Rihlah Ibnu Bathutah #15: Ziarah ke Madinah al Munawwarah dan Makkah al Mukarramah


Ilustrasi panorama kota Madinah pada abad ke-4 Hijriah saat sore hari, menampilkan rumah-rumah bata tanah dan batu, pasar tradisional yang ramai dengan unta dan keledai pembawa barang, kebun kurma, serta Masjid Nabawi bergaya arsitektur awal Islam di kejauhan, dikelilingi perbukitan berbatu khas Hijaz.


Tiba di Kota Nabi

Sore itu, setelah perjalanan panjang, aku dan rombongan memasuki Madinah al-Munawwarah, kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hati kami berdebar ketika mendekati Masjid Nabawi. Kami masuk dari Bab as-Salam, mengucapkan salam, lalu melangkah ke dalam masjid yang mulia itu.

Kami shalat di Rawdah, di antara makam Nabi dan mimbar beliau — tempat yang disebut dalam hadis sebagai taman di antara taman-taman surga. Di sana ada sebuah tiang, menempel padanya sisa batang pohon kurma yang pernah “merintih” karena rindu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau pindah dari bersandar padanya ke mimbar yang baru. Kami menyentuhnya dengan penuh harap dan cinta.

Setelah itu, kami mengucapkan salam kepada sebaik-baik makhluk, pemimpin seluruh manusia, penolong para pendosa di hari kiamat, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya berdiri di hadapan makam beliau. Lalu kami bergeser menyampaikan salam kepada dua sahabat beliau yang mulia, Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar al-Faruq radhiyallahu ‘anhuma, yang dimakamkan di sampingnya.

Kami kembali ke tempat singgah dengan hati penuh syukur; merasa mendapatkan nikmat besar: bisa sampai ke kota Nabi, menziarahi masjid dan makam beliau yang agung. Di sepanjang malam kami berdoa, “Ya Allah, jangan jadikan ini kunjungan terakhir kami ke sini. Terimalah ziarah kami, dan catatlah perjalanan ini sebagai perjalanan di jalan-Mu.”

________________________________________

Di Dalam Masjid Nabawi dan Rawdah

Bangunan Masjid Nabawi di zamanku berbentuk memanjang. Di keempat sisinya ada serambi-serambi beratap yang mengelilingi pelataran tengah yang berlapis kerikil dan pasir. Di sekeliling luar masjid ada jalan yang dilapisi batu pahat.

Rawdah yang suci terletak di sisi arah kiblat, agak ke timur. Bentuknya begitu indah sampai sulit dilukiskan. Lantainya dihiasi marmer berukir yang sangat halus, dan selama berabad-abad dilumuri wewangian dan minyak kasturi.

Di sisi kiblat Rawdah ada sebuah paku perak yang sejajar dengan wajah mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di titik itulah para peziarah biasa berdiri, membelakangi kiblat, menghadap ke arah makam, lalu mengucapkan salam dengan penuh hormat, sebelum berbelok ke kanan menuju makam Abu Bakar dan Umar.

Di bagian dalam Rawdah juga terdapat sebuah kolam kecil berlapis marmer. Pada sisi kiblatnya bentuknya mirip mihrab. Sebagian orang mengatakan: di situlah dahulu rumah Fathimah az-Zahra binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; sebagian lain mengatakan: itu adalah kubur beliau. Hanya Allah yang Maha Mengetahui.

Di tengah masjid, aku melihat sebuah pelat penutup di lantai, menutup lorong bawah tanah yang bertangga. Lorong itu dahulu menuju rumah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di luar masjid. Di atas lorong inilah jalur yang pernah dilalui ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuju rumahnya; para ulama menganggap inilah “pintu kecil” (khuwwakhah) yang dalam hadis disuruh Nabi untuk dibiarkan terbuka, sementara pintu-pintu lain ditutup.

________________________________________

Sekilas Sejarah Pembangunan Masjid Nabawi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah —kota hijrah— pada hari Senin, malam 13 Rabi‘ul Awwal. Mula-mula beliau singgah di perkampungan Bani ‘Amr bin ‘Auf selama beberapa hari, kemudian pindah ke pusat kota dan tinggal di rumah Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu selama kurang lebih tujuh bulan, sampai beliau selesai membangun rumah-rumah beliau dan masjid.

Tanah tempat Masjid Nabawi berdiri dulunya adalah lahan pengeringan kurma milik dua anak yatim dari Bani an-Najjar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli tanah itu dari mereka, atau menurut sebagian riwayat, mereka mewakafkannya kepada beliau.

