Ketika Hati Anshar Tersentuh: Pidana yang Mengubah Segalanya

sekelompok laki-laki dewasa berpakaian Arab kuno duduk bersila di atas pasir di padang terbuka. Wajah-wajah mereka tampak basah oleh air mata, beberapa dari mereka saling memeluk atau menepuk pundak teman di sampingnya. Ekspresi mereka menunjukkan penyesalan yang mendalam sekaligus ketenangan yang baru ditemukan. Di depan mereka, seorang tokoh utama dengan jubah putih digambarkan dari sudut belakang, dengan tangan terentang ke samping seolah memberi isyarat ketenangan. Latar belakang adalah bukit-bukit pasir keemasan dan langit sore berwarna jingga dengan awan tipis.

Kekecewaan di Balik Pembagian Harta

Setelah Perang Hunain dan pengepungan Thaif, Rasulullah membagi-bagikan harta rampasan yang melimpah. Beliau memberikan bagian yang besar kepada para pemuka Quraisy dan para mu'allafah (orang-orang yang baru dilunakkan hatinya untuk masuk Islam), seperti Abu Sufyan, Shafwan bin Umayyah, dan lainnya. Namun, beliau tidak memberikan apa pun kepada kaum Anshar.

Beberapa pemuda Anshar yang masih muda dan baru dalam Islam merasa keberatan. Mereka bergumam di antara mereka sendiri:

“Semoga Allah mengampuni Rasulullah. Beliau memberi Quraisy dan meninggalkan kita, padahal pedang-pedang kita masih meneteskan darah mereka (dalam Perang Hunain)?”

Ucapan ini sampai kepada Rasulullah . Beliau segera memanggil mereka dan mengumpulkan semua kaum Anshar dalam sebuah kemah (kubah). Tidak ada seorang pun yang tertinggal.


Pidato yang Mengguncang Kalbu

Ketika mereka telah berkumpul, Rasulullah berdiri, memuji Allah, lalu bersabda:

مَا حَدِيثٌ بَلَغَنِي عَنْكُمْ؟

Artinya: “Berita apa yang sampai kepadaku tentang kalian?”

Para pemuka Anshar yang bijaksana menjawab: “Wahai Rasulullah, para pemimpin kami tidak mengatakan apa-apa. Tetapi beberapa orang dari kami yang masih muda (baru dewasa) berkata: ‘Semoga Allah mengampuni Rasulullah…’”

Rasulullah kemudian bersabda:

يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، أَلَمْ آتِكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمُ اللَّهُ؟ وَعَالَةً فَأَغْنَاكُمُ اللَّهُ؟ وَأَعْدَاءً فَأَلَّفَ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ؟

Artinya: “Wahai sekalian Anshar, bukankah aku datang kepada kalian dalam keadaan sesat, lalu Allah memberi kalian petunjuk? Dalam keadaan miskin, lalu Allah memberi kalian kekayaan? Dalam keadaan bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian?”

Mereka menjawab: “Benar (ya Rasulullah), karunia itu dari Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau bersabda lagi: أَلَا تُجِيبُونَ يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ؟ (Tidakkah kalian menjawab, wahai Anshar?)

Mereka bertanya: “Apa yang akan kami katakan, wahai Rasulullah? Dengan apa kami membalas? Segala puji bagi Allah dan Rasul-Nya.”

Maka Rasulullah bersabda:

وَاللَّهِ لَوْ شِئْتُمْ لَقُلْتُمْ فَصَدَقْتُمْ وَصُدِّقْتُمْ: جِئْتَنَا طَرِيدًا فَآوَيْنَاكَ، وَعَائِلًا فَآسَيْنَاكَ، وَخَائِفًا فَآمَنَّاكَ، وَمَخْذُولًا فَنَصَرْنَاكَ

Artinya: “Demi Allah, seandainya kalian menghendaki, niscaya kalian akan berkata – dan kalian benar dan dibenarkan –: ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan terusir, lalu kami melindungimu; dalam keadaan miskin, lalu kami menyantunimu; dalam keadaan takut, lalu kami menenteramkanmu; dan dalam keadaan terhina, lalu kami menolongmu.’”

Mereka pun menjawab: “Segala puji bagi Allah dan Rasul-Nya.”

