dengan kawasan az-Zahir ini, sehingga seluruh tempat-tempat tersebut membentuk satu lanskap perjalanan di sekitar Mekah.
________________________________________
6. Penutup
Demikianlah sekelumit gambaran Mekah sebagaimana direkam oleh Ibnu Battutah dalam perjalanannya: mulai dari pintu-pintu Masjidil Haram yang sarat sejarah, menara-menara dan madrasah di sekelilingnya, rumah-rumah para penguasa dan orang saleh, hingga tempat sa‘i antara Shafa dan Marwah yang pada masa itu sekaligus menjadi pasar yang hidup. Kita juga diajak menyusuri pemakaman al-Hajun, tempat peristirahatan banyak sahabat dan orang mulia, serta lembah, tsaniyah, dan miqat di luar kota seperti Dzu Thuwa, Tan‘im, dan az-Zahir.
Melalui catatan ini, kita seolah berjalan bersama Ibnu Battutah di abad ke-8 Hijriyah, merasakan denyut Mekah sebagai kota ibadah, kota ilmu, dan kota sejarah. Di setiap sudutnya terpantul jejak Rasulullah ﷺ, keluarganya, para sahabat, dan orang-orang saleh yang hidup dengan kesederhanaan namun meninggalkan warisan ruhani yang dalam.
________________________________________
Sumber Kisah
Ibnu Battutah, Rihlah Ibn Battutah (Tuhfat an-Nuzzār fī Gharā'ib al-Amṣār wa ‘Ajā'ib al-Asfār)

Komentar
Posting Komentar