Beliau sendiri turun tangan bersama para sahabat mengangkat batu, menyusun tembok, dan membangun masjid. Pada awalnya masjid itu sederhana: tanpa atap, tanpa tiang batu. Dindingnya dari batu dan tanah, kira-kira setinggi orang dewasa. Ketika panas mulai menyengat, para sahabat mengusulkan untuk diberi atap. Maka dibuatlah tiang-tiang dari batang kurma dan atap dari pelepahnya.

Suatu ketika turun hujan lebat dan air menetes ke lantai masjid. Para sahabat mengusulkan agar bangunan diperkuat dengan bata dan tanah liat. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa cukup naungan sederhana, “seperti naungan Nabi Musa”, yaitu atap yang rendah, sehingga bila beliau berdiri kepala beliau menyentuh atap.

Pada masa beliau, masjid hanya memiliki tiga pintu. Setelah kiblat dipindahkan dari Baitul Maqdis ke Ka‘bah, satu pintu di sisi selatan ditutup. Bentuk masjid tetap seperti itu sepanjang hayat beliau dan sepanjang masa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.

Lalu datang masa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Beliau memperluas masjid, mengganti tiang kayu dengan tiang batu bata, menguatkan pondasi dengan batu, dan menambah jumlah pintu menjadi enam. Beliau bahkan mengkhususkan satu pintu untuk para perempuan. Umar berkata, ia tidak akan berani memperluas masjid seandainya tidak mendengar sendiri Nabi menganjurkannya.

Pada masa ini terjadi peristiwa menarik: di rumah al-‘Abbas, paman Nabi, ada sebuah talang yang menumpahkan air hujan ke dalam masjid. Umar mencabut talang itu karena dianggap mengganggu jamaah. Al-‘Abbas memprotes, dan perkara mereka dibawa kepada sahabat Ubay bin Ka‘b. Ubay mengingatkan sebuah kisah yang diriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Nabi Dawud ‘alaihissalam yang hendak membangun Baitul Maqdis, namun di tanah yang masih ada hak dua anak yatim. Dari kisah itu, Umar memahami: tidak pantas ada kezaliman sekecil apa pun dalam urusan rumah ibadah. Akhirnya Umar mengembalikan talang itu dengan penuh hormat, bahkan meminta al-‘Abbas berdiri di atas pundaknya ketika memasangnya kembali. Al-‘Abbas pun kemudian mewakafkan rumahnya untuk perluasan masjid.

Setelah Umar, Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu kembali memperluas dan memperindah masjid. Ia mengganti dinding dengan batu pahat yang lebih rapi, memperkuat tiang-tiang dengan besi dan timah, memasang atap dari kayu jati, dan menambahkan mihrab.

Pada masa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah, kemudian pada masa para penguasa sesudahnya, masjid beberapa kali diperluas dan diperindah: oleh al-Walid bin ‘Abd al-Malik melalui tangan Umar bin Abdul Aziz, oleh al-Mahdi, kemudian oleh Sultan-sultan Mamluk seperti al-Malik al-Mansur Qalawun yang membangun tempat wudhu besar di dekat Bab as-Salam.

________________________________________

Arah Kiblat Masjid Nabawi

Kiblat Masjid Nabawi adalah kiblat yang pasti dan jelas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang menentukannya dengan bimbingan Jibril ‘alaihissalam. Ada riwayat yang menyebut bahwa Jibril menunjukkan arah Ka‘bah, bahkan sampai Allah menyingkap gunung-gunung sehingga Ka‘bah terlihat dari Madinah, lalu Nabi membangun masjid sambil “melihat” Ka‘bah.

Pada awal hijrah, Nabi dan para sahabat shalat menghadap Baitul Maqdis sekitar 16 atau 17 bulan. Setelah itu turun perintah memalingkan wajah ke Masjidil Haram di Makkah. Sejak saat itu, kiblat kaum muslimin mengarah ke Ka‘bah.

________________________________________

Kisah Batang Kurma yang Merintih dan Mimbar Nabi

Pada masa awal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah sambil bersandar pada sebatang pohon kurma di dalam masjid. Ketika kaum muslimin membuatkan mimbar baru dengan tiga anak tangga, beliau mulai berkhutbah di atas mimbar.

Saat itu terjadi keajaiban: batang kurma yang biasa beliau sandari mengeluarkan suara rintihan seperti rintihan unta yang merindukan anaknya. Masjid gempar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar, memeluk batang kurma itu, barulah suara rintihannya berhenti. Beliau bersabda, “Seandainya aku tidak memeluknya, niscaya ia akan terus merintih sampai hari Kiamat.”

