Rihlah Ibnu Bathutah #37 : Dhafar, Kota Ajaib, Sirih & Kelapa
Kota yang Sulit Ditaklukkan
Aku sedang berada di sebuah kota di wilayah Dhafar, di tepi lautan, yang dikelilingi kebun-kebun hijau dan pohon-pohon yang lebat. Kota ini tampak biasa dari jauh, tetapi kisah-kisah tentangnya membuatku mengerti bahwa ia bukan kota yang mudah ditaklukkan.
Diceritakan kepadaku bahwa Sultan Quthbuddin Tamtam bin Turansyah, penguasa Hormuz, pernah datang untuk menyerang kota ini, dari darat dan dari laut sekaligus. Kapal-kapalnya memenuhi pantai, sementara tentaranya mengepung dari sisi daratan. Namun Allah Subhanahu wa Ta'ala mengirimkan angin yang sangat kencang. Badai itu menghantam kapal-kapal mereka hingga hancur berantakan. Pasukan lautnya porak-poranda, dan rencana besar itu pun gagal.
Sultan akhirnya terpaksa mengangkat pengepungan dan berdamai dengan raja kota ini. Kekuatan angin yang menghancurkan armadanya menjadi pelajaran besar bagi mereka, dan nama kota ini makin dikenal sebagai kota yang dijaga oleh ketentuan Allah.
Kisah lain juga sampai kepadaku. Al-Malik Al-Mujahid, Sultan Yaman, pernah mengutus sepupunya dengan pasukan besar untuk merebut kota itu dari tangan rajanya—yang juga masih kerabatnya sendiri. Pangeran itu sudah bersiap berangkat. Ia keluar dari rumahnya dengan penuh keyakinan, diiringi sebagian pengikutnya.
Namun takdir berkata lain. Tiba-tiba, tembok rumah roboh dan menimpanya bersama orang-orang yang bersamanya. Mereka semua meninggal di tempat. Peristiwa itu membuat Sultan mengurungkan niatnya. Ia meninggalkan pengepungan dan membatalkan tuntutannya atas kota tersebut. Sejak itu, orang-orang semakin yakin bahwa kota ini berada di bawah perlindungan Allah dengan cara yang menakjubkan.
________________________________________
Penduduk yang Mirip Orang Maghribi
Yang membuatku heran, penduduk kota ini amat mirip dengan penduduk Maghrib (Maroko dan sekitarnya) dalam banyak hal: kebiasaan, cara hidup, bahkan dalam hal-hal kecil di rumah mereka.
Aku menginap di rumah khatib masjid agung kota itu, seorang lelaki mulia bernama ‘Isa bin ‘Ali. Ia orang yang terhormat, halus budi pekertinya, dan memuliakan tamu. Di rumahnya ada beberapa budak perempuan. Yang menarik, mereka diberi nama dengan nama-nama pembantu perempuan di negeri Maghrib. Salah satunya bernama Bakhtah, yang lain bernama Zad al-Mal.
Aku belum pernah mendengar nama-nama seperti ini di negeri lain, kecuali di Maghrib dan di kota ini. Hal itu menambah kuat dugaan bahwa ada hubungan asal-usul antara mereka.
Kebanyakan penduduk kota ini tidak menutupi kepala dengan sorban. Di setiap rumah, pasti ada sajadah dari anyaman daun yang digantung di dalam rumah. Saat tiba waktu shalat, pemilik rumah menurunkannya dan menggunakannya untuk shalat, sebagaimana kebiasaan penduduk Maghrib. Makanan pokok mereka adalah jagung, sama seperti di sana.
Semua kesamaan ini menguatkan pendapat yang aku dengar bahwa kabilah Shanhajah dan kabilah-kabilah Maghrib lainnya berasal dari keturunan Himyar di Yaman. Maka, seakan-seakan aku melihat sebagian wajah dan kebiasaan negeriku sendiri di kota yang jauh ini.