Kemudian Rasulullah melanjutkan dengan kalimat yang paling menyentuh:

أَوَجَدْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ فِي لُعَاعَةٍ – شَيْءٍ يَسِيرٍ – مِنَ الدُّنْيَا تَأَلَّفْتُ بِهَا قَوْمًا أَسْلَمُوا، وَوَكَلْتُكُمْ إِلَى مَا قَسَمَ اللَّهُ لَكُمْ مِنَ الْإِسْلَامِ؟! أَفَلَا تَرْضَوْنَ يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ أَنْ يَذْهَبَ النَّاسُ إِلَى رِحَالِهِمْ بِالشَّاءِ وَالْبَعِيرِ، وَتَذْهَبُونَ بِرَسُولِ اللَّهِ إِلَى رِحَالِكُمْ؟ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ النَّاسَ سَلَكُوا شِعْبًا، وَسَلَكَتِ الْأَنْصَارُ شِعْبًا لَسَلَكْتُ شِعْبَ الْأَنْصَارِ، وَلَوْلَا الْهِجْرَةُ لَكُنْتُ امْرَأً مِنَ الْأَنْصَارِ، اللَّهُمَّ ارْحَمِ الْأَنْصَارَ وَأَبْنَاءَ الْأَنْصَارِ وَأَبْنَاءَ أَبْنَاءِ الْأَنْصَارِ
Artinya: “Apakah kalian merasa keberatan, wahai Anshar, karena harta dunia yang sedikit yang aku gunakan untuk meluluhkan hati suatu kaum agar mereka masuk Islam, sementara aku serahkan kalian kepada apa yang telah Allah bagikan kepada kalian berupa (keutamaan) Islam? Tidakkah kalian rela, wahai Anshar, bahwa orang-orang pergi dengan membawa kambing dan unta ke tempat tinggal mereka, sementara kalian pergi membawa Rasulullah ke tempat tinggal kalian? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya manusia menempuh suatu celah dan Anshar menempuh celah yang lain, pasti aku akan menempuh celah Anshar. Sekiranya bukan karena hijrah, niscaya aku menjadi seorang laki-laki dari Anshar. Ya Allah, rahmatilah Anshar, anak-anak Anshar, dan anak-anak dari anak-anak Anshar.”


Tangisan Penyesalan dan Keridhaan

Mendengar pidato yang begitu lembut namun penuh ketegasan itu, seluruh kaum Anshar menangis hingga janggut mereka basah oleh air mata. Mereka berkata:

“Kami ridha dengan Allah sebagai Tuhan, dan dengan Rasulullah sebagai pemimpin (yang membagi).”

Lalu mereka pun pulang dengan hati yang tenang dan puas.

Pernahkah Anda mendengar pidato penyejuk hati yang lebih indah dari ini? Sebuah pidato yang memadukan antara kebenaran, keterusterangan, kelembutan, dan rayuan yang menyentuh tanpa sedikit pun manipulasi atau janji palsu. Inilah akhlak kenabian yang jauh di atas politik duniawi.


Umrah Ji'ranah: Menyempurnakan Ibadah Setelah Kemenangan

Setelah membagi harta rampasan di Ji'ranah, Rasulullah bersama para sahabat melaksanakan umrah pada akhir bulan Dzulqa'dah tahun ke-8 Hijriah. Beliau memasuki Mekah pada malam hari, melaksanakan thawaf, sa'i, lalu bertahallul dari umrahnya. Kemudian beliau kembali ke Madinah bersama para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Kini, Mekah dan sekitarnya telah tunduk di bawah kekuasaan Islam, dan Allah telah menganugerahkan kemenangan besar ini.


'Attab bin Usaid: Pemuda Amanah Penguasa Mekah

Rasulullah mengangkat 'Attab bin Usaid – yang saat itu berusia lebih dari dua puluh tahun – sebagai gubernur Mekah. Beliau juga menyertakan Mu'adz bin Jabal untuk mengajarkan agama dan Al-Qur'an kepada penduduknya.

Rasulullah menetapkan gaji 'Attab setiap hari satu dirham. Suatu hari 'Attab berdiri berkhutbah di hadapan orang banyak dan berkata:

“Wahai sekalian manusia, semoga Allah membuat lapar setiap perut yang lapar karena (tidak menerima) satu dirham. Sungguh, Rasulullah telah memberiku rezeki setiap hari satu dirham. Maka aku tidak butuh kepada siapa pun.”

Ini adalah puncak sifat qana'ah (merasa cukup). Ia sangat menjaga diri dari harta kaum Muslimin. Ia berkata: “Aku tidak mendapatkan dalam pekerjaanku yang diberikan Rasulullah ini, selain dua helai pakaian (yang sudah dijahit) yang aku hadiahkan kepada budakku Kaisan.”

