Semangat Berjihad dan Meraih Kemuliaan Syahid

Tiga pejuang Muslim dengan pakaian perang abad ke-7 berdiri tegak membelakangi matahari terbenam yang spektakuler di padang pasir. Mereka memegang pedang dan perisai, siap menghadapi pertempuran dengan semangat persaudaraan yang kuat. Komposisi cinematic dengan cahaya keemasan menerpa siluet mereka.

Dorongan Berjihad dan Syahid

Di dalam hati setiap Muslim, terdapat seruan yang luhur: berjuang di jalan Allah, atau jihad. Ini bukan sekadar perang, tetapi perjuangan total mengorbankan harta dan jiwa untuk menegakkan kalimat Allah, melindungi akidah, dan menyebarkan cahaya Islam yang membawa keadilan dan kebaikan. Allah dan Rasul-Nya telah menjanjikan kemuliaan yang tak terhingga bagi mereka yang menjawab seruan ini.

Allah berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang agung." (QS. At-Taubah: 111).

Allah dengan tegas membedakan antara mereka yang berjihad dan yang hanya duduk diam. Meski semua beriman, nilai dan derajat mereka berbeda. Allah pun menawarkan "perdagangan" yang pasti untung: iman dan jihad yang akan menyelamatkan dari azab pedih. Meski terkadang jiwa merasa berat, boleh jadi justru di situlah letak kebaikan yang besar.

Bagi seorang Muslim, jihad adalah jalan kemuliaan dengan dua hasil terbaik: menang atau syahid. Keduanya adalah keuntungan. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sendiri merindukan kesempatan itu. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda: "Demi (Allah) yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aku sangat ingin berperang di jalan Allah lalu terbunuh, kemudian berperang lagi lalu terbunuh, kemudian berperang lagi lalu terbunuh." Bahkan, berjaga-jaga di perbatasan (ribath) demi menjaga kaum Muslimin dari musuh, lebih utama daripada dunia dan seisinya.

________________________________________

Kehidupan Abadi di Balik Kesyahidan

Lalu, apa itu syahid? Mereka yang gugur di jalan Allah bukanlah orang mati. Mereka hidup dalam suatu kehidupan yang penuh kenikmatan di sisi Rabb mereka. Allah berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ . فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Ali 'Imran: 169-170).

Rasulullah menggambarkan, ruh para syuhada itu bersemayam di dalam burung-burung hijau yang terbang bebas di surga, mendatangi sungai-sungainya, dan berteduh di lentera-lentera yang tergantung di 'Arsy. Mereka begitu bahagianya, sampai-sampai mereka hanya memiliki satu permintaan kepada Allah: di hidupkan kembali untuk berjihad dan syahid sekali lagi. Inilah yang mendorong generasi awal Islam untuk tidak takut mati, tetapi justru berlomba meraihnya.

________________________________________

Lima Tahapan Jihad di Masa Rasulullah

Perjalanan jihad tidak serta merta seperti yang kita bayangkan. Ia melalui fase-fase yang bijaksana, sesuai dengan kondisi dakwah dan kekuatan musuh.

Fase Pertama: Membela Diri. Awalnya, jihad hanya diperbolehkan untuk melawan orang-orang Quraisy yang menganiaya dan mengusir kaum Muslimin dari Makkah. Prinsipnya jelas: "Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas..." (QS. Al-Baqarah: 190).

Fase Kedua: Menghadapi Sekutu Musuh. Ketika kabilah-kabilah Arab lain bersekutu dengan Quraisy dan mulai menyerang, Rasulullah pun membalas untuk mengamankan Madinah. Dari sini, banyak dari mereka yang akhirnya mengenal dan masuk Islam.

Fase Ketiga: Perang Terbuka Melawan Kemusyrikan. Saat seluruh kekuatan musyrik bersatu memerangi Islam, Allah pun memerintahkan untuk memerangi mereka semua. Dakwah pun mulai mengglobal. Rasulullah bersabda: "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah..."

Fase Keempat: Menghadapi Pengkhianat Perjanjian. Orang-orang Yahudi di Madinah yang berulang kali melanggar perjanjian dan berkhianat harus ditindak. Islam mengajarkan etika perang yang tinggi: jika ada pengkhianatan, kembalikan perjanjian itu secara terang-terangan sebelum memerangi.

Fase Kelima: Dakwah ke Seluruh Penjuru Dunia. Setelah Jazirah Arab bersatu di bawah panji Islam, Rasulullah mulai mengirim surat kepada raja-raja tetangga. Ketika Romawi mengancam, beliau memimpin pasukan ke Tabuk. Inilah awal dari futuhat (pembukaan) besar-besaran setelah beliau wafat, di mana kebenaran dan keadilan Islam menyebar ke timur dan barat.

Maka, berjihad dan meraih syahid adalah puncak cita-cita seorang Muslim. Ini adalah jalan para Nabi, generasi terbaik umat ini, dan bukti kecintaan yang tulus kepada Allah. Mereka tidak takut pada kematian, karena justru di baliknya terdapat kehidupan yang abadi dan ridha Ilahi.

________________________________________

Sumber :

Sirah Nabawiyah fi Dhau' Al-Qur'an wa As-Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Bathutah #39 : Kabar dari Oman hingga Hormuz

Kisah Kaum Munafik di Madinah yang Bersekutu dengan Yahudi

Tahun Kedua Hijriah : Sejarah Jihad dalam Islam