Razia Sultan: Sang Perempuan di Singgasana Delhi
Awal Mula Perebutan Kekuasaan
Setelah Sultan Syamsuddin Altutmish wafat, tampuk
kepemimpinan jatuh ke tangan putranya, Ruknuddin. Namun alangkah
buruknya pembuka pemerintahan sang sultan baru. Ia memulai kekuasaannya dengan
tindakan keji: membunuh saudaranya sendiri, Mu'izzuddin. Tindakan
ini dilakukan tanpa rasa belas kasihan, seolah hubungan darah tak berarti
apa-apa di hadapan ambisi kekuasaan.
Radhiyyah, saudara perempuan mereka, tak bisa tinggal
diam. Ia mengingkari perbuatan keji itu dengan lantang. Ruknuddin yang telah
kehilangan akal sehat karena kekuasaan, berencana membunuhnya juga. Namun
Radhiyyah bukan perempuan biasa. Ia mewarisi keteguhan hati dari ayahnya,
Sultan Syamsuddin yang agung.
Protes dari Atas Istana
Pada suatu hari Jumat, ketika Ruknuddin keluar untuk
menunaikan shalat Jumat di masjid, Radhiyyah melihat kesempatan. Ia memanjat ke
atap istana tua yang bernama Daulat Khaneh —istana yang
bersebelahan dengan Masjid Raya. Di situlah ia berdiri, seorang putri raja di
atas bangunan megah, namun hatinya terluka oleh perlakuan saudaranya sendiri.
Radhiyyah mengenakan pakaian orang-orang yang teraniaya. Ia
menampakkan diri kepada rakyat dan berbicara dari atas bangunan dengan suara
lantang yang menggema di pelataran masjid:
"Saudaraku telah membunuh saudaraku yang lain, dan
kini ia ingin membunuhku juga!"
Ia mengingatkan mereka tentang kebajikan ayahnya, Sultan
Syamsuddin, tentang keadilan yang ditegakkan, tentang lonceng keadilan di pintu
istana yang selalu siap mendengar rintihan rakyat teraniaya. Kata-katanya
membakar semangat rakyat yang selama ini mencintai mendiang Sultan.
Massa yang mendengar seruan itu segera bergerak. Mereka
menyerbu ke dalam masjid, menangkap Ruknuddin yang sedang beribadah, lalu
membawanya ke hadapan Radhiyyah. Dengan tegas sang putri berkata:
"Pembunuh harus dibunuh!"
Maka Ruknuddin pun dihukum mati sebagai qishash atas
pembunuhan terhadap Mu'izzuddin. Sementara itu, putra bungsu Sultan
Syamsuddin, Nashiruddin, masih terlalu kecil untuk memimpin. Maka
sepakatlah seluruh rakyat dan tentara untuk mengangkat Radhiyyah sebagai
penguasa.
Radhiyyah: Ratu di Atas Singgasana
Maka naiklah Radhiyyyah ke atas singgasana
Delhi. Ia memerintah selama empat tahun dengan gagah berani. Sebuah pemandangan
yang belum pernah terjadi sebelumnya: seorang perempuan menjadi sultan,
memimpin rakyat, mengatur pemerintahan, bahkan memimpin pasukan perang.
Yang lebih mengherankan lagi, Radhiyyah melepaskan tabirnya
di hadapan umum. Ia berkuda seperti laki-laki, memanah, dan bertempur dengan
gagah berani. Di pinggangnya tergantung qurs (anak panah)
dan tarkasy (tempat panah), layaknya seorang panglima perang.
Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan tak mengenal jenis kelamin.
Namun takdir berkata lain. Radhiyyah difitnah memiliki
hubungan dengan seorang budak Habasyah (Ethiopia) miliknya. Rakyat yang tadinya
mendukungnya berbalik arah. Mereka sepakat untuk memecatnya (khala'uha)
dan menikahkannya. Maka Radhiyyah pun dinikahkan dengan salah seorang
kerabatnya, dan takhta diserahkan kepada adiknya, Nashiruddin.
