Razia Sultan: Sang Perempuan di Singgasana Delhi

suasana siang hari di kota Delhi abad ke-13, dengan latar belakang istana megah bergaya arsitektur India-Persia yang disebut Daulat Khaneh. Di atas atap istana yang luas, seorang perempuan bernama Radhiyyah berdiri tegak dengan pakaian sederhana namun berwibawa—mengenakan kain putih longgar tanpa perhiasan, rambutnya terurai, wajahnya menunjukkan keberanian dan kesedihan yang membara. Ia berbicara lantang sambil menunjuk ke arah Masjid Raya di samping istana, yang terlihat kubah dan menara putihnya. Di halaman bawah, ribuan rakyat berkumpul, beberapa mengangkat tangan, ada yang menangis, ada yang marah, semuanya menatap ke atas dengan ekspresi haru dan penuh perhatian.

Awal Mula Perebutan Kekuasaan

Setelah Sultan Syamsuddin Altutmish wafat, tampuk kepemimpinan jatuh ke tangan putranya, Ruknuddin. Namun alangkah buruknya pembuka pemerintahan sang sultan baru. Ia memulai kekuasaannya dengan tindakan keji: membunuh saudaranya sendiri, Mu'izzuddin. Tindakan ini dilakukan tanpa rasa belas kasihan, seolah hubungan darah tak berarti apa-apa di hadapan ambisi kekuasaan.

Radhiyyah, saudara perempuan mereka, tak bisa tinggal diam. Ia mengingkari perbuatan keji itu dengan lantang. Ruknuddin yang telah kehilangan akal sehat karena kekuasaan, berencana membunuhnya juga. Namun Radhiyyah bukan perempuan biasa. Ia mewarisi keteguhan hati dari ayahnya, Sultan Syamsuddin yang agung.


Protes dari Atas Istana

Pada suatu hari Jumat, ketika Ruknuddin keluar untuk menunaikan shalat Jumat di masjid, Radhiyyah melihat kesempatan. Ia memanjat ke atap istana tua yang bernama Daulat Khaneh —istana yang bersebelahan dengan Masjid Raya. Di situlah ia berdiri, seorang putri raja di atas bangunan megah, namun hatinya terluka oleh perlakuan saudaranya sendiri.

Radhiyyah mengenakan pakaian orang-orang yang teraniaya. Ia menampakkan diri kepada rakyat dan berbicara dari atas bangunan dengan suara lantang yang menggema di pelataran masjid:

"Saudaraku telah membunuh saudaraku yang lain, dan kini ia ingin membunuhku juga!"

Ia mengingatkan mereka tentang kebajikan ayahnya, Sultan Syamsuddin, tentang keadilan yang ditegakkan, tentang lonceng keadilan di pintu istana yang selalu siap mendengar rintihan rakyat teraniaya. Kata-katanya membakar semangat rakyat yang selama ini mencintai mendiang Sultan.

Massa yang mendengar seruan itu segera bergerak. Mereka menyerbu ke dalam masjid, menangkap Ruknuddin yang sedang beribadah, lalu membawanya ke hadapan Radhiyyah. Dengan tegas sang putri berkata:

"Pembunuh harus dibunuh!"

Maka Ruknuddin pun dihukum mati sebagai qishash atas pembunuhan terhadap Mu'izzuddin. Sementara itu, putra bungsu Sultan Syamsuddin, Nashiruddin, masih terlalu kecil untuk memimpin. Maka sepakatlah seluruh rakyat dan tentara untuk mengangkat Radhiyyah sebagai penguasa.


Radhiyyah: Ratu di Atas Singgasana

Maka naiklah Radhiyyyah ke atas singgasana Delhi. Ia memerintah selama empat tahun dengan gagah berani. Sebuah pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya: seorang perempuan menjadi sultan, memimpin rakyat, mengatur pemerintahan, bahkan memimpin pasukan perang.

Yang lebih mengherankan lagi, Radhiyyah melepaskan tabirnya di hadapan umum. Ia berkuda seperti laki-laki, memanah, dan bertempur dengan gagah berani. Di pinggangnya tergantung qurs (anak panah) dan tarkasy (tempat panah), layaknya seorang panglima perang. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan tak mengenal jenis kelamin.

