Assabiquunal Awwalun, Orang-Orang yang Pertama Masuk Islam
Awal Cahaya di Rumah Nabi
Ketika wahyu pertama turun dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mulai menerima tugas sebagai nabi, belum ada seorang pun yang tahu selain beliau dan istrinya, Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu 'anha.
Di rumah yang sederhana itu, di tengah kota Makkah yang masih tenggelam dalam penyembahan berhala, Rasulullah dan Khadijah mendirikan shalat menghadap Ka'bah. Tidak ada azan, tidak ada jamaah besar, hanya dua orang: seorang nabi terakhir dan seorang istri yang pertama kali beriman dan membenarkannya.
Suatu hari, ketika mereka sedang shalat, datanglah seorang pemuda yang telah lama tinggal dalam asuhan Nabi: Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, putra dari paman beliau.
Ia melihat keduanya sedang shalat, dan heran. Ini bukan cara ibadah yang dikenal Quraisy.
Ali bertanya:
“Wahai Muhammad, apa ini?”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab dengan singkat namun tegas:
“Ini adalah agama Allah yang Dia pilih untuk diri-Nya. Dengan agama ini Dia mengutus para rasul-Nya. Aku mengajakmu kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, kepada ibadah kepada-Nya, dan agar engkau mengingkari al-Lat dan al-'Uzza.”
Ali terdiam. Ia belum pernah mendengar kalimat seperti itu seumur hidupnya. Ia berkata:
“Ini perkara yang belum pernah aku dengar sebelum hari ini. Aku tidak akan memutuskan apa pun sebelum aku bicarakan dulu dengan Abu Thalib.”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak ingin dakwahnya tersiar sebelum waktunya. Beliau tidak suka jika urusan ini sampai ke telinga Abu Thalib sementara perintah untuk berdakwah terang-terangan belum turun.
Beliau pun berkata kepada Ali:
“Wahai Ali, jika engkau belum mau masuk Islam, rahasiakanlah (ini).”
Malam itu Ali pulang, membawa kebingungan dan pertanyaan di dalam hati. Di tengah malam yang tenang, Allah menanamkan iman ke dalam hatinya. Keesokan paginya ia kembali kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Ia berkata:
“Apa yang engkau tawarkan kepadaku kemarin, wahai Muhammad?”
Rasulullah menjawab:
“Engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Engkau mengingkari al-Lat dan al-'Uzza, dan berlepas diri dari segala tandingan bagi Allah.”
Ali pun mengucapkan syahadat, beriman, dan masuk Islam. Ia masih remaja, belum baligh sepenuhnya, namun hatinya telah mantap. Sejak itu ia datang kepada Rasulullah secara sembunyi-sembunyi, takut bila diketahui oleh ayahnya, Abu Thalib. Ia menyembunyikan keislamannya pada masa-masa awal.
Mengapa Ali Tinggal Bersama Nabi?
Sebelum Islam datang, Quraisy pernah mengalami masa paceklik dan krisis pangan yang berat. Abu Thalib, paman Nabi, memiliki tanggungan keluarga yang banyak. Melihat hal ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada pamannya yang lain, al-'Abbas—orang terkaya di Bani Hasyim saat itu:
“Wahai Abbas, saudaramu, Abu Thalib, memiliki banyak tanggungan, dan manusia tertimpa krisis seperti yang kau lihat. Mari kita membantunya dengan meringankan sebagian tanggungan keluarganya.”
Abbas menyetujui usul ini. Maka Rasulullah mengambil Ali untuk tinggal bersama beliau, dan al-'Abbas mengambil salah seorang anak Abu Thalib yang lain.
Sejak hari itu, Ali tumbuh dalam asuhan langsung Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia menyaksikan akhlak beliau, amanah, kejujuran, dan ibadah beliau, bahkan sebelum kenabian. Karena itu, ketika Islam datang, hatinya lebih siap untuk menerima kebenaran.