Mimbar itu sendiri dibuat dari kayu, dengan tiga anak tangga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di anak tangga paling atas dan meletakkan kedua kaki beliau di anak tangga tengah. Setelah beliau wafat:

Abu Bakar duduk di anak tangga tengah, dengan kaki di anak tangga pertama.

Umar duduk di anak tangga pertama, kakinya di lantai.

Utsman pada awalnya mengikuti cara Umar, lalu kemudian naik ke anak tangga tertinggi.

Pada masa Mu‘awiyah, pernah muncul keinginan memindahkan mimbar ke Syam. Namun ketika berita itu menyebar, kaum muslimin protes keras. Konon, pada hari-hari itu terjadi tanda-tanda luar biasa: angin ribut bertiup, matahari gerhana, bintang-bintang tampak di siang hari, dan suasana gelap. Mu‘awiyah pun mengurungkan niat memindahkan mimbar. Ia hanya menambah enam anak tangga dari bawah, sehingga jumlahnya menjadi sembilan.

________________________________________

Imam, Khatib, dan Qadhi di Masjid Nabawi

Ketika aku memasuki Madinah, imam Masjid Nabawi adalah Baha’uddin bin Salamah, seorang ulama besar asal Mesir. Wakilnya seorang alim saleh yang zuhud, ‘Izzuddin al-Wasithi. Qadhi dan khatib saat itu adalah Sirajuddin ‘Umar al-Mishri.

Dari penduduk Madinah aku mendengar kisah tentang Sirajuddin ini. Selama hampir empat puluh tahun ia menjadi qadhi dan khatib di Masjid Nabawi. Menjelang akhir hayat, ia berniat pindah ke Mesir. Ia bermimpi tiga kali berturut-turut melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya meninggalkan Madinah dan mengisyaratkan bahwa ajalnya sudah dekat. Namun ia tetap memutuskan pergi. Di tengah perjalanan, sebelum sampai ke Mesir, ia wafat di daerah yang kini dikenal sebagai kota Suez. Orang-orang memandang kisah ini sebagai peringatan betapa pentingnya mematuhi isyarat baik yang datang melalui mimpi yang benar.

________________________________________

Para Khadim dan Muazin Masjid Nabawi

Para khadim (pelayan) Masjid Nabawi kebanyakan adalah para pemuda dari suku-suku sekitar, berpenampilan rapi dan bersih. Pemimpin mereka disebut Syaikh al-Khuddam; penampilannya seperti para pemimpin besar. Gaji mereka dikirim setiap tahun dari Mesir dan Syam.

Kepala para muazin ketika itu adalah Jamaluddin al-Mathari, seorang imam dan ahli hadis dari sebuah kampung bernama al-Mathariyah di Mesir. Putranya, ‘Afifuddin Abdullah, juga muazin dan orang yang berilmu.

Ada satu sosok yang sangat berkesan di Masjid Nabawi: seorang syaikh asal Granada bernama Abu Abdillah Muhammad al-Gharnathi, dikenal dengan julukan at-Tarrās. Ia adalah muazin, pelayan masjid, dan pemimpin para pen-tawaf. Ia pernah mengebiri dirinya sendiri karena takut terjatuh ke dalam zina. Ceritanya demikian:

Ia dulu menjadi pelayan seorang syaikh bernama Abdul Hamid al-‘Ajami. Syaikh ini sangat mempercayainya sampai menitipkan rumah dan keluarganya ketika bepergian. Suatu hari, ketika syaikh pergi, istrinya tergoda kepada Abu Abdillah dan merayunya berkali-kali. Ia menolak dengan tegas, takut kepada Allah, dan tidak mau mengkhianati amanah. Namun karena godaan terus berulang, ia sangat takut dirinya jatuh dalam dosa. Hingga akhirnya ia memilih mengebiri dirinya sendiri. Ia pingsan, lalu orang-orang menemukannya dalam keadaan demikian dan mengobatinya sampai sembuh. Sejak itu ia mengabdikan hidupnya di Masjid Nabawi sebagai khadim dan muazin, hidup dalam ibadah dan khidmat.

________________________________________

Para Ahli Ibadah yang Bermukim di Madinah dan Makkah

Di Madinah dan Makkah, aku bertemu banyak orang saleh yang menghabiskan hidup mereka untuk beribadah di dua tanah haram.