Akhir Perjalanan Sang Ratu
Namun Radhiyyah tak sudi melepaskan kekuasaan begitu saja.
Bersama suaminya, ia memberontak melawan Nashiruddin. Mereka mengumpulkan para
budak yang dimerdekakan dan pengikut-pengikut mereka, serta para penghasut.
Nashiruddin pun bersiap menghadapi pemberontakan kakaknya, ditemani oleh
wazirnya yang setia, Ghiyatsuddin Balban.
Pertempuran pun pecah. Pasukan Radhiyyah hancur. Ia sendiri
melarikan diri, sendirian, tanpa pengiring. Lapar dan letak menghantuinya. Di
tengah pelariannya, ia melihat seorang petani tengah membajak sawah. Dengan
sisa tenaga, ia mendekat dan meminta makanan.
Petani itu memberinya sepotong roti kasar. Radhiyyah
memakannya dengan lahap, lalu tertidur karena kelelahan. Ia masih mengenakan
pakaian laki-laki, menyamar sebagai prajurit. Ketika ia tertidur, petani itu
mengamatinya. Ia melihat di balik pakaiannya ada qaba' (jaket)
yang dihiasi permata. Seketika itu ia tahu bahwa ini bukan laki-laki biasa,
melainkan seorang bangsawan —atau bahkan ratu yang sedang buron.
Nafsu serakah menguasai petani itu. Ia membunuh Radhiyyah
dalam tidurnya, merampas pakaiannya, mengusir kudanya, lalu mengubur jasadnya
di ladang jagung. Sebagian pakaian korban dibawanya ke pasar untuk dijual.
Namun kejahatan tak pernah tersembunyi selamanya. Penduduk
pasar curiga melihat tingkah laku petani itu. Mereka menangkapnya dan
menyerahkannya kepada as-Syihnah (kepala keamanan). Di bawah
cambukan, petani itu mengaku membunuh seorang perempuan bangsawan. Ia
menunjukkan lokasi makamnya.
Jasad Radhiyyah digali, dimandikan, dikafani, dan
dikebumikan di tempat itu. Di atas kuburnya dibangun sebuah kubah. Hingga kini,
makamnya diziarahi orang dan dianggap membawa berkah —padahal ia seorang
penguasa yang terbunuh dalam pemberontakan, namun rakyat tetap mengenangnya
sebagai pemimpin pemberani yang malang.
Makam itu terletak di tepi sungai besar yang dikenal
sebagai Sungai Jun, sekitar satu farsakh dari kota Delhi.
Nashiruddin: Sultan yang Menyalin Al-Qur'an
Setelah Radhiyyah wafat, Nashiruddin memerintah
dengan stabil selama dua puluh tahun. Ia adalah sultan yang saleh, berbeda
dengan kakak-kakaknya. Kehidupannya sederhana, bahkan untuk makan sehari-hari
ia mencari nafkah dengan tangannya sendiri.
Yang menarik, Sultan Nashiruddin mencari penghasilan dengan
menyalin mushaf Al-Qur'an. Ia menulis dengan tangannya sendiri, dengan khat
yang indah dan teliti, lalu menjualnya. Hasil penjualan itulah yang ia gunakan
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya —bukan dari harta negara, meskipun ia berhak
atas itu semua.
Suatu hari, Qadhi Kamaluddin memperlihatkan kepadaku sebuah
mushaf yang ditulis langsung oleh tangan Sultan Nashiruddin. Tulisannya sangat
rapi, indah, dan sempurna. Aku terharu melihatnya. Seorang sultan besar,
penguasa Delhi, namun hidup sederhana dan bekerja dengan tangannya sendiri
untuk mencari rezeki yang halal.
Namun takdir berkata lain. Wazirnya, Ghiyatsuddin
Balban —yang dulu setia mendampinginya— akhirnya berkhianat. Balban
membunuh Nashiruddin dan merebut kekuasaan. Inilah awal dari kisah Balban yang
menarik untuk diceritakan.