'Attab tetap menjadi gubernur Mekah sepanjang masa Abu Bakar, dan pada masa Umar hingga wafat pada tahun 22 Hijriah.


Ka'b bin Zuhair: Dari Buronan Menjadi Kekasih yang Dimaafkan

Ka'b bin Zuhair bin Abi Sulma adalah seorang penyair terkenal. Ia termasuk orang yang dihalalkan darahnya oleh Rasulullah karena sering melantunkan syair-syair cacian terhadap beliau dan kaum Muslimin.

Setelah Rasulullah kembali ke Madinah dari Perang Thaif, saudaranya Bujair bin Zuhair (yang telah masuk Islam) menulis surat kepada Ka'b:

“Sesungguhnya Rasulullah tidak membunuh orang yang datang kepadanya dalam keadaan bertobat dan beriman. Maka jika suratku ini sampai kepadamu, masuk Islamlah dan datanglah.”

Setelah melalui perdebatan syair di antara mereka berdua, Ka'b pun akhirnya berangkat menuju Madinah. Ia singgah di rumah seorang laki-laki dari suku Juhainah yang dikenalnya. Keesokan paginya, orang itu mengajak Ka'b ke masjid saat salat Subuh.

Setelah Rasulullah selesai salat, orang itu berkata: “Wahai Rasulullah, Ka'b bin Zuhair datang untuk meminta jaminan keamanan dalam keadaan bertobat dan masuk Islam. Apakah engkau akan menerimanya jika aku datangkan kepadamu?” Beliau menjawab: نَعَمْ (Ya).

Maka orang itu berkata: “Aku sendiri adalah Ka'b, wahai Rasulullah.”

Seketika itu juga, seorang laki-laki dari Anshar bangkit dan meminta izin kepada Rasulullah untuk memenggal leher Ka'b. Rasulullah bersabda: دَعْهُ عَنْكَ فَإِنَّهُ جَاءَ تَائِبًا مُسْلِمًا
Artinya: “Biarkanlah dia, karena ia datang dalam keadaan bertobat dan Muslim.”

Ka'b kemudian melantunkan qasidahnya yang sangat terkenal, yang diawali dengan bait:

“Bānat Su'ādu fa qalbī al-yawma matbūl…
Mutayyamun 'atfhā lam yufad mabkūl”
(Telah pergi Su'ada, maka hatiku hari ini terbelenggu…
Dirundung cinta, tidak tertebus, terikat)

Dan di dalam qasidah itu terdapat pujian untuk Rasulullah :

إِنَّ الرَّسُولَ لَنُورٌ يُسْتَضَاءُ بِهِ … مُهَنَّدٌ مِنْ سُيُوفِ اللَّهِ مَسْلُولُ

Artinya: “Sesungguhnya Rasul itu adalah cahaya yang dengannya diterangi… Pedang terhunus dari pedang-pedang Allah.”

Konon, ketika Ka'b melantunkan qasidah itu, Rasulullah memberinya selendang (burdah) yang dikenakannya. Selendang itu kemudian menjadi warisan para khalifah. Namun Ibnu Katsir mengatakan bahwa cerita pemberian burdah ini sangat terkenal, tetapi ia tidak menemukan sanad yang kuat dalam kitab-kitab yang masyhur. Wallahu a'lam.

Setelah itu, Ka'b berkata kepada Rasulullah : “Sesungguhnya aku turut serta (dalam syairku) menyakiti kaum Anshar.” Rasulullah bersabda: لَوْلا ذَكَرْتَ الْأَنْصَارَ بِخَيْرٍ فَإِنَّهُمْ لِذَلِكَ أَهْلٌ
Artinya: “Mengapa engkau tidak menyebut kebaikan Anshar, karena mereka memang layak untuk itu?”

Maka Ka'b pun menambahkan bait-bait pujian untuk kaum Anshar dalam qasidahnya.


Penutup: Pelajaran dari Sebuah Pidana dan Sebuah Maaf

Dari kisah ini, kita belajar bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu memberikan harta, tetapi memberikan kehormatan dan kedekatan. Rasulullah lebih memilih Anshar daripada harta dunia, dan mereka pun rela. Dari kisah Ka'b, kita belajar bahwa maaf dan pintu tobat selalu terbuka bagi siapa pun yang datang dengan hati yang tulus.


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perang Hunain: Pelajaran dari Kemenangan yang Hampir Sirna

Setelah Fathu Makkah: Ketakutan Anshar, Kisah Bani Judzaimah, dan Penghancuran Berhala

Perang Tha'if: Ketika Ketekunan Berjumpa dengan Kasih Sayang