Salah satunya adalah Abu al-‘Abbas Ahmad bin Muhammad Marzuq. Ia sering bergantian bermukim di Madinah dan Makkah. Di Masjidil Haram, aku menyaksikan sendiri kesungguhannya tawaf di tengah panas yang sangat terik. Lantai di sekitar Ka‘bah dilapisi batu hitam yang jika terpapar matahari terasa seperti besi membara. Banyak orang memakai kaus kaki agar tidak terbakar. Bahkan aku menyaksikan para penimba air menyiram lantai, namun beberapa langkah kemudian panasnya sudah terasa menyengat kembali.

Abu al-‘Abbas Marzuq tetap bertawaf tanpa alas kaki, siang dan malam, bahkan pada saat waktu qailulah ketika panas mencapai puncaknya. Di tahun itu, di Makkah juga ada seorang menteri dari Granada yang mulia, Abu al-Qasim Muhammad bin Muhammad bin Sahl al-Azdi. Ia biasa menyelesaikan tujuh puluh putaran tawaf setiap pekan, namun ia menghindari tawaf pada waktu siang yang terik. Semangat Abu al-‘Abbas bin Marzuq bahkan melampauinya; ia bertawaf di saat kebanyakan orang beristirahat karena panas.

Ada lagi seorang syaikh buta dari Marrakesy bernama Sa‘id al-Marrakushi, seorang ahli ibadah. Di Makkah aku berkenalan dengan seorang ahli ibadah lain, Abu Mahdi ‘Isa bin Hazrun al-Makhnasi. Suatu hari, ia naik ke Jabal Hira’ bersama sekelompok orang yang bermukim di Makkah. Setelah mengunjungi gua tempat dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertahannuts, mereka turun. Abu Mahdi tertinggal, melihat sebuah jalur di gunung yang dikiranya pendek, lalu menempuhnya. Ternyata jalur itu panjang dan berbelok-belok hingga ia tersesat dan berakhir di gunung lain.

Ia kehabisan air, sandal hancur, panas menyiksa. Ia mengoyak pakaiannya untuk membungkus telapak kakinya yang melepuh. Akhirnya ia tidak sanggup berjalan lagi dan berteduh di bawah sebuah pohon “Ummu Ghailan” (sejenis pohon samar berduri). Di tengah keputusasaan, datanglah seorang Badui dengan untanya, menemukan dan menolongnya, mengantarnya kembali ke Makkah. Abu Mahdi selamat, namun hampir sebulan ia tak mampu berdiri; kulit telapak kakinya terkelupas dan digantikan kulit baru.

Ada pula Abu Muhammad asy-Syarawi, seorang dermawan yang bermukim di Madinah dan pernah juga bermukim di Makkah. Di Makkah, pada tahun yang sama, ia biasa membaca Kitab asy-Syifa karya Qadhi ‘Iyadh setiap ba’da Zhuhur dan mengimami shalat Tarawih. Di sana juga ada faqih Abu al-‘Abbas al-Fasi, pengajar mazhab Maliki, yang menikah dengan putri syaikh saleh Syihabuddin az-Zarandi.

Tentang Abu al-‘Abbas al-Fasi ini ada kisah sedih. Suatu hari ia berdebat dengan seseorang dan karena ketidaktahuannya tentang ilmu nasab serta kurang berhati-hati menjaga lisan, ia mengucapkan kalimat yang sangat keliru: ia mengatakan bahwa al-Husain bin Ali tidak memiliki keturunan. Ucapan ini tentu menyinggung para keturunan Ahlul Bait yang ada di Madinah.

Berita itu sampai kepada Amir Madinah saat itu, Thufail bin Manshur bin Jamaz, seorang sayyid dari keturunan al-Hasan. Sang amir sangat mengingkari ucapan itu dan pada awalnya hendak menghukumnya dengan hukuman berat. Setelah ada yang memintakan keringanan, ia hanya mengusir Abu al-‘Abbas dari Madinah. Namun orang-orang mengatakan, setelah itu ada yang dikirim secara rahasia untuk membunuhnya, dan sampai sekarang tidak lagi terdengar kabarnya. Orang-orang pun berlindung kepada Allah dari tergelincirnya lisan.

________________________________________

Ziarah ke Baqi’ dan Makam-Makam Mulia

Di sebelah timur Madinah terdapat pemakaman besar yang mulia, Baqi‘ al-Gharqad. Untuk ke sana, orang keluar dari Madinah melalui Bab al-Baqi‘. Begitu melewati gerbang, di sisi kiri akan terlihat beberapa makam penting.

Di sana dimakamkan Shafiyyah binti Abdul Muththalib, bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ibu az-Zubair bin al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhuma. Tak jauh di depannya, ada makam Imam Malik bin Anas radhiyallahu ‘anhu, imam mazhab penduduk Madinah, di bawah sebuah kubah kecil yang sederhana.

