Jejak-Jejak Awal di Madinah, Antara Dukacita dan Sukacita
Kepergian Sang Pelopor, As’ad bin Zurarah
Di masa-masa awal setelah Hijrah, saat fondasi masyarakat Islam baru saja diletakkan di Madinah, terselip sebuah kabar duka. Sosok itu adalah Abu Umamah As’ad bin Zurarah, seorang pemuda dari Bani An-Najjar yang memiliki peran besar dalam sejarah Islam. Ia adalah salah satu dari dua belas Naqib (pemimpin kaum) pada malam Baiat Aqabah dan orang pertama yang membaiat Rasulullah. Dialah pemuda yang penuh semangat, yang pertama kali mengumpulkan orang-orang untuk salat Jumat di Madinah, jauh sebelum Rasulullah tiba.
Namun, takdir Allah berkata lain. Pada bulan-bulan awal pembangunan Masjid Nabawi, As’ad terserang penyakit adz-dzubhah (sakit tenggorokan parah) atau asy-syahqah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang sangat menyayanginya berusaha mengobatinya dengan metode kay (besi panas) pada bagian yang sakit. Namun, ajal menjemputnya.
Kematian As’ad bin Zurarah memicu desas-desus jahat dari kalangan Yahudi dan orang-orang munafik. Dengan sinis mereka berkata, "Seandainya Muhammad itu benar-benar seorang Nabi, tentulah sahabatnya tidak akan mati."
Mendengar hal itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda dengan tegas namun rendah hati:
"Sungguh buruk kematian Abu Umamah ini di mata Yahudi dan munafikin Arab. Mereka berkata, 'Kalau dia nabi, temannya takkan mati.' Padahal, aku tidak memiliki kuasa dari Allah untuk menolak kematian bagi diriku sendiri, tidak pula untuk sahabatku sedikit pun."
Sebagian riwayat menyebutkan bahwa As’ad adalah orang pertama yang wafat setelah kedatangan Nabi, meski riwayat lain yang lebih kuat menyebutkan bahwa orang pertama yang wafat adalah Kultsum bin Al-Hidm, tuan rumah tempat Nabi pertama kali singgah di Quba. Kultsum wafat tak lama setelah kedatangan Nabi, lalu disusul oleh As’ad bin Zurarah sebelum pembangunan masjid rampung.
Rasulullah Menjadi Pemimpin Bani An-Najjar
Sepeninggal As’ad, Bani An-Najjar merasa kehilangan induk semangnya. Mereka pun mendatangi Rasulullah dan memohon agar beliau menunjuk seorang pemimpin baru bagi mereka.
Dengan penuh kasih sayang, Rasulullah memberikan jawaban yang menjadi kebanggaan abadi bagi kabilah tersebut. Beliau bersabda:
"Kalian adalah paman-pamanku, dan aku adalah bagian dari kalian. Maka, akulah Naqib (pemimpin) kalian."
Rasulullah tidak ingin menunjuk salah satu dari mereka dan mengecewakan yang lain, sehingga beliau sendiri yang mengambil alih kepemimpinan tersebut. Ini menjadi kemuliaan tersendiri bagi Bani An-Najjar di hadapan kaumnya.
Tangisan Bayi yang Membungkam Fitnah
Di tengah suasana duka dan pembangunan kota, secercah cahaya kebahagiaan muncul pada bulan Syawal di tahun pertama Hijrah. Kabar gembira itu datang dari keluarga Muhajirin.
Asma’ binti Abu Bakar, yang saat berhijrah sedang mengandung tua, akhirnya melahirkan seorang putra di Quba. Bayi itu diberi nama Abdullah bin Az-Zubair. Ia adalah bayi pertama yang lahir dalam Islam dari kalangan Muhajirin di Madinah.
Kelahiran ini bukan sekadar kelahiran biasa. Sebelumnya, beredar rumor menakutkan bahwa kaum Yahudi telah menyihir kaum Muslimin agar mereka mandul dan tidak bisa memiliki keturunan setelah berhijrah. Kelahiran Abdullah bin Az-Zubair menghancurkan mitos tersebut.
Asma’ membawa bayinya kepada Rasulullah. Beliau kemudian mengambil sebutir kurma, mengunyahnya hingga lembut, lalu memasukkannya ke mulut sang bayi (tahnik). Maka, hal pertama yang masuk ke dalam perut Abdullah bin Az-Zubair adalah air liur Rasulullah yang bercampur dengan manisnya kurma.
Melihat bayi itu lahir dengan selamat, kaum Muslimin di Madinah serentak bertakbir dengan suara yang menggema dahsyat hingga terdengar ke seluruh penjuru, meluapkan rasa syukur sekaligus membungkam kedustaan orang-orang Yahudi.
Pernikahan Penuh Berkah di Bulan Syawal
Rangkaian peristiwa di tahun pertama Hijrah ini semakin lengkap dengan pernikahan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pada bulan Syawal tahun itu, beliau mulai membina rumah tangga (berkumpul) dengan Aisyah Radhiyallahu 'Anha.
Aisyah mengenang momen itu dengan penuh kebanggaan. Ia berkata:
"Rasulullah menikahiku di bulan Syawal, dan mulai berumah tangga denganku di bulan Syawal. Maka istri beliau manakah yang lebih beruntung di sisinya daripada aku?"
Pernikahan ini sekaligus mematahkan takhayul masyarakat Jahiliyah yang menganggap bulan Syawal atau waktu di antara dua hari raya sebagai waktu sial untuk menikah. Justru, Aisyah menjadi istri yang paling dicintai Rasulullah, membuktikan bahwa bulan Syawal adalah bulan yang penuh keberkahan dan kasih sayang. Cinta Rasulullah kepada Aisyah begitu besar hingga ketika beliau ditanya siapa manusia yang paling dicintainya, beliau menjawab dengan tegas: "Aisyah."
________________________________________
Sumber Kisah:
Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir

Komentar
Posting Komentar