________________________________________
Zawiyah Perlindungan di Tengah Kebun
Tidak jauh dari kota, di antara kebun-kebunnya yang hijau, terdapat sebuah zawiyah (semacam surau dan rumah para ahli ibadah). Zawiyah itu milik seorang syaikh shalih, ahli zuhud dari Dhafar bernama Abu Muhammad bin Abu Bakar bin ‘Isa.
Zawiyah ini sangat dimuliakan penduduk. Setiap pagi dan sore, orang-orang mendatanginya. Ada yang datang mencari doa, ada yang mencari ketenangan, dan ada pula yang datang untuk meminta perlindungan.
Telah menjadi adat di sana: bila seseorang yang dikejar penguasa atau sultan berhasil masuk dan berlindung di zawiyah itu, maka Sultan tidak bisa menyentuhnya. Ia seakan-akan berada dalam wilayah perlindungan yang tidak boleh diganggu.
Aku melihat sendiri seorang lelaki yang sudah lama tinggal di zawiyah itu sebagai pencari suaka. Tidak seorang pun berani menyentuhnya, meski Sultan mengetahuinya. Pada hari-hari ketika aku berada di sana, bahkan sekretaris Sultan sendiri datang mencari perlindungan di zawiyah tersebut. Ia menetap di sana hingga terjadi perdamaian antara dia dan Sultan.
Semua itu membuatku semakin menghormati kedudukan zawiyah ini di mata penduduknya.
________________________________________
Tamu Dua Syaikh yang Mulia
Aku pun mendatangi zawiyah tersebut dan bermalam di sana. Aku menjadi tamu dua orang syaikh, putra-putra Syaikh Abu Bakar yang disebutkan tadi: Abu Al-‘Abbas Ahmad dan Abu ‘Abdillah Muhammad. Keduanya memiliki kemuliaan akhlak yang besar dan semangat beribadah yang tampak jelas.
Pada suatu malam, setelah kami selesai makan, kami mencuci tangan. Biasanya, air bekas cucian tangan akan dibiarkan mengalir begitu saja. Namun Abu Al-‘Abbas melakukan sesuatu yang mengherankan.
Ia mengambil air bekas cucian tangan kami dan meminumnya. Lalu ia memerintahkan pelayannya agar membawa sisa air itu kepada keluarga dan anak-anaknya di rumah, agar mereka pun meminumnya.
Aku diberitahu bahwa mereka melakukan itu karena meyakini bahwa tamu-tamu tertentu datang membawa kebaikan dan keberkahan. Mereka memuliakan tamu hingga pada hal sekecil bekas cucian tangan. Demikianlah kebiasaan mereka terhadap orang-orang yang mereka anggap datang dengan membawa kebaikan.
Selama di kota ini, aku juga dijamu oleh seorang qadhi yang shalih, bernama Abu Hasyim ‘Abdul Malik az-Zabidi. Ia memuliakanku dengan cara yang jarang dilakukan para pejabat di negeri lain. Ia melayaniku sendiri, bahkan ia sendiri yang menuangkan air untuk kucuci tangan. Ia tidak menyerahkan urusan itu kepada pembantunya.
Perbuatan itu tampak sederhana, tetapi bagiku ia adalah tanda kerendahan hati dan kemuliaan jiwa.
________________________________________
Makam Para Leluhur Sultan
Di dekat zawiyah tersebut terdapat makam leluhur Sultan, yaitu Al-Malik Al-Mughits. Makam ini sangat dihormati oleh penduduk. Banyak orang yang datang ke sana ketika memiliki hajat atau keperluan yang berat. Mereka duduk di sekitarnya, berdoa dan memohon kepada Allah agar kebutuhan mereka dipenuhi.
Ada kebiasaan menarik di kalangan tentara Sultan. Jika sudah lewat satu bulan dan mereka belum juga menerima gaji, mereka akan pergi ke makam ini dan mencari perlindungan di sekitarnya. Mereka tinggal di sekeliling makam sampai gaji mereka dibayarkan. Kebiasaan ini begitu dikenal, hingga seakan-akan makam itu menjadi tempat “menuntut hak” dengan cara yang lembut dan penuh penghormatan.