Di hadapan makam Imam Malik terdapat makam Ibrahim, putra Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di bawah sebuah kubah putih. Di sebelah kanan kubah itu ada makam Abdurrahman bin Umar bin al-Khaththab, dikenal sebagai Abu Syahmah. Berhadapan dengannya, makam Aqil bin Abi Thalib dan makam Ja‘far bin Abi Thalib, yang dikenal sebagai Dzul-Janahayn (pemilik dua sayap) radhiyallahu ‘anhum.

Tidak jauh dari situ ada deretan makam para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dekatnya lagi terdapat kubah tinggi yang megah: di sanalah dimakamkan al-‘Abbas bin Abdul Muththalib, paman Rasulullah, dan al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ‘alaihimas salam. Kedua makam itu dilapisi papan-papan kayu yang dipasang rapi dan dihias lempengan kuningan yang dikerjakan dengan sangat indah.

Di bagian lain Baqi‘, tersebar makam para Muhajirin dan Anshar, serta sahabat-sahabat Nabi lainnya radhiyallahu ‘anhum, meski banyak di antaranya yang kini tidak diketahui lagi secara pasti. Di ujung Baqi‘, berdiri sebuah kubah besar di atas makam Amirul Mu’minin Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Dekat situ ada makam Fathimah binti Asad, ibu Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma.

________________________________________

Quba’, Masjid yang Didirikan di Atas Dasar Takwa

Sekitar dua mil di selatan Madinah terdapat sebuah perkampungan bernama Quba’. Jalan ke sana melewati kebun-kebun kurma yang hijau. Di sanalah berdiri Masjid Quba’, masjid pertama yang dibangun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah hijrah. Al-Qur’an menyebut masjid seperti ini sebagai masjid yang didirikan atas dasar takwa.

“لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ”

“Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang suka menyucikan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”

(QS at-Taubah [9]: 108)

Bangunan Masjid Quba’ berbentuk segi empat, dengan sebuah menara putih menjulang yang tampak dari jauh. Di tengahnya terdapat tempat yang diyakini sebagai lokasi unta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berlutut. Orang-orang sering shalat di titik itu untuk mencari berkah.

Di sisi kiblat pelataran ada sebuah mihrab di atas panggung; itulah tempat pertama kali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat (dengan ruku’ dan sujud) setelah hijrah. Di dekat masjid terdapat rumah-rumah yang dahulu dinisbatkan kepada Abu Ayyub al-Anshari, Abu Bakar, Umar, Fathimah, dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum.

Di hadapan masjid ada sumur Aris, yang dahulu airnya asin-pahit. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meludah ke dalamnya, airnya menjadi tawar. Di sumur inilah cincin Nabi yang dipegang oleh Utsman radhiyallahu ‘anhu pernah terjatuh dan tidak ditemukan kembali.

________________________________________

Tempat-Tempat Bersejarah Lain di Sekitar Madinah

Di luar Madinah ada sebuah tempat bernama Hajar az-Zuyut. Dikisahkan, di sana pernah keluar minyak (zaitun) sebagai karamah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ke arah utara dari situ ada sumur Budha‘ah, dan dekatnya sebuah bukit kecil yang orang menyebutnya Jabal asy-Syaithan (Gunung Setan). Konon di sinilah setan berseru pada hari Perang Uhud, menyebarkan kabar bohong bahwa Nabi telah terbunuh.

Di sekitar parit (khandaq) yang dahulu digali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika pasukan Ahzab mengepung Madinah, ada sebuah benteng rusak bernama Qal‘at al-‘Uzzab. Dikatakan, Umar membangunnya untuk para pemuda lajang Madinah. Tidak jauh dari situ ada sumur Rūmah. Dulu sumur ini milik seorang Yahudi yang menjual airnya kepada kaum muslimin dengan harga tinggi. Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu membeli separuh sumur itu dengan harga mahal, dan menganjurkan kaum muslimin mengambil air pada hari-hari yang menjadi bagiannya, hingga si Yahudi kesulitan menjual air. Ia pun akhirnya menjual sisa bagiannya, dan Utsman mewakafkan sumur itu sepenuhnya untuk kaum muslimin.

Di sebelah utara Madinah terdapat Gunung Uhud, yang jaraknya sekitar satu farsakh (kurang lebih 5 km). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Uhud adalah gunung yang mencintai kami, dan kami pun mencintainya.”