Seorang Pedagang Menyaksikan Shalat di Mina
Suatu musim haji di Mina, sebelum Islam menyebar luas, datang seorang pedagang dari Yaman bernama 'Ufaif. Ia menginap di dekat kemah al-'Abbas bin Abdul Muththalib, paman Nabi dan seorang saudagar terkenal.
Pada suatu pagi, ketika matahari sudah naik dan ia sedang memandang Ka'bah dari kejauhan, ia melihat pemandangan yang belum pernah ia saksikan.
Dari sebuah kemah dekat situ, keluarlah seorang pemuda. Ia memandang ke langit sejenak, lalu berdiri menghadap Ka'bah dan shalat. Tak lama kemudian, seorang pemuda lain datang dan berdiri di sebelah kanannya, ikut shalat. Tak lama setelah itu, seorang perempuan keluar dan berdiri di belakang keduanya.
Pemuda pertama rukuk, pemuda kedua dan perempuan itu ikut rukuk. Ia bangkit, keduanya bangkit. Ia sujud, keduanya sujud bersamanya.
'Ufaif terheran-heran. Ia berkata kepada al-'Abbas:
“Wahai Abbas, ini perkara besar!”
Abbas menjawab:
“Memang, ini perkara besar. Tahukah engkau siapa mereka?”
'Ufaif menjawab, “Tidak.”
Abbas berkata:
“Itu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib, keponakanku. Pemuda yang di sebelah kanannya adalah Ali bin Abi Thalib. Perempuan yang di belakang mereka adalah Khadijah binti Khuwailid, istri keponakanku. Muhammad mengaku bahwa Rabb langit telah memerintahkannya untuk melakukan apa yang kaulihat mereka lakukan ini. Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun di muka bumi ini yang berada di atas agama ini selain tiga orang ini.”
'Ufaif kemudian berkata, di masa tuanya:
“Andai saja aku beriman pada hari itu, niscaya aku akan menjadi orang kedua yang masuk Islam.”
Siapa yang Pertama Masuk Islam?
Para ulama menukil banyak riwayat tentang siapa orang pertama yang masuk Islam. Sebagian menyebut Ali, sebagian menyebut Abu Bakar, sebagian menyebut Zaid bin Haritsah. Bila seluruh riwayat itu dihimpun, para ulama menjelaskannya dengan cara berikut:
Orang pertama yang masuk Islam dari kalangan wanita adalah Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu 'anha. Ia bukan hanya wanita pertama, bahkan yang paling awal secara umum, yang langsung membenarkan suaminya.
Orang pertama yang masuk Islam dari kalangan laki-laki merdeka adalah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.
Orang pertama yang masuk Islam dari kalangan budak/mawali adalah Zaid bin Haritsah radhiyallahu 'anhu, budak yang kemudian dimerdekakan dan diangkat seperti anak oleh Rasulullah.
Orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak/pemuda adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.
Dengan cara inilah para ulama, di antaranya Imam Abu Hanifah rahimahullah, menggabungkan berbagai riwayat yang tampak berbeda.
Abu Bakar: Sahabat Lama yang Langsung Percaya
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu adalah sahabat dekat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sejak sebelum kenabian. Ia mengenal beliau sebagai orang paling jujur, paling amanah, paling baik akhlaknya di tengah Quraisy.
Ketika kabar tentang dakwah baru Rasulullah mulai beredar, Quraisy menuduh beliau meninggalkan agama nenek moyang, mencela berhala-berhala, dan “merusak” cara berpikir mereka.
Abu Bakar mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan bertanya kira-kira:
“Benarkah apa yang dikatakan oleh kaummu tentang engkau, wahai Muhammad? Bahwa engkau meninggalkan sesembahan kami, menuduh akal kami rusak, dan mengkafirkan nenek moyang kami?”
