Rihlah Ibnu Bathutah #39 : Kabar dari Oman hingga Hormuz

Teks alternatif: Penduduk Pulau Hormuz abad ke-14 memikul kantung air kulit dan menuangkannya ke perahu di tepi laut, dengan latar masjid, pasar, dan gunung garam.

Kabar dari Oman hingga Hormuz: Catatan Perjalanan yang Membuka Mata

Namaku adalah seorang pengembara yang menuliskan apa yang kulihat, kudengar, dan kualami di negeri-negeri yang kulewati. Pada satu masa dalam perjalanan itu, aku singgah di Oman, lalu menyeberang menuju Hormuz, dan dari sana menembus padang pasir yang kejam hingga tiba di negeri-negeri yang lebih jauh. Inilah kisahnya, dari awal sampai akhir, sebagaimana catatan itu mengalir dalam ingatanku.

________________________________________

Majlis Terbuka Sang Sultan Oman

Di Oman, aku mendengar kabar tentang seorang penguasa dari suku Arab Al-Azd bin Al-Ghauts. Namanya Abu Muhammad bin Nabhan. Orang-orang menyebut “Abu Muhammad” bukan semata nama pribadi, melainkan gelar bagi sultan yang memerintah Oman, sebagaimana di negeri lain ada gelar-gelar khusus untuk raja mereka.

Yang paling mengesankan bagiku adalah kebiasaan sultan ini. Ia sering duduk di luar pintu rumahnya, di sebuah majlis yang memang disediakan di sana. Ia tidak memakai penjaga pintu, tidak pula menteri yang mengatur siapa boleh masuk dan siapa tidak. Siapa pun—orang asing atau penduduk setempat—bisa datang menemuinya tanpa dihalangi.

Sultan memuliakan tamu sebagaimana kebiasaan orang Arab: menjamu dengan dhiyafah, lalu memberi hadiah sesuai kedudukan orang yang datang. Akhlaknya dikenal baik, tutur katanya lembut, dan wajahnya ramah.

Namun, ada satu hal yang membuatku terdiam. Di atas meja hidangannya, disajikan daging keledai jinak. Daging semacam itu bahkan dijual di pasar karena mereka menganggapnya halal. Tetapi orang-orang Oman menyembunyikan kebiasaan itu dari tamu-tamu luar; mereka tidak menampakkannya, dan tidak pula membicarakannya di hadapan para pendatang.

________________________________________

Kota-kota Oman yang Hijau dan Mengalir

Oman bukan negeri tandus seperti yang sering dibayangkan orang. Di sana ada kota-kota dan wilayah yang subur, dialiri sungai-sungai, dipenuhi kebun, pepohonan, juga kurma.

Ada sebuah kota bernama Zaki. Aku tidak masuk ke dalamnya, tetapi orang-orang bercerita bahwa itu kota besar. Selain itu ada Al-Quryat, Syiba, Kalba, Khorfakkan, dan Shohar. Semuanya disebut memiliki air, kebun, dan kehidupan yang ramai. Namun sebagian besar negeri-negeri itu berada di bawah kekuasaan Hormuz, negeri maritim yang kekuatannya merambat jauh.

________________________________________

Seorang Perempuan Muda dan “Lindungan” yang Menggetarkan

Suatu hari aku berada di hadapan Sultan Abu Muhammad bin Nabhan. Saat majlis terbuka itu berlangsung seperti biasa, datang seorang perempuan muda. Ia sangat cantik, dan yang mengundang perhatian banyak orang: ia tidak bercadar. Ia berdiri di hadapan sultan, lalu berkata dengan suara tegas, “Wahai Abu Muhammad, setan telah menguasai pikiranku.”

Sultan menjawab singkat, “Pergilah dan usirlah setan itu.”

Perempuan itu tidak mundur. Ia berkata, “Aku tidak mampu, dan aku berada dalam lindunganmu, wahai Abu Muhammad.”

Lalu sultan berkata, “Pergilah, dan lakukanlah apa yang kau kehendaki.”

Setelah perempuan itu pergi, barulah aku mendengar penjelasan yang lebih membuatku gelisah. Konon, perempuan itu—dan siapa saja yang berbuat seperti dirinya—dianggap berada dalam “lindungan sultan”. Ia bisa pergi melakukan kerusakan, sementara ayah dan kerabatnya tidak sanggup mencegahnya. Bahkan bila keluarganya sampai membunuhnya demi menghentikan keburukannya, mereka akan dibunuh sebagai balasan, karena dianggap telah melanggar lindungan sultan.

