Rihlah Ibnu Bathutah #41 : Antalya, Keindahan Kota dan Tradisi Al-Akhiyah

Suasana malam di zawiyah Antalya abad ke-14, para pemuda Akhiyyah menjamu musafir dengan hidangan buah dan manisan di bawah lampu kaca gantung.

Perjalanan di Pesisir Rum: Dari Al-‘Alāyā ke Anṭāliyā, Menyusuri Kota-Kota Bertembok dan Kedermawanan Para Pemuda

Hari Sabtu itu aku berangkat bersama Qadhi Jalaluddin. Kami menempuh perjalanan untuk menemui penguasa Al-‘Alāyā, Yusuf Bek. Gelar “Bek” di negeri itu bermakna raja, dan Yusuf Bek dikenal sebagai putra Qaraman.

Rumah tinggalnya tidak berada tepat di dalam kota, melainkan sekitar sepuluh mil dari sana. Ketika kami tiba, pemandangan yang kulihat begitu jelas menunjukkan tata kuasa: sang raja duduk sendirian di tepi pantai, di atas sebuah tanah tinggi seperti gundukan bukit kecil. Di bawahnya, para amir dan wazir berdiri menunggu; sementara pasukan berjajar di kanan dan kirinya. Rambut sang raja tampak diwarnai hitam pekat.

Aku memberi salam. Ia menanyai maksud kedatanganku. Aku menjawab pertanyaannya sebaik yang kubisa, lalu berpamitan. Tak lama setelah itu ia mengirimkan kepadaku sebuah pemberian sebagai bentuk penghormatan.

________________________________________

Anṭāliyā, Kota Besar yang Teratur dan Terbagi

Dari Al-‘Alāyā aku melanjutkan perjalanan menuju Anṭāliyā. Kota ini termasuk salah satu yang paling elok yang kulihat: lapangannya luas, bangunannya besar, susunannya rapi, dan kemakmurannya tampak dari ramainya permukiman.

Namun yang paling membuatku terkesan adalah cara penduduknya hidup dalam kelompok-kelompok yang terpisah, seakan kota itu terbagi menjadi beberapa kota kecil yang masing-masing berdiri sendiri.

Para pedagang Nasrani tinggal di kawasan pelabuhan, dan kawasan itu memiliki tembok. Pintu-pintunya ditutup pada malam hari, juga pada waktu salat Jumat. Orang-orang Rum—penduduk lama kota itu—menempati bagian lain, terpisah, dan juga dikelilingi tembok. Kaum Yahudi pun demikian: punya kawasan tersendiri dengan tembok pula.

Sang raja, para pejabatnya, dan para mamluknya tinggal di sebuah kota kecil yang juga bertembok, seolah menjadi pusat kekuasaan yang berdiri terpisah dari kawasan-kawasan lain. Adapun masyarakat Muslim kebanyakan tinggal di kota besar, tempat masjid jami‘ berdiri, madrasah berjalan, pemandian umum ramai, dan pasar-pasar tertata rapi serta besar-besar. Tembok besar mengelilingi semuanya, meliputi seluruh kawasan yang telah kusebutkan.

Kota itu dipenuhi kebun-kebun dan buah-buahan yang baik. Di antara yang paling menakjubkan adalah aprikot yang mereka sebut “Qamar ad-Dīn”. Buah itu dikeringkan lalu dibawa sampai ke negeri Mesir, dan di sana menjadi sesuatu yang digemari. Yang unik, di dalam bijinya terdapat isi yang manis, seperti kacang almond.

Aku juga menemukan mata-mata air yang tawar, segar, dan sangat dingin—bahkan pada hari-hari musim panas.

Kami tinggal di madrasah kota itu bersama syaikhnya, Syihabuddin al-Hamawi. Ada kebiasaan yang menyejukkan hati: setiap hari setelah Asar, sekelompok anak-anak membaca Al-Qur’an dengan suara yang indah, baik di masjid jami‘ maupun di madrasah. Dalam kisah ini yang disebutkan hanyalah nama surah yang mereka baca, tanpa mengutip ayat tertentu, yaitu:

سورة الفتح

Terjemah: Surah Al-Fath

سورة الملك

Terjemah: Surah Al-Mulk

سورة عمّ

Terjemah: Surah ‘Amma

________________________________________

Al-Akhiyyah: Para Pemuda yang Menghidupkan Futuwwah

Di negeri-negeri Turki-Rum, aku mendengar dan menyaksikan satu golongan yang tiada bandingnya dalam memuliakan orang asing: mereka disebut al-akhiyyah, sementara seorang di antara mereka disebut akhī, “saudaraku”.