Namun takdir berkata lain. Radhiyyah difitnah memiliki hubungan dengan seorang budak Habasyah (Ethiopia) miliknya. Rakyat yang tadinya mendukungnya berbalik arah. Mereka sepakat untuk memecatnya (khala'uha) dan menikahkannya. Maka Radhiyyah pun dinikahkan dengan salah seorang kerabatnya, dan takhta diserahkan kepada adiknya, Nashiruddin.


Akhir Perjalanan Sang Ratu

Namun Radhiyyah tak sudi melepaskan kekuasaan begitu saja. Bersama suaminya, ia memberontak melawan Nashiruddin. Mereka mengumpulkan para budak yang dimerdekakan dan pengikut-pengikut mereka, serta para penghasut. Nashiruddin pun bersiap menghadapi pemberontakan kakaknya, ditemani oleh wazirnya yang setia, Ghiyatsuddin Balban.

Pertempuran pun pecah. Pasukan Radhiyyah hancur. Ia sendiri melarikan diri, sendirian, tanpa pengiring. Lapar dan letak menghantuinya. Di tengah pelariannya, ia melihat seorang petani tengah membajak sawah. Dengan sisa tenaga, ia mendekat dan meminta makanan.

Petani itu memberinya sepotong roti kasar. Radhiyyah memakannya dengan lahap, lalu tertidur karena kelelahan. Ia masih mengenakan pakaian laki-laki, menyamar sebagai prajurit. Ketika ia tertidur, petani itu mengamatinya. Ia melihat di balik pakaiannya ada qaba' (jaket) yang dihiasi permata. Seketika itu ia tahu bahwa ini bukan laki-laki biasa, melainkan seorang bangsawan —atau bahkan ratu yang sedang buron.

Nafsu serakah menguasai petani itu. Ia membunuh Radhiyyah dalam tidurnya, merampas pakaiannya, mengusir kudanya, lalu mengubur jasadnya di ladang jagung. Sebagian pakaian korban dibawanya ke pasar untuk dijual.

Namun kejahatan tak pernah tersembunyi selamanya. Penduduk pasar curiga melihat tingkah laku petani itu. Mereka menangkapnya dan menyerahkannya kepada as-Syihnah (kepala keamanan). Di bawah cambukan, petani itu mengaku membunuh seorang perempuan bangsawan. Ia menunjukkan lokasi makamnya.

Jasad Radhiyyah digali, dimandikan, dikafani, dan dikebumikan di tempat itu. Di atas kuburnya dibangun sebuah kubah. Hingga kini, makamnya diziarahi orang dan dianggap membawa berkah —padahal ia seorang penguasa yang terbunuh dalam pemberontakan, namun rakyat tetap mengenangnya sebagai pemimpin pemberani yang malang.

Makam itu terletak di tepi sungai besar yang dikenal sebagai Sungai Jun, sekitar satu farsakh dari kota Delhi.


Nashiruddin: Sultan yang Menyalin Al-Qur'an

Setelah Radhiyyah wafat, Nashiruddin memerintah dengan stabil selama dua puluh tahun. Ia adalah sultan yang saleh, berbeda dengan kakak-kakaknya. Kehidupannya sederhana, bahkan untuk makan sehari-hari ia mencari nafkah dengan tangannya sendiri.

Yang menarik, Sultan Nashiruddin mencari penghasilan dengan menyalin mushaf Al-Qur'an. Ia menulis dengan tangannya sendiri, dengan khat yang indah dan teliti, lalu menjualnya. Hasil penjualan itulah yang ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya —bukan dari harta negara, meskipun ia berhak atas itu semua.

Suatu hari, Qadhi Kamaluddin memperlihatkan kepadaku sebuah mushaf yang ditulis langsung oleh tangan Sultan Nashiruddin. Tulisannya sangat rapi, indah, dan sempurna. Aku terharu melihatnya. Seorang sultan besar, penguasa Delhi, namun hidup sederhana dan bekerja dengan tangannya sendiri untuk mencari rezeki yang halal.