________________________________________
Perjalanan ke Al-Ahqaf dan Makam Hud
Sekitar setengah hari perjalanan dari kota ini terdapat daerah Al-Ahqaf. Di sinilah dahulu kaum ‘Ad tinggal, sebagaimana yang dikenal dalam kisah-kisah terdahulu.
Di Al-Ahqaf terdapat sebuah zawiyah dan sebuah masjid yang berdiri di tepi pantai. Daerah itu dikelilingi perkampungan para nelayan yang hidup dari menangkap ikan. Di dalam zawiyah tersebut, terdapat sebuah kuburan. Di atasnya tertulis:
“Ini adalah kuburan Hud bin ‘Abir, ‘alaihi afdhaluṣ-ṣalāti wa as-salām.”
Sebelumnya aku telah melihat di Masjid Jami’ Damaskus, di Syam, sebuah tempat yang juga tertulis sebagai “Kuburan Hud bin ‘Abir”. Namun setelah aku sampai di Al-Ahqaf dan melihat keadaan tempat itu—negeri yang pernah menjadi tempat tinggal kaum ‘Ad—aku lebih condong kepada pendapat bahwa di sinilah sebenarnya kuburan Nabi Hud ‘alaihissalām berada.
Adapun yang di Damaskus, kemungkinan hanyalah tempat yang dinisbatkan kepada beliau tanpa kepastian yang kuat.
Wallahu a‘lam, Allah lebih mengetahui yang sebenarnya.
________________________________________
Kebun-Kebun Dhafar dan Buah-Buah Ajaib
Kota ini memiliki banyak kebun yang ditanami pohon pisang. Pisang-pisangnya berukuran sangat besar. Aku sendiri pernah menimbang satu buah pisang di hadapanku; beratnya mencapai dua belas ons. Rasanya lezat dan sangat manis.
Selain pisang, di sini juga tumbuh dua tanaman yang sangat terkenal di India: tembul (sirih) dan narjil (kelapa). Di luar India, keduanya hanya ditemukan di kota Dhafar ini, karena letaknya yang dekat dan mirip dengan negeri India.
Hanya satu pengecualian: di kota Zabid, di kebun milik Sultan, ada beberapa pohon kelapa India yang ditanam sebagai pengecualian. Tetapi secara umum, tempat yang dikenal sebagai negeri kelapa dan sirih hanyalah India dan Dhafar.
Karena di kota ini aku banyak melihat tembul dan narjil, aku akan menjelaskan keduanya dan menyebutkan sebagian khasiatnya.
________________________________________
Tentang Pohon Tembul (Sirih)
Pohon tembul (sirih) ditanam seperti menanam tanaman merambat, mirip dengan cara menanam anggur. Untuknya dibuatkan para-para dari bambu. Kadang juga ditanam di dekat pohon kelapa, lalu dibiarkan merambat di batangnya, sebagaimana lada merambat.
Tembul tidak memiliki buah; yang dimanfaatkan hanyalah daunnya. Bentuknya seperti daun raspberry. Daun yang paling baik adalah yang berwarna agak kekuningan. Daun-daun itu dipetik setiap hari, karena memang dikonsumsi terus-menerus.
Penduduk India sangat memuliakan tembul. Jika seorang laki-laki datang ke rumah temannya lalu diberi lima lembar daun tembul, ia merasa seakan-akan diberi dunia dan seisinya, apalagi jika yang memberinya adalah seorang amir atau pembesar. Memberikan tembul dianggap lebih tinggi nilainya, dan lebih menunjukkan penghormatan, daripada memberi perak atau emas.
Cara memakannya adalah sebagai berikut. Mula-mula diambil buah fawfal (pinang) yang bentuknya mirip buah pala. Buah itu dipecah menjadi potongan-potongan kecil, lalu dimasukkan ke dalam mulut dan dikunyah. Setelah itu, diambil selembar daun tembul. Di atas daun itu diletakkan sedikit kapur. Daun tembul berkapur itu kemudian dikunyah bersama potongan pinang tadi.
