Rihlah Ibnu Bathutah #40 : Dari Zawiyah Para Wali hingga Lautan yang Hampir Menelannya
Kisah Sultan Lar dan Perjalanan Panjang Sang Pengelana
Di sebuah kota, aku singgah di negeri yang dipimpin seorang sultan bernama Jalaluddin, seorang Turkmen. Dari kejauhan aku mendengar kabar tentangnya: ia mengirimkan jamuan untuk kami, seakan ingin memuliakan musafir yang lewat. Namun anehnya, meski jamuan itu sampai, aku tidak sempat bertemu dengannya, bahkan tidak melihat wajah sang sultan sama sekali. Seperti angin: jejaknya terasa, tetapi sosoknya tak tampak.
Tak lama kemudian rombongan yang kuikuti kembali bergerak. Kami menuju sebuah kota bernama Khunjubal. Di sana ada seorang tokoh yang menjadi tujuan utama kunjunganku: Syaikh Abu Dalf. Kami pun menginap di zawiyah miliknya, sebuah tempat singgah bagi orang-orang yang mencari ilmu, ketenangan, dan barakah.
Zawiyah yang Sederhana, Tuan yang Luar Biasa
Saat pertama kali aku masuk, mataku langsung menangkap sosok seorang syaikh yang duduk menyendiri di salah satu sudut, langsung di atas tanah. Pakaiannya sederhana: jubah wol hijau yang sudah lusuh, dan serban wol hitam di kepala. Aku memberi salam. Ia membalas dengan baik, lalu bertanya tentang kedatanganku dan tentang negeriku.
Ia menempatkanku dengan penuh perhatian. Makanan dan buah-buahan selalu dikirimkan untukku, biasanya melalui seorang putranya yang saleh. Anak itu tampak begitu khusyuk dan rendah hati. Ia dikenal sering berpuasa dan banyak shalat, seperti seseorang yang hidupnya benar-benar diikat oleh ibadah.
Namun yang paling membuatku heran bukanlah kesederhanaan sang syaikh, melainkan keluasan kebaikannya. Belanja zawiyahnya sangat besar. Ia memberi banyak pemberian, membagikan pakaian, menghadiahkan kuda, dan memuliakan setiap pendatang—baik yang baru tiba maupun yang hendak pergi. Di negeri-negeri yang pernah kulewati, aku belum pernah melihat orang seperti dia.
Orang-orang bahkan bertanya-tanya, dari mana datangnya semua itu. Tidak jelas sumber pendapatannya, selain kabar bahwa ia menerima kiriman dari para saudara dan sahabat. Sampai-sampai ada yang menduga rezekinya datang “dari alam”, seolah mengalir tanpa sebab yang terlihat.
Di zawiyah itu juga ada sebuah makam yang sangat dihormati: makam Syaikh Waliyush Shalih, Quthb Daniel, seorang wali yang termasyhur di wilayah tersebut. Di atas makamnya berdiri kubah besar yang dibangun oleh Sultan Quthbuddin Tamghtan bin Turansyah—tanda bahwa kehormatan bagi orang saleh bisa menembus waktu, bahkan oleh para penguasa.
Sayangnya, aku hanya tinggal satu hari bersama Syaikh Abu Dalf. Rombonganku tergesa-gesa berangkat, seperti orang yang dikejar waktu.
Pertemuan dengan Para Ahli Ibadah
Sebelum meninggalkan Khunjubal, aku mendengar tentang sebuah zawiyah lain di kota itu—dihuni para ahli ibadah dan orang-orang saleh. Sore harinya aku mendatangi tempat itu. Aku memberi salam kepada syaikh mereka dan kepada seluruh penghuni.
Yang kulihat membuat hatiku terdiam: wajah-wajah pucat karena banyaknya ibadah, tubuh-tubuh kurus, mata yang sering basah oleh tangis. Seolah mereka sedang memikul beban akhirat, sementara dunia hanya dilewati seperti bayangan.
