Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ
Bulan-bulan kehamilan telah berlalu bagi Sayyidah Āminah binti Wahb, istri dari ‘Abdullah bin ‘Abdul Muthalib, yang telah wafat saat istrinya masih mengandung. Meski hidup dalam kesedihan, Aminah merasakan ketenangan luar biasa selama kehamilannya. Ia tidak mengalami rasa lemah, tidak pula sakit seperti wanita pada umumnya.
Pada suatu malam, ketika ia dalam keadaan tenang, terdengarlah suara yang lembut dan menenangkan, menyeru kepadanya:
“Sesungguhnya engkau sedang mengandung pemimpin umat ini. Jika ia lahir, ucapkanlah: Aku memohon perlindungan untuknya kepada Yang Maha Esa dari kejahatan setiap pendengki, dan berilah nama Muhammad.”
Sembilan bulan kemudian, tibalah hari yang telah ditakdirkan.
Pada pagi hari tanggal 12 Rabi‘ul Awwal, di tahun Gajah, ketika fajar mulai menyingsing dan sinar mentari menembus langit Makkah, dunia menyambut kelahiran seorang manusia mulia — Muhammad bin ‘Abdullah ﷺ.
Aminah merasakan keajaiban luar biasa saat melahirkan. Ia melihat cahaya yang keluar bersamanya, menerangi antara timur dan barat, bahkan istana-istana Bushra di negeri Syam tampak bercahaya oleh sinar itu.
Beliau dilahirkan di lembah Bani Hasyim, tepatnya di rumah Abu Thalib, keluarga terhormat dari suku Quraisy. Rumah itu kemudian menjadi tempat bersejarah yang dikenal sebagai “Mawlid an-Nabī” — tempat kelahiran Nabi ﷺ.
Rumah yang dahulu sederhana itu kini menjadi tempat yang dimuliakan, tempat di mana cahaya pertama kenabian bersinar di tengah kegelapan dunia.
Begitu bayi itu lahir, Aminah segera mengirim seseorang kepada ‘Abdul Muthalib, kakek Nabi ﷺ, untuk membawa kabar gembira. Mendengar berita itu, sang kakek yang sudah tua namun disegani seluruh Quraisy bergegas datang dengan hati bergetar bahagia.
Ia memeluk cucunya dengan kasih sayang mendalam, seolah menemukan pengganti anaknya yang telah tiada. Lalu ia membawanya menuju Ka‘bah, berdiri di hadapan rumah suci itu, mengangkat tangan berdoa dan bersyukur kepada Allah atas anugerah besar ini.
Kemudian ia menamainya “Muhammad” — sebuah nama yang jarang dikenal di kalangan Arab saat itu.
Ketika orang-orang bertanya mengapa ia memilih nama tersebut, ia menjawab dengan penuh keyakinan:
“Aku ingin agar Allah memujinya di langit, dan manusia memujinya di bumi.”
Nama itu ternyata bukan pilihan biasa — ia adalah nama yang diilhamkan oleh Allah, sebagaimana telah disebutkan dalam kitab-kitab samawi terdahulu.
Pada hari ketujuh setelah kelahiran, sesuai kebiasaan bangsa Arab, ‘Abdul Muthalib menyembelih hewan kurban sebagai tanda syukur. Ia mengadakan jamuan besar bagi keluarga Bani Hasyim, mengundang kaum kerabat dan sahabat untuk berbagi kebahagiaan.
Di tengah sukacita itu, seorang hamba sahaya bernama Tsuwaibah Al-Aslamiyyah, milik Abu Lahab, membawa kabar gembira kepada tuannya tentang kelahiran keponakannya. Abu Lahab, yang saat itu sangat bahagia, memerdekakannya sebagai ungkapan syukur.
Bersamaan dengan kelahiran Nabi ﷺ, terjadi peristiwa luar biasa di berbagai negeri:
• Istana Kisra di Persia berguncang hebat, dan empat belas balkonnya runtuh, isyarat akan berakhirnya kekuasaan tirani para raja mereka.
• Api besar Persia, yang telah menyala seribu tahun lamanya tanpa pernah padam, tiba-tiba padam untuk pertama kalinya.
• Danau Sawah, sebuah danau suci bagi kaum Majusi, mengering seketika tanpa sebab.

Komentar
Posting Komentar