Aku menyimpan kisah ini dalam hati. Ada negeri yang terbuka pintunya bagi tamu, tetapi di dalamnya ada kebiasaan-kebiasaan yang sulit kupahami.

________________________________________

Menyeberang ke Hormuz: Pulau Garam, Pasar, dan Air yang Mahal

Aku pun berangkat dari Oman menuju negeri Hormuz. Hormuz adalah kota di tepi laut, disebut juga Mughistan. Di seberang lautnya terdapat “Hormuz Baru”. Jaraknya tiga farsakh.

Kami tiba di Hormuz Baru, sebuah pulau. Kotanya bernama Jarūn. Kota ini baik, besar, dan pasar-pasarnya hidup. Dari sinilah kapal-kapal datang dari India dan Sind. Barang-barang India kemudian diangkut ke Irak, Fars, dan Khurasan. Di kota ini pula sang sultan tinggal.

Pulau itu luasnya kira-kira perjalanan sehari. Sebagian besar berupa rawa garam dan gunung-gunung garam—garam batuan. Dari garam itu mereka membuat wadah-wadah hiasan, juga pelita untuk menaruh lampu.

Makanan utama penduduknya adalah ikan dan kurma. Kurmanya didatangkan dari Basrah dan Oman. Mereka punya ungkapan dalam bahasa mereka: “Kharmā wa mā hiyā lūt bādsyāhī,” yang maksudnya: kurma dan ikan adalah makanan para raja.

Yang paling terasa di pulau itu adalah satu hal: air sangat berharga.

Ada mata air dan kolam-kolam buatan untuk menampung hujan, tetapi letaknya jauh dari kota. Orang-orang harus datang dengan kantung-kantung kulit, mengisinya, memikulnya ke arah laut, menuangkannya ke perahu-perahu, lalu membawa air itu ke kota. Setiap tetes seperti dihitung nilainya.

________________________________________

Keajaiban Kepala Ikan di Dekat Masjid

Di dekat pintu masjid—di antara masjid dan pasar—aku melihat sesuatu yang aneh, bahkan terasa seperti kisah dalam dongeng. Ada kepala ikan yang ukurannya seperti bukit kecil. Matanya besar, seperti dua pintu. Orang-orang bisa masuk dari salah satu “mata” dan keluar dari yang lain.

Di kota ini pula aku bertemu seorang pengelana shalih: Syaikh Shalih Abu Hasan Al-Aqtharani, asalnya dari negeri Romawi. Ia menjamuku, mengunjungiku, memberiku pakaian, dan menghadiahkan sesuatu yang tak biasa: “kamar ash-shuhbah”, semacam sabuk ikat yang membantu seseorang duduk bersila seolah bersandar. Banyak fakir dari kalangan ‘Ajam memakainya sebagai ikat pinggang.

________________________________________

Ziarah yang Dinisbatkan kepada Khidhir dan Ilyas

Sekitar enam mil dari kota, ada tempat ziarah yang dinisbatkan kepada Nabi Khidhir dan Nabi Ilyas ‘alaihimas salam. Dikatakan keduanya pernah shalat di sana, dan keberkahan tampak bagi orang yang mendatanginya.

Di sana ada zawiyah yang dihuni seorang syaikh yang melayani para peziarah dan musafir. Kami menginap sehari di tempat itu, menenangkan diri dari riuh kota.

Dari sana kami berniat mengunjungi seorang lelaki shalih yang mengasingkan diri di ujung pulau. Ia memahat gua sebagai tempat tinggalnya. Di dalam gua itu ada zawiyah, majelis, dan rumah kecil miliknya. Ia memiliki budak perempuan di rumahnya, serta budak-budak laki-laki di luar gua yang menggembalakan sapi dan kambing miliknya.

Orang ini dulunya pedagang besar. Setelah berhaji ke Baitullah, ia memutus keterikatan dunia dan memilih menyendiri untuk ibadah. Hartanya diserahkan kepada saudara untuk diperdagangkan atas namanya. Kami bermalam satu malam di tempatnya. Ia menjamu kami dengan jamuan terbaik, dan tanda-tanda kebaikan serta ibadah terlihat jelas pada dirinya. Aku berdoa semoga Allah meridhainya.

________________________________________

Kabar Sultan Hormuz: Raja yang Sangat Merendah

Sultan Hormuz bernama Quthbuddin Tamahthan bin Turansyah. Ia dikenal dermawan, rendah hati, dan berakhlak mulia. Kebiasaannya tidak seperti raja-raja yang berjarak; justru ia sering mengunjungi orang yang datang kepadanya—faqih, orang shalih, dan orang mulia—lalu menunaikan hak mereka.