Saat aku tiba, mereka menghidangkan makanan. Pemimpin mereka berkata, “Panggillah putraku, Muhammad.” Anak itu sedang menyendiri di bagian lain zawiyah. Lalu datanglah seorang pemuda yang tampak sangat lelah, seperti baru keluar dari kubur karena kerasnya ibadah. Ia memberi salam dan duduk.
Ayahnya berkata kepadanya, “Wahai anakku, turutlah makan bersama para pendatang ini agar engkau mendapat barakah mereka.” Padahal pemuda itu sedang berpuasa. Namun ia taat kepada ayahnya, lalu berbuka bersama kami. Mereka bermazhab Syafi’i. Setelah makan, mereka mendoakan kami, lalu aku pun pamit dan pergi.
Siraf: Kota Pantai yang Rindang dan Terhormat
Dari sana perjalanan berlanjut ke kota Qais, yang juga dikenal sebagai Siraf. Kota ini berada di pesisir Laut Hindia, yang bersambung dengan Laut Yaman dan Persia, termasuk wilayah Kawar di Persia. Siraf luas dan nyaman. Di rumah-rumahnya ada kebun-kebun indah, bunga-bungaan, dan pepohonan rindang. Penduduknya minum dari mata air yang memancar dari gunung-gunung.
Mereka adalah orang-orang ‘Ajam dari bangsa Persia, dikenal terhormat. Di antara mereka ada kelompok Arab dari Bani Saffaf—merekalah para penyelam mutiara.
Teluk Mutiara: Nafas yang Dipertaruhkan untuk Sebutir Kilau
Tempat penyelaman mutiara terletak antara Siraf dan Bahrain, di sebuah teluk tenang yang luas seperti lembah besar. Pada bulan April dan Mei, teluk itu dipenuhi perahu. Para penyelam datang, begitu juga para pedagang dari Persia, Bahrain, dan Qathif.
Cara mereka menyelam sungguh menegangkan. Wajah ditutup dengan pelindung dari bahan keras (disebut berasal dari tulang penyu), dan hidung dijepit alat seperti gunting. Sebuah tali diikat di pinggang, lalu mereka terjun ke laut.
Ketahanan mereka berbeda-beda: ada yang sanggup lama, ada yang cepat kehabisan nafas. Di dasar laut, mereka mencari kerang mutiara di antara batu kecil dan pasir. Kerang dicabut dengan tangan atau dipotong dengan pisau kecil, lalu dimasukkan ke kantong kulit yang digantung di leher.
Saat nafas terasa sesak, penyelam menggoyangkan tali sebagai tanda. Orang di perahu merasakan gerakannya dan segera menariknya ke atas.
Kerang-kerang itu kemudian dibuka. Pada masa itu orang menggambarkan mutiara seolah terbentuk ketika “daging” di dalam kerang terkena udara lalu membeku menjadi mutiara. Catatan para peneliti modern menyebut gambaran itu tidak tepat; mutiara terbentuk karena lapisan-lapisan yang disekresikan kerang mengelilingi inti kecil (seperti butir pasir) di dalam tubuhnya.
Hasil mutiara dikumpulkan semuanya, besar dan kecil. Sultan mengambil seperlima, sisanya dibeli para pedagang. Banyak penyelam memiliki hutang pada pedagang, sehingga mutiara sering langsung menjadi pembayaran.
Bahrain, Qathif, Hajar, hingga Yamamah
Dari Siraf kami menuju Bahrain, kota besar yang indah, penuh kebun, pohon, dan sungai. Airnya mudah didapat; cukup menggali tanah. Ada kurma, delima, jeruk keprok, lemon, dan kapas yang ditanam. Namun udaranya sangat panas dan pasirnya banyak; kadang pasir menutup sebagian rumah.
