Perjalanan Isra dan Miraj Nabi Muhammad SAW

Ilustrasi malam Isra Miraj di Masjid Al-Aqsa, Buraq putih tertambat di cincin besi, langit bertabur bintang dan cahaya Mi’raj


Pendahuluan: Perjalanan Malam yang Menggetarkan Iman

Isra’ dan Mi’raj adalah salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam satu malam, beliau diperjalankan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis (Palestina), lalu dinaikkan ke langit langit, diperlihatkan tanda tanda kebesaran Allah, bertemu para nabi, hingga diwajibkan salat bagi umatnya.

Allah mengabadikan peristiwa ini dalam firman Nya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَىٰ الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

(QS. al Isrā’ [17]: 1)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengumpulkan berbagai riwayat tentang peristiwa mulia ini dalam al Bidâyah wa an Nihâyah, lalu menelitinya dan menjelaskan mana yang kuat dan mana yang lemah. Dari sanalah kisah ini disusun kembali dengan bahasa yang lebih mudah.

________________________________________

Kapan Terjadi Isra’ Mi’raj?

Para ulama berbeda pendapat tentang waktu tepat terjadinya Isra’ dan Mi’raj. Sebagian ahli hadis seperti az Zuhri menyebutkan bahwa Isra’ terjadi sekitar satu tahun sebelum hijrah ke Madinah. Riwayat lain merincinya menjadi enam belas bulan sebelum hijrah. As Suddi berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi pada bulan Dzulqa’dah, sedangkan az Zuhri dan ‘Urwah berpendapat bahwa ia terjadi pada bulan Rabi‘ul Awwal.

Ada pula riwayat dari Jabir dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan, diutus sebagai rasul, di Mi’raj kan, berhijrah, dan wafat, semuanya pada hari Senin tanggal 12 Rabi‘ul Awwal. Namun sanad riwayat ini terputus sehingga tidak cukup kuat untuk memastikan tanggalnya secara pasti.

Sebagian orang kemudian terkenal menyebut malam 27 Rajab sebagai malam Isra’ Mi’raj, bahkan mengaitkannya dengan amalan amalan khusus. Akan tetapi, menurut Ibnu Katsir, hadis yang menyebut secara khusus malam 27 Rajab sebagai malam Isra’ tidak sahih sanadnya, dan tidak ada dasar kuat untuk ritual khusus pada malam itu. Allah lebih mengetahui kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Yang paling penting bagi seorang mukmin adalah mengimani terjadinya Isra’ dan Mi’raj sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an dan hadis hadis yang sahih.

________________________________________

Awal Perjalanan: Di Rumah Ummu Hani’ dan di Hijr Ismail

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa malam itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di rumah Ummu Hani’ binti Abi Thalib. Beliau salat Isya bersama keluarga di lembah dekat Masjidil Haram, kemudian bermalam di rumah Ummu Hani’. Menjelang Subuh, beliau membangunkan mereka, lalu salat Subuh bersama. Seusai salat, beliau berkata dengan tenang:

“Wahai Ummu Hani’, tadi malam aku salat Isya bersama kalian di lembah ini, kemudian aku datang ke Baitul Maqdis dan salat di dalamnya, lalu sekarang aku salat Subuh bersama kalian sebagaimana engkau lihat.”

Ummu Hani’ terkejut dan khawatir dengan reaksi orang orang. Ia berkata:

“Wahai Nabi Allah, jangan engkau ceritakan hal ini kepada manusia; mereka akan mendustakanmu dan menyakitimu.”

Namun beliau menjawab dengan penuh keyakinan:

“Demi Allah, sungguh aku akan menceritakan hal ini kepada mereka.”

Riwayat lain yang lebih kuat (dalam Shahih al Bukhari dan Muslim) menyebutkan bahwa peristiwa besar itu dimulai ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di Hijr Ismail (al Hatim), bagian terbuka di sisi Ka’bah. Di sanalah dada beliau dibelah, hati beliau dikeluarkan, dicuci dengan air yang penuh iman, lalu dikembalikan—sebagai persiapan rohani dan jasmani untuk naik menghadap Allah.

________________________________________

Buraq: Hewan Putih yang Malu kepada Nabi

Malaikat Jibril datang membawa seekor hewan tunggangan istimewa bernama Buraq. Warnanya putih, ukurannya di antara keledai dan bagal. Pada kedua pahanya terdapat dua sayap yang membantunya berlari. Setiap langkahnya sejauh ujung pandangan mata.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menaikinya, Buraq sedikit memberontak, seakan enggan. Jibril lalu menepuk lehernya dan menegurnya:

“Tidakkah engkau malu, wahai Buraq, dengan apa yang engkau lakukan? Demi Allah, tidak ada seorang hamba pun yang pernah menunggangimu sebelum Muhammad yang lebih mulia di sisi Allah darinya.”

