Kisah Diangkatnya Nabi Isa ‘Alaihissalam dan Terhapusnya Fitnah Penyaliban

Ilustrasi malam di Baitul Maqdis kuno, sosok berjubah putih tanpa wajah diangkat ke langit bercahaya, disaksikan para sahabat di atap rumah.

Rencana Jahat Bani Israil dan Janji Allah

Nabi Isa ‘alaihissalam diutus kepada Bani Israil dengan membawa mujizat yang nyata: menghidupkan orang mati dengan izin Allah, menyembuhkan orang buta sejak lahir dan penderita kusta, serta mengabarkan perkara gaib dengan izin-Nya. Namun, sebagian besar Bani Israil justru memusuhinya. Para pemuka mereka iri, takut kehilangan pengaruh, dan mulai menyusun rencana untuk membunuh Isa.

Allah mengabadikan makar mereka dan balasan-Nya dalam Al-Qur’an:

﴿وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ﴾

“Mereka (orang-orang kafir itu) melakukan tipu daya, dan Allah pun membalas tipu daya mereka. Dan Allah adalah sebaik-baik Pembalas tipu daya.”

(QS. Ali ‘Imran: 54)

Pada saat yang genting itu, Allah menenangkan Isa dengan janji yang agung:

﴿إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۖ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ﴾

“(Ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku, dan mensucikanmu dari orang-orang kafir, serta menjadikan orang-orang yang mengikutimu berada di atas orang-orang kafir hingga hari Kiamat. Kemudian hanya kepada-Ku lah tempat kembalimu, lalu Aku akan memutuskan (hukum) di antara kalian tentang apa yang dahulu kalian perselisihkan.’”

(QS. Ali ‘Imran: 55)

Para ulama menjelaskan, wafat di sini adalah wafat ringan berupa tidur, lalu setelah itu Allah mengangkat Isa ke langit dan menyelamatkannya dari tangan orang-orang Yahudi yang hendak membunuhnya.

Penjelasan Al-Qur’an tentang Fitnah Penyaliban

Al-Qur’an dengan sangat jelas membantah klaim orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengatakan bahwa Isa disalib dan dibunuh. Allah menyebut sebab murka-Nya kepada Bani Israil:

﴿فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ ۚ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا﴾

﴿وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَىٰ مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا﴾

﴿وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ ۖ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا﴾

﴿بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا﴾

﴿وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا﴾

“(Mereka Kami laknat) karena mereka telah melanggar perjanjian, dan karena kekafiran mereka terhadap ayat-ayat Allah, dan karena mereka membunuh para nabi tanpa hak, dan karena ucapan mereka, ‘Hati kami tertutup.’ Sebenarnya Allah telah mengunci hati mereka karena kekafiran mereka; maka hanya sedikit dari mereka yang beriman.

Dan (Kami hukum pula mereka) karena kekafiran mereka dan tuduhan mereka yang sangat besar terhadap Maryam.

Dan karena ucapan mereka, ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah.’ Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh dan salib itu) diserupakan bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih pendapat tentang (peristiwa) Isa benar-benar dalam keragu-raguan tentang siapa yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, kecuali hanya mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dan tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab kecuali pasti akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan pada hari Kiamat nanti Isa akan menjadi saksi terhadap mereka.”

(QS. An-Nisa: 155–159)

Ayat ini adalah kunci: orang yang disalib itu bukan Isa, tetapi seseorang yang Allah jadikan mirip dengannya. Isa sendiri diangkat ke langit dalam keadaan selamat.

Malam Terakhir Isa bersama Para Hawari

Menjelang peristiwa pengangkatan, Nabi Isa mengumpulkan para pengikut setianya, para Hawariyyin. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa mereka berjumlah dua belas orang, di antaranya: Petrus (Buthrus), Ya‘qub bin Zabdiy, Yohanes (Yahnas), Andreas, Filipus, Bartholomeus, Matius, Thomas, Ya‘qub bin Halaqya, Tadaus, seorang bernama Fattatiyya, dan Yudas Karyayutha yang kelak berkhianat.

