Petualangan Berbahaya: Serangan Musuh dan Tradisi Menghenyakkan di India
Meninggalkan Abu Har dengan Waspada
Kami bersiap meninggalkan Kota Abu Har menuju petualangan
berikutnya. Di hadapan kami terbentang padang pasir yang membutuhkan waktu
sehari perjalanan untuk melintasinya. Di ujung-ujung padang pasir itu berdiri
gunung-gunung kokoh yang sulit dijangkau, menjadi benteng alami bagi sekelompok
orang Hindu yang mendiaminya. Mereka sering turun gunung untuk merampok
dan memotong jalan para musafir yang melintas.
Perlu diketahui bahwa penduduk India kebanyakan adalah
orang-orang non muslim. Mereka terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah
mereka yang tunduk kepada pemerintahan Islam dan membayar jizyah (pajak
perlindungan). Mereka tinggal di desa-desa dan memiliki seorang penguasa Muslim
yang ditunjuk oleh pejabat kerajaan atau oleh pemilik tanah yang diberi
wewenang (iqtha'). Golongan kedua adalah mereka yang membangkang dan memerangi
kaum Muslimin. Mereka bersembunyi di gunung-gunung dan sering memotong jalan.
Serangan Mendadak di Padang Pasir
Ketika hendak berangkat dari Abu Har, rombongan besar keluar
lebih dulu pada pagi hari. Aku sendiri memilih bertahan hingga pertengahan hari
bersama segelintir sahabatku. Akhirnya kami berangkat, dua puluh dua orang
berkuda. Di antara kami ada orang Arab dan ada pula orang Ajam (non-Arab).
Di tengah padang pasir, tiba-tiba delapan puluh orang non muslim
dan dua orang prajurit berkuda muncul menghadang kami. Mereka telah menanti di
persembunyian.
Para sahabatku adalah orang-orang pemberani dan tangguh.
Kami bertempur mati-matian. Dengan keberanian yang menggebu-gebu, kami berhasil
membunuh salah satu dari dua prajurit berkuda mereka dan merampas kudanya. Kami
juga menewaskan sekitar dua belas orang dari pasukan mereka.
Namun pertempuran itu tidak tanpa luka. Sebuah anak panah
mengenai diriku. Seekor anak panah lain mengenai kudaku. Syukur alhamdulillah,
Allah menyelamatkan kami dari bahaya maut. Untungnya, panah-panah mereka tidak
terlalu kuat dan tidak mempan menembus pelindung kami dengan sempurna.
Seekor kuda milik salah seorang sahabat kami terluka parah.
Kami menggantinya dengan kuda rampasan dari prajurit non muslim yang tewas. Adapun
kuda yang terluka, kami sembelih dan dagingnya dimakan oleh teman-teman kami
yang berasal dari Turkistan.
Kepala-Kepala di Tembok Benteng
Kami memotong kepala-kepala musuh yang tewas dan membawanya
hingga ke Benteng Abu Bakr. Sesampainya di sana pada tengah malam, kami
menggantung kepala-kepala itu di tembok benteng sebagai pelajaran bagi siapa
pun yang berani mengganggu para musafir.
Benteng Abu Bakr (dibaca: Abu Bakr, dengan ba' difathah, kaf
disukun, ha' difathah, dan ra') menjadi tempat peristirahatan kami sebelum
melanjutkan perjalanan.
Ajodhan: Pertemuan dengan Keluarga Wali
Dua hari kemudian, kami tiba di Kota Ajudahan (dibaca:
A-ju-da-han, dengan hamzah difathah, jim didhammah, dal difathah, ha', dan
nun). Sebuah kota kecil, namun menyimpan kenangan yang telah dinubuatkan
sebelumnya.
Di kota inilah tinggal Syekh Fariduddin al-Badzauni,
seorang wali Allah yang saleh. Dulu, di Iskandariah (Alexandria), Syekh Burhanuddin
al-A'raj pernah berkata kepadaku bahwa aku akan bertemu dengannya
dalam perjalanan ini. Alhamdulillah, kini nubuat itu menjadi kenyataan.
Syekh Fariduddin adalah seorang wali yang sangat dimuliakan
oleh Raja India. Sang Raja telah menghadiahkan kota ini kepadanya. Namun syekh
ini memiliki keunikan: ia menderita was-was — semoga Allah melindungi kita
darinya. Ia tidak pernah berjabat tangan dengan siapa pun, tidak pernah
membiarkan orang lain mendekat. Jika pakaiannya tersentuh pakaian orang lain,
ia akan mencucinya.
