Hudaibiyah: Perjalanan Cinta yang Berbuah Kemenangan

Rombongan besar pria berjubah putih dan ihram berjalan dengan tenang membawa puluhan unta berhias pelana dan kalung (hewan kurban). Suasana khusyuk dan damai, wajah-wajah para pria menunjukkan ekspresi rindu dan harap. Di kejauhan, terlihat bukit-bukit pasir dan cakrawala luas. Tidak ada senjata terangkat, hanya tongkat berjalan.

Tahun keenam hijriah hampir berlalu. Kaum Muslimin telah menjelma menjadi kekuatan yang disegani di Jazirah Arab. Meski belum terjadi pertempuran besar, berbagai ekspedisi kecil (sariyyah) yang dilancarkan berhasil menunjukkan kekuatan kaum Muslimin dan menebar rasa takut di hati kaum musyrikin. Namun di tengah gemerlap kekuatan itu, ada satu kerinduan yang membuncah di dada setiap mukmin: rindu untuk kembali mengunjungi Baitullah, Kakbah. Rumah para leluhur, tempat beribadah, dan kiblat mereka. Enam tahun telah berlalu, namun mereka belum juga bisa menjejakkan kaki di tanah suci itu.

Mimpi yang Membuncahkan Asa

Kerinduan itu semakin menjadi-jadi setelah Rasulullah menceritakan mimpi beliau. Dalam mimpinya, beliau bersama para sahabat memasuki Masjidil Haram dengan aman, sebagian bercukur dan sebagian lagi bergunting rambut. Mimpi ini adalah kabar gembira yang menguatkan harapan. Namun bagaimana mungkin mereka bisa masuk ke Mekah sementara kaum musyrikin Quraisy begitu gigih menghalangi? Mereka rela mati daripada melihat kaum Muslimin memasuki kota mereka dengan paksa.

Rasulullah , dengan kecerdasan dan visinya yang tajam, memutuskan untuk mengajak serta suku-suku Arab di sekitar Madinah dan orang-orang Badui. Beliau mengajak mereka keluar untuk berumrah, agar Quraisy tahu bahwa beliau tidak berniat berperang. Beberapa orang Badui menyambut ajakan ini, namun banyak pula yang enggan dan bermalas-malasan.

Berangkat dengan Damai

Pada bulan Zulkaidah tahun itu, Rasulullah berangkat membawa sekitar 1.500 orang dari kalangan Muhajirin, Anshar, dan orang-orang Badui yang bergabung. Beliau menunjuk Numailah bin Abdullah Al-Laitsi untuk menjaga Madinah. Beliau dan para sahabat berihram untuk umrah, dan sebagai tanda bahwa kedatangan mereka bukan untuk perang, beliau membawa serta 70 ekor unta untuk dihadiahkan (hadyu).

Kabar Sampai ke Telinga Quraisy

Saat rombongan sampai di Usfan, mereka bertemu dengan Basyar bin Sufyan Al-Ka'bi yang membawa kabar. "Wahai Rasulullah, Quraisy telah mendengar kedatangan Tuan. Mereka keluar dengan membawa wanita dan anak-anak , berpakaian kulit macan, dan bersumpah tidak akan membiarkan Tuan masuk ke Mekah. Khalid bin Walid bersama pasukan berkuda mereka telah berada di Kar' Al-Ghamim."

Mendengar kabar ini, Rasulullah bersabda dengan nada iba:

"Celakalah Quraisy, perang telah menghancurkan mereka. Apa salahnya jika mereka biarkan aku bersama kabilah Arab lainnya? Jika mereka (kabilah Arab) mengalahkanku, itulah yang mereka inginkan. Dan jika Allah memenangkanku atas mereka, masuklah Quraisy ke dalam Islam dengan kehormatan. Jika mereka tetap memerangiku, mereka akan berperang meski dalam kondisi lemah. Apa yang dipikirkan Quraisy? Demi Allah, aku akan terus berjuang untuk risalah yang Allah tugaskan ini hingga Allah memenangkannya atau leher ini terputus."

Jalan Alternatif dan Mukjizat Air

Untuk menghindari bentrok dengan pasukan berkuda Khalid, Rasulullah bertanya, "Siapa yang bisa membawa kita melewati jalan lain yang tidak mereka lalui?" Seorang lelaki dari Bani Aslam menawarkan diri. Ia membawa rombongan melewati jalan terjal yang penuh bebatuan. Setelah menempuh perjalanan berat, mereka akhirnya tiba di tanah lapang yang mudah dilalui. Rasulullah mengajarkan mereka untuk berdoa, "Kami memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya." Beliau bersabda, "Demi Allah, inilah kalimat 'hiththah' (permohonan ampun) yang ditawarkan kepada Bani Israil, namun mereka tidak mau mengucapkannya."

Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di Tsaniyyatul Marar, dekat Hudaibiyah. Di tempat ini, unta betina Rasulullah tiba-tiba berhenti dan duduk. Para sahabat mencoba membangunkannya, namun unta itu enggan bergerak. Mereka berkata, "Al-Qashwa (unta betina) menjadi keras kepala!" Rasulullah bersabda:

"Al-Qashwa tidak keras kepala, itu bukanlah tabiatnya. Ia hanya ditahan oleh Dzat yang menahan gajah (Abrahah) untuk masuk ke Mekah. Demi Allah, tidaklah Quraisy mengajakku pada suatu rencana yang di dalamnya ada silaturahmi, kecuali akan aku penuhi."

Beliau lalu memerintahkan para sahabat untuk berhenti. Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, di lembah ini tidak ada air." Maka beliau mengambil anak panah dari tempatnya, memberikannya kepada seorang sahabat. Sahabat itu turun ke dalam sumur tua dan menusukkan anak panah itu ke dasarnya. Seketika, air memancar deras hingga seluruh pasukan dan hewan tunggangan mereka puas minum.

Utusan-Utusan Quraisy: Negosiasi di Tengah Ketegangan

Quraisy menyadari bahwa mereka tidak akan mampu mengalahkan kaum Muslimin dalam pertempuran. Di sisi lain, kabar bahwa Rasulullah tidak menginginkan perang sampai ke telinga mereka. Mereka pun mengirimkan utusan untuk merundingkan sesuatu.

Utusan Pertama: Budail bin Warqa'

Budail bersama beberapa orang dari Khuza'ah—suku yang selalu tulus kepada Rasulullah , baik yang muslim maupun yang masih musyrik, tidak pernah menyembunyikan informasi tentang Mekah—menemui Rasulullah . Beliau menjelaskan bahwa kedatangan mereka bukan untuk perang, melainkan untuk berziarah dan mengagungkan Baitullah. Budail kembali ke Quraisy dan menyampaikan hal ini. Namun Quraisy menuduhnya berdusta, "Demi Allah, meskipun dia datang tidak untuk perang, kita tidak akan membiarkan orang-orang Arab berkata bahwa dia masuk ke Mekah dengan paksa di hadapan kita!"

Utusan Kedua: Mikraz bin Hafsh

Quraisy kemudian mengirim Mikraz bin Hafsh. Begitu melihatnya, Rasulullah bersabda, "Ini adalah lelaki pengkhianat." Mikraz pun mendapatkan jawaban yang sama seperti Budail.

Utusan Ketiga: Hulais bin Alqamah

Selanjutnya Quraisy mengirim Hulais, pemimpin kabilah Al-Ahabisy. Ketika melihatnya, Rasulullah berkata, "Orang ini berasal dari kaum yang sangat menghormati hal-hal sakral. Hadapkan unta-unta kurban ke arahnya sampai ia melihatnya." Saat Hulais melihat unta-unta kurban itu berjalan dari kejauhan melintasi lembah dengan kalung-kalungnya, bulu-bulunya sudah rontok karena terlalu lama tertahan, ia sangat terharu dan kembali ke Quraisy tanpa menemui Rasulullah . Ia berkata, "Wahai Quraisy, demi Allah, bukan begini perjanjian kita. Apakah orang yang datang untuk mengagungkan rumah Allah akan dihalangi?! Demi Allah, kalian harus biarkan Muhammad melakukan apa yang ia inginkan, atau aku akan mengajak seluruh Al-Ahabisy pergi meninggalkan kalian!" Mereka berkata, "Tahan amarahmu, kita akan cari jalan keluar yang kita ridhai."

Utusan Keempat: Urwah bin Mas'ud Ats-Tsaqafi

Quraisy akhirnya mengirim 'Urwah bin Mas'ud Ats-Tsaqafi, seorang yang mereka percaya. Ia duduk di hadapan Rasulullah dan berkata dengan nada meremehkan, "Wahai Muhammad, engkau kumpulkan orang-orang berbagai macam, lalu engkau bawa mereka ke kampung halamanmu untuk menghancurkannya? Demi Allah, aku melihat orang-orang ini (para sahabat) akan lari meninggalkanmu besok."

Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tidak tahan mendengar ucapan ini langsung membantah dengan keras. 'Urwah bertanya, "Siapa ini, wahai Muhammad?" Beliau menjawab, "Ini Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar)." 'Urwah berkata, "Demi Allah, kalau bukan karena budi baikmu padaku, pasti sudah kubalas sekarang."

Puncak Ketaatan: Air Liur Nabi dan Cinta Para Sahabat

Saat 'Urwah berbicara, tangannya meraih janggut Rasulullah . Al-Mughirah bin Syu'bah yang bersenjata lengkap di samping beliau segera memukul tangannya dengan sarung pedang, "Singkirkan tanganmu dari wajah Rasulullah!" 'Urwah marah, "Siapa ini?" "Ini Mughirah, keponakanmu," jawab Nabi. "Wahai pengkhianat, bukankah baru kemarin engkau membersihkan najis masa jahiliahmu?!" cibir 'Urwah.

Rasulullah kembali menjelaskan bahwa beliau datang bukan untuk perang. 'Urwah diam-diam mengamati perilaku para sahabat. Ia melihat pemandangan yang mengagumkan: Tidak setetes pun dahak Rasulullah jatuh ke tanah, melainkan ditampung oleh seorang sahabat lalu diusapkan ke wajahnya. Setiap beliau perintahkan sesuatu, mereka segera melaksanakannya. Saat berwudhu, mereka hampir berkelahi memperebutkan air bekas wudhunya. Mereka tidak berani mengangkat suara di hadapannya, dan memandangnya dengan penuh hormat.

'Urwah kembali ke Quraisy dan berkata, "Wahai Quraisy, aku pernah menemui Kisra, Kaisar, dan Najasyi dalam kerajaan mereka. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja pun yang begitu dicintai rakyatnya seperti Muhammad dicintai para sahabatnya. Aku melihat kaum yang tidak akan menyerahkannya dalam keadaan apa pun. Dia telah menawarkan usulan yang masuk akal, terimalah!" Quraisy menjawab, "Jangan bicara seperti itu. Kita tolak saja tahun ini, tahun depan baru kita izinkan."

Utusan Rasulullah: Antara Pengkhianatan dan Keberanian

Rasulullah ingin memastikan risalahnya sampai, lalu mengirim Kharasy bin Umayyah Al-Khuza'i ke Mekah. Namun orang-orang Quraisy yang bodoh dan pemarah menyembelih untanya dan hampir membunuhnya, sampai sekutunya dari Al-Ahabish melindunginya.

Selanjutnya, Rasulullah memanggil Umar bin Khattab untuk menjadi utusan. Umar berkata, "Wahai Rasulullah, aku takut Quraish akan mencelakaiku. Tak seorang pun dari Bani Adi di Mekah yang bisa melindungiku. Tapi aku tunjukkan orang yang lebih terhormat dari padaku di sana: Utsman bin Affan." Rasulullah menerima alasannya, lalu memanggil Utsman dan mengutusnya menemui Abu Sufyan serta pembesar Quraisy. Di tengah jalan, Utsman bertemu Aban bin Sa'id bin Al-Ash yang memberinya perlindungan hingga ia menyampaikan risalah. Usai menyampaikan pesan, mereka berkata, "Kalau mau, silakan thawaf." Namun Utsman menjawab dengan tegas, "Aku tidak akan melakukannya sebelum Rasulullah melakukannya."

Utsman tertahan di Mekah, dan tersiar kabar bahwa ia telah dibunuh. Kabar ini menjadi puncak ketegangan. Rasulullah bersumpah tidak akan meninggalkan Hudaibiyah sebelum memerangi Quraisy. Para sahabat berbaiat di bawah pohon, yang kelak dikenal sebagai Bai'atur Ridwan. Mereka bersumpah setia untuk berperang hingga titik darah penghabisan.

Allah menurunkan firman-Nya sebagai pengakuan atas kesetiaan ini:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

"Sungguh, Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat." (QS. Al-Fath: 18)

Akhirnya, turunlah perundingan yang menghasilkan Perjanjian Hudaibiyah. Sebuah perjanjian yang di mata para sahabat terasa berat dan berat sebelah, namun ternyata dibaliknya tersimpan Fathum Mubin—kemenangan yang nyata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pensyariatan Haji dan Wafatnya Sa'ad bin Mu'adz

Di Balik Pernikahan Rasulullah: Membantah Fitnah dan Menyingkap Hikmah Agung

Zainab binti Jahsy: Pernikahan Langit yang Mengubah Syariat