Isa menyediakan makanan untuk mereka pada suatu malam. Setelah makan malam usai, terjadi sesuatu yang sangat mengharukan. Isa sendiri yang berdiri melayani mereka, mencuci tangan mereka, bahkan mengelapnya dengan pakaiannya. Para Hawariyyin merasa berat dan malu melihat nabi mereka melayani mereka sedemikian rupa, tetapi Isa berkata kurang lebih, “Barang siapa malam ini menolak sesuatu dari yang aku lakukan, maka dia bukan dariku dan aku bukan darinya.”

Setelah selesai, Isa berkata kepada mereka dengan makna, “Apa yang aku lakukan malam ini, aku layani kalian, aku cuci tangan kalian, maka jadikanlah itu teladan dari aku. Kalian melihat aku adalah yang terbaik di antara kalian, maka janganlah sebagian kalian merasa lebih besar dari yang lain. Hendaklah sebagian kalian berkorban untuk yang lain, sebagaimana aku mengorbankan diriku untuk kalian.”

Lalu Isa menyampaikan keperluan utamanya malam itu: ia meminta mereka berdoa sungguh-sungguh agar Allah menunda ajalnya, sehingga ia dapat menyempurnakan dakwah dan semakin banyak manusia yang masuk Islam. Para Hawariyyin pun berniat bangun malam dan berdoa. Namun ketika mereka hendak berdoa, kantuk yang sangat berat menimpa mereka. Setiap kali Isa membangunkan mereka, mereka kembali tertidur.

Isa berkata dengan sedih, “Tidakkah kalian sanggup menemaniku satu malam saja?” Mereka pun berkata, “Demi Allah, kami tidak tahu apa yang terjadi pada kami. Biasanya kami mampu begadang berbincang panjang, namun malam ini kami tidak sanggup.” Isa lalu mengisyaratkan bahwa perpisahan telah dekat: “Gembala akan diambil, dan domba-domba akan tercerai-berai.”

Di malam itu pula, Isa mengabarkan dua hal yang kelak terjadi: salah seorang dari mereka akan mengingkari dirinya sebelum ayam berkokok tiga kali, dan yang lain akan menjual dirinya (Isa) dengan harga yang murah lalu memakan uang hasil penjualan itu.

Pengkhianatan dan Penyerupaan

Setelah malam itu, orang-orang Yahudi makin gencar mencari Isa. Mereka berhasil menangkap salah seorang Hawari, yaitu Syam‘un. Mereka menuduhnya sahabat Isa, namun ia mengingkari karena sangat ketakutan. Sampai tiga kali ia ditangkap dan ia mengingkari, dan saat itu ayam berkokok. Ia tersentak, menangis dan menyesali kelemahannya.

Sementara itu, Yudas tergoda dunia. Ia mendatangi orang-orang Yahudi dan berkata, “Apa yang kalian berikan padaku jika aku menunjukkan Al-Masih kepada kalian?” Mereka menawarkan tiga puluh dirham. Ia menerimanya dan menunjukkan tempat Isa berada.

Dalam riwayat Ibnu ‘Abbas, ketika para penjahat hendak masuk ke rumah tempat Isa dan para Hawari berkumpul, Isa keluar menemui para sahabatnya. Kepalanya meneteskan air, seolah baru saja berwudhu atau mandi. Ia memberitahu bahwa sebagian dari mereka akan tergelincir setelah beriman. Lalu ia berkata, “Siapa di antara kalian yang rela diserupakan denganku, lalu dibunuh menggantikan aku, dan sebagai balasannya ia akan bersamaku di tingkatanku (di surga)?”

Pada awalnya para sahabat diam. Lalu seorang pemuda yang paling muda di antara mereka berdiri dan berkata, “Saya.” Isa memintanya duduk. Ia mengulangi pertanyaan itu, dan pemuda itu kembali berdiri, “Saya.” Isa lalu berkata, “Engkaulah orangnya.” Saat itu, Allah menjadikan wajah pemuda itu persis seperti wajah Isa, sementara Isa sendiri diangkat keluar dari rumah itu melalui sebuah lubang/jendela di atap, dalam penjagaan Allah.

