Ketika Hati Anshar Tersentuh: Pidana yang Mengubah Segalanya
Kekecewaan di Balik Pembagian Harta
Setelah Perang Hunain dan pengepungan Thaif, Rasulullah ﷺ
membagi-bagikan harta rampasan yang melimpah. Beliau memberikan bagian yang
besar kepada para pemuka Quraisy dan para mu'allafah (orang-orang
yang baru dilunakkan hatinya untuk masuk Islam), seperti Abu Sufyan, Shafwan
bin Umayyah, dan lainnya. Namun, beliau tidak memberikan apa pun kepada
kaum Anshar.
Beberapa pemuda Anshar yang masih muda dan baru dalam Islam
merasa keberatan. Mereka bergumam di antara mereka sendiri:
“Semoga Allah mengampuni Rasulullah. Beliau memberi
Quraisy dan meninggalkan kita, padahal pedang-pedang kita masih meneteskan
darah mereka (dalam Perang Hunain)?”
Ucapan ini sampai kepada Rasulullah ﷺ. Beliau segera
memanggil mereka dan mengumpulkan semua kaum Anshar dalam sebuah kemah (kubah).
Tidak ada seorang pun yang tertinggal.
Pidato yang Mengguncang Kalbu
Ketika mereka telah berkumpul, Rasulullah ﷺ berdiri, memuji
Allah, lalu bersabda:
“مَا
حَدِيثٌ بَلَغَنِي عَنْكُمْ؟”
Artinya: “Berita apa yang sampai kepadaku tentang
kalian?”
Para pemuka Anshar yang bijaksana menjawab: “Wahai
Rasulullah, para pemimpin kami tidak mengatakan apa-apa. Tetapi beberapa orang
dari kami yang masih muda (baru dewasa) berkata: ‘Semoga Allah mengampuni
Rasulullah…’”
Rasulullah ﷺ
kemudian bersabda:
“يَا
مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، أَلَمْ آتِكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمُ اللَّهُ؟ وَعَالَةً
فَأَغْنَاكُمُ اللَّهُ؟ وَأَعْدَاءً فَأَلَّفَ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ؟”
Artinya: “Wahai sekalian Anshar, bukankah aku datang
kepada kalian dalam keadaan sesat, lalu Allah memberi kalian petunjuk? Dalam
keadaan miskin, lalu Allah memberi kalian kekayaan? Dalam keadaan bermusuhan,
lalu Allah mempersatukan hati kalian?”
Mereka menjawab: “Benar (ya Rasulullah), karunia itu dari
Allah dan Rasul-Nya.”
Beliau bersabda lagi: “أَلَا تُجِيبُونَ يَا مَعْشَرَ
الْأَنْصَارِ؟” (Tidakkah kalian menjawab, wahai Anshar?)
Mereka bertanya: “Apa yang akan kami katakan, wahai
Rasulullah? Dengan apa kami membalas? Segala puji bagi Allah dan Rasul-Nya.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
“وَاللَّهِ
لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَصَدَقْتُمْ وَصُدِّقْتُمْ: جِئْتَنَا طَرِيدًا
فَآوَيْنَاكَ، وَعَائِلًا فَآسَيْنَاكَ، وَخَائِفًا فَآمَنَّاكَ، وَمَخْذُولًا
فَنَصَرْنَاكَ”
Artinya: “Demi Allah, seandainya kalian menghendaki,
niscaya kalian akan berkata – dan kalian benar dan dibenarkan –: ‘Engkau datang
kepada kami dalam keadaan terusir, lalu kami melindungimu; dalam keadaan
miskin, lalu kami menyantunimu; dalam keadaan takut, lalu kami menenteramkanmu;
dan dalam keadaan terhina, lalu kami menolongmu.’”
Mereka pun menjawab: “Segala puji bagi Allah dan Rasul-Nya.”
Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan dengan kalimat yang paling
menyentuh:
“أَوَجَدْتُمْ
فِي أَنْفُسِكُمْ يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ فِي لُعَاعَةٍ – شَيْءٍ يَسِيرٍ –
مِنَ الدُّنْيَا تَأَلَّفْتُ بِهَا قَوْمًا أَسْلَمُوا، وَوَكَلْتُكُمْ إِلَى مَا
قَسَمَ اللَّهُ لَكُمْ مِنَ الْإِسْلَامِ؟! أَفَلَا تَرْضَوْنَ يَا مَعْشَرَ
الْأَنْصَارِ أَنْ يَذْهَبَ النَّاسُ إِلَى رِحَالِهِمْ بِالشَّاءِ وَالْبَعِيرِ،
وَتَذْهَبُونَ بِرَسُولِ اللَّهِ إِلَى رِحَالِكُمْ؟ فَوَالَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ النَّاسَ سَلَكُوا شِعْبًا، وَسَلَكَتِ الْأَنْصَارُ شِعْبًا
لَسَلَكْتُ شِعْبَ الْأَنْصَارِ، وَلَوْلَا الْهِجْرَةُ لَكُنْتُ امْرَأً مِنَ
الْأَنْصَارِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الْأَنْصَارَ وَأَبْنَاءَ الْأَنْصَارِ
وَأَبْنَاءَ أَبْنَاءِ الْأَنْصَارِ”
Artinya: “Apakah kalian merasa keberatan, wahai Anshar, karena harta
dunia yang sedikit yang aku gunakan untuk meluluhkan hati suatu kaum agar
mereka masuk Islam, sementara aku serahkan kalian kepada apa yang telah Allah
bagikan kepada kalian berupa (keutamaan) Islam? Tidakkah kalian rela, wahai
Anshar, bahwa orang-orang pergi dengan membawa kambing dan unta ke tempat
tinggal mereka, sementara kalian pergi membawa Rasulullah ﷺ
ke tempat tinggal kalian? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya,
seandainya manusia menempuh suatu celah dan Anshar menempuh celah yang lain,
pasti aku akan menempuh celah Anshar. Sekiranya bukan karena hijrah, niscaya
aku menjadi seorang laki-laki dari Anshar. Ya Allah, rahmatilah Anshar,
anak-anak Anshar, dan anak-anak dari anak-anak Anshar.”
Tangisan Penyesalan dan Keridhaan
Mendengar pidato yang begitu lembut namun penuh ketegasan
itu, seluruh kaum Anshar menangis hingga janggut mereka basah
oleh air mata. Mereka berkata:
“Kami ridha dengan Allah sebagai Tuhan, dan dengan
Rasulullah ﷺ
sebagai pemimpin (yang membagi).”
Lalu mereka pun pulang dengan hati yang tenang dan puas.
Pernahkah Anda mendengar pidato penyejuk hati yang lebih
indah dari ini? Sebuah pidato yang memadukan antara kebenaran, keterusterangan,
kelembutan, dan rayuan yang menyentuh tanpa sedikit pun manipulasi atau janji
palsu. Inilah akhlak kenabian yang jauh di atas politik duniawi.
Umrah Ji'ranah: Menyempurnakan Ibadah Setelah Kemenangan
Setelah membagi harta rampasan di Ji'ranah,
Rasulullah ﷺ
bersama para sahabat melaksanakan umrah pada akhir bulan Dzulqa'dah tahun
ke-8 Hijriah. Beliau memasuki Mekah pada malam hari, melaksanakan thawaf, sa'i,
lalu bertahallul dari umrahnya. Kemudian beliau kembali ke Madinah bersama para
sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Kini, Mekah dan sekitarnya telah
tunduk di bawah kekuasaan Islam, dan Allah telah menganugerahkan kemenangan
besar ini.
'Attab bin Usaid: Pemuda Amanah Penguasa Mekah
Rasulullah ﷺ
mengangkat 'Attab bin Usaid – yang saat itu berusia lebih
dari dua puluh tahun – sebagai gubernur Mekah. Beliau juga
menyertakan Mu'adz bin Jabal untuk mengajarkan agama dan
Al-Qur'an kepada penduduknya.
Rasulullah ﷺ
menetapkan gaji 'Attab setiap hari satu dirham. Suatu hari 'Attab
berdiri berkhutbah di hadapan orang banyak dan berkata:
“Wahai sekalian manusia, semoga Allah membuat lapar
setiap perut yang lapar karena (tidak menerima) satu dirham. Sungguh,
Rasulullah ﷺ
telah memberiku rezeki setiap hari satu dirham. Maka aku tidak butuh kepada
siapa pun.”
Ini adalah puncak sifat qana'ah (merasa
cukup). Ia sangat menjaga diri dari harta kaum Muslimin. Ia berkata: “Aku
tidak mendapatkan dalam pekerjaanku yang diberikan Rasulullah ﷺ
ini, selain dua helai pakaian (yang sudah dijahit) yang aku hadiahkan kepada
budakku Kaisan.”
