Hijrah Nabi ﷺ: Rumah Pelepah Kurma, Demam Madinah & Doa yang Mengubah Kota Wabah Jadi Kota Cinta

Senja di Madinah tahun pertama hijrah. Bilal bersandar lemah karena demam Yatsrib, Aisyah berlari membawa air, dan di balik dinding bata mentah itu, doa seorang Rasul sedang mengubah sejarah sebuah kota selamanya

Rumah-Rumah Sederhana di Sisi Masjid Nabi ﷺ

Di sekeliling Masjid Nabawi yang baru saja selesai dibangun, Rasulullah ﷺ membuat beberapa kamar kecil dari pelepah kurma yang dilumuri tanah liat. Ada juga yang dindingnya dari batu tanpa semen, dan atapnya hanya anyaman pelepah kurma. Tingginya sangat rendah. Al-Hasan al-Bashri yang masih kecil pernah berdiri di dalam salah satu kamar itu sambil mengangkat tangan, lalu berkata, “Aku bisa menyentuh langit-langitnya dengan tanganku!” Padahal Al-Hasan kecil itu sudah tinggi dan besar untuk ukuran anak-anak.

Pintu kamar-kamar itu pun sederhana sekali, tidak ada alat ketuk. Kalau ada yang datang, cukup mengetuk dengan kuku jari. Setelah semua istri Rasulullah ﷺ wafat bertahun-tahun kemudian, kamar-kamar kecil itu akhirnya dijadikan bagian dari masjid, sehingga Masjid Nabawi bertambah luas hingga sekarang.

Kedatangan Keluarga dari Makkah

Beberapa bulan setelah hijrah, akhirnya keluarga Rasulullah ﷺ diizinkan berangkat dari Makkah. Abu Bakr dan Rasulullah ﷺ mengutus Zaid bin Haritsah serta Abu Rafi‘ bersama Abdullah bin Uraiqith untuk menjemput mereka. Mereka membawa dua unta dan 500 dirham untuk membeli unta tambahan di pasar Qudaid.

Rombongan keluarga yang tiba di Madinah sangat istimewa:

Ada Fathimah dan Ummu Kultsum, dua putri Rasulullah ﷺ.

Ada Saudah dan Aisyah, dua istri beliau.

Ada Ummu Ruman, ibunda Aisyah.

Ada Asma’ binti Abi Bakr yang sedang hamil besar mengandung Abdullah bin Zubair.

Dan masih banyak lagi keluarga Muhajirin lainnya.

Di tengah perjalanan, unta yang ditunggangi Aisyah dan ibunya tiba-tiba lari kencang. Ummu Ruman menjerit, “Wahai pengantinku… wahai anakku!” Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan, “Lepaskan saja tali kekangnya!” Aisyah langsung melepaskan, dan ajaib, unta itu langsung berhenti dengan tenang. Allah selamatkan mereka.

Delapan bulan setelah hijrah, di bulan Syawal, Rasulullah ﷺ akhirnya resmi menggauli Aisyah radhiyallahu anha sebagai istri di Madinah.

Demam Madinah yang Menggila

Saat para Muhajirin baru tiba, Madinah sedang dilanda wabah demam yang sangat berat. Udara lembap, air di lembah Buthan keruh dan berbau busuk. Satu per satu sahabat tumbang. Abu Bakr, Bilal, Amir bin Fuhairah, semuanya terbaring lemah. Bahkan mereka hanya mampu salat sambil duduk.

Bilal yang biasanya suaranya paling merdu mengumandangkan adzan, kini terbaring di halaman rumah sambil mengigau rindu pada Makkah:

أَلَا لَيْتَ شِعْرِي هَلْ أَبِيتَنَّ لَيْلَةً

بِوَادٍ وَحَوْلِي إِذْخِرٌ وَجَلِيلُ

وَهَلْ أَرِدَنْ يَوْمًا مِيَاهَ مَجَنَّةٍ

وَهَلْ يَبْدُوَنْ لِي شَامَةٌ وَطَفِيلُ

“Alangkah indahnya sekiranya aku dapat bermalam satu malam saja di lembah Makkah, dikelilingi rumput idzkhir dan jalil…

Apakah aku masih bisa minum dari air Majannah…

Apakah gunung Syamah dan Thafil masih akan tampak olehku lagi…”

Abu Bakr pun mengigau dengan bait yang mengharukan:

كُلُّ امْرِئٍ مُصَبِّحٌ فِي أَهْلِهِ

وَالْمَوْتُ أَدْنَى مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ

“Setiap orang berpagi bersama keluarganya…

Padahal maut lebih dekat daripada tali sandalnya…”

Aisyah yang masih gadis kecil berlarian menjenguk mereka satu per satu, lalu kembali menemui Rasulullah ﷺ dengan wajah khawatir. “Mereka semua mengigau, Ya Rasulullah. Mereka tidak sadar lagi karena demam.”

Doa yang Mengubah Sejarah Madinah

Rasulullah ﷺ menengadah ke langit, lalu berdoa dengan suara yang penuh harap:

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِهَا وَفِي مُدِّهَا

وَصَحِّحْهَا لَنَا وَانْقُلْ حُمَّاهَا إِلَى الْجُحْفَةِ

“Ya Allah, jadikanlah Madinah kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah, atau bahkan lebih dari itu.

Berkahilah takaran sha‘ dan mudd kami.

Sehatkanlah Madinah untuk kami, dan pindahkanlah demamnya ke Juhfah.”

Doa itu terkabul.

Wabah demam perlahan menghilang dari Madinah, dan berpindah ke daerah Juhfah. Konon, anak kecil yang lahir di Juhfah setelah itu belum baligh sudah terkena demam keras. Sedangkan Madinah menjadi kota yang sejuk, sehat, dan penuh barakah hingga hari ini.

Bertahun-tahun kemudian, saat Rasulullah ﷺ datang untuk umrah qadha’ tahun ke-7 Hijriah, orang-orang musyrik masih berkata, “Sebentar lagi akan datang rombongan yang lemah karena demam Yatsrib.”

Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat untuk berlari kecil (raml) di sekitar Ka‘bah agar semua orang melihat:

“Ini orang-orang yang pernah kalian harapkan lemah karena demam. Lihat, mereka lebih kuat dari sebelumnya.”

Dan memang benar.

Doa seorang Nabi telah mengubah sebuah kota yang penuh wabah menjadi kota yang paling dicintai di hati umat Islam hingga akhir zaman.

Sumber kisah:

Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rihlah Ibnu Bathutah #28 : Kisah Kufah, Hillah, dan Karbala

Rihlah Ibnu Bathutah #32 : Perjalanan ke Kota-Kota di Utara Irak dan Sekitarnya

Rihlah Ibnu Bathutah #24 :Idaj dan Isfahan, Sultan Atabik & Negeri Lur