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Isa bersama sekitar tujuh belas Hawari di sebuah rumah. Ketika musuh mengepung dan masuk, Allah menjadikan wajah semua orang di rumah itu mirip Isa, sehingga mereka kebingungan. Mereka mengancam: “Kalian telah menyihir kami! Serahkan Isa, atau kami bunuh kalian semua.” Lalu salah seorang dari mereka berkata, “Aku adalah Isa,” demi membeli dirinya dengan surga. Ia pun disalib menggantikan Isa.

Inti semua riwayat itu satu: Allah menyelamatkan Isa dengan mengangkatnya ke langit, dan menjadikan orang lain diserupakan dengannya untuk menggagalkan makar orang-orang Yahudi.

Adegan Penyaliban: Cemoohan kepada Sosok yang Diserupakan

Orang-orang Yahudi membawa sosok yang diserupakan menyerupai Isa itu menuju tempat penyaliban. Mereka mengikatnya dengan tali, menuntunnya sambil mengejek, “Bukankah engkau dulu menghidupkan orang mati, mengusir setan, dan menyembuhkan orang gila? Mengapa engkau tidak bisa menyelamatkan dirimu dari tali ini?”

Mereka meludahi wajahnya, melempari dengan duri, dan akhirnya menyalibnya di atas sebatang kayu. Di kepalanya mereka pasang mahkota duri sebagai bentuk penghinaan. Mereka mengira, dan mayoritas orang Nasrani yang tidak mengetahui hakikat pun menyangka, bahwa yang mereka salib itu benar-benar Isa.

Padahal, pada saat-saat itulah Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya, dalam keadaan selamat dan dimuliakan.

Pertemuan Isa dengan Ibunya setelah Penyaliban Palsu

Beberapa hari setelah penyaliban sosok yang diserupakan itu, dikisahkan bahwa Maryam, ibu Isa, datang ke tempat penyaliban bersama seorang wanita yang pernah disembuhkan Isa dari gangguan gila. Keduanya menangis menyangka bahwa yang tergantung di tiang salib itu adalah Isa, putra Maryam.

Tiba-tiba Isa mendatangi mereka dalam keadaan hidup dan berkata, “Mengapa kalian menangis?” Mereka menjawab, “Kami menangis karenamu.” Isa berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengangkatku kepada-Nya, dan tidak menimpakanku kecuali kebaikan. Adapun yang kalian lihat itu hanyalah sesuatu yang diserupakan bagi mereka.”

Isa lalu memerintahkan mereka agar menyampaikan kepada para Hawari untuk menemuinya di suatu tempat yang telah ia tentukan. Para Hawari pun berkumpul di sana, berjumlah sebelas orang; yang tidak hadir adalah Yudas, sang pengkhianat. Ketika ditanya, mereka memberitahu bahwa Yudas menyesal, lalu menjerat dirinya sendiri hingga mati. Isa mengatakan, “Seandainya ia bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubatnya.”

Dalam riwayat lain, Maryam meminta kepada pihak istana raja agar jenazah sosok yang disalib itu diturunkan setelah tujuh hari, masih dengan keyakinan bahwa itu adalah anaknya. Permintaannya dikabulkan, dan sosok itu dimakamkan.

Beberapa waktu kemudian Maryam berkata kepada ibu Yahya bin Zakariya, “Maukah engkau pergi bersamaku untuk berziarah ke kubur Al-Masih?” Mereka pun pergi. Ketika mereka mendekati kubur, Maryam melihat seorang pria di dekatnya, lalu berkata kepada ibu Yahya, “Tidakkah engkau menutup auratmu?” Ibu Yahya heran, “Dari siapa? Aku tidak melihat siapa pun.”

Maryam sadar, mungkin itu adalah Jibril, sebab sudah lama ia tidak melihatnya. Ia meminta ibu Yahya menunggu, sementara ia mendekati kubur. Ketika ia mendekat, malaikat itu berkata, dan Maryam mengenalinya sebagai Jibril, “Wahai Maryam, hendak ke mana engkau?” Maryam menjawab, “Aku hendak berziarah ke kubur Al-Masih, mengucap salam kepadanya, dan memperbarui pertemuanku dengannya.”