Rasulullah menjawab dengan terus terang:
“Benar. Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah dan nabi-Nya. Dia mengutusku untuk menyampaikan risalah-Nya. Aku mengajakmu kepada Allah dengan kebenaran. Demi Allah, ini adalah kebenaran. Aku mengajakmu, wahai Abu Bakar, agar engkau menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan tidak menyembah selain-Nya, serta berloyalitas di atas ketaatan kepada-Nya.”
Beliau juga membacakan ayat-ayat Al-Qur'an kepadanya.
Abu Bakar tidak meminta waktu berpikir lama. Ia tidak meminta bukti tambahan. Ia mengenal siapa yang sedang berbicara di hadapannya. Maka ia pun langsung menerima, mengucapkan syahadat, dan masuk Islam.
Dalam sebuah riwayat, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa setiap orang yang diajaknya kepada Islam biasanya ada ragu dan menimbang-nimbang terlebih dahulu, kecuali Abu Bakar. Ketika Islam disebut kepadanya, ia tidak ragu dan tidak tertahan sedikit pun.
Karena itulah ia diberi gelar ash-Shiddiq, “orang yang sangat membenarkan”.
Kedudukan Abu Bakar di Mata Rasulullah
Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan al-Bukhari, pernah terjadi perselisihan antara Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menasihati para sahabat, beliau mengingatkan:
“Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian, lalu kalian mengatakan, ‘Engkau pendusta’, sedangkan Abu Bakar berkata, ‘Engkau benar.’ Ia membelaku dengan diri dan hartanya. Apakah kalian akan meninggalkan sahabatku untukku?”
Beliau mengucapkannya dua kali. Sejak saat itu, para sahabat sangat berhati-hati untuk tidak menyakiti Abu Bakar. Kalimat ini hampir seperti penegasan langsung bahwa kedudukan Abu Bakar dalam keimanan dan kecepatan menerima Islam sangatlah istimewa.
Dalam beberapa riwayat lain, Abu Bakar sendiri pernah berkata di tengah sahabat:
“Bukankah aku orang yang paling berhak terhadap urusan ini? Bukankah aku orang pertama yang masuk Islam? Bukankah aku sahabatnya (Rasulullah) dalam urusan ini dan itu?”
Dan sebagian sahabat besar, seperti Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, meriwayatkan bahwa:
“Orang pertama dari kalangan laki-laki yang masuk Islam adalah Abu Bakar ash-Shiddiq. Dan orang pertama dari kalangan laki-laki yang shalat bersama Nabi adalah Ali bin Abi Thalib.”
Abu Bakar Mengajak Sahabat-Sahabat Besar
Setelah masuk Islam, Abu Bakar tidak berdiam diri. Ia adalah seorang pedagang yang berakhlak lembut, dicintai, mudah bergaul, dan sangat dikenal di tengah Quraisy. Ia juga ahli nasab; paling mengetahui silsilah kabilah-kabilah Quraisy, serta tahu siapa yang terkenal baik dan siapa yang buruk.
Orang-orang Quraisy terbiasa datang kepadanya, mengajaknya bicara, bermusyawarah, atau sekadar bersahabat karena akhlaknya yang enak dan pergaulannya yang hangat.
Abu Bakar memanfaatkan semua ini untuk dakwah. Ia mulai mengajak orang-orang yang ia percaya, orang-orang yang sering mendatanginya dan duduk bersamanya. Ia ajak mereka bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan kepercayaan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.
Melalui tangan Abu Bakar, beberapa tokoh besar masuk Islam. Di antara mereka:
az-Zubair bin al-'Awwam,
Utsman bin ‘Affan,
Thalhah bin Ubaidillah,
Sa’d bin Abi Waqqash,
Abdurrahman bin ‘Auf,
Mereka kemudian bersama Abu Bakar mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau menawarkan Islam, membacakan Al-Qur'an, menjelaskan hakikat agama ini, hingga mereka semua beriman.
Dalam riwayat lain dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, disebutkan bahwa setelah itu Abu Bakar juga mengajak:
Abu Ubaidah bin al-Jarrah,
Utsman bin Mazh’un,
Abu Salamah bin Abdul Asad,
al-Arqam bin Abi al-Arqam.