Ada kabar tentang jalan darat antara Bahrain dan Oman yang dahulu ada namun tertutup pasir hingga terputus. Sebagian catatan kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud “Bahrain” pada masa itu kadang merujuk pula pada kawasan pantai Teluk secara umum, bukan hanya pulau Bahrain yang dikenal sekarang.
Dari Bahrain kami berangkat ke Qathif, kota besar dan indah dengan banyak kurma. Di sini aku menjumpai kelompok-kelompok Arab yang dikenal ekstrem dalam Rafidhah; mereka menampakkan keyakinan mereka secara terang-terangan, bahkan dalam tambahan lafaz tertentu pada azan mereka.
Perjalanan berlanjut ke Hajar, yang kini dikenal sebagai al-Hasa. Kurmanya luar biasa banyak, sampai-sampai kurma itu juga dipakai untuk pakan ternak. Penduduknya bangsa Arab, kebanyakan dari kabilah ‘Abdul Qais bin Afsha.
Lalu kami menuju al-Yamamah, juga disebut Hijr, kota subur dengan sungai-sungai dan pepohonan, dihuni kelompok Arab terutama Bani Hanifah. Amirnya bernama Thufail bin Ghanim. Bersamanya aku berangkat menuju haji pada tahun 732 H, hingga akhirnya aku tiba di Makkah—semoga Allah memuliakannya.
Haji Raja an-Nashir dan Kisah Racun di Tengah Kekuasaan
Pada tahun itu, Raja an-Nashir, Sultan Mesir, juga berhaji bersama para pembesarnya. Itu haji terakhirnya. Ia banyak berbuat baik kepada penduduk Makkah dan Madinah, juga kepada orang-orang yang menetap di sana.
Namun di balik ibadah besar itu, ada kisah gelap yang beredar: Raja an-Nashir membunuh Amir Ahmad yang disebut-sebut sebagai putranya, dan juga membunuh pembesar bernama Baktamur as-Saqi.
Diceritakan, Raja an-Nashir pernah menghadiahkan seorang budak perempuan kepada Baktamur. Saat Baktamur hendak mendekatinya, perempuan itu berkata bahwa ia sedang hamil dari Raja an-Nashir. Baktamur pun menjauhinya. Budak itu melahirkan anak laki-laki bernama Ahmad, lalu anak itu tumbuh dalam asuhan Baktamur. Karena kecerdasan dan kabar asal-usulnya, Ahmad dikenal sebagai putra Raja an-Nashir.
Ketika musim haji itu berlangsung, tersiar kabar tentang rencana membunuh Raja an-Nashir dan menyerahkan kekuasaan kepada Ahmad. Baktamur bahkan membawa perlengkapan kerajaan: bendera, genderang, pakaian kebesaran, dan harta.
Berita itu sampai kepada Raja an-Nashir. Pada suatu hari yang sangat panas, ia memanggil Ahmad. Di hadapan sultan ada gelas-gelas minuman. Ia minum satu gelas, lalu memberikan gelas kedua—yang berisi racun—kepada Ahmad. Ahmad meminumnya. Setelah itu sultan memerintahkan rombongan segera berangkat, seolah ingin mengalihkan perhatian. Ahmad meninggal sebelum sampai tempat istirahat.
Baktamur sangat berduka. Ia merobek pakaiannya dan menolak makan dan minum. Ketika kabar itu sampai kepada Raja an-Nashir, ia datang sendiri menghiburnya. Lalu ia memberikan segelas minuman beracun kepada Baktamur dan berkata, “Demi nyawaku, engkau harus meminumnya untuk meredam api di hatimu.” Baktamur meminumnya dan meninggal seketika. Pada dirinya ditemukan perlengkapan kebesaran dan harta, sehingga tuduhan rencana makar dianggap terbukti.