Di kaki Uhud terdapat makam para syuhada Perang Uhud. Di sana ada makam Hamzah bin Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu, paman Nabi dan penghulu para syuhada, serta di sekelilingnya makam para sahabat yang gugur.

Di jalan menuju Uhud, ada masjid kecil yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, masjid lain yang dinisbatkan kepada Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, dan sebuah masjid bernama Masjid al-Fath, tempat turunnya Surah al-Fath kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

________________________________________

Malam-Malam di Masjid Nabawi

Kami tinggal di Madinah selama empat hari. Setiap malam kami bermalam di Masjid Nabawi. Pemandangan malam di sana sungguh indah: jamaah duduk berkelompok di pelataran masjid, menyalakan lilin-lilin besar. Di setiap kelompok ada mushaf al-Qur’an yang dibaca bergantian. Sebagian orang berzikir, sebagian memandang ke arah Rawdah dan makam Nabi dengan penuh haru, sebagian lagi mendengarkan syair-syair pujian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dilantunkan para hadāh (pelantun syair).

Pada malam-malam itu, para dermawan banyak mengeluarkan sedekah untuk para mukim dan fakir miskin. Suasana penuh kehangatan dan cinta.

Bersamaku dalam perjalanan dari Syam ke Madinah ada seorang penduduk Madinah yang saleh, Manshur bin Syakkal, yang menjamuku di rumahnya. Kami kembali bertemu kelak di Halab dan Bukhara. Ada juga qadhi kaum Zaidiyah, Syarafuddin Qasim bin Syannan, serta seorang fakir saleh dari Granada bernama Ali bin Hajar al-Umawi.

Pada malam pertama kami tiba di Madinah, Ali bin Hajar bercerita bahwa ia bermimpi ada suara yang membacakan bait-bait syair:

“Selamat berbahagia, wahai para peziarah makam yang mulia,

Kelak pada Hari Kiamat kalian aman dari segala dosa.”

“Kalian datang ke kubur sang kekasih di Thayyibah nan suci,

Beruntunglah siapa saja yang pagi dan petangnya di Thayyibah berlalu.”

Ali bin Hajar kemudian memilih menetap di Madinah, lalu beberapa tahun setelahnya berangkat ke Delhi, ibu kota India, dan tinggal dekat rumahku. Aku pernah menceritakan kisah mimpinya di hadapan Raja India. Sang raja tertarik dan memintanya hadir. Ali pun datang, menceritakan mimpinya, dan raja sangat kagum. Ia memberinya tiga ratus keping emas, seekor kuda dengan pelana dan kekang berhias, jubah kehormatan, serta menetapkan uang harian untuknya.

Di Delhi juga ada seorang faqih baik hati dari Granada, lahir di Bijayah, dikenal sebagai Jamaluddin al-Maghribi. Ali berjanji akan menikahkan putrinya dengan faqih ini. Ia menempatkannya di rumah kecil di samping rumahnya, membelikan seorang budak laki-laki dan seorang budak perempuan sebagai pembantu. Ali biasa menyimpan emasnya di antara lipatan pakaian, tanpa dikunci. Kedua budak itu bersekongkol, mengambil emas dan melarikan diri. Ketika Ali kembali, ia tidak menemukan mereka dan tidak pula emasnya. Ia sangat sedih hingga enggan makan dan minum, jatuh sakit berat, dan tidak lama kemudian wafat. Saat raja mendengar kejadiannya dan memerintahkan agar hartanya diganti, utusan yang dikirim menemukan bahwa ia sudah meninggal. Semoga Allah merahmatinya.

________________________________________

Meninggalkan Madinah Menuju Makkah

Setelah beberapa hari di Madinah, tibalah saatnya melanjutkan perjalanan menuju Makkah al-Mukarramah. Kami keluar menuju Dzu al-Hulaifah, miqat yang darinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berihram. Jaraknya sekitar lima mil dari Madinah. Di sanalah batas Tanah Haram Madinah.

Dekat miqat itu mengalir Wadi al-‘Aqiq. Di sana aku mandi, menanggalkan pakaian berjahit, mengenakan dua lembar kain ihram, shalat dua rakaat, lalu berniat haji ifrad (hanya haji, tanpa umrah). Sejak saat itu lisanku terus melantunkan talbiyah di setiap lembah dan dataran, di setiap tanjakan dan turunan:

“Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik…”

Malam itu kami bermalam di sebuah tempat bernama Syi‘b ‘Ali.