Satu demi satu, mereka datang kepada Rasulullah dan masuk Islam.
Pada suatu masa awal, jumlah sahabat yang telah berkumpul sekitar tiga puluh delapan orang laki-laki. Ketika itu Abu Bakar terus mendesak Rasulullah agar dakwah tidak hanya sembunyi-sembunyi.
“Wahai Rasulullah, tidakkah kita menampakkan diri?”
Rasulullah menjawab,
“Wahai Abu Bakar, kita ini masih sedikit.”
Namun Abu Bakar terus meminta, sampai akhirnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menuju Masjidil Haram. Kaum muslimin menyebar di sudut-sudut masjid, setiap orang berdiri di tengah kaumnya.
Abu Bakar berdiri dan berkhutbah di hadapan orang banyak. Di situlah ia menjadi khatib pertama yang menyeru manusia kepada Allah dan Rasul-Nya secara terbuka.
Talhah dan Bisikan Rahib di Bushra
Salah seorang sahabat yang masuk Islam melalui Abu Bakar adalah Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu 'anhu. Ia sendiri menceritakan awal hidayahnya.
Suatu saat ia pergi ke negeri Syam, menghadiri pasar Bushra. Di dekat pasar itu ada sebuah biara. Seorang rahib dari dalam biara memanggil orang-orang dan berkata:
“Tanyakan kepada orang-orang yang datang menghadiri musim (dagang), adakah di antara mereka orang yang berasal dari Tanah Haram (Makkah)?”
Thalhah menjawab, “Aku dari Tanah Haram.”
Rahib bertanya:
“Apakah Ahmad sudah muncul?”
Thalhah heran dan bertanya, “Siapa Ahmad?”
Rahib menjawab:
“Ia adalah putra Abdullah bin Abdul Muththalib. Bulan ini adalah bulan munculnya ia sebagai nabi. Ia nabi terakhir, yang akan keluar dari Tanah Haram, dan hijrahnya ke tanah yang memiliki pohon kurma, tanah berbatu hitam, dan tanah berair asin. Jangan sampai engkau didahului (orang lain) dalam beriman kepadanya.”
Perkataan itu tertanam kuat di hati Thalhah. Ia pun bergegas pulang ke Makkah. Setibanya di sana ia bertanya kepada orang-orang:
“Apakah ada peristiwa baru?”
Mereka menjawab:
“Ada. Muhammad bin Abdullah, al-Amin, telah mengaku sebagai nabi. Dan yang mengikutinya adalah Abu Bakar bin Abi Quhafah.”
Thalhah segera mendatangi Abu Bakar:
“Apakah engkau telah mengikuti orang itu?”
Abu Bakar menjawab, “Ya. Pergilah kepadanya, masuklah menemuinya, dan ikutlah dia. Sesungguhnya ia mengajak kepada kebenaran.”
Thalhah pun masuk menemui Rasulullah, menceritakan ucapan rahib di Bushra. Rasulullah bergembira mendengar kabar itu. Thalhah pun masuk Islam.
Namun keislaman mereka tidak disambut baik oleh sebagian tokoh Quraisy. Seorang bangsawan Quraisy yang keras, Naufal bin Khuwaylid, menangkap Abu Bakar dan Thalhah, lalu mengikat keduanya dengan satu tali. Bani Taim (kabilah Abu Bakar) tidak mampu melindungi mereka saat itu. Karena kejadian itu, Abu Bakar dan Thalhah dijuluki al-Qarinain, “dua orang yang dipasangkan”.
Pukulan Berat untuk Abu Bakar
Setelah jumlah kaum muslimin mulai bertambah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beberapa kali menampakkan dakwah di Masjidil Haram, tekanan dari kaum musyrik semakin keras.