Mendengar teguran itu, Buraq pun malu hingga keluar keringatnya, lalu menjadi tenang. Nabi naik ke punggungnya, dan Jibril berjalan menyertai beliau. Jibril tidak mendahului beliau, dan beliau pun tidak mendahului Jibril. Demikianlah perjalanan malam yang penuh rahasia itu dimulai.

________________________________________

Dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis

Dalam perjalanan dari Makkah menuju Syam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperlihatkan berbagai tanda kekuasaan Allah yang terbentang di antara langit dan bumi. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa beliau melewati beberapa kafilah dagang Quraisy yang kelak dijadikan bukti kebenaran berita beliau di hadapan kaumnya.

Akhirnya Buraq berhenti di Baitul Maqdis. Nabi turun, lalu mengikat Buraq pada cincin besi yang dahulu digunakan para nabi untuk mengikat hewan tunggangan mereka. Beliau kemudian masuk ke Masjid al Aqsa dan salat di dalamnya sebagai bentuk tahiyyatul masjid dan pemuliaan terhadap rumah ibadah tersebut.

Sebagian riwayat dari sahabat Hudzifah tampak seolah menafikan masuknya Nabi ke Baitul Maqdis dan pengikatan Buraq di sana, namun riwayat yang secara tegas menetapkan hal itu lebih kuat. Kaidah dalam ilmu hadis adalah bahwa riwayat yang menetapkan suatu kejadian didahulukan daripada riwayat yang hanya menafikannya, apalagi jika yang menafikan tidak menyaksikan langsung.

________________________________________

Nabi Mengimami Para Nabi

Di Masjid al Aqsa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati para nabi telah dikumpulkan oleh Allah untuk menyambut beliau. Di antara mereka ada Ibrahim, Musa, ‘Isa, dan nabi nabi lain ‘alaihimus salām. Pemandangan ini menunjukkan kedudukan istimewa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara para utusan Allah.

Beliau kemudian mengimami mereka dalam salat. Salat ini menjadi isyarat bahwa beliau adalah imam para nabi dan rasul, dan bahwa risalah yang beliau bawa adalah penutup dan penyempurna seluruh risalah sebelumnya. Para nabi yang dahulu memimpin umat umat terdahulu, kini berbaris di belakang Nabi penutup, menunjukkan pengakuan akan kepemimpinan dan keutamaan beliau.

Selesai salat, dibawakan kepada beliau tiga bejana: satu berisi susu, satu berisi khamar (minuman memabukkan dari anggur), dan satu lagi berisi air. Nabi memilih susu dan meminumnya. Malaikat Jibril berkata:

“Engkau telah diberi petunjuk, dan umatmu juga diberi petunjuk. Khamar diharamkan atas kalian.”

Pilihan terhadap susu dipahami para ulama sebagai lambang fitrah yang lurus, yang menjadi jalan hidup Nabi dan umatnya.

________________________________________

Mi’raj: Tangga Ke Langit

Setelah urusan di Baitul Maqdis selesai, Nabi didatangkan Mi’raj, yaitu sarana untuk naik ke langit. Beliau bersabda bahwa beliau tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah dari Mi’raj. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Mi’raj inilah yang akan dipandang oleh orang yang sedang sakaratul maut; ketika ruh hendak keluar, matanya seakan melihat ke arah tempat naiknya ruh itu.

Jibril mengajak Nabi naik melalui Mi’raj sampai keduanya sampai pada pintu langit yang disebut Bāb al Hafazhah (Pintu Para Penjaga). Penjaga pintu itu adalah seorang malaikat besar bernama Isma‘il. Di bawah perintahnya ada dua belas ribu malaikat, dan di bawah masing masing dari malaikat itu ada dua belas ribu malaikat lagi. Jumlah yang sangat besar ini mengingatkan pada firman Allah:

وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ ۚ

“Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri.”

(QS. al Muddatstsir [74]: 31)

Betapa luas alam malakut yang tidak terjangkau oleh hitungan manusia.

________________________________________

Pertemuan dengan Para Nabi di Tujuh Langit

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian dinaikkan dari satu langit ke langit berikutnya. Pada setiap pintu langit, malaikat penjaga menanyakan siapa yang datang dan apakah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah diutus. Setelah mendapat izin, mereka menyambut:

“Selamat datang, sebaik baik tamu yang datang.”

Di langit pertama, Nabi bertemu dengan Adam ‘alaihissalam, bapak seluruh manusia. Jibril berkata, “Ini ayahmu Adam, ucapkan salam kepadanya.” Nabi mengucapkan salam, dan Adam menjawab sambil berkata:

“Selamat datang, wahai anak yang saleh dan nabi yang saleh.”