Khasiatnya banyak. Di antaranya:
– memperbaiki bau napas dan menghilangkan bau mulut yang tidak sedap,
– membantu pencernaan makanan,
– menghilangkan dampak buruk minum air saat perut kosong,
– menyenangkan hati orang yang memakannya,
– dan membantu kekuatan hubungan suami-istri.
Orang-orang India biasa meletakkan tembul di dekat kepala mereka ketika tidur di malam hari. Jika mereka terbangun, atau dibangunkan istri atau budak perempuan mereka, mereka akan mengambil dan memakannya. Dengan cara itu, bau tidak sedap di mulut pun hilang seketika.
Diceritakan kepadaku bahwa budak-budak perempuan Sultan dan para amir di India tidak memakan selain tembul; itu adalah “jamuan utama” mereka.
Aku akan menyebutnya lagi ketika sampai pada pembahasan perjalananku ke negeri India.
________________________________________
Tentang Pohon Narjil (Kelapa)
Narjil adalah buah kelapa India. Pohon ini termasuk pohon yang paling menakjubkan dan paling mengherankan keadaannya. Bentuk batangnya menyerupai pohon kurma; bila dilihat sekilas, hampir tidak ada bedanya kecuali pada buahnya. Pohon kurma berbuah kurma, sedangkan pohon narjil berbuah kelapa.
Buah kelapa itu sendiri menyerupai kepala manusia. Pada kulit luarnya terdapat bentuk yang mirip dua mata dan satu mulut. Di dalamnya (ketika buahnya masih hijau muda) terdapat isi yang lembut mirip otak, sedangkan di bagian luarnya terdapat serat-serat seperti rambut. Dari serat-serat itu, penduduk membuat tali. Mereka menggunakannya untuk menjahit perahu, sebagai pengganti paku besi, dan juga membuat tali-tali yang kuat untuk keperluan lainnya.
Di sebagian kepulauan, seperti Dziubah Al-Mahal, buah kelapa berukuran sangat besar, ada yang sebesar kepala manusia.
Orang-orang di sana memiliki sebuah kisah yang mereka sering ceritakan tentang asal mula kelapa. Dikatakan bahwa dahulu kala ada seorang ahli hikmah dari India, seorang yang dekat dengan raja dan sangat dimuliakan. Ia bermusuhan dengan seorang menteri raja.
Suatu hari, ia berkata kepada raja:
“Jika kepala menteri ini dipenggal dan dikubur, maka dari kepalanya akan tumbuh pohon seperti pohon kurma, yang berbuah buah yang agung manfaatnya. Manfaatnya akan kembali kepada penduduk India dan penduduk dunia lainnya.”
Raja bertanya:
“Jika apa yang kau katakan tidak terjadi, apa yang akan kau lakukan?”
Ia menjawab:
“Kalau tidak muncul sebagaimana yang aku sebutkan, perlakukan kepalaku sebagaimana engkau memperlakukan kepalanya.”
Raja pun memerintahkan agar kepala sang menteri dipenggal. Ahli hikmah itu lalu mengambil kepala tersebut, menanam biji kurma di dalam otaknya, dan merawatnya sampai tumbuh menjadi pohon dan berbuah kelapa.
Inilah kisah yang tersebar di tengah mereka. Namun kisah ini dusta dan tidak benar, hanya saja aku menyebutkannya karena ia terkenal di kalangan mereka.
________________________________________
Khasiat dan Keajaiban Buah Kelapa
Di antara khasiat buah kelapa adalah: menguatkan badan, mempercepat kegemukan, menambah kemerahan wajah, dan sangat membantu kekuatan hubungan suami-istri. Dalam hal ini, pengaruhnya benar-benar mengagumkan.
Pada awalnya, buah kelapa berwarna hijau. Jika seseorang mengupas sedikit bagian kulit luarnya dengan pisau lalu membuka bagian atasnya, ia akan mendapati air yang terkumpul di dalamnya. Air itu bisa langsung diminum. Rasanya manis, sejuk, dan sangat menyegarkan. Sifatnya hangat, dan termasuk yang membantu kekuatan hubungan suami-istri.