Dalam satu peristiwa, setelah Abu Bakar berkhutbah di dekat Ka'bah mengajak manusia kepada Allah dan Rasul-Nya, orang-orang musyrik bangkit memukul kaum muslimin di berbagai sudut masjid. Mereka memukul dan menginjak-injak, dan Abu Bakar menjadi salah satu yang paling berat siksaan fisiknya.
Seorang pemuka musyrik, ‘Utbah bin Rabi’ah, mendekati Abu Bakar yang sudah jatuh. Ia memukulinya dengan dua sandal yang telah dijahit-tebal, menghantam wajahnya berkali-kali. Ia bahkan naik ke perut Abu Bakar dan menginjaknya. Wajah Abu Bakar bengkak hingga sulit dikenali; antara hidung dan wajahnya seakan menyatu karena lebam.
Bani Taim, kabilah Abu Bakar, datang dengan berlari-lari. Mereka mengusir orang-orang musyrik dari atas tubuh Abu Bakar, lalu mengangkatnya dengan kain dan membawanya pulang. Mereka benar-benar menyangka ia akan meninggal.
Di rumah, ayahnya, Abu Quhafah, dan keluarganya berusaha membangunkannya. Menjelang sore hari, Abu Bakar mulai sadar dan berbicara. Kalimat pertama yang ia tanyakan bukanlah kondisi dirinya, bukan makanan, bukan minuman, tetapi:
“Apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?”
Keluarganya memarahi dan mencelanya:
“Urusi dulu dirimu!”
Namun ia tetap bertanya tentang Nabi. Mereka pun meninggalkannya sambil berkata kepada ibunya, Ummul Khair:
“Berilah ia makan atau minum sesuatu.”
Ketika tinggal berdua dengan ibunya, Abu Bakar kembali berkata:
“Apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?”
Ibunya menjawab, “Demi Allah, aku tidak tahu tentang sahabatmu itu.”
Abu Bakar berkata:
“Pergilah kepada Ummu Jamil binti al-Khattab, tanyakan kepadanya tentang beliau.”
Ibunya pun pergi menemui Ummu Jamil dan menyampaikan pertanyaan Abu Bakar. Ummu Jamil berhati-hati menjawab, karena khawatir diawasi:
“Aku tidak mengenal Abu Bakar dan tidak pula Muhammad bin Abdullah. Tetapi jika engkau mau, aku akan pergi bersamamu menemui anakmu.”
Mereka berdua kembali ke rumah Abu Bakar. Ketika Ummu Jamil melihat wajah Abu Bakar yang babak belur, ia menangis dan berteriak:
“Demi Allah, kaum yang melakukan ini terhadapmu benar-benar kaum fasik dan kafir. Sungguh aku berharap Allah akan membalas mereka untukmu.”
Abu Bakar kembali bertanya:
“Apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?”
Ummu Jamil melirik ibunya dan berkata pelan:
“Ini ibumu mendengar.”
Abu Bakar berkata:
“Tidak mengapa, engkau boleh mengabarkan di hadapannya.”
Maka Ummu Jamil berkata:
“Beliau selamat, sehat.”
Abu Bakar bertanya lagi, “Di mana beliau?”
Ia menjawab, “Di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam.”
Abu Bakar berkata:
“Sesungguhnya aku bernazar kepada Allah, aku tidak akan merasakan makanan dan minuman sampai aku datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.”
Mereka menunggu sampai malam sunyi dan jalanan tenang. Lalu ibunya dan Ummu Jamil menopang Abu Bakar yang masih lemah menuju Dar al-Arqam, tempat para sahabat berkumpul sembunyi-sembunyi.
Ketika Rasulullah melihat Abu Bakar, beliau langsung memeluk dan menciumnya. Para sahabat pun mengerumuninya. Rasulullah sangat iba melihat keadaan sahabat dekatnya ini.
Abu Bakar berkata:
“Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah. Tidak ada apa-apa padaku kecuali apa yang si fasik itu timpakan pada wajahku. Ini ibuku, ia baik kepada anaknya. Engkau orang yang diberkahi. Ajaklah dia kepada Allah dan doakanlah dia, semoga Allah menyelamatkannya darimu dari neraka.”