'Attab tetap menjadi gubernur Mekah sepanjang masa Abu
Bakar, dan pada masa Umar hingga wafat pada tahun 22
Hijriah.
Ka'b bin Zuhair: Dari Buronan Menjadi Kekasih yang
Dimaafkan
Ka'b bin Zuhair bin Abi Sulma adalah seorang penyair
terkenal. Ia termasuk orang yang dihalalkan darahnya oleh
Rasulullah ﷺ
karena sering melantunkan syair-syair cacian terhadap beliau dan kaum Muslimin.
Setelah Rasulullah ﷺ kembali ke Madinah dari Perang Thaif,
saudaranya Bujair bin Zuhair (yang telah masuk Islam) menulis
surat kepada Ka'b:
“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ tidak membunuh orang yang datang kepadanya
dalam keadaan bertobat dan beriman. Maka jika suratku ini sampai kepadamu,
masuk Islamlah dan datanglah.”
Setelah melalui perdebatan syair di antara mereka berdua,
Ka'b pun akhirnya berangkat menuju Madinah. Ia singgah di rumah seorang
laki-laki dari suku Juhainah yang dikenalnya. Keesokan paginya, orang itu
mengajak Ka'b ke masjid saat salat Subuh.
Setelah Rasulullah ﷺ selesai salat, orang itu berkata: “Wahai
Rasulullah, Ka'b bin Zuhair datang untuk meminta jaminan keamanan dalam keadaan
bertobat dan masuk Islam. Apakah engkau akan menerimanya jika aku datangkan
kepadamu?” Beliau menjawab: “نَعَمْ” (Ya).
Maka orang itu berkata: “Aku sendiri adalah Ka'b, wahai
Rasulullah.”
Seketika itu juga, seorang laki-laki dari Anshar bangkit dan
meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk memenggal leher Ka'b. Rasulullah ﷺ bersabda: “دَعْهُ عَنْكَ
فَإِنَّهُ جَاءَ تَائِبًا مُسْلِمًا”
Artinya: “Biarkanlah dia, karena ia datang dalam keadaan bertobat dan
Muslim.”
Ka'b kemudian melantunkan qasidahnya yang sangat
terkenal, yang diawali dengan bait:
“Bānat Su'ādu fa qalbī al-yawma matbūl…
Mutayyamun 'atfhā lam yufad mabkūl”
(Telah pergi Su'ada, maka hatiku hari ini terbelenggu…
Dirundung cinta, tidak tertebus, terikat)
Dan di dalam qasidah itu terdapat pujian untuk Rasulullah ﷺ:
إِنَّ
الرَّسُولَ لَنُورٌ يُسْتَضَاءُ بِهِ … مُهَنَّدٌ مِنْ سُيُوفِ اللَّهِ مَسْلُولُ
Artinya: “Sesungguhnya Rasul itu adalah cahaya yang
dengannya diterangi… Pedang terhunus dari pedang-pedang Allah.”
Konon, ketika Ka'b melantunkan qasidah itu, Rasulullah ﷺ
memberinya selendang (burdah) yang dikenakannya. Selendang itu
kemudian menjadi warisan para khalifah. Namun Ibnu Katsir mengatakan bahwa
cerita pemberian burdah ini sangat terkenal, tetapi ia tidak menemukan sanad
yang kuat dalam kitab-kitab yang masyhur. Wallahu a'lam.
Setelah itu, Ka'b berkata kepada Rasulullah ﷺ:
“Sesungguhnya aku turut serta (dalam syairku) menyakiti kaum Anshar.”
Rasulullah ﷺ
bersabda: “لَوْلا
ذَكَرْتَ الْأَنْصَارَ بِخَيْرٍ فَإِنَّهُمْ لِذَلِكَ أَهْلٌ”
Artinya: “Mengapa engkau tidak menyebut kebaikan Anshar, karena mereka
memang layak untuk itu?”
Maka Ka'b pun menambahkan bait-bait pujian untuk kaum Anshar
dalam qasidahnya.
Penutup: Pelajaran dari Sebuah Pidana dan Sebuah Maaf
Dari kisah ini, kita belajar bahwa kepemimpinan
sejati tidak selalu memberikan harta, tetapi memberikan kehormatan
dan kedekatan. Rasulullah ﷺ
lebih memilih Anshar daripada harta dunia, dan mereka pun rela. Dari kisah
Ka'b, kita belajar bahwa maaf dan pintu tobat selalu terbuka bagi
siapa pun yang datang dengan hati yang tulus.
Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah
Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar
Posting Komentar