Balban: Dari Budak Buruk Rupa Menjadi Sultan
Ghiyatsuddin Balban —penulisan namanya dengan
dua huruf "ba" yang diberi tanda baca, di antaranya "lam",
semuanya difatah, dan akhirannya "nun"— adalah sosok yang unik. Ia
memerintah selama dua puluh tahun setelah membunuh tuannya, Sultan Nashiruddin.
Sebelumnya, ia telah menjadi wazir selama dua puluh tahun juga.
Balban termasuk sultan terbaik: adil, penyantun, dan utama.
Di antara kemuliaannya, ia membangun sebuah rumah yang dinamakannya Dar
al-Amn (Rumah Keamanan). Siapa pun yang masuk ke rumah itu:
- Jika
ia orang yang berhutang, maka hutangnya dilunasi
- Jika
ia orang yang ketakutan, maka ia akan aman
- Jika
ia pembunuh, maka keluarga korban dipuaskan
- Jika
ia penjahat, maka orang yang menuntutnya dipuaskan
Di rumah itulah Balban dimakamkan ketika wafat. Aku sendiri
pernah mengunjungi makamnya.
Ramalan Para Ahli Nujum
Kisah tentang bagaimana Balban bisa menjadi raja sangatlah
menakjubkan. Konon, ketika ia masih muda, seorang fakir di Bukhara pernah
melihatnya. Balban saat itu bertubuh pendek, hina, dan buruk rupa. Fakir itu
memanggilnya dengan nada menghina:
"Wahai Turkak!" —sebuah panggilan yang
merendahkan.
Namun Balban menjawab dengan sopan, "Labbaika,
ya Khawand!" (Ya, Tuan, aku datang memanggilmu). Fakir itu kagum
dengan kesopanannya. Ia berkata, "Belikan aku buah delima ini,"
sambil menunjuk ke arah penjual delima di pasar.
Balban membelinya dengan uang terakhir yang ia miliki.
Ketika fakir itu mengambil delima, ia berkata, "Kami hadiahkan
engkau kerajaan India."
Balban langsung mencium tangannya sendiri dan berkata, "Aku
terima dan aku ridha." Kata-kata itu terpatri dalam hatinya.
Dari Penjual Air Hingga Panglima
Takdir kemudian bekerja. Sultan Syamsuddin Altutmish
mengirim seorang pedagang untuk membeli budak-budak di Samarkhand, Bukhara, dan
Tirmidz. Pedagang itu membeli seratus orang budak, dan Balban termasuk di
dalamnya.
Ketika para budak itu dihadapkan kepada Sultan, semua budak
disukainya kecuali Balban. Karena buruk rupa, Sultan berkata, "Aku tidak
mau menerima ini."
Balban yang cerdik berkata, "Wahai Tuan, untuk siapa
Tuan membeli para budak ini?"
Sultan tersenyum dan menjawab, "Aku membelinya untuk
diriku sendiri."
Balban segera berkata, "Belilah aku untuk Allah Azza wa
Jalla."
Sultan terkesan dan berkata, "Baiklah, aku
terima." Maka Balban pun dimasukkan ke dalam kelompok budak. Namun karena
buruk rupa, ia diremehkan dan ditugaskan sebagai tukang air (saqqa).
Tipu Muslihat Para Ahli Nujum
Pada masa itu, para ahli nujum sering mengatakan kepada
Sultan Syamsuddin bahwa salah seorang budaknya akan merebut kerajaan dari
tangan putranya. Mereka terus-menerus mengingatkannya, namun Sultan yang saleh
dan adil itu tidak mempedulikan ramalan mereka.
Hingga suatu hari, para ahli nujum itu menyampaikan hal yang
sama kepada al-Khatun al-Kubra (ibu suri), istri Sultan dan
ibu para putranya. Sang permaisuri menyampaikannya kepada Sultan, dan kali ini
perkataan itu mempengaruhi hatinya.