Aku masuk ke zawiyahnya dan bertemu dengannya. Kusampaikan
salam dari Syekh Burhanuddin al-A'raj. Ia terkejut dan berkata, "Aku tidak
layak mendapat perhatian sebesar itu."
Di tempat ini aku juga bertemu dengan kedua putranya yang
mulia: Mu'izzuddin, putra tertua yang kelak menggantikan kedudukan
ayahnya sebagai syekh setelah beliau wafat, dan Ilmuddin. Aku pun
berziarah ke makam kakek mereka, Quthb ash-Shalih Fariduddin
al-Badzauni. Nama al-Badzauni dinisbatkan kepada Kota Badzaun, negeri
tempat tumbuhnya tanaman bunga matahari (sumbul).
Ketika aku hendak berpamitan, Ilmuddin berkata, "Engkau
harus bertemu ayahku." Maka aku pun menemuinya. Ia berada di atas loteng
rumahnya, mengenakan pakaian putih dan sorban besar dengan ujung terjuntai ke
satu sisi. Ia mendoakanku dan mengirimkan hadiah berupa gula dan nabiq (buah
bidara).
Pemandangan Mengerikan: Seorang Janda Membakar Diri
Saat aku beranjak pergi dari tempat syekh itu, kulihat
orang-orang berhamburan menuju perkemahan kami. Beberapa sahabatku ikut bersama
mereka. Aku bertanya, "Ada apa?"
Mereka menjawab, "Seorang non muslim Hindu meninggal. Api
telah dinyalakan untuk membakar jenazahnya, dan istrinya akan ikut terbakar
bersamanya."
Aku pun menyaksikan peristiwa itu. Ketika api berkobar, sang
istri memeluk erat jenazah suaminya hingga mereka terbakar bersama. Para
sahabatku yang menyaksikan peristiwa itu kemudian menceritakan detailnya
kepadaku.
Setelah peristiwa itu, aku sering melihat pemandangan serupa
di negeri ini. Seorang wanita non muslim Hindu dengan pakaian indah menaiki kuda,
diiringi kerumunan besar, baik Muslim maupun non muslim. Di depannya, genderang dan
trompet ditabuh, dan para brahmana — pemuka agama Hindu — berjalan di sisinya.
Jika peristiwa ini terjadi di wilayah kekuasaan Sultan, mereka harus meminta
izin terlebih dahulu. Sultan pun mengizinkannya, dan mereka pun melaksanakan
pembakaran diri.
Tiga Janda di Kota Amjari
Beberapa waktu kemudian, aku berada di sebuah kota
bernama Amjari (dalam beberapa naskah tertulis: Ahjari), yang
sebagian besar penduduknya non muslim. Penguasanya adalah seorang Muslim dari kaum
Samirah di Sind. Di dekat kota itu tinggal sekelompok non muslim pemberontak yang
suka memotong jalan.
Suatu hari, mereka kembali beraksi. Penguasa Muslim itu pun
keluar bersama pasukannya untuk memerangi mereka. Aku ikut serta bersama
pasukan yang terdiri dari rakyat Muslim dan non muslim yang setia. Pertempuran
sengit terjadi, dan tujuh orang dari pihak non muslim tewas.
Tiga dari mereka yang tewas itu masing-masing memiliki
istri. Ketiga janda itu bersepakat untuk membakar diri mereka bersama jenazah
suami-suami mereka.
Di kalangan mereka, membakar diri setelah kematian suami
adalah perbuatan yang dianjurkan (mandub), bukan kewajiban. Namun jika seorang
wanita melakukannya, keluarganya akan mendapatkan kemuliaan dan dipuji karena
kesetiaannya. Sebaliknya, wanita yang tidak ikut terbakar akan mengenakan
pakaian kasar dan tinggal di tengah keluarganya dalam keadaan hina dan tercela
karena dianggap tidak setia. Meski demikian, mereka tidak boleh dipaksa untuk
membakar diri.
Tiga Hari Pesta Perpisahan
Ketiga wanita itu bersepakat untuk melaksanakan pembakaran
diri. Sebelum hari-H, mereka mengadakan pesta selama tiga hari penuh.
Bernyanyi, bersuka ria, makan dan minum sepuasnya — seolah-olah mereka sedang
mengucapkan selamat tinggal kepada dunia. Wanita-wanita dari segala penjuru
berdatangan menemani mereka.