Rasulullah pun mengajak ibunya kepada Islam dan mendoakannya. Maka Ummul Khair masuk Islam saat itu juga.
Abu Bakar, ibunya, dan para sahabat lain kemudian tinggal beberapa waktu di rumah al-Arqam, menyusun kekuatan iman dalam senyap di tengah tekanan Makkah.
Hamzah, Umar, dan Keberanian yang Meninggi
Pada masa-masa penuh tekanan itulah, paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muththalib, pun masuk Islam. Keislamannya membuat barisan kaum muslimin bertambah kuat, karena Hamzah adalah seorang pemberani yang dihormati Quraisy.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah berdoa, meminta agar Allah memuliakan Islam dengan salah satu dari dua lelaki yang kuat di Makkah: Umar bin al-Khattab atau Abu Jahl bin Hisyam. Doa itu terkabul bagi Umar.
Dalam sebagian riwayat diceritakan bahwa doa itu diucapkan pada suatu hari Rabu, dan Umar masuk Islam pada hari Kamis. Ketika Umar telah menerima Islam, Rasulullah dan para sahabat bertakbir keras hingga suara takbir terdengar ke penjuru atas kota Makkah.
Umar kemudian mulai menampakkan imannya secara terang-terangan. Ia mendatangi majelis-majelis Quraisy yang dulu ia hadiri dalam keadaan kafir, kini ia datangi lagi untuk mengumumkan syahadat. Ketika ia thawaf dan Abu Jahl menantangnya dengan ucapan bahwa Umar telah “keluar dari agama nenek moyangnya”, Umar menjawab dengan lantang:
“Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.”
Orang-orang musyrik pun menerjangnya. Umar melawan sekuat tenaga, bahkan sempat menjepit mata 'Utbah dengan jarinya hingga orang-orang terpaksa menjauh. Sejak saat itu, keberanian kaum muslimin untuk tampak di sekitar Ka'bah semakin besar.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa secara urutan waktu, keislaman Umar yang masyhur terjadi setelah hijrah pertama kaum muslimin ke Habasyah, pada tahun keenam kenabian. Namun inti pelajaran dari kisah-kisah itu adalah bagaimana masuk Islamnya orang-orang kuat seperti Hamzah dan Umar menjadi titik balik penting dalam sejarah dakwah di Makkah.
Masa-Masa Sulit dan Tujuh Orang yang Menampakkan Islam
Jumlah muslim di awal dakwah sangat sedikit. Dalam sebuah hadis sahih, 'Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa ia pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan bersama beliau saat itu hanya:
“Lima orang budak, dua wanita, dan Abu Bakar.”
Gangguan dan siksaan pun sangat keras. Sebagian sahabat memilih menyembunyikan keislaman mereka. Namun ada beberapa orang yang menampakkan Islam secara terang-terangan dan siap menanggung risikonya.
Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu disebutkan bahwa orang pertama yang menampakkan Islam secara terbuka ada tujuh:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
Abu Bakar,
'Ammar bin Yasir,
Ibunya, Sumayyah (syahidah pertama dalam Islam),
Shuhaib ar-Rumi,
Bilal bin Rabah,
al-Miqdad bin al-Aswad.
Allah melindungi Rasulullah dengan keberadaan pamannya, Abu Thalib. Allah melindungi Abu Bakar dengan kedudukan dan kabilahnya. Adapun yang lain, mereka disiksa tanpa belas kasihan. Mereka dipakaikan baju besi, dijemur di bawah terik matahari Makkah, dipaksa mengingkari iman.
Sebagian mereka, karena beratnya siksaan, dipaksa mengucapkan kalimat sesuai keinginan para penyiksa. Namun ada satu orang yang tetap teguh, yakni Bilal. Ia dikalungi batu besar di padang pasir, diseret anak-anak di jalan-jalan Makkah, lalu ditindih batu sambil disuruh menyebut nama berhala. Ia hanya menjawab dengan satu kalimat:
“Ahad, Ahad…”
(Satu, Yang Maha Esa, Yang Maha Esa.)