Jibril berkata, “Wahai Maryam, itu bukan Al-Masih. Sesungguhnya Allah telah mengangkat Al-Masih dan mensucikannya dari orang-orang kafir. Ini hanyalah pemuda yang diserupakan rupanya dengan Isa, lalu disalib dan dibunuh menggantikannya. Tanda kebenarannya, keluarganya kehilangan dia dan tidak tahu apa yang terjadi padanya; mereka menangisinya. Pada hari ini dan di hutan ini dan itu, pergilah, engkau akan berjumpa Al-Masih.”

Maryam kembali kepada ibu Yahya dan menceritakan semuanya. Ketika hari yang dijanjikan tiba, Maryam pergi ke hutan yang dimaksud dan mendapati Isa di sana. Ketika Isa melihat ibunya, ia bergegas menghampiri, memeluknya, mencium kepalanya, dan mendoakannya sebagaimana biasa. Isa berkata kurang lebih, “Wahai ibuku, sesungguhnya kaum itu tidak membunuhku. Allah telah mengangkatku kepada-Nya dan mengizinkanku menemuimu. Kematian akan segera datang kepadamu, maka bersabarlah dan perbanyaklah mengingat Allah.”

Setelah itu, Isa naik kembali ke langit dan Maryam tidak lagi berjumpa dengannya sampai ia wafat. Dalam sebagian riwayat disebutkan, Maryam hidup sekitar lima tahun setelah itu dan wafat pada usia sekitar lima puluh tiga tahun.

Cinta Seorang Ibu dan Naiknya Isa di Atas Awan

Dalam riwayat lain tentang cara diangkatnya Isa, disebutkan bahwa ketika Allah mengangkat Isa, datanglah awan mendekatinya hingga ia duduk di atas awan itu. Maryam datang dan berpamitan kepada Isa dengan tangis. Isa pun melemparkan selembar kain (semacam selendang atau jubah) kepada ibunya, seraya mengatakan bahwa itu akan menjadi tanda pengenal antara keduanya pada hari Kiamat. Ia melemparkan pula sorbannya kepada Syam‘un sebagai isyarat kepemimpinan dakwah setelahnya.

Maryam melambaikan jari-jarinya seakan berucap salam perpisahan, terus mengisyaratkan hingga Isa menghilang dari pandangannya. Ia sangat mencintai Isa, karena Isa adalah satu-satunya anaknya, lahir tanpa ayah, dan ia nyaris tidak pernah berpisah darinya, baik dalam safar maupun ketika di rumah. Para ulama menceritakan sebuah bait syair untuk menggambarkan pedihnya perpisahan itu:

“Aku dahulu merasa seakan mati bila berpisah sejenak saja,

Maka bagaimana dengan perpisahan yang janji pertemuannya adalah hari Mahsyar?”

Perpecahan di Kalangan Pengikut Isa

Setelah peristiwa penyaliban palsu itu, manusia terpecah. Dalam riwayat dari Ibnu ‘Abbas, dikisahkan bahwa setelah Isa diangkat dan pemuda yang diserupakan disalib, orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Isa menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama mengatakan, “Isa adalah Allah. Ia bersama kami selama beberapa waktu, kemudian naik ke langit.” Mereka adalah kelompok Ya‘qubiyah.

Kelompok kedua berkata, “Isa adalah anak Allah. Ia bersama kami selama beberapa waktu, lalu Allah mengangkatnya kepada-Nya.” Mereka adalah kelompok Nasthuriyah.

Kelompok ketiga berkata, “Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Ia bersama kami selama beberapa waktu, kemudian Allah mengangkatnya kepada-Nya.” Inilah kelompok orang-orang beriman yang lurus, para pengikut tauhid.

Dua kelompok yang menyimpang (yang menuhankan Isa atau menganggapnya anak Allah) kemudian menindas kelompok yang beriman, hingga mereka membunuh dan menekan mereka. Islam yang dibawa Isa pun seakan tersembunyi, hingga kemudian Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengembalikan ajaran tauhid yang murni.