________________________________________

Ar-Rauhā’, Ash-Shafrā’, dan Badar

Esoknya kami berangkat dan singgah di ar-Rauhā’. Di sana ada sebuah sumur yang dikenal sebagai Bi’r Dzāt al-‘Ilm; ada yang mengatakan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah memerangi jin di tempat itu.

Perjalanan dilanjutkan ke ash-Shafrā’, sebuah lembah yang subur, memiliki air, kebun-kebun kurma, bangunan, dan sebuah istana yang ditinggali para syarif keturunan Hasan dan lainnya. Di sekitarnya banyak benteng dan desa yang saling berdekatan.

Dari ash-Shafrā’, kami menuju Badar, nama yang menggetarkan hati setiap muslim. Di sinilah Allah menurunkan pertolongan-Nya dan membinasakan para pemuka Quraisy yang memerangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kini Badar adalah sebuah kampung dengan kebun-kebun kurma yang saling bersambung dan sebuah benteng kuat di antara lembah dan bukit-bukit.

Ada mata air besar di Badar, airnya mengalir. Sumur tua tempat mayat-mayat musyrikin dahulu dilemparkan kini telah berubah menjadi kebun. Di belakangnya terdapat makam para syuhada Badar. Di satu sisi ada sebuah bukit yang mereka sebut Jabal ar-Rahmah, di sisi lain bukit pasir yang memanjang yang mereka sebut Jabal ath-Thubul. Penduduk setempat mengatakan, setiap malam Jumat mereka mendengar suara seperti tabuhan genderang dari arah bukit itu.

Dekat kaki bukit tersebut dahulu dibangun sebuah gubuk (arysh) tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermunajat memohon pertolongan Allah pada hari Perang Badar. Di dekat kebun bekas sumur, ada sebuah masjid kecil yang katanya menjadi tempat unta beliau berlutut.

Jarak antara Badar dan ash-Shafrā’ sekitar satu barid (sekitar 20–22 km) melalui lembah di antara gunung-gunung, dialiri mata-mata air dan dipenuhi kebun kurma.

________________________________________

Melintasi Padang Buzawā’ dan Miqat Rabigh

Keluar dari Badar, kami memasuki padang luas yang disebut Biqā‘ al-Buzawā’, tempat yang terkenal membingungkan para penunjuk jalan. Jaraknya tiga hari perjalanan. Di ujungnya terdapat Wadi Rabigh. Ketika musim hujan, air berkumpul dalam genangan yang bertahan lama. Dari sinilah para jamaah haji dari Mesir dan Maroko kini berihram, menggantikan miqat al-Juhfah yang dahulu menjadi miqat mereka.

Dari Rabigh, kami berjalan tiga hari hingga sampai ke Khulays. Dalam perjalanan kami melewati sebuah tanjakan berpasir bernama ‘Aqabah as-Suwaiq, berjarak setengah hari dari Khulays. Namanya diambil dari minuman “suwaiq” (tepung gandum sangrai) yang biasa diminum jamaah haji di sana. Orang-orang membawa suwaiq dari Mesir dan Syam khusus untuk itu, mencampurnya dengan gula, memasukkannya ke dalam tempat-tempat air, lalu para amir mengisinya ke kolam besar dan membagi-baginya kepada para jamaah. Mereka meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati tanjakan itu ketika para sahabat sedang kehabisan bekal, lalu beliau mengambil segenggam pasir di sana dan memberikannya kepada mereka, sehingga ketika mereka mencampurnya dengan air menjadi seperti suwaiq.

Kami kemudian singgah di Barakat Khulays, sebuah dataran luas dengan banyak kebun kurma dan sebuah benteng besar di puncak bukit. Ada pula benteng lama yang retak-retak, di dekatnya memancar sebuah mata air yang dialirkan ke kebun-kebun. Penguasa Khulays adalah seorang syarif keturunan Hasan. Suku-suku Arab setempat mengadakan pasar besar di sana, menjual kambing, kurma, dan lauk-pauk.

________________________________________

‘Usfān, Bathn Marr, dan Pintu Gerbang Makkah

Dari Khulays kami berangkat ke ‘Usfān, sebuah dataran di antara gunung-gunung. Di sana ada beberapa sumur; salah satunya dinisbatkan kepada Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Tidak jauh dari sana, di sebuah celah sempit antara dua gunung yang disebut al-Madrāj, ada lantai batu seperti anak tangga; bekas bangunan tua. Di situ juga terdapat sumur yang dikaitkan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di ‘Usfān ada sebuah benteng lama dan menara tinggi yang hampir runtuh. Banyak tumbuh di sana pohon “muqil” yang getahnya dipakai untuk obat.