Namun takdir berkata lain. Wazirnya, Ghiyatsuddin Balban —yang dulu setia mendampinginya— akhirnya berkhianat. Balban membunuh Nashiruddin dan merebut kekuasaan. Inilah awal dari kisah Balban yang menarik untuk diceritakan.


Balban: Dari Budak Buruk Rupa Menjadi Sultan

Ghiyatsuddin Balban —penulisan namanya dengan dua huruf "ba" yang diberi tanda baca, di antaranya "lam", semuanya difatah, dan akhirannya "nun"— adalah sosok yang unik. Ia memerintah selama dua puluh tahun setelah membunuh tuannya, Sultan Nashiruddin. Sebelumnya, ia telah menjadi wazir selama dua puluh tahun juga.

Balban termasuk sultan terbaik: adil, penyantun, dan utama. Di antara kemuliaannya, ia membangun sebuah rumah yang dinamakannya Dar al-Amn (Rumah Keamanan). Siapa pun yang masuk ke rumah itu:

  • Jika ia orang yang berhutang, maka hutangnya dilunasi
  • Jika ia orang yang ketakutan, maka ia akan aman
  • Jika ia pembunuh, maka keluarga korban dipuaskan
  • Jika ia penjahat, maka orang yang menuntutnya dipuaskan

Di rumah itulah Balban dimakamkan ketika wafat. Aku sendiri pernah mengunjungi makamnya.


Ramalan Para Ahli Nujum

Kisah tentang bagaimana Balban bisa menjadi raja sangatlah menakjubkan. Konon, ketika ia masih muda, seorang fakir di Bukhara pernah melihatnya. Balban saat itu bertubuh pendek, hina, dan buruk rupa. Fakir itu memanggilnya dengan nada menghina:

"Wahai Turkak!" —sebuah panggilan yang merendahkan.

Namun Balban menjawab dengan sopan, "Labbaika, ya Khawand!" (Ya, Tuan, aku datang memanggilmu). Fakir itu kagum dengan kesopanannya. Ia berkata, "Belikan aku buah delima ini," sambil menunjuk ke arah penjual delima di pasar.

Balban membelinya dengan uang terakhir yang ia miliki. Ketika fakir itu mengambil delima, ia berkata, "Kami hadiahkan engkau kerajaan India."

Balban langsung mencium tangannya sendiri dan berkata, "Aku terima dan aku ridha." Kata-kata itu terpatri dalam hatinya.


Dari Penjual Air Hingga Panglima

Takdir kemudian bekerja. Sultan Syamsuddin Altutmish mengirim seorang pedagang untuk membeli budak-budak di Samarkhand, Bukhara, dan Tirmidz. Pedagang itu membeli seratus orang budak, dan Balban termasuk di dalamnya.

Ketika para budak itu dihadapkan kepada Sultan, semua budak disukainya kecuali Balban. Karena buruk rupa, Sultan berkata, "Aku tidak mau menerima ini."

Balban yang cerdik berkata, "Wahai Tuan, untuk siapa Tuan membeli para budak ini?"

Sultan tersenyum dan menjawab, "Aku membelinya untuk diriku sendiri."

Balban segera berkata, "Belilah aku untuk Allah Azza wa Jalla."

Sultan terkesan dan berkata, "Baiklah, aku terima." Maka Balban pun dimasukkan ke dalam kelompok budak. Namun karena buruk rupa, ia diremehkan dan ditugaskan sebagai tukang air (saqqa).


Tipu Muslihat Para Ahli Nujum

Pada masa itu, para ahli nujum sering mengatakan kepada Sultan Syamsuddin bahwa salah seorang budaknya akan merebut kerajaan dari tangan putranya. Mereka terus-menerus mengingatkannya, namun Sultan yang saleh dan adil itu tidak mempedulikan ramalan mereka.

Hingga suatu hari, para ahli nujum itu menyampaikan hal yang sama kepada al-Khatun al-Kubra (ibu suri), istri Sultan dan ibu para putranya. Sang permaisuri menyampaikannya kepada Sultan, dan kali ini perkataan itu mempengaruhi hatinya.