Tentang kemenangan orang-orang beriman itu, Allah berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ ۖ فَآمَنَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَتْ طَائِفَةٌ ۖ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Allah, sebagaimana Isa putra Maryam berkata kepada para Hawariyyin, ‘Siapakah penolong-penolongku menuju (ketaatan kepada) Allah?’ Para Hawariyyin menjawab, ‘Kami adalah penolong-penolong (agama) Allah.’ Lalu berimanlah segolongan dari Bani Israil dan kafir segolongan lainnya. Maka Kami teguhkan orang-orang yang beriman menghadapi musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang (berjaya).”

(QS. As-Saff: 14)

Turunnya Isa di Akhir Zaman

Ayat:

﴿وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا﴾

memberikan isyarat bahwa tidak seorang pun dari Ahli Kitab kecuali nantinya akan beriman kepada Isa sebelum kematiannya, yakni sebelum Isa wafat setelah turun kembali menjelang hari Kiamat.

Dalam hadits-hadits shahih dijelaskan bahwa Isa akan turun kembali di akhir zaman, membunuh babi, menghancurkan salib, menghapus jizyah (pajak khusus non-Muslim) karena saat itu tak ada lagi agama yang diterima kecuali Islam. Ia akan membunuh Al-Masih Ad-Dajjal dan menegakkan keadilan bersama Al-Mahdi. Pada masa itulah seluruh Ahli Kitab yang hidup ketika itu akan mengetahui hakikat Isa sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya, lalu beriman kepadanya sebelum Isa wafat.

Berapa Usia Isa Saat Diangkat?

Para ulama menyebut beberapa riwayat tentang usia Isa ketika diangkat. Di antaranya, Al-Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa usia Isa saat diangkat sekitar tiga puluh empat tahun. Sa‘id bin Al-Musayyib menyebut, Isa diangkat pada usia tiga puluh tiga tahun.

Menariknya, dalam hadits disebutkan bahwa penduduk surga masuk surga dalam usia muda yang sama, yaitu:

“Sesungguhnya penduduk surga akan memasukinya dalam keadaan tidak berambut (di tubuh), tidak berjenggot, bercelak (matanya), berusia tiga puluh tiga tahun.”

Seakan-akan usia ini adalah usia puncak kekuatan dan kesempurnaan jasmani manusia.

Ada pula riwayat yang menceritakan bahwa Isa tinggal di tengah Bani Israil selama empat puluh tahun, yang dipahami oleh sebagian ulama sebagai masa dakwah, bukan sekadar usia biologis sebelum diangkat.

Setelah Penyaliban Palsu: Dari Bani Israil ke Romawi

Setelah orang-orang Yahudi menyalib sosok yang mereka sangka sebagai Isa, mereka semakin berani menindas para pengikut Isa. Sebagian Hawari dibunuh, dipukul, dan dipenjara. Kabar tentang perlakuan keji terhadap pengikut seorang nabi yang membawa mujizat besar itu akhirnya sampai kepada raja Romawi yang berkuasa di wilayah Damaskus saat itu.

Diceritakan kepada raja bahwa ada seorang lelaki di tengah Bani Israil yang mengaku sebagai Rasul Allah, yang menghidupkan orang mati dan menyembuhkan penyakit berat dengan izin Allah. Orang-orang Yahudi menyerangnya, mengklaim telah membunuhnya, lalu menyiksa para pengikutnya. Raja Romawi pun memanggil para pengikut Isa, di antara mereka ada Yahya bin Zakariya, Syam‘un, dan lainnya, untuk mendengarkan langsung ajaran Isa.

Setelah mendengar penjelasan mereka tentang Isa, raja itu menerima kebenaran Isa, membaiat mereka di atas agama Isa, meninggikan kalimat mereka, dan melemahkan posisi orang-orang Yahudi. Ia bahkan meminta salib dan jasad sosok yang disalib itu diturunkan dari tiangnya, dan kayu salibnya disimpan serta diagungkan. Dari sinilah, menurut sebagian riwayat, muncul tradisi pengagungan salib di kalangan orang-orang Nasrani, dan dari sinilah pula agama Nasrani mulai masuk ke negeri Romawi.