Mereka ada di setiap kota, setiap kampung, bahkan setiap desa. Yang mengagumkan, mereka begitu cepat menolong orang yang membutuhkan, begitu ringan memberi makan, dan begitu tegas menghadapi kezhaliman. Seakan-akan mereka hidup untuk menjaga kehormatan orang lain dan menyelamatkan musafir dari kesulitan.

Seorang akhī biasanya menjadi pemimpin bagi para pemuda, banyak di antaranya berasal dari kalangan pekerja dan pengrajin. Mereka mendahulukan pemimpin itu atas diri mereka sendiri. Mereka membangun zawiyah, semacam rumah singgah yang disiapkan lengkap: hamparan, lampu, dan perlengkapan lain untuk menerima tamu.

Siang hari mereka bekerja mencari penghidupan. Setelah Asar mereka berkumpul membawa hasil yang mereka dapat, lalu dibelanjakan untuk kebutuhan zawiyah: makanan, buah-buahan, dan apa saja yang diperlukan. Jika hari itu ada musafir datang, musafir itu ditampung dan dijamu. Ia tinggal bersama mereka sampai waktunya ia melanjutkan perjalanan. Jika tidak ada tamu, mereka makan bersama, bernyanyi dan menari, lalu pulang beristirahat dan kembali bekerja keesokan harinya—kemudian mengulang kebiasaan itu lagi.

Aku pernah melihat kebajikan di banyak tempat, tetapi perilaku mereka ini termasuk yang paling indah yang kusaksikan sepanjang perjalanan.

________________________________________

Undangan yang Mengejutkan

Pada hari kedua kedatanganku di Anṭāliyā, seorang dari golongan pemuda itu datang menemui Syihabuddin al-Hamawi. Ia berbicara dalam bahasa Turki, sementara saat itu aku belum memahaminya. Penampilannya sederhana: pakaian yang tampak lusuh, dan di kepalanya kopiah dari bahan felt.

Syihabuddin menoleh padaku dan berkata, “Tahukah engkau apa yang ia katakan?”

Aku menjawab, “Aku tidak tahu.”

Syihabuddin berkata, “Ia mengundangmu dan sahabat-sahabatmu untuk bertamu di tempatnya.”

Aku heran—sebab dari tampilannya, ia tampak tidak berada. Namun aku mengiyakan. Setelah orang itu pergi, aku sempat berkata pada Syihabuddin bahwa ia terlihat lemah dan mungkin tak sanggup menjamu rombongan kami. Syihabuddin malah tertawa. Ia menjelaskan bahwa orang itu bukan sembarang orang: ia adalah salah seorang syaikh para pemuda akhiyyah, bekerja sebagai pengrajin sepatu, dan memiliki sekitar dua ratus pengikut dari kalangan pekerja. Mereka membangun zawiyah khusus untuk menjamu tamu, dan apa yang mereka kumpulkan siang hari, mereka habiskan malam hari untuk memuliakan orang.

Mendengar itu aku diam. Malam pun datang.

Sesudah Magrib, orang itu kembali dan mengajak kami berjalan menuju zawiyahnya. Tempat itu jauh lebih bagus daripada yang kubayangkan: hamparan permadani Rum yang indah, lampu-lampu kaca yang menggantung, dan di ruang majelis tampak beberapa alat penerangan dari tembaga, lengkap dengan wadah lemak cair dan peralatan untuk mengurus sumbu.

Para pemuda berbaris rapi. Pakaian mereka serupa jubah, kaki mereka memakai sepatu bot. Masing-masing membawa pisau panjang yang diikatkan di pinggang—seolah melambangkan kesiapsiagaan. Kopiah wol putih bertengger di kepala, dengan kain menjuntai di puncaknya. Setelah semua duduk, mereka melepas kopiah luar dan meletakkannya di depan mereka; di kepala masih ada kopiah lain yang tampak rapi dan sedap dipandang.

