Bilal bin Rabah : Suaranya Menggetarkan Madinah
Bilal bin Rabah: Sang Muazin Rasulullah
Asal Usul dan Kepribadian
Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat mulia Rasulullah ﷺ. Ia dikenal dengan julukan Abu Abdullah, dan merupakan maula (bekas budak yang dimerdekakan) Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.
Bilal berasal dari suku Sarah, dan ibunya bernama Hamamah.
Ujian Iman: “Ahad, Ahad!”
Bilal termasuk di antara golongan mustad‘afin — orang-orang lemah dan tertindas di Makkah. Ketika ia memeluk Islam, para pemuka Quraisy murka. Mereka ingin memaksanya kembali kepada kekafiran.
Orang yang paling kejam menyiksanya adalah Umayyah bin Khalaf. Di tengah panas terik gurun Makkah, Bilal dijemur di atas batu besar, dadanya ditekan dengan batu yang berat, lalu dicambuk dengan keras.
Kebebasan dari Abu Bakar
Melihat penderitaan Bilal, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang dengan hati yang pilu. Ia berkata kepada orang-orang Quraisy:
“Mengapa kalian menyiksa orang ini?”
Akhirnya, Abu Bakar membeli Bilal dengan harga tujuh uqiyah emas, lalu memerdekakannya.
Ketika kabar itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
“Bagaimana kalau kita berserikat, wahai Abu Bakar?”
Bilal, Sang Muazin Rasulullah ﷺ
Setelah Wafatnya Rasulullah ﷺ
Ketika Rasulullah ﷺ wafat, kesedihan menyelimuti hati Bilal.
Abu Bakar berkata kepadanya,
“Kumandangkanlah azan, wahai Bilal.”
Namun Bilal menjawab dengan suara bergetar,
“Jika engkau memerdekakanku agar aku bersamamu, itu hakmu. Tapi jika engkau memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bersama Dia yang untuk-Nya engkau memerdekakanku.”
Mimpi dan Azan Terakhir di Madinah
Dikisahkan bahwa setelah sekian lama Bilal berada di negeri Syam, suatu malam ia bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ yang berkata:
“Wahai Bilal, kenapa engkau begitu jauh dariku? Bukankah sudah saatnya engkau mengunjungiku?”
Bilal pun terbangun dengan air mata berlinang. Ia segera menyiapkan kendaraannya dan berangkat menuju Madinah.
Setibanya di sana, cucu Nabi ﷺ, Hasan dan Husain, berkata kepadanya:
“Kami sangat ingin engkau azan pada waktu sahur.”
Bilal pun menaiki atap masjid dan mulai mengumandangkan azan:
• Saat ia mengucapkan “Allahu Akbar, Allahu Akbar”, seluruh Madinah bergemuruh.
• Saat ia mengucapkan “Asyhadu an laa ilaaha illallah”, suara tangis makin terdengar.
• Dan ketika ia mengucapkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, para wanita keluar dari rumah mereka, menangis tersedu.
Akhir Hayat di Negeri Syam

Komentar
Posting Komentar