Sultan memanggil para ahli nujum dan bertanya, "Apakah
kalian bisa mengenali budak yang akan mengambil kerajaan putraku jika kalian
melihatnya?"
Mereka menjawab, "Ya, kami memiliki tanda untuk
mengenalinya."
Sultan pun memerintahkan untuk mengumpulkan semua budak dan
duduk untuk menyaksikan sendiri. Para budak ditampilkan di hadapannya satu per
satu, sementara para ahli nujum mengamati dengan teliti. Namun hingga waktu
zuhur tiba, mereka belum juga melihat orang yang dimaksud.
Botol Air yang Menyelamatkan
Sementara itu, di antara para tukang air, terjadilah
kegaduhan kecil. Mereka berkata satu sama lain, "Kita sudah lapar. Mari
kita kumpulkan uang dan suruh salah seorang dari kita pergi ke pasar membeli
makanan."
Mereka mengumpulkan uang dan menyerahkannya kepada Balban
—karena ia adalah yang paling hina di antara mereka — untuk membeli makanan.
Namun Balban tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan di pasar dekat istana,
sehingga ia pergi ke pasar lain dan terlambat kembali.
Ketika tiba giliran para tukang air untuk ditampilkan dan
Balban belum datang, mereka mengambil kantung airnya (ziqq) dan
perlengkapannya, lalu memakaikannya pada pundak seorang anak kecil. Anak itu
ditampilkan seolah-olah ia adalah Balban. Ketika namanya dipanggil, anak itu
lewat di hadapan Sultan. Maka selesailah pemeriksaan tanpa para ahli nujum
melihat sosok yang mereka cari.
Balban datang setelah pemeriksaan selesai —karena Allah
telah menetapkan takdir-Nya.
Jalan Menuju Singgasana
Setelah itu, bakat dan kecakapan Balban mulai terlihat. Ia
diangkat menjadi pemimpin para tukang air. Kemudian naik pangkat menjadi
tentara. Lalu menjadi amir. Akhirnya, Sultan Nashiruddin —sebelum menjadi
sultan— menikahi putri Balban. Ketika Nashiruddin naik takhta, ia menjadikan
Balban sebagai wazirnya selama dua puluh tahun.
Namun seperti kata pepatah, "Air tenang
menghanyutkan." Balban yang telah mencapai puncak kekuasaan, akhirnya
membunuh Nashiruddin dan merebut kerajaannya selama dua puluh tahun lagi
—sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
Pewaris Takhta
Sultan Balban memiliki dua orang putra. Yang pertama
bergelar al-Khan asy-Syahid (Khan yang Mati Syahid), putra
mahkota yang menjadi wakil ayahnya di negeri Sind, berkedudukan di kota Multan.
Ia gugur dalam peperangan melawan bangsa Tatar, meninggalkan dua orang
putra: Kay Qubad dan Kay Khusraw.
Putra kedua Sultan Balban bernama Nashiruddin,
yang menjadi wakil ayahnya di negeri Lakhnauti dan Banggala. Ketika al-Khan
asy-Syahid gugur, Sultan Balban mengalihkan janji suksesi kepada cucunya, Kay
Khusraw, mengesampingkan putranya sendiri, Nashiruddin.
Namun Nashiruddin juga memiliki seorang putra yang tinggal
di ibu kota Delhi bersama kakeknya, bernama Mu'izzuddin. Dialah
yang kelak akan mengambil alih kekuasaan setelah kakeknya wafat, dalam sebuah
kisah yang menakjubkan yang akan kuceritakan nanti —sementara ayahnya,
Nashiruddin, masih hidup di daerah kekuasaannya.
Sumber Kisah
Kisah ini dinukil dari:
رحلة ابن بطوطة (تحفة
النظار في غرائب الأمصار وعجائب الأسفار) - دار الشرق العربي

Komentar
Posting Komentar