Jeddah, Kapal Tenggelam, dan Keselamatan yang Tak Disangka
Setelah haji, aku menuju Jeddah dengan niat menyeberang ke Yaman dan India. Tetapi rencana itu tidak berhasil. Aku tidak menemukan teman seperjalanan, dan aku tinggal di Jeddah sekitar empat puluh hari.
Di sana ada kapal milik seseorang bernama Abdullah at-Tunisi yang hendak berlayar ke Qushair. Aku sempat naik untuk melihat keadaannya, tetapi hatiku tidak tenang. Aku memutuskan tidak ikut. Keputusan itu ternyata adalah rahmat Allah: kapal itu kemudian berlayar, lalu tenggelam di tengah laut di tempat bernama Ra’s Abu Muhammad. Pemiliknya dan sebagian pedagang selamat dengan perahu penyelamat setelah perjuangan berat, tetapi sebagian lain mati dan tenggelam. Di kapal itu ada sekitar tujuh puluh jamaah haji.
Terhempas Angin, Menembus Padang Pasir, dan Seorang Anak Tawanan
Setelah itu aku menaiki perahu kecil menuju ‘Aidhab. Angin menghempas kami hingga ke gunung yang dikenal sebagai Ra’s Duwair. Dari sana kami berjalan darat bersama suku Bijah melintasi padang pasir—di sana banyak burung unta dan kijang. Ada pula Arab dari Juhainah dan Bani Kahil, dan mereka tunduk kepada suku Bijah.
Kami melewati sumber-sumber air: Mafrur dan al-Jalid. Ketika bekal habis, kami membeli dari orang Bijah yang memiliki kambing-kambing. Kami berbekal dagingnya.
Di padang pasir itu aku bertemu seorang anak kecil Arab yang bisa berbicara kepadaku. Ia mengatakan bahwa dirinya ditawan oleh orang Bijah. Ia mengaku sudah setahun tidak makan makanan biasa, hanya hidup dengan susu unta.
Ketika daging bekal habis lagi dan kami tidak punya persediaan, aku teringat muatanku: kurma ash-Shaihani dan al-Burni yang semula kusiapkan sebagai hadiah untuk sahabat-sahabatku. Aku membagikannya kepada rombongan, dan itu menjadi bekal tiga hari.
Sembilan hari dari Ra’s Duwair, kami tiba di ‘Aidhab. Penduduk menyambut dengan roti, kurma, dan air. Kami tinggal beberapa hari, menyewa unta, lalu berangkat bersama sekelompok Arab suku Dughaim.
Kami sampai ke sumber air al-Junaiyb, lalu singgah di Hamīthira, tempat makam wali Allah Abu al-Hasan asy-Syadzili. Aku berkesempatan mengunjunginya untuk kedua kalinya. Kami bermalam di dekatnya.
Menyusuri Mesir: Dari Tepi Nil hingga Kairo
Kami tiba di desa al-‘Athwani di tepi Sungai Nil, berseberangan dengan Idfu. Kami menyeberang ke Isnā, lalu ke Armant, ke al-Aqshur, dan aku mengunjungi Syaikh Abu al-Hajjaj al-Aqshuri untuk kedua kalinya.
Perjalanan berlanjut: Qush, Qina, dan di sana aku mengunjungi Syaikh Abdurrahim al-Qinawi untuk kedua kalinya. Lalu Hu, Akhmim, Asyut, Manfaluth, Manlawi, al-Ashmunaīn, Minyat Ibn al-Khashīb, al-Bahnasā, Bush, Minyat al-Qā’id, sampai akhirnya Kairo. Di Kairo aku tinggal beberapa hari.
Menuju Syam, Lalu Menyeberang ke Bilad ar-Rum
Aku berangkat melalui jalan Bilbis menuju Syam. Kali ini aku ditemani Haji Abdullah bin Abi Bakar bin al-Farhan at-Tawzari. Ia menemaniku bertahun-tahun, sampai kami keluar dari negeri India kelak, sebelum akhirnya ia wafat di Sandabur.