Di langit kedua, beliau bertemu dengan Yahya dan ‘Isa ‘alaihimas salām, yang keduanya adalah anak dari dua saudara perempuan (sepupu dari pihak ibu). Keduanya menyambut beliau dengan salam dan berkata:

“Selamat datang, wahai saudara yang saleh dan nabi yang saleh.”

Di langit ketiga, beliau bertemu dengan Yusuf ‘alaihissalam, yang diberi Allah separuh ketampanan manusia. Wajahnya begitu bersinar. Setelah Nabi mengucapkan salam dan dijawab oleh Yusuf, ia berkata:

“Selamat datang, wahai saudara yang saleh dan nabi yang saleh.”

Di langit keempat, beliau bertemu dengan Idris ‘alaihissalam, seorang nabi yang dikenal dengan ibadah dan ketekunannya. Setelah salam disampaikan dan dibalas, Idris juga berkata:

“Selamat datang, wahai saudara yang saleh dan nabi yang saleh.”

Di langit kelima, beliau bertemu dengan Harun ‘alaihissalam, saudara Musa. Harun adalah nabi yang lembut dalam berdakwah. Ia menyambut Rasulullah dengan salam, kemudian berkata:

“Selamat datang, wahai saudara yang saleh dan nabi yang saleh.”

Di langit keenam, beliau bertemu dengan Musa ‘alaihissalam. Setelah Rasulullah mengucapkan salam dan dijawab oleh Musa, Musa juga berkata:

“Selamat datang, wahai saudara yang saleh dan nabi yang saleh.”

Namun ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan perjalanan melewatinya, Musa menangis. Ketika para malaikat bertanya mengapa ia menangis, Musa menjawab bahwa ia menangis karena ada seorang pemuda (Muhammad) yang diutus setelahnya, dan umat pemuda itu yang masuk surga lebih banyak daripada umatnya. Tangisan ini bukan karena iri yang tercela, tetapi karena kecemburuan dalam kebaikan dan kerinduan agar umatnya juga sebanyak itu yang selamat.

Di langit ketujuh, Rasulullah bertemu dengan Ibrahim ‘alaihissalam, bapak para nabi. Ibrahim duduk bersandar pada al Bait al Ma’mur, sebuah rumah ibadah di langit yang setiap hari dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat. Mereka salat dan thawaf di sekelilingnya, lalu keluar dan tidak kembali lagi hingga hari Kiamat; setiap hari datang rombongan malaikat baru. Setelah Rasulullah mengucapkan salam, Ibrahim menjawab dan berkata:

“Selamat datang, wahai anak yang saleh dan nabi yang saleh.”

Pertemuan di setiap langit itu menunjukkan sambutan resmi dari para nabi terdahulu kepada penutup mereka, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

________________________________________

Sidratul Muntaha dan Pemandangan di Puncak Langit

Di atas langit ketujuh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperlihatkan Sidratul Muntaha, sebuah pohon besar di batas tertinggi makhluk, tempat berakhirnya ilmu para malaikat dan tempat berakhirnya naiknya amal serta turunnya wahyu. Beliau menggambarkan bahwa daun daunnya seperti telinga gajah, dan buah bidaranya sebesar gentong gentong besar di daerah Hajar.

Ketika itu Sidratul Muntaha diliputi warna warna cahaya yang menakjubkan. Para malaikat berkerumun di sekitarnya bagaikan burung gagak yang memenuhi dahan dahan pohon, dan ada semacam kilauan seperti belalang emas yang beterbangan di sekitarnya. Sidrah itu diselimuti oleh cahaya Rabb Yang Mahamulia.

Di dekat Sidratul Muntaha terdapat Jannatul Ma’wa, salah satu nama surga. Di sanalah Rasulullah menyaksikan Jibril ‘alaihissalam dalam rupa aslinya, dengan enam ratus sayap yang apabila direntangkan menutupi cakrawala antara langit dan bumi.

Tentang peristiwa ini, Allah berfirman:

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ ۝ عِندَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ ۝ عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ ۝ إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ ۝ مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ ۝ لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ

“Dan sungguh, Muhammad telah melihatnya (Jibril) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatan (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.”

(QS. an Najm [53]: 13–18)

Ayat ini menunjukkan keteguhan dan adab Rasulullah. Pandangan beliau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, dan tidak melampaui batas yang diizinkan. Beliau teguh di hadapan pemandangan agung itu.

________________________________________

Pertemuan Besar Pertama dengan Jibril

Sebelum malam Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah pernah menyaksikan Jibril dalam rupa aslinya di ufuk tinggi, sebagaimana firman Allah:

عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ ۝ ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَىٰ ۝ وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَىٰ ۝ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ ۝ فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ ۝ فَأَوْحَىٰ إِلَىٰ عَبْدِهِ مَا أَوْحَىٰ

“Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai kekuatan luar biasa. Lalu ia menampakkan diri (kepada Muhammad) dengan rupa yang asli, sedang ia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian ia mendekat, lalu bertambah dekat. Maka (jaraknya) kira kira dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu Allah mewahyukan kepada hamba Nya (Muhammad) apa yang telah Dia wahyukan.”