Perjalanan berlanjut ke Bathn Marr (atau Marr azh-Zhahran), sebuah lembah subur dengan kebun-kebun kurma dan mata air yang deras mengalir. Dari lembah inilah banyak buah dan sayur dibawa ke Makkah.

Malam itu kami berangkat dari Bathn Marr. Hati kami dipenuhi kegembiraan: sebentar lagi kami akan melihat Ka‘bah. Di waktu fajar, kami pun melihat Makkah terbentang di hadapan kami —kota yang disebut Allah dalam Al-Qur’an:

“وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ”

“Dan demi kota (Makkah) yang aman ini.”

(QS at-Tin [95]: 3)

Kami memasuki Makkah, “al-Balad al-Amin”, negeri yang aman, menuju Tanah Haram Allah, tempat kediaman Khalilullah Ibrahim dan tempat diutusnya Kekasih-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

________________________________________

Thawaf Pertama di Baitullah

Kami masuk ke Masjidil Haram melalui Bab Bani Syaibah. Di hadapan kami, tampak Ka‘bah yang mulia bagaikan pengantin di atas pelaminan kemuliaan, diselimuti kain keindahan, dikelilingi para tamu Ar-Rahman. Allah berfirman tentang Baitullah:

“فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَّقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ”

“Di sana terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.”

(QS Ali ‘Imran [3]: 97)

Kami melakukan thawaf qudum mengelilingi Ka‘bah, mencium Hajar Aswad, lalu shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Setelah itu kami berdiri di al-Multazam, yakni dinding Ka‘bah antara pintu dan Hajar Aswad, berdoa sambil menempelkan dada dan wajah ke kain penutup Ka‘bah. Di tempat ini doa-doa banyak dikabulkan.

Kami juga meminum air Zamzam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Zamzam “sesuai dengan niat orang yang meminumnya”: jika ia minum dengan niat meminta kesembuhan, ilmu, atau ampunan, Allah akan memberinya.

Setelah itu kami melakukan sa‘i antara Shafa dan Marwah, menelusuri jejak sayyidah Hajar yang dahulu berlari-lari mencari air untuk putranya, Ismail ‘alaihissalam. Seusai itu, kami menetap di sebuah rumah dekat Bab Ibrahim, bersyukur kepada Allah yang telah memanggil kami sebagai tamu Bait-Nya.

________________________________________

Rindu yang Tak Pernah Padam kepada Dua Tanah Haram

Ada satu rahasia besar yang kurasakan di Haramain: Allah menanamkan kerinduan yang sangat dalam di hati hamba-hamba-Nya kepada dua tanah haram ini. Siapa pun yang pernah menginjakkan kaki di Madinah dan Makkah, hatinya seperti diikat di sana. Ia pulang dengan dada sesak karena rindu, matanya basah karena berpisah, dan lisannya berdoa semoga kelak Allah mengizinkan datang kembali.

Kenangan tentang Ka‘bah, Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Rawdah, makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tempat-tempat suci lain, seakan terus terbayang di pelupuk mata. Jarak jauh tidak menghapus bayangannya, waktu panjang tidak mengurangi kerinduannya. Orang yang lemah, yang dalam perjalanan haji merasa nyaris mati karena beratnya ujian, ketika sampai di Makkah, semua lelahnya seakan hilang. Ia berdiri di hadapan Ka‘bah dengan air mata haru, melupakan pahitnya jalan panjang yang baru ia tempuh.

Sungguh, ini adalah urusan Ilahi, pekerjaan Rabbani, tanda yang jelas tanpa keraguan. Barang siapa diberi Allah kesempatan untuk berhenti di halaman Baitullah dan Masjid Nabawi, ia telah diberi nikmat yang sangat agung: kebaikan dunia dan akhirat. Sudah sepantasnya ia memperbanyak syukur dan tidak bosan memuji.

Aku memohon kepada Allah agar menjadikan kami termasuk orang-orang yang ziarahnya diterima, perjalanannya di jalan-Nya dicatat, dosa-dosanya diampuni, dan kelak dikembalikan lagi ke tanah haram ini dalam keadaan sehat dan diridhai.

________________________________________

Sumber kisah:

Rihlah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nabi Hūd, Kaum ‘Ād, dan Jejaknya dalam Sejarah Arab Pra Islam

Kisah Keberanian Sahabat di Perang Uhud: Thalhah, Nusaibah, dan Para Pejuang Wanita

Rihlah Ibnu Bathutah #61 : Sultan Alauddin Tharmasyirin, Keadilan, Kerendahan Hati, dan Sebuah Pelajaran Hidup