Pada pagi hari keempat, masing-masing dari mereka menaiki
kuda yang telah disiapkan. Mereka berdandan cantik, memakai wewangian. Di
tangan kanan masing-masing, sebutir kelapa yang mereka main-mainkan. Di tangan
kiri, sebuah cermin untuk bercermin. Para brahmana mengelilingi mereka,
kerabat-kerabat mengiringi. Di depan mereka, genderang dan trompet ditabuh.
Setiap orang non muslim yang mereka lewati berseru, "Sampaikan salamku kepada
ayahku, saudaraku, ibuku, atau sahabatku!" Mereka menjawab, "Ya,"
sambil tersenyum kepada mereka.
Di Tempat yang Menyerupai Neraka
Aku ikut bersama para sahabatku untuk menyaksikan upacara
itu. Kami berjalan sekitar tiga mil hingga tiba di sebuah tempat yang gelap,
banyak air dan pepohonan, dengan naungan yang sangat lebat. Di antara pepohonan
itu berdiri empat buah kubah, masing-masing berisi berhala dari batu. Di antara
kubah-kubah itu terdapat sebuah kolam air yang juga terlindung rindang
pepohonan, sehingga matahari tidak mampu menembusnya.
Tempat itu — entah bagaimana menggambarkannya — bagaikan
sebuah sudut dari neraka. Semoga Allah melindungi kita darinya.
Ketika para wanita itu tiba di kubah-kubah tersebut, mereka
turun dan menceburkan diri ke kolam. Mereka menanggalkan seluruh perhiasan dan
pakaian mereka, lalu menyedekahkannya. Kemudian masing-masing diberi sehelai
kain katun kasar yang tidak dijahit. Sebagian kain dililitkan di pinggang,
sebagian lagi menutupi kepala dan bahu.
Tidak jauh dari kolam itu, di sebuah tempat rendah, api
telah berkobar hebat. Mereka menuangkan minyak wijen ke dalamnya, membuat
apinya semakin membesar. Sekitar lima belas orang pria berdiri dengan membawa
ikatan kayu bakar tipis, dan sepuluh orang lainnya membawa potongan kayu besar.
Para penabuh genderang dan peniup trompet telah siap menanti.
Yang menarik, mereka menutupi kobaran api dengan selembar
kain tebal yang dipegang oleh beberapa pria. Tujuannya agar para wanita tidak
terkejut melihat dahsyatnya api.
Lompatan Ke Dalam Api
Aku melihat salah seorang wanita itu. Ketika ia sampai di
depan kain penutup, dengan keras ia merenggut kain itu dari tangan para pria.
Ia tertawa seraya berkata, "Mar miterasani az atasy? Man midanam ki
atasy ast, riha kuni mara! "
Artinya: "Apakah kalian menakut-nakutiku dengan api?
Aku tahu ini adalah api yang membakar. Lepaskan aku!"
Lalu ia merapatkan kedua telapak tangannya di atas kepala
sebagai penghormatan terakhir kepada api, dan melompat masuk ke dalam kobaran
api. Saat itu juga genderang, trompet, dan serunai ditabuh. Para pria
melemparkan kayu bakar yang mereka pegang ke atas tubuhnya, sementara yang lain
melemparkan potongan kayu besar untuk menindihnya agar tidak bergerak. Suara
gemuruh membahana, hiruk-pikuk memuncak.
Melihat pemandangan itu, aku nyaris jatuh dari kudaku.
Untunglah para sahabatku segera menolong, membasuh wajahku dengan air. Aku
segera berlalu dari tempat yang mengerikan itu.
Tenggelam di Sungai Gangga
Orang-orang Hindu juga melakukan hal serupa dengan cara
menenggelamkan diri. Banyak dari mereka yang menenggelamkan diri di Sungai
Gangga — sungai yang menjadi tujuan ziarah mereka, dan tempat abu jenazah yang
dibakar dihanyutkan. Mereka percaya sungai ini berasal dari surga.
Ketika seseorang hendak menenggelamkan diri, ia berkata
kepada orang-orang yang hadir, "Jangan kalian sangka aku menenggelamkan
diri karena urusan duniawi atau karena miskin. Tujuanku hanya untuk mendekatkan
diri kepada Kusai."
Kusai (dibaca: Ku-sai, dengan kaf dan sin
didhammah) adalah nama Tuhan mereka.
Setelah berkata demikian, ia pun menenggelamkan diri. Ketika mati, mereka
mengeluarkannya, membakarnya, lalu menghanyutkan abunya ke sungai yang sama.
Mahasuci Allah yang menciptakan manusia dengan beragam
keyakinan. Hanya kepada-Nya kita memohon petunjuk dan keselamatan.
Sumber:
Rihlah Ibnu Bathuthah

Komentar
Posting Komentar