(QS. an Najm [53]: 5–10)

Menurut penjelasan para sahabat besar seperti Ibnu Mas‘ud, Abu Hurairah, Abu Dzar, dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum, ayat ini berkaitan dengan pertemuan Rasulullah dengan Jibril dalam jarak yang sangat dekat, bukan dengan Dzat Allah secara langsung.

Dengan demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan Jibril dalam rupa aslinya dua kali: pertama di ufuk tinggi, dan kedua di dekat Sidratul Muntaha.

________________________________________

Sungai Sungai dan al Bait al Ma’mur

Di sisi Sidratul Muntaha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat empat sungai. Dua di antaranya tampak mengalir di permukaan, sementara dua lainnya tersembunyi di alam gaib. Beliau bertanya kepada Jibril tentangnya. Jibril menjelaskan bahwa dua sungai yang tersembunyi adalah sungai di surga, sedangkan dua sungai yang tampak itu adalah Sungai Nil dan Sungai Furat yang mengalir di bumi.

Beliau juga diperlihatkan al Bait al Ma’mur, rumah ibadah para malaikat di langit. Setiap hari, tujuh puluh ribu malaikat memasukinya untuk salat dan thawaf. Setelah keluar, mereka tidak kembali lagi hingga hari Kiamat. Pada hari berikutnya, giliran tujuh puluh ribu malaikat lain yang masuk. Gambaran ini menunjukkan betapa luasnya jumlah malaikat dan besarnya kerajaan Allah.

________________________________________

Kewajiban Salat: Hadiah dari Langit

Di tempat yang sangat mulia itu, Allah Subhanahu wa Ta‘ala mewajibkan kepada Rasulullah dan umatnya salat lima puluh kali dalam sehari semalam. Ini adalah ibadah pertama yang langsung disyariatkan di langit, bukan melalui Jibril di bumi.

Ketika turun dari Sidratul Muntaha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam. Musa bertanya, “Apa yang diperintahkan Rabbmu kepadamu?” Rasulullah menjawab, “Aku diperintahkan dengan lima puluh salat dalam sehari semalam.”

Musa berkata bahwa umat beliau tidak akan sanggup melaksanakan lima puluh salat setiap hari. Ia menjelaskan bahwa ia telah menguji manusia sebelumnya dan telah menghadapi Bani Israil dengan sangat berat. Oleh karena itu, ia menyarankan Rasulullah agar kembali menghadap Rabb Nya dan memohon keringanan untuk umatnya.

Rasulullah pun kembali menghadap Allah, dan Allah mengurangi kewajiban itu menjadi empat puluh salat. Ketika turun, Musa kembali menyarankan agar beliau memohon pengurangan lagi. Proses ini berulang beberapa kali; lima puluh menjadi empat puluh, tiga puluh, dua puluh, kemudian sepuluh. Setiap kali Musa mendengar jumlahnya, ia mengatakan bahwa umat Muhammad tetap tidak akan sanggup, dan menyarankan agar Rasulullah kembali memohon keringanan.

Akhirnya, Allah mewajibkan lima salat dalam sehari semalam. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertemu Musa dan menyampaikan bahwa kewajiban salat kini lima kali sehari, Musa masih mengatakan bahwa umat beliau tidak akan sanggup dan meminta agar beliau kembali memohon keringanan. Namun Rasulullah menjawab:

“Aku telah meminta kepada Rabb ku hingga aku malu. Aku ridha dan berserah diri.”

Kemudian terdengarlah seruan dari sisi Allah:

“Aku telah menetapkan kewajiban Ku dan Aku telah meringankan (beban) hamba hamba Ku.”

Dengan demikian, salat lima waktu yang kita kerjakan setiap hari memiliki pahala lima puluh salat, karena setiap kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Ibadah inilah yang menjadi tiang agama dan kado agung dari malam Isra’ dan Mi’raj.

________________________________________

Apakah Nabi Melihat Allah?

Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat. Sebagian di antara mereka, seperti Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah dengan hati (bukan dengan mata kepala) dua kali. Mereka sering menggunakan istilah “melihat” secara mutlak, namun dipahami maksudnya adalah “melihat dengan hati”.