Baginya, derita di jalan Allah lebih ringan daripada kembali ke kegelapan syirik.
Tamu dari Jauh: ‘Amr bin ‘Abasah
Di tengah kondisi dakwah yang masih sembunyi-sembunyi di Makkah, datanglah seorang laki-laki dari jauh bernama ‘Amr bin ‘Abasah as-Sulami. Ia mendengar kabar bahwa ada seorang lelaki di Makkah yang mengaku sebagai nabi.
Ia pun datang secara diam-diam dan menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada awal-awal kenabian.
Ia bertanya:
“Siapa engkau?”
Rasulullah menjawab:
“Aku seorang nabi.”
'Amr bertanya lagi:
“Apa itu nabi?”
Beliau menjawab:
“Utusan Allah.”
'Amr bertanya:
“Apakah Allah yang mengutusmu?”
Beliau menjawab:
“Ya.”
'Amr bertanya:
“Dengan apa Dia mengutusmu?”
Beliau menjawab:
“(Allah mengutusku) agar engkau menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, engkau menghancurkan berhala-berhala, dan menyambung tali silaturahim.”
'Amr berkata:
“Alangkah baiknya perkara yang Dia mengutusmu dengannya. Siapa yang bersamamu dalam urusan ini?”
Rasulullah menjawab:
“Seorang merdeka dan seorang budak.”
Dalam sebagian penjelasan, yang dimaksud adalah Abu Bakar dan Bilal radhiyallahu 'anhuma, meskipun pada kenyataannya sudah ada beberapa sahabat lain yang juga telah masuk Islam, hanya saja 'Amr belum mengenal mereka.
'Amr pun masuk Islam. Ia berkata dalam kenangan masa tuanya:
“Pada saat itu, aku merasa bahwa diriku adalah seperempat Islam.”
Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam belum mengizinkannya menetap di Makkah.
“Jangan (tinggal di sini). Kembalilah kepada kaummu. Jika engkau mendengar bahwa aku telah muncul (dengan dakwah terbuka dan hijrah), maka datanglah kepadaku.”
Ia pun pulang, menyimpan iman itu dalam-dalam sampai tibalah waktunya kelak untuk hijrah.
Sa'd bin Abi Waqqas dan Rasa Menjadi “Sepertiga Islam”
Salah seorang dari generasi awal yang beriman adalah Sa'd bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu, sahabat yang kelak dikenal sebagai panglima besar dalam penaklukan Persia.
Ia pernah berkata, mengingat masa lalunya:
“Tidak ada seorang pun yang masuk Islam pada hari aku masuk Islam. Dan aku pernah tinggal selama tujuh hari, sementara ketika itu aku merasa diriku adalah sepertiga Islam.”
Maksud ucapannya—sebagaimana dijelaskan para ulama—bukan bahwa tidak ada seorang pun sebelum dia yang beriman, karena jelas Khadijah, Abu Bakar, Ali, Zaid dan lainnya sudah lebih dulu. Namun Sa’d ingin menggambarkan betapa sedikitnya jumlah muslim saat itu, sehingga ia merasa seolah-olah Islam hanya terdiri dari tiga orang, dan ia salah satunya.
Seorang Penggembala Kecil Bernama Ibn Mas'ud
Di antara kisah indah keimanan awal adalah kisah Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, sahabat yang kelak menjadi salah satu ulama besar Al-Qur'an.
Ia menceritakan:
“Ketika itu aku masih pemuda yang baru beranjak besar, menggembalakan kambing milik 'Uqbah bin Abi Mu’ith di Makkah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Abu Bakar datang kepadaku. Keduanya baru saja lolos dari gangguan orang-orang musyrik.
Mereka berkata kepadaku, ‘Wahai anak muda, apakah engkau punya susu untuk kami?’