Kami ditempatkan di posisi terhormat di tengah majelis, pada tempat yang memang disediakan bagi para tamu.

Tak lama, makanan datang dalam jumlah banyak: hidangan utama, buah-buahan, juga manisan. Setelah itu, mereka bernyanyi dan menari. Suasana hangat, lapang, dan penuh persaudaraan—seolah-olah kami bukan orang asing, melainkan keluarga yang lama tak berjumpa.

Kedermawanan mereka membuatku terpukau. Kami baru pulang menjelang akhir malam, meninggalkan mereka kembali di zawiyah itu, melanjutkan kebersamaan mereka.

________________________________________

Sultan Anṭāliyā dan Jalan Panjang ke Pedalaman

Sultan Anṭāliyā saat itu adalah Khidr Bek bin Yunus Bek. Ketika kami tiba, ia sedang sakit. Kami masuk menemuinya di rumahnya; ia terbaring di ranjang, namun ucapannya lembut dan sikapnya baik. Kami berpamitan, dan seperti penguasa sebelumnya, ia pun mengirimkan pemberian kepada kami.

Dari Anṭāliyā kami menuju Burdūr, sebuah kota kecil yang dipenuhi kebun dan sungai. Di puncak gunung yang tinggi menjulang berdiri bentengnya. Kami singgah di rumah khatib kota itu. Kaum akhiyyah kembali berkumpul dan ingin menampung kami, tetapi khatib menolak. Mereka tidak menyerah: mereka menyiapkan jamuan di sebuah kebun milik salah seorang dari mereka, lalu membawa kami ke sana.

Yang membuatku tak habis heran adalah cara mereka menunjukkan kegembiraan. Mereka bersuka cita menyambut kami, padahal mereka tidak mengerti bahasa kami, dan kami pun tidak mengerti bahasa mereka. Bahkan tidak ada penerjemah di antara kami. Namun kehangatan mereka seakan menjadi bahasa yang cukup.

Kami tinggal sehari, lalu melanjutkan perjalanan menuju Sabarna, kota yang bagus bangunannya, pasar-pasarnya hidup, kebun dan sungainya banyak, dan bentengnya berdiri di gunung yang menjulang. Kami tiba menjelang sore dan tinggal di rumah qadhi.

Dari sana kami pergi lagi ke Akrīdūr, kota besar dengan bangunan yang ramai, pasar yang baik, sungai-sungai, dan kebun-kebun. Kota ini memiliki sebuah danau air tawar, dan orang-orang dapat berlayar di atasnya selama dua hari menuju Aqshahr, Baqshahr, serta negeri-negeri dan desa-desa lain.

Kami singgah di sebuah madrasah yang berhadapan dengan masjid jami‘ agung. Di sana aku bertemu seorang guru besar yang membuat perjalanan terasa lebih tenang: Mushlihuddin, seorang yang pernah menuntut ilmu di Mesir dan Syam, lalu menetap di Irak. Ia fasih, tutur katanya indah, dan akhlaknya halus. Ia memuliakan kami dengan sangat baik, menunaikan hak kami sebagai tamu dengan cara yang paling sempurna.

Di titik itulah rangkaian perjalanan ini terasa seperti ditutup dengan keteduhan: setelah melihat raja-raja di tepi laut, kota-kota bertembok yang rapi, dan para pemuda yang menghidupkan persaudaraan, aku berakhir di hadapan seorang alim yang memuliakan ilmu sekaligus memuliakan musafir.

Peta Perjalanan Ibnu Bathutah #41

Sumber:

Rihlah Ibnu Battuta (Tuhfatun Nuzzhar fi Ghara’ibil Amshar wa ‘Aja’ibil Asfar)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Bathutah #35 : Zaila’ dan Mogadishu , Kota Kotor, Perdagangan, dan Tradisi Islam Afrika

Jejak-Jejak Awal di Madinah, Antara Dukacita dan Sukacita

Kisah Kaum Munafik di Madinah yang Bersekutu dengan Yahudi