Setelah meminum airnya, orang itu bisa mengambil bagian kulit yang tadi ia potong, menjadikannya seperti sendok, lalu mengeruk bagian dalam buah kelapa yang masih lembut. Daging lembut itu rasanya seperti telur yang dimakan saat belum benar-benar matang sempurna. Itulah santapannya.
Dari buah kelapa inilah aku menjadikannya sebagai makanan utama selama satu setengah tahun ketika aku tinggal di kepulauan Dziubah Al-Mahal.
Keajaiban kelapa tidak berhenti sampai di situ. Dari buah ini, mereka membuat tiga hal penting: minyak, “susu”, dan madu.
________________________________________
Cara Membuat “Madu” dari Kelapa
Untuk membuat semacam madu dari kelapa, para penjaga pohon kelapa—mereka disebut fazanah—memanjat pohon di pagi dan sore hari untuk mengambil air yang akan dibuat madu. Air ini mereka sebut athwaq.
Mereka memotong tandan tempat keluarnya buah, menyisakan bagian kecil kira-kira selebar dua jari. Pada sisa tandan itu mereka ikatkan sebuah wadah kecil untuk menampung air yang menetes.
Jika mereka mengikatnya di pagi hari, maka sore harinya mereka kembali memanjat dengan membawa dua cangkir yang terbuat dari kulit kelapa. Salah satunya diisi air. Mereka menuangkan air yang sudah terkumpul di wadah pada tandan ke dalam salah satu cangkir, lalu mencuci tandan dengan air dari cangkir lainnya. Setelah itu mereka mengiris sedikit ujung tandan lagi dan mengikatkan kembali wadah di situ.
Keesokan paginya, mereka mengulang hal yang sama. Demikian terus dilakukan, hingga terkumpul banyak air dari tandan-tandan itu. Jika jumlahnya sudah cukup, mereka memasaknya sebagaimana air anggur dimasak untuk dijadikan sari. Setelah dimasak lama, air itu mengental dan berubah menjadi semacam madu. Rasanya enak dan sangat bermanfaat.
Para pedagang dari India, Yaman, dan Cina membelinya, lalu membawanya ke negeri mereka untuk dijadikan bahan manisan dan makanan manis lainnya.
________________________________________
Cara Membuat “Susu” dari Kelapa
Adapun cara membuat “susu” dari kelapa, maka di hampir setiap rumah terdapat semacam kursi tempat duduk perempuan. Di tangan perempuan itu ada tongkat, pada salah satu ujungnya terdapat besi runcing.
Mereka mengambil buah kelapa yang sudah tua. Kulit luarnya dilubangi sedikit, sekadar agar besi runcing itu dapat masuk. Lalu daging kelapa di bagian dalam dikeruk dan dihancurkan, sementara air dan sarinya keluar. Semua yang keluar mereka tampung di sebuah piring hingga tidak tersisa isi kelapa di bagian dalamnya.
Setelah itu, parutan daging kelapa yang telah dihancurkan itu direndam dengan air. Air campuran itu kemudian berubah warna menjadi putih, dan rasanya mirip susu. Inilah yang mereka sebut sebagai “susu kelapa”. Orang-orang menjadikannya sebagai lauk, dimakan bersama makanan lain.
________________________________________
Cara Membuat Minyak dari Kelapa
Untuk membuat minyak, mereka menunggu hingga buah kelapa benar-benar matang dan jatuh sendiri dari pohonnya. Setelah itu, kulit luarnya dikupas, daging buahnya dipotong-potong kecil, lalu dijemur di bawah terik matahari hingga layu dan kering.
Jika sudah cukup kering, potongan-potongan kelapa itu dimasak di dalam periuk besar. Dari proses pemasakan itu, keluarlah minyak kelapa. Minyak ini digunakan untuk menyalakan lampu-lampu pada malam hari. Selain itu, orang-orang juga mengoleskannya di rambut. Minyak ini sangat besar manfaatnya bagi mereka.
________________________________________
Sumber kisah:
Ibnu Battutah, Perjalanan Ibnu Battutah

Komentar
Posting Komentar