Aku menjawab, ‘Aku ini orang yang diberi amanah. Aku tidak bisa memberi kalian minum.’
Rasulullah bertanya, ‘Apakah engkau punya seekor kambing betina muda yang belum dikawini pejantan?’
Aku menjawab, ‘Ada.’
Aku pun membawanya kepada mereka. Abu Bakar memegangi kambing itu, sementara Rasulullah memegang kantung susunya. Beliau berdoa, maka kantung susu itu penuh berisi. Abu Bakar mencari batu cekung sebagai wadah, lalu Rasulullah memerah susu ke dalamnya. Beliau minum, Abu Bakar minum, lalu mereka memberi aku minum.
Setelah itu beliau berkata kepada kantung susu itu, ‘Kembalilah (seperti semula).’ Maka kantung susu itu pun kembali seperti sedia kala.”
Beberapa waktu kemudian, Ibn Mas'ud datang kepada Rasulullah dan berkata:
“Ajarkan kepadaku sebagian dari ucapan yang baik itu, yakni Al-Qur'an.”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:
“Sesungguhnya engkau adalah pemuda yang akan diajari.”
Ibn Mas’ud pun belajar langsung dari mulut Nabi. Ia berkata bahwa ia telah mengambil sekitar tujuh puluh surat dari Rasulullah, dan pada masa itu hampir tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam bacaan dan hafalan ayat-ayat itu.
Khalid bin Sa'id: Mimpi di Tepi Neraka
Kisah lain tentang hidayah awal datang dari Khalid bin Sa'id bin al-'Ash radhiyallahu 'anhu. Ia termasuk sahabat yang Islamnya tergolong sangat awal, bahkan sebelum sebagian besar saudara-saudaranya.
Ia bermula dari sebuah mimpi. Dalam tidurnya, Khalid melihat dirinya berdiri di tepi neraka. Ia melihat betapa luas dan mengerikannya. Dalam mimpi itu, ia merasa ada seseorang yang hendak mendorongnya jatuh ke dalam neraka. Namun tiba-tiba ia melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang dan memegang kuat kedua pinggangnya, mencegahnya terjatuh.
Ia terbangun dengan perasaan takut. Ia berkata dalam hati:
“Demi Allah, ini pasti mimpi yang benar.”
Khalid kemudian menemui Abu Bakar ash-Shiddiq dan menceritakan mimpinya. Abu Bakar yang sudah memahami cahaya hidayah berkata kepadanya:
“Kebaikan diinginkan untukmu. Itu adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ikutilah dia. Engkau akan mengikutinya dan masuk Islam bersamanya. Islam akan menghalangimu dari neraka itu, sementara ayahmu yang tetap dalam kekafiran akan terjatuh ke dalamnya.”
Khalid pun pergi menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di sebuah daerah di Makkah bernama Ajyad. Ia berkata:
“Wahai Muhammad, kepada apa engkau menyeru?”
Rasulullah menjawab:
“Aku mengajak kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Engkau tinggalkan apa yang selama ini engkau sembah: batu yang tidak mendengar, tidak melihat, tidak memberi mudarat, tidak memberi manfaat, dan tidak mengetahui siapa yang menyembahnya maupun yang tidak menyembahnya.”
Khalid berkata:
“Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul Allah.”
Rasulullah bergembira dengan keislamannya. Namun ketika ayahnya mengetahui bahwa ia telah masuk Islam, ia memanggil dan menegurnya keras. Bahkan ia memukul kepala Khalid dengan tongkat hingga tongkat itu patah di atas kepalanya. Ia mengancam:
“Demi Allah, aku akan menghalangimu dari makanan!”
Khalid menjawab dengan tenang:
“Sekalipun engkau menghalangiku, Allah akan memberiku rezeki untuk hidup.”
Khalid pun pergi, kembali kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan sejak itu ia selalu bersama beliau, dimuliakan dan dijaga dalam naungan iman.
Sumber kisah:
Ibn Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah

Komentar
Posting Komentar