Kami melewati Ghazzah, al-Khalil (yang kukunjungi lagi), Baitul Maqdis, Ramlah, ‘Akka, Tripoli, Jabalah, dan aku mengunjungi makam Ibrahim bin Adham untuk kedua kalinya. Setelah itu kami sampai di al-Ladziqiyah.
Dari sana kami naik kapal besar milik orang Genoa, pemiliknya bernama Bīmartalmīn, menuju negeri Turki yang dikenal sebagai Bilad ar-Rum. Disebut demikian karena dahulu negeri itu milik Romawi/Byzantium. Kini banyak orang Nasrani yang hidup di bawah perlindungan kaum Muslimin dari Turkmen.
Kami berlayar sepuluh hari dengan angin yang baik. Orang Nasrani di kapal memuliakan kami dan tidak mengambil upah perjalanan dari kami.
Pada hari kesepuluh, kami tiba di kota ‘Alāyā, kota pertama di Bilad ar-Rum.
‘Alāyā dan Negeri yang Mengumpulkan Keindahan Dunia
Bilad ar-Rum adalah salah satu wilayah terindah di dunia. Seolah Allah mengumpulkan di sana keindahan yang tersebar di negeri-negeri lain. Penduduknya terkenal tampan rupanya, bersih pakaiannya, lezat makanannya, dan sangat penyayang. Setiap kali kami singgah di zawiyah atau rumah, tetangga—laki-laki dan perempuan—selalu menanyakan keadaan kami. Saat kami pamit, mereka seperti keluarga sendiri; bahkan para perempuan tampak menangis karena perpisahan.
Ada kebiasaan unik: mereka memanggang roti pada hari Jumat, menyiapkan untuk seminggu. Pada hari itu, para lelaki datang membawa roti panas dan lauk yang lezat. Mereka berkata, “Para perempuan mengirimkan ini untuk kalian, dan mereka meminta doa kalian.”
Penduduk negeri ini bermazhab Abu Hanifah dan dikenal kuat berpegang pada Sunnah. Disebutkan pula bahwa hampir tidak ditemukan kelompok-kelompok menyimpang di sana, meski ada kebiasaan sebagian mereka memakan hashish dan tidak menganggapnya cela.
Kota ‘Alāyā sendiri adalah kota besar di tepi laut, dihuni Turkmen, dan ramai oleh pedagang dari Mesir, Iskandariyah, dan Syam. Kayunya melimpah, diekspor ke Iskandariyah dan Dimyath, lalu dibawa ke seluruh Mesir.
Di atas bukit berdiri benteng yang mengagumkan dan kokoh, dibangun Sultan al-Mu’azhzham ‘Ala’uddin ar-Rumi. Di kota itu aku bertemu qadhi setempat, Jalaluddin al-Arzinjani. Ia bahkan naik bersamaku ke benteng pada hari Jumat, dan kami shalat di sana. Ia menjamuku dengan mulia. Aku juga dijamu oleh Syamsuddin bin ar-Rajihani, yang ayahnya, ‘Ala’uddin, wafat jauh di Mali, negeri Sudan.
Dan begitulah, dari jamuan yang tak mempertemukan wajah sultan, hingga negeri yang penduduknya menangis saat perpisahan—perjalananku terus bergerak, membawa kisah demi kisah, memperlihatkan betapa dunia ini luas, dan betapa hati manusia bisa begitu beragam: ada yang berkuasa dengan racun, ada yang memuliakan tamu dengan roti panas, dan ada yang menghabiskan hidupnya di zawiyah—menangis karena takut kepada Allah.
________________________________________
Peta Perjalanan Ibnu Bathutah #40
Sumber kisah:
Rihlah Ibnu Bathuthah (Tuhfat an-Nuzzār fī Gharā’ib al-Amṣār wa ‘Ajā’ib al-Asfār)

Komentar
Posting Komentar