Namun ketika kami tiba, pulau itu sedang berguncang. Sultan sibuk mempersiapkan perang melawan dua keponakannya, anak saudara laki-lakinya Nizhamuddin. Setiap malam ia berangkat untuk berperang. Karena keadaan genting, harga barang di pulau melambung.

Menterinya, Syamsuddin Muhammad bin Ali, datang menemui kami bersama qadhi mereka, ‘Imaduddin Asy-Syunkari, dan beberapa orang pilihan. Mereka meminta maaf karena negeri sedang sibuk perang. Kami tinggal enam belas hari.

Saat hendak berangkat, aku berkata kepada beberapa sahabat, “Bagaimana mungkin kita pergi tanpa melihat sultan ini?”

Kami pun menemui sang menteri, lalu aku menyampaikan keinginanku untuk memberi salam kepada raja. Menteri berkata, “Bismillah,” kemudian menggandeng tanganku dan membawaku ke rumahnya di tepi laut.

Di sana ada majelis dari anyaman daun. Aku melihat seorang syaikh berpakaian luar sempit dan lusuh, bersorban, di pinggangnya tersampir saputangan. Menteri memberi salam kepadanya, dan aku pun memberi salam. Aku tidak tahu bahwa dialah sang raja.

Di sampingnya ada keponakan perempuannya, ‘Ali Syah bin Jalaluddin Al-Kiji, yang sudah kukenal. Aku malah lebih dulu mengajaknya berbicara—tanpa sadar aku sedang mengabaikan raja. Ketika menteri memberitahu bahwa orang berpakaian lusuh itu adalah sultan, aku merasa malu dan segera meminta maaf.

Sultan lalu berdiri dan masuk ke rumahnya. Para pembesar, menteri, dan pejabat mengikuti. Aku masuk bersama menteri.

Di dalam, sultan duduk di atas singgasana—dengan pakaian yang sama, tidak berganti. Di tangannya ada tasbih mutiara yang belum pernah kulihat bandingannya. Wajar, karena tambang mutiara berada di bawah kekuasaannya.

Ia bertanya tentang keadaanku, asal usulku, dan raja-raja yang pernah kutemui. Aku menceritakan semuanya. Makanan dihidangkan. Para hadirin makan, tetapi sultan tidak makan bersama mereka. Tak lama kemudian ia berdiri. Aku berpamitan, lalu pergi, membawa kesan yang sulit hilang: raja yang tampil seperti orang biasa, tetapi wibawanya terasa di setiap gerak.

________________________________________

Akar Perang: Makar, Kekalahan, hingga Racun

Orang-orang menjelaskan sebab perang yang membakar pulau itu.

Suatu hari Quthbuddin berlayar dari Hormuz Baru untuk bersantai ke Hormuz Lama dan kebun-kebunnya, jaraknya tiga farsakh di laut. Saat itulah saudaranya, Nizhamuddin, memanfaatkan kesempatan. Ia melakukan makar dan menyeru rakyat agar mendukung dirinya. Penduduk pulau membaiatnya, begitu pula pasukan.

Quthbuddin khawatir keselamatannya. Ia berlayar menuju kota Qalhāt, wilayah yang juga berada di bawah kekuasaannya. Ia tinggal beberapa bulan, menyiapkan kapal-kapal, lalu kembali menyerang pulau. Tetapi ia dikalahkan. Ia kembali ke Qalhāt dan mengulanginya beberapa kali.

Akhirnya, dikatakan tidak ada jalan baginya selain menyuruh seseorang dari kalangan istri saudaranya untuk meracuninya. Nizhamuddin pun mati. Quthbuddin kembali memasuki pulau dan menguasainya.

Namun dua keponakannya melarikan diri. Mereka membawa perbendaharaan, harta, dan pasukan menuju pulau Qais, tempat tambang mutiara. Dari sana mereka merampok orang-orang yang datang dari India dan Sind, serta menyerang wilayah-wilayah maritim Hormuz hingga banyak yang hancur.

Begitulah, sebuah negeri dagang di tepi laut bisa berubah menjadi arena darah, hanya karena perebutan kuasa dalam keluarga.

________________________________________

Menembus Daratan: Turkmen, Padang Pasir, dan Angin Samum

Setelah itu kami berangkat dari Jarūn dengan niat menemui seorang lelaki shalih di negeri Khunj Bal. Kami menyeberangi laut, lalu menyewa tunggangan dari orang-orang Turkmen. Mereka adalah penduduk setempat. Hampir tak ada yang berani bepergian di sana tanpa mereka, karena merekalah yang mengenal jalan dan terkenal berani.