Sebagian ulama besar belakangan, seperti Abu al Hasan al Asy‘ari dan sebagian pengikutnya, memahami bahwa ru’yah (penglihatan) itu bisa jadi dengan mata kepala. Bahkan Ibnu Jarir ath Thabari sangat menegaskan pendapat ini, dan diikuti oleh beberapa ulama muta’akhkhirin. Di sisi lain, terdapat pula ulama yang secara tegas menolak adanya ru’yah dengan mata di dunia, dengan berdalil di antaranya pada hadis Abu Dzar dalam Shahih Muslim. Abu Dzar bertanya:

“Wahai Rasulullah, apakah engkau melihat Rabbmu?”

Beliau menjawab:

“Cahaya; bagaimana mungkin aku dapat melihat Nya?”

Dalam riwayat lain beliau bersabda, “Aku melihat cahaya.”

Mereka juga mengatakan bahwa mata yang fana di dunia tidak mampu melihat Dzat Allah yang abadi. Perselisihan ini terkenal di kalangan ulama salaf dan khalaf. Yang disepakati adalah bahwa pada malam itu Allah berbicara langsung dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak ada nash sahih yang tegas dan jelas menyatakan bahwa beliau melihat Dzat Allah dengan mata kepala di dunia.

________________________________________

Turun Kembali ke Baitul Maqdis dan Mengimami Para Nabi

Setelah selesai dari Sidratul Muntaha dan dari hadirat Ilahi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turun kembali ke Baitul Maqdis. Sebagian ulama memahami bahwa para nabi yang beliau temui di langit juga “turun” bersamanya ke Baitul Maqdis pada saat itu untuk menyambut beliau sebagai tamu agung yang baru saja kembali dari pertemuan dengan Rabbul ‘Alamin. Hal ini sejalan dengan kebiasaan para utusan yang kembali dari menghadap raja; mereka disambut dengan penghormatan khusus.

Di Baitul Maqdis itulah, ketika waktu salat tiba—yang saat itu hanya mungkin adalah waktu Subuh—Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maju menjadi imam, dan para nabi berdiri di belakang beliau. Jibril mengabarkan bahwa hal itu adalah perintah dari Allah. Dari sinilah sebagian ulama menyimpulkan bahwa imam terbesar lebih berhak menjadi imam salat, meskipun pemilik tempat (tuan rumah) juga hadir di situ. Pada malam itu, Baitul Maqdis adalah tempat para nabi berdiam, namun kepemimpinan salat tetap dipegang oleh Nabi penutup.

Selesai urusan di Baitul Maqdis, Rasulullah keluar, menaiki Buraq kembali, dan pulang menuju Makkah. Semua peristiwa agung ini terjadi dalam rentang satu malam.

________________________________________

Kembali ke Makkah: Tenang Setelah Melihat yang Mengguncang

Pada pagi harinya di Makkah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat dalam keadaan tenang, penuh wibawa, namun seperti memendam sesuatu yang besar. Beliau baru saja menyaksikan pemandangan dan peristiwa yang seandainya dilihat oleh orang lain mungkin akan membuatnya kalut atau terguncang jiwanya. Namun hati Rasulullah dipenuhi keteguhan dan sakinah.

Beliau semula tampak tidak tergesa gesa menceritakan semua peristiwa Mi’raj secara lengkap, karena mengetahui bagaimana watak kaumnya yang gemar mendustakan. Akan tetapi, Allah menghendaki agar kebenaran ini disampaikan juga. Salah satu awal terbukanya kisah itu kepada orang Quraisy adalah ketika Abu Jahl melihat Rasulullah duduk di Masjidil Haram dalam keadaan termenung. Abu Jahl—yang selalu mencari celah untuk memperolok beliau—mendekat dan bertanya:

“Adakah kabar (baru)?”

Rasulullah menjawab, “Ada.”

“Apa itu?” tanya Abu Jahl.

Beliau menjawab, “Tadi malam aku diperjalankan ke Baitul Maqdis.”

Abu Jahl mengulang dengan nada heran, “Ke Baitul Maqdis?”

“Ya,” jawab Nabi.

Melihat kesempatan untuk menjadikan berita itu sebagai bahan ejekan di depan orang banyak, Abu Jahl berkata:

“Bagaimana menurutmu kalau aku memanggil kaummu agar engkau menceritakan ini di hadapan mereka? Apakah engkau akan mengabarkan kepada mereka sebagaimana engkau mengabarkan kepadaku?”

Rasulullah menjawab, “Ya.”

Abu Jahl pun berseru memanggil orang orang Quraisy. Mereka datang berkumpul di sekitar Nabi. Abu Jahl berkata, “Ceritakan kepada kaummu apa yang engkau ceritakan kepadaku.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengabarkan bahwa beliau telah diperjalankan ke Baitul Maqdis pada malam itu, salat di sana, lalu kembali ke Makkah sebelum Subuh. Orang orang Quraisy menanggapinya dengan tepuk tangan, siulan, dan tawa mengejek. Berita ini segera menyebar ke seluruh penjuru Makkah. Bagi orang orang lemah iman, peristiwa ini menjadi ujian berat; ada yang murtad setelah sebelumnya menyatakan Islam.