Sultan memanggil para ahli nujum dan bertanya, "Apakah kalian bisa mengenali budak yang akan mengambil kerajaan putraku jika kalian melihatnya?"

Mereka menjawab, "Ya, kami memiliki tanda untuk mengenalinya."

Sultan pun memerintahkan untuk mengumpulkan semua budak dan duduk untuk menyaksikan sendiri. Para budak ditampilkan di hadapannya satu per satu, sementara para ahli nujum mengamati dengan teliti. Namun hingga waktu zuhur tiba, mereka belum juga melihat orang yang dimaksud.


Botol Air yang Menyelamatkan

Sementara itu, di antara para tukang air, terjadilah kegaduhan kecil. Mereka berkata satu sama lain, "Kita sudah lapar. Mari kita kumpulkan uang dan suruh salah seorang dari kita pergi ke pasar membeli makanan."

Mereka mengumpulkan uang dan menyerahkannya kepada Balban —karena ia adalah yang paling hina di antara mereka — untuk membeli makanan. Namun Balban tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan di pasar dekat istana, sehingga ia pergi ke pasar lain dan terlambat kembali.

Ketika tiba giliran para tukang air untuk ditampilkan dan Balban belum datang, mereka mengambil kantung airnya (ziqq) dan perlengkapannya, lalu memakaikannya pada pundak seorang anak kecil. Anak itu ditampilkan seolah-olah ia adalah Balban. Ketika namanya dipanggil, anak itu lewat di hadapan Sultan. Maka selesailah pemeriksaan tanpa para ahli nujum melihat sosok yang mereka cari.

Balban datang setelah pemeriksaan selesai —karena Allah telah menetapkan takdir-Nya.


Jalan Menuju Singgasana

Setelah itu, bakat dan kecakapan Balban mulai terlihat. Ia diangkat menjadi pemimpin para tukang air. Kemudian naik pangkat menjadi tentara. Lalu menjadi amir. Akhirnya, Sultan Nashiruddin —sebelum menjadi sultan— menikahi putri Balban. Ketika Nashiruddin naik takhta, ia menjadikan Balban sebagai wazirnya selama dua puluh tahun.

Namun seperti kata pepatah, "Air tenang menghanyutkan." Balban yang telah mencapai puncak kekuasaan, akhirnya membunuh Nashiruddin dan merebut kerajaannya selama dua puluh tahun lagi —sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.


Pewaris Takhta

Sultan Balban memiliki dua orang putra. Yang pertama bergelar al-Khan asy-Syahid (Khan yang Mati Syahid), putra mahkota yang menjadi wakil ayahnya di negeri Sind, berkedudukan di kota Multan. Ia gugur dalam peperangan melawan bangsa Tatar, meninggalkan dua orang putra: Kay Qubad dan Kay Khusraw.

Putra kedua Sultan Balban bernama Nashiruddin, yang menjadi wakil ayahnya di negeri Lakhnauti dan Banggala. Ketika al-Khan asy-Syahid gugur, Sultan Balban mengalihkan janji suksesi kepada cucunya, Kay Khusraw, mengesampingkan putranya sendiri, Nashiruddin.

Namun Nashiruddin juga memiliki seorang putra yang tinggal di ibu kota Delhi bersama kakeknya, bernama Mu'izzuddin. Dialah yang kelak akan mengambil alih kekuasaan setelah kakeknya wafat, dalam sebuah kisah yang menakjubkan yang akan kuceritakan nanti —sementara ayahnya, Nashiruddin, masih hidup di daerah kekuasaannya.


Sumber Kisah

Kisah ini dinukil dari:
رحلة ابن بطوطة (تحفة النظار في غرائب الأمصار وعجائب الأسفار) - دار الشرق العربي

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nizār, Rabī‘ah, Muḍar, dan Lahirnya Quraisy

Ismā‘īl dan Jejak Silsilah Arab

Fitnah Besar yang Berakhir dengan Kemuliaan: Kisah Al-Ifk