Di depan kami terbentang padang pasir selama empat hari perjalanan. Jalan diintai perompak Arab badui. Lebih menakutkan lagi, pada bulan Tammuz dan Haziran bertiup angin samum, panas mematikan. Siapa yang diterpa bisa mati. Bahkan diceritakan: bila korban hendak dimandikan, anggota tubuhnya bisa terlepas satu sama lain. Di sana banyak kuburan orang-orang yang mati karena angin ini.

Karena itu kami sering berjalan pada malam hari. Saat matahari terbit, kami berhenti di bawah naungan pepohonan Ummu Ghailan, lalu berangkat lagi setelah ashar hingga terbit matahari.

________________________________________

Jamāl Al-Lukk: Perampok yang Membangun Zawiyah

Di padang pasir itu, dulu jalan sering dihadang seorang yang sangat terkenal: Jamāl Al-Lukk.

Ia berasal dari Sijistan, dari keturunan ‘Ajam. Julukannya “Al-Lukk” berarti orang yang terpotong tangannya—tangannya terpotong dalam salah satu peperangan. Ia memiliki kelompok besar penunggang kuda dari Arab badui dan ‘Ajam, digunakan untuk merampok di jalanan.

Anehnya, ia membangun zawiyah-zawiyah dan memberi makan orang yang datang dan pergi dengan harta rampasan. Ada pula yang mengatakan ia mengklaim hanya menyerang orang yang tidak menunaikan zakat hartanya. Ia melakukan semua itu cukup lama, dan tak ada raja di Irak maupun negeri lain yang mampu menangkapnya.

Ia dan pasukannya bisa menghilang ke belantara yang hanya mereka kenal. Mereka bahkan menyimpan kantung-kantung air dekat mata air. Saat pasukan sultan mengejar, mereka masuk padang pasir dan mengambil simpanan air itu, sedangkan pasukan yang mengejar terpaksa mundur karena takut binasa kehausan.

Namun hidup manusia bisa berbelok. Dikatakan kemudian ia bertaubat, beribadah hingga meninggal. Makamnya diziarahi di negerinya.

________________________________________

Kaurastan dan Lār: Dari Panas ke Zawiyah yang Menghidupi Banyak Orang

Kami melewati padang pasir hingga tiba di Kaurastan, negeri kecil dengan sungai dan kebun-kebun, tetapi sangat panas. Dari sana kami berjalan lagi tiga hari melalui padang pasir seperti sebelumnya, sampai akhirnya tiba di kota Lār.

Lār adalah kota besar dengan banyak mata air, aliran air, dan kebun-kebun. Pasarnya indah dan hidup. Di sana kami singgah di zawiyah Syaikh ‘Abid, Abu Dulaf Muhammad—dialah orang yang ingin kami kunjungi di Khunj Bal.

Di zawiyah itu lahir Abu Zaid Abdurrahman, dan di sana pula berkumpul sekelompok fakir. Mereka punya kebiasaan yang menakjubkan dalam kesederhanaannya. Setiap hari setelah shalat ashar, mereka berkumpul, lalu berkeliling ke rumah-rumah di kota. Setiap rumah memberi satu atau dua roti. Roti itu lalu mereka gunakan untuk memberi makan para musafir dan siapa pun yang datang.

Penduduk kota telah terbiasa. Mereka bahkan memasukkan jatah roti itu dalam perhitungan bekal harian, seolah itu bagian dari sedekah yang sudah menjadi tradisi bersama.

Setiap malam Jumat, para fakir dan orang-orang shalih kota berkumpul di zawiyah. Masing-masing membawa dirham semampunya. Uang itu dikumpulkan dan dibelanjakan malam itu juga. Mereka menghidupkan malam dengan shalat dan tilawah, lalu berpisah setelah shalat subuh.

Di tempat itu, setelah menempuh laut, pulau garam, intrik istana, dan padang pasir mematikan, aku menyaksikan wajah lain dunia: kebersamaan orang-orang yang saling menguatkan dengan roti, doa, dan ibadah.

________________________________________

Peta Perjalanan Ibnu Bathutah #39

Sumber Kisah

Rihlah Ibnu Bathuthah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Bathutah #35 : Zaila’ dan Mogadishu , Kota Kotor, Perdagangan, dan Tradisi Islam Afrika

Jejak-Jejak Awal di Madinah, Antara Dukacita dan Sukacita

Rihlah Ibnu Bathutah #34 : Menyingkap Kemegahan Sultan Yaman dan Kota Sana'a