Namun para ulama seperti Ibnu Katsir mengkritisi riwayat ini dari sisi sejarah. Di antaranya karena secara sejarah yang masyhur, Romawi baru resmi masuk ke dalam agama Nasrani sekitar tiga ratus tahun setelah Isa, pada masa Kaisar Konstantin. Selain itu, seorang nabi seperti Yahya bin Zakariya tentu tidak akan tertipu dan menerima klaim bahwa yang disalib itu benar-benar Isa, karena para nabi itu ma’shum dalam menyampaikan kebenaran.

Dari Salib ke Gereja al-Qiyāmah dan Pembebasan Umar bin Khaththab

Setelah penyaliban palsu, orang-orang Yahudi menjadikan tempat penyaliban dan kayu salib bekas penyaliban itu sebagai tempat pembuangan sampah, bangkai, dan najis. Tempat itu dibiarkan kotor selama berabad-abad.

Berabad-abad kemudian, pada masa Kaisar Konstantin, ibunya yang bernama Helena (dalam riwayat disebut Hīlānah) merasa yakin bahwa tempat sampah itu adalah lokasi penyaliban Isa. Ia memerintahkan penggalian di tempat itu, dan menemukan kayu yang diyakini sebagai kayu salib. Dikisahkan bahwa orang yang menyentuh kayu itu sembuh dari penyakit, walau kebenaran kisah ini tetap dikembalikan kepada ilmu Allah.

Apa pun hakikatnya, dari sinilah kaum Nasrani makin mengagungkan lambang salib. Kayu itu mereka selubungi dengan emas dan permata. Di atas lokasi yang dulu menjadi tempat pembuangan sampah itu, mereka membangun sebuah gereja besar yang indah, yang hingga kini dikenal sebagai Gereja Al-Qiyāmah atau oleh orang-orang Arab juga disebut Al-Qumāmāh (karena dulunya tempat “qomāmah”, yakni sampah).

Ibu Kaisar itu juga memerintahkan agar sampah dan kotoran kota dipindahkan ke tempat lain, yaitu ke atas batu besar (Shakhrah) yang merupakan kiblat kaum Yahudi. Sejak itu, batu itu tertutup sampah dan najis.

Keadaan ini terus berlanjut sampai zaman Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Ketika pasukan Islam menaklukkan Baitul Maqdis, Umar datang ke kota itu. Ia mendapati batu besar yang menjadi kiblat Bani Israil tertutup sampah dan kotoran. Umar sendiri turun tangan membersihkannya, bahkan dikisahkan ia mengais sampah dengan ujung selendangnya, sebagai bentuk pemuliaan terhadap tempat suci tersebut.

Setelah pembersihan itu, Umar tidak membangun masjid di belakang batu sebagaimana orang-orang Nasrani menempatkan gereja mereka, tetapi di depannya, sesuai arah kiblat umat Islam ke Ka’bah. Di situlah berdiri Masjid Al-Aqsha, tempat yang dimuliakan, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat mengimami para nabi pada malam Isra’.

Dengan demikian, lingkaran sejarah itu seakan berpadu: dari fitnah penyaliban palsu, pengangkatan Isa ke langit, kekeliruan besar dalam menuhankan Isa dan mengagungkan salib, hingga akhirya Allah mengutus Nabi terakhir dan memberi kemuliaan kembali kepada Baitul Maqdis melalui tangan Umar bin Khaththab.

Sumber Kisah :

Ibnu Katsir, “Qashash al-Anbiya’ min al-Bidāyah wa an-Nihāyah”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nabi Hūd, Kaum ‘Ād, dan Jejaknya dalam Sejarah Arab Pra Islam

Kisah Keberanian Sahabat di Perang Uhud: Thalhah, Nusaibah, dan Para Pejuang Wanita

Rihlah Ibnu Bathutah #61 : Sultan Alauddin Tharmasyirin, Keadilan, Kerendahan Hati, dan Sebuah Pelajaran Hidup