Allah menyebut peristiwa ini sebagai ujian dalam firman Nya:

وَإِذْ قُلْنَا لَكَ إِنَّ رَبَّكَ أَحَاطَ بِالنَّاسِ ۚ وَمَا جَعَلْنَا الرُّءْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِّلنَّاسِ وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ ۚ وَنُخَوِّفُهُمْ فَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا طُغْيَانًا كَبِيرًا

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepadamu: ‘Sesungguhnya Tuhanmu telah meliputi manusia.’ Dan tidaklah mimpi (penglihatan) yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai cobaan bagi manusia, dan (demikian pula) pohon yang terkutuk dalam Al Qur’an. Kami menakut nakuti mereka, tetapi yang demikian itu tidak menambah mereka kecuali kedurhakaan yang besar.”

(QS. al Isrā’ [17]: 60)

Ibnu ‘Abbas menafsirkan bahwa penglihatan itu adalah penglihatan mata kepala pada malam Isra’.

________________________________________

Abu Bakr ash Shiddiq: Simbol Kejujuran Iman

Ketika berita ini menyebar, orang orang bergegas menemui Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Mereka ingin menjadikan peristiwa ini sebagai senjata untuk menggoyahkan keimanannya. Mereka berkata:

“Wahai Abu Bakr, tahukah engkau bahwa sahabatmu mengaku telah pergi malam tadi ke Baitul Maqdis, salat di sana, lalu kembali lagi ke Makkah dalam satu malam?”

Abu Bakr, dengan ketenangan orang yang sangat mengenal Nabi, menjawab:

“Kalian berdusta atas (nama) beliau.”

Mereka bersumpah, “Demi Allah, ia sungguh mengatakannya.”

Maka keluarlah kalimat yang menjadi lambang kejujuran iman sepanjang zaman. Abu Bakr berkata:

“Jika benar beliau mengatakannya, sungguh beliau telah berkata benar. Aku membenarkan kabar dari langit yang beliau sampaikan tiap pagi dan petang; masakan aku tidak membenarkan beliau tentang perjalanan ke Baitul Maqdis?”

Kemudian Abu Bakr datang langsung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menanyakan peristiwa itu, dan Rasulullah menjelaskannya. Abu Bakr lalu meminta Rasulullah menjelaskan ciri ciri Baitul Maqdis di hadapan orang orang musyrik, agar mereka mendengar langsung dan menyaksikan kebenaran berita beliau.

Karena sikap membenarkan tanpa ragu itulah, sejak hari itu Abu Bakr dipanggil dengan gelar ash Shiddiq (orang yang sangat jujur dan sangat membenarkan).

________________________________________

Bukti Bukti Nyata: Gambaran Baitul Maqdis dan Kafilah Quraisy

Orang orang musyrik kemudian menantang Rasulullah: jika benar beliau pergi ke Baitul Maqdis, maka beliau harus dapat menggambarkan bangunan itu. Rasulullah pun mulai menyebutkan ciri cirinya, seperti letak pintu pintunya, bentuk dan jumlah jendelanya, serta susunan bangunannya.

Pada suatu saat, beliau sempat merasa ragu mengingat salah satu detilnya. Maka Allah menampakkan Baitul Maqdis di hadapan beliau, seolah olah bangunan itu berada di depan mata di Makkah. Rasulullah melihat dan menggambarkan satu demi satu bagian bangunan itu dengan tepat. Orang orang musyrik terpaksa mengakui, “Dari segi sifat bangunannya, ia benar.”

Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa kafilah Quraisy yang beliau lewati dalam perjalanan. Beliau menceritakan bahwa ketika berangkat menuju Syam, beliau melewati kafilah suatu kabilah di sebuah lembah. Buraq yang ditunggangi beliau membuat unta unta kafilah itu terkejut karena suara dan kilatan yang tidak biasa, hingga salah seekor unta mereka kabur. Rasulullah menunjuki mereka tempat unta itu bersembunyi, lalu melanjutkan perjalanan.

Ketika beliau kembali dari arah Syam dan sampai di daerah Dajnan, beliau melewati kafilah lain. Para pemilik kafilah itu sedang tidur. Di sisi mereka ada sebuah bejana berisi air yang ditutup rapat. Rasulullah membuka penutupnya, minum airnya, lalu menutupnya kembali sebagaimana semula.

Untuk menguatkan berita ini, beliau menyebutkan bahwa kafilah tersebut saat itu sedang mendekati Makkah. Rasulullah menjelaskan bahwa mereka akan muncul dari celah Tan‘im yang berwarna putih, dan di depan kafilah itu akan berjalan seekor unta berwarna keabu abuan dengan dua karung di punggungnya; satu karung berwarna hitam dan satu lagi berwarna belang. Orang orang Quraisy pun bergegas menuju celah itu. Tidak lama kemudian, muncullah kafilah itu dengan ciri ciri persis seperti yang disampaikan Rasulullah. Ketika ditanya tentang bejana air dan unta yang sempat kabur tadi, para pemilik kafilah mengakui bahwa kejadian itu memang terjadi di perjalanan mereka, sebagaimana diceritakan Rasulullah.

Sebagian riwayat menuturkan bahwa matahari hampir terbenam sebelum kafilah itu tiba. Rasulullah berdoa kepada Allah, lalu Allah menahan matahari sejenak hingga kafilah itu masuk Makkah sesuai tanda yang beliau sebutkan. Dalam riwayat disebutkan bahwa matahari tidak pernah ditahan peredarannya bagi seorang manusia kecuali bagi Nabi Muhammad pada hari itu dan bagi Nabi Yusya‘ bin Nun sebelumnya.

Dengan bukti bukti ini, Allah menegakkan hujah atas orang orang musyrik. Jalan kebenaran telah tampak jelas, namun banyak di antara mereka tetap memilih kekufuran.

________________________________________

Isra’: Dalam Keadaan Terjaga atau Dalam Mimpi?

Dalam pembahasan ini, para ulama terdahulu memiliki perbedaan pandangan. Sebagian kecil berpendapat bahwa Isra’ adalah ru’yā manāmiyyah (penglihatan dalam mimpi). Mereka berdalil dengan ucapan ‘Aisyah dan Mu‘awiyah yang mengatakan bahwa peristiwa itu adalah “ru’yā yang benar dari Allah”, dan dengan ayat:

وَمَا جَعَلْنَا الرُّءْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِّلنَّاسِ

“Dan tidaklah mimpi (penglihatan) yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai cobaan bagi manusia…”

(QS. al Isrā’ [17]: 60)

Mereka menghubungkannya dengan mimpi Nabi Ibrahim ketika diperintahkan menyembelih putranya:

يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu…”

(QS. ash Shaffāt [37]: 102)

Namun mayoritas ulama salaf dan khalaf, termasuk Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas‘ud, dan banyak lagi, bersepakat bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi dengan ruh dan jasad Nabi dalam keadaan terjaga. Dalil mereka kuat, di antaranya:

Pertama, Allah dalam QS. al Isrā’ menyebut Nabi dengan kata “‘abd” (hamba): “yang telah memperjalankan hamba Nya…” Kata “hamba” dalam bahasa Arab mencakup keseluruhan diri, yaitu ruh dan jasad sekaligus.

Kedua, ayat itu diawali dengan kalimat “Subhānalladzī…” (Mahasuci Allah yang…), yang biasanya dipakai untuk menyebut perkara besar dan luar biasa. Seandainya peristiwa ini hanya mimpi, tidaklah layak dibuka dengan lafaz tasbih yang menunjukkan keagungan mukjizat.

Ketiga, kalau saja peristiwa itu hanya mimpi, orang orang Quraisy tidak akan sampai begitu heboh, mengejek, dan mendustakan. Mereka tidak akan menganggap aneh seseorang mengaku bermimpi pergi ke tempat jauh. Kegemparan mereka menunjukkan bahwa Rasulullah mengabarkan sebuah perjalanan nyata dalam keadaan sadar.

Keempat, seluruh rangkaian riwayat menggambarkan Nabi benar benar naik, turun, menaiki Buraq, bertemu dan mengimami para nabi, serta menerima kewajiban salat dengan cara yang tidak tampak seperti sekadar mimpi.

Adapun ucapan ‘Aisyah dan Mu‘awiyah yang menyebut Isra’ sebagai ru’yā, bisa dipahami bahwa yang mereka maksud adalah perjalanan ruh Nabi secara hakiki dalam keadaan sadar, sementara jasad beliau tetap dalam bentuk yang hanya Allah ketahui cara pengelolaannya. Bukan berarti peristiwa itu hanyalah mimpi biasa, tetapi ia adalah jenis perjalanan ruhani jasmani yang menjadi mukjizat dan tidak bisa diukur dengan pengalaman manusia biasa.

Sebagian ulama juga menjelaskan bahwa tidak tertutup kemungkinan bahwa sebelum Isra’ secara nyata terjadi, Nabi terlebih dahulu melihat peristiwa serupa dalam mimpi yang benar. Hal itu menjadi bentuk irhāsh (pendahuluan kenabian) dan penguatan bagi beliau, sebagaimana pada awal turunnya wahyu; beliau sering melihat mimpi yang kemudian terjadi persis dalam kenyataan.

________________________________________

Waktu Salat Lima Waktu dan Jumlah Rakaat

Setelah malam Isra’ dan Mi’raj, pada siang harinya, tepatnya saat matahari mulai tergelincir (waktu zawāl), malaikat Jibril mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah. Ia mengajarkan secara langsung tata cara salat dan waktu waktunya. Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk berkumpul. Pada hari itu dan keesokan harinya, Jibril mengimami Rasulullah di dekat Ka’bah, sementara para sahabat bermakmum kepada Rasulullah, dan Rasulullah bermakmum kepada Jibril.

Pada hari pertama, Jibril mengimami salat pada awal waktu setiap salat; pada hari kedua, ia mengimami pada akhir waktu setiap salat. Dengan demikian, jelaslah bagi umat Islam batas batas waktu salat yang lapang. Satu satunya pengecualian adalah salat Maghrib yang sejak awal waktunya sempit dan tidak mempunyai rentang selebar salat lain.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa salat pada awalnya difardukan dua rakaat dua rakaat. Untuk salat orang yang bepergian, ketentuan dua rakaat ini tetap berlaku. Adapun untuk orang yang mukim, salat ditambah menjadi empat rakaat bagi Zhuhur, Ashar, dan Isya, sementara Maghrib tiga rakaat dan Subuh dua rakaat.

Ayat tentang qashar salat kemudian turun:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا

“Dan apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar salat, jika kamu takut orang orang kafir akan mengganggumu.”

(QS. an Nisā’ [4]: 101)

Sebagian ulama seperti al Hasan al Bashri berpendapat bahwa salat orang yang mukim sejak awal sudah empat rakaat, dan salat safar dua rakaat sebagai rukhshah. Ibnu Katsir mengompromikan riwayat riwayat ini dengan penjelasan bahwa sebelum Isra’, salat yang disyariatkan hanya dua rakaat dua rakaat. Setelah Isra’ dan Mi’raj, ketika salat lima waktu difardukan secara penuh, salat orang yang mukim ditetapkan sebagaimana yang kita kenal sekarang, sedangkan salat safar diringankan kembali menjadi dua rakaat, kembali ke “asal” sebelum ditambah. Dengan pemahaman seperti ini, semua riwayat dapat dipadukan tanpa pertentangan.

________________________________________

Penutup: Hikmah Besar di Balik Perjalanan Malam

Perjalanan Isra’ dan Mi’raj bukan sekadar kisah menakjubkan, tetapi sarat hikmah. Peristiwa ini menjadi:

sebuah ujian iman yang memisahkan antara orang yang benar benar percaya kepada Allah dan Rasul Nya dengan orang yang ragu dan munafik;

sebuah penghibur hati bagi Rasulullah setelah beliau disakiti, diusir, dan didustakan oleh kaumnya;

sebuah pengukuhan kedudukan beliau sebagai penutup para nabi dan imam mereka;

dan yang paling penting, ia adalah saat ditetapkannya salat lima waktu, tiang agama dan penyejuk hati orang orang yang beriman.

Allah mengingatkan bahwa penglihatan yang diperlihatkan kepada Rasulullah itu adalah ujian:

وَمَا جَعَلْنَا الرُّءْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِّلنَّاسِ

“Dan tidaklah mimpi (penglihatan) yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai cobaan bagi manusia…”

(QS. al Isrā’ [17]: 60)

Bagi orang orang seteguh Abu Bakr ash Shiddiq, berita ini menambah keimanan dan keyakinan. Bagi yang lemah iman, ia menjadi sebab tergelincir. Bagi orang orang kafir yang keras kepala, ia menjadi tambahan bukti yang kelak akan memberatkan hujah atas mereka di hari Kiamat.

Kisah ini juga mengajarkan kepada kita bahwa jarak, waktu, dan hukum sebab akibat adalah ciptaan Allah. Allah mampu menembus dan melampaui semua itu kapan pun Dia kehendaki. Salat yang kita kerjakan setiap hari bukan sekadar kebiasaan, melainkan hadiah langsung dari pertemuan antara Nabi kita dengan Rabb nya di malam Isra’ dan Mi’raj. Karena itu, salat adalah cara paling agung untuk menyambung hubungan kita dengan Allah dan meneladani Rasul Nya.

________________________________________

Sumber Kisah

Ibnu Katsir, al Bidâyah wa an Nihâyah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nabi Hūd, Kaum ‘Ād, dan Jejaknya dalam Sejarah Arab Pra Islam

Kisah Keberanian Sahabat di Perang Uhud: Thalhah, Nusaibah, dan Para Pejuang Wanita

Rihlah Ibnu Bathutah #61 : Sultan Alauddin Tharmasyirin, Keadilan, Kerendahan Hati